
Dicky
Tania bersikap aneh. Kapan Tania bersikap aneh seperti ini? Pernah waktu SMA dulu, waktu dia cemburu sama Velin. Lalu sekitar sebulan lalu saat mendapati chat Farah (teman kelasku) yang memang agak berlebihan di ponselku, Apa sekarang dia juga cemburu? Sama siapa? Perasaan aku tidak pernah berbuat yang macam-macam atau jalan sama seseorang akhir-akhir ini.
Dan biasanya ngambeknya akan selesai jika aku sudah minta maaf serta mengatakan kata-kata cinta yang manis. Tapi ini seolah tak mempan.
Saat merasa jika jarak mulai merenggut, aku mencoba memperbaiki dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Aku : Sayang....
Aku : Besok aku jemput yah?
Mine ❤: Besok aku mau antar Mama ke Dokter.
Aku : Something wrong?
Tidak ada balasan.
Aku : Tania, aku sayang banget sama kamu. aku cinta kamu.you know?
Mine ❤: Aku tau.
Aku : Terus kenapa aku di cuekin begini? aku minta maaf kalau aku ada salah sayang.
Mine❤ : Aku serius waktu bilang, aku mau menikah.
Dugaanku ternyata terlalu jauh meleset. Meski masih tercengang dan dengan pikiran yang kusut aku langsung menelponnya.
"Masalah itu? Kamu mau nikahnya sekarang?"
Dia diam tidak mencoba menjawab.
"Kamu harusnya paling tau keadaanku Ta"
"Berarti aku memang tidak ada dalam impian masa depanmu. Hanya aku yang bermimpi tapi kamu tidak"
Kalimatnya benar-benar membuatku jengah.
"Oke, Beri aku waktu. Aku harus bicara sama Bapak, Aku akan membawa Bapak ke hadapan keluargamu tapi beri aku waktu"
"Dan saat itu mungkin semuanya sudah terlambat"
"Maksudnya?" Tanpa sadar suaraku meninggi.
"Saat itu mungkin orang lain sudah datang dan aku tidak punya alasan untuk menolak"
"Apa aku bukan alasan? kamu tidak bisa menunggu sebentar saja? "
"Alasan untuk orang yang tidak jelas kayak kamu? Kalau kamu sayang, kalau kamu cinta harusnya kamu sedikit berjuang Dik" Suara Tania ikut meninggi
Aku membanting ponsel yang tadi ku genggam hingga meninggal kepingan terkecil.
Kepalaku terasa mendidih. Apa katanya tadi?
"Alasan untuk orang yang tidak jelas kayak kamu ? Kalau kamu sayang, kalau kamu cinta harusnya kamu sedikit berjuang Dik"
"Sedikit berjuang? "
Apakah semua yang ku lakukan selama ini tidak ada artinya di matanya? Aku tau aku memang hanya seorang mahasiswa piatu. Lalu apa yang dia harapkan?
__ADS_1
Dan sialnya lagi, yang dikatakan Tania memang benar, aku memang bukan orang yang jelas. Masa depanku masih gelap tapi aku berani mencintai dia yang punya masa depan cerah. Lalu kenapa aku marah?
Aku hanya bisa menundukkan kepalaku dalam-dalam di antara kedua lututku dan mencengkeram rambutku.
Dan setelah berhari-hari diam-diaman. Tak ada komunikasi. Dan aku makin mengerti saat sebuah foto yang menandainya di feed instagram . Foto dengan latar logo sebuah universitas. Foto wisuda orang itu. Tania terlihat mendampinginya dengan corak batik yang sama. Mungkin ini jawabannya?
Rasanya ingin memaki, marah sama siapapun saja tapi nyatanya tidak. Aku hanya bisa menertawakan diriku sendiri.
Seluruh isi hatiku terkuras hingga kering kerontang.
Kenapa dia mudah sekali berbalik dari satu arah ke satu arah yang lain? Dengan kata manisnya yang selalu di ucapkan dan bodohnya aku percaya 100%.
Namun aku masih menahan diri. Aku mencoba berfikir realistis, mungkin memang Tania dalam tekanan, atau mungkin selama ini aku yang kurang berjuang, kurang meyakinkan. Perempuan butuh kepastian.
Aku nekat menghubungi Bapak. Meski sempat marah tapi akhirnya dia bersedia datang begitu ku kasi tau siapa keluarga Tania. Aku nekat menikah muda hanya bermodal cinta. Hal yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya.
Lalu aku menekan egoku. Aku yakin Tania punya alasan yang bisa ku terima. Tania tidak semudah itu meninggalkanku.
Ku lihat dari insta storynya yang selalu berisikan Quote kata-kata Sedih dan galau. Tania juga tersiksa dengan jarak ini.
Aku kembali membuka komunikasi. Aku yakin Tania masih mengharapkan aku.
Aku : Sayang, kamu gak kangen?
Aku : Coba cek kalender, besok hari apa? Ngedate yuk.
Aku : Aku tidak butuh kado. Aku cuma butuh kamu.
Akhirnya dia merespon. Aku menjemputnya menggunakan mobil Arvie yang ku pinjam. Setelah sebelumnya dia juga memang pernah meminjam motorku untuk menjemput gebetan barunya.
Aku memarkir mobil bukan tepat di depan pagarnya.
Aku : Mobil silver.
Tidak lama sosoknya sudah keluar dari pagar tinggi rumahnya. Berdiri dan celingukan. Aku turun dari mobil untuk menyambutnya.
Dia berjalan mendekat. Aku memperhatikan tiap langkah kakinya. Dia selalu cantik dengan apapun yang di kenakannya. Dress ungu muda, rambut yang terurai dengan tas selempang kecil, dan menenteng tote bag dengan ukuran lumayan besar.
"Apa kabar?" Aku mengelus pipinya saat dia sudah di hadapan. Aku baru sadar ternyata pipinya makin tirus, matanya sayu seperti kurang tidur.
Dia menyodorkan totebag yang di tangan kanannya.
"Selamat ulang tahun" Dia tersenyum menatapku dalam. Masih tatapan yang sama.
Aku meraihnya "Makasih. Padahal aku serius waktu bilang aku tidak butuh kado, aku butuhnya cuma kamu"
Dia cuma mencibir. Membuatku terkekeh. Syukurlah Tania sudah kembali.
"Mama apa kabar? " Tanyaku saat mulai melajukan mobil.
"Masih di rumah sakit. Mama kembali anfal dan sekarang harus di rawat intensif"
Tiba-tiba aku merasa jadi cowok paling bo doh. Aku ini pacar macam apa? Info sepenting ini aku bahkan tidak tau.
"Maaf..... " Lidahku kelu tak mampu mengeluarkan banyak kata.
"Kita kemana? " Dia menoleh dan bertanya.
"Jadi yang menjaga mama kamu di rumah sakit sekarang siapa?" Jangan sampai karena aku yang memaksa.
__ADS_1
"Ada kak Dewa. Semalam aku sama Papa yang jaga. sekarang gantian dia di temani Daeng Intang"
"Kamu pasti capek yah? "
"Dikit"
"Skripsi gimana?
Dia menggeleng. "Aku fokus ke Mama dulu"
Sudah berapa jauh sebenarnya jarak yang ku buat? kenapa aku sampai ketinggalan informasi begini. Seolah aku tidak tau apa-apa tentangnya lagi dan itu berhasil membuat ulu hatiku terasa perih.
Akhirnya kita memilih kencan seperti pasangan pada umumnya. Menonton bioskop, salah satu tempat kencan favoritnya.
Walaupun dia cenderung lebih banyak diam hari ini, tidak seperti biasanya.Tapi dia masih sama. menggandeng tanganku, bersandar di pundakku bahkan saat aku menyentuh bibirnya di keremangan ruang bioskop, dia membalas, mengikuti irama dengan antusias. Hingga menyisakan hawa panas.
Kemudian mengajaknya makan di resto yang nyaman yang ada di dalam mall.
Sesekali aku ingin menyenangkannya di tempat seperti ini walau harus menguras isi atm jatah bulananku.
"Minggu depan Bapak datang" Aku mulai membuka percakapan inti.
Tania menatapku dengan mata membola.
"Kamu sudah siap menikah sama bocah kayak aku?"
Tapi Tania tidak menjawab malah menunduk dalam-dalam.
"Ta...... "
Tania makin menunduk dan suara isakan terdengar.
"Kenapa sayang? " Firasatku jadi tidak enak.
Dan Tania makin terisak, lebih kencang.
"Maaf Dik, hiks hiks........ maaf"
Aku mencoba mencerna.
"Maafkan aku, Aku jahat sama kamu"
"Tidak... jangan minta maaf Tania"
"Mama makin drop.... Aku .....tidak bisa berbuat apa-apa"
"Maafkan akuu, hu hu hu. ......kamu boleh marah"
"Aku bilang jangan minta maaf. kamu tidak boleh begini. Aku masih punya kesempatan, aku pasti ......"
"Tanggalnya juga sudah di tentukan" Dia memotong ucapanku, menghempaskan asaku.
"Kamu boleh marah.......Kamu berhak membenciku"
"Maksud kamu aku sudah terlambat? tidak ada kesempatan lagi? iyah? " Aku meraih tangannya, agar dia melihatku dan saat dia menatapku dengan penuh air mata, aku sadar bahwa selama ini keberadaanku malah makin menyulitkannya.
"Kamu tau...... aku juga sayang, aku.....cinta sama kamu Dik" Lirihnya namun kata cintanya bagai belati paling tajam yang menggores di relung terdalam. Sakit tak terkira.
...*****...
__ADS_1