
Tania
Dua hari berlalu setelah malam itu dan semuanya kembali mode awal. Baik dia maupun aku tidak pernah sekalipun mengirim pesan, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar. Keadaan yang sangat membingunkanku.
Dan hari ini, aku kembali diserang perasaan yang membuncah, ingin melihatnya agar rasa lelahku terobati, ingin memastikan apakah dia baik-baik saja. Hingga rasa rindu yang mengerogoti bisa sedikit terkikis.
Disela kesibukan ke sekolah tempat praktik dan sebelum pulang menemani mama, aku menyempatkan diri.
Sekarang aku disini, menjadi pengintai. Kali ini aku parkir di bahu jalan, di luar dari gerbang FT. Sore seperti ini selalu ramai dengan mahasiswa yang ingin pulang.
Aku menunggu seperti orang bodoh, apakah dia memang ada di kampus aku tidak bisa memastikan. Aku mengutuki diri sendiri tapi juga mata tetap mengawasi.
Namun sepertinya takdir baik sedang berpihak padaku, motornya merah yang sangat ku kenal kini melewati gerbang itu dan tak lama juga melewati mobilku. Tadinya yang kukatakan hanya ingin melihatnya sekali saja ternyata tidak cukup. Aku segera memutar mobil lalu mengikutinya, tapi tidak mudah, motornya dengan cepat menyalip kendaraan yang lain sedangkan aku yang membawa mobil milik Kak Dewa belum bisa menguasai medan hingga akhirnya tertinggal.
Aku tetap melajukan mobil sambil melayangkan pandang dan binggo, ternyata motornya kembali terlihat parkir di depan sebuah tempat fotocopy. Tak lama dia kembali menaiki motornya, aku kembali menginjak gas mengikutinya lagi tapi karena terlalu fokus mengikuti nya, takut kehilangan jejak lagi tanpa sengaja aku menyenggol pengendara motor lain di tengah padatnya jalanan hingga pengendara itu jatuh.
PRAK
...*****...
Dicky
Terdengar suara tubrukan dari belakang bersamaan dengan semua kendaraan berhenti tiba-tiba. Aku melihat di spion, mobil putih yang menabrak seorang pengendara motor yang ternyata ibu-ibu. Mobil yang tidak asing, kalau tidak salah tadi juga terparkir depan kampus.
Mobil yang sangat mirip dengan mobil kakaknya Tania. Yang selalu ku ingat karena tipe mobil itu termasuk masih langka. Aku penasaran, dan aku mulai menebak-nebak.
Kuparkir motor lalu berjalan mendekati mobil putih itu, kukira pikiranku terlalu jauh tapi kenyataannya tebakanku memang benar. Dia keluar dari mobil setelah di ketok-ketok kaca mobilnya dengan keras.
"Tidak adakah matamu itu?" Ibu itu membentak dengan suara lantang.
"Mau ko apa kalau celaka anakku? (Kau mau apa kalau anakku celaka?)"
Tania hanya tertunduk sambil mengucapkan maaf berulang kali.
"Tidak ada bandingannya mobilmu sama nyawanya anakku"
"Maaf bu" Aku segera menengahi karena Tania makin menunduk dan mengusap pipinya dengan punggung tangan. Dia menangis bukan karena takut dengan ibu itu, jelas ibu-ibu itu juga bersalah dengan mencoba mendahului di tengah padatnya kendaraan. Dia pasti malu dibentak-bentak di depan umum. Tania bukan orang yang bisa menyerang balik orang yang lebih tua. Aku tau itu.
"Maaf Bu. Tidak na sengaja temanku kodong"
"Jangan mentang-mentang bawa mobil mau mi mu kuasai jalanan" Ibu itu masih terus beroceh.
"Ada yang sakit dek?" Aku mengalihkan dengan cara lain.
"Ayo saya antarki sama anakta ke rumah sakit dulu bu"
"Jangan mi. Lain kali hati-hati ki bawa kendaraan, jangan sampai ada pi korban baru kapok" Katanya ketus lalu berlalu dengan anaknya.
Aku meraih Tania yang masih tertunduk dengan wajah memerah, di kelilingi orang yang sedang ingin tau yang kebanyakan adalah mahasiswa-mahasiswi.
"Aku antar pulang"
Membukakan pintu depan sebelah kiri, setelah dia masuk aku kembali ke sisi pintu yang lain.
"Mau di antar kemana? Kampus atau rumah"
"Kampus" jawabnya cepat.
Aku melajukan mobil dalam suasana hening, dia masih diam menatap keluar jendela sedangkan aku meski ingin marah tapi lidahku keluh, tidak menemukan ide di kepalaku yang harus ku ucapkan. Sampai aku memarkir mobilnya di parkiran fakultasnya.
...*****...
__ADS_1
Tania
"Kenapa kamu di sana?" Kalimat pertamanya yang di ucapkan saat mobil sudah parkir.
"Lain kali jangan bertindak bo doh"
Dia terlihat menahan emosi.
"Aku cuma... "
"Cuma apa? mau celaka lagi? gak kapok?"
"Aku cuma kangen sama kamu" Aku juga ikut meninggikan suara.
Dia berdecak dengan gaya malas.
"Aku minta ini yang terakhir" Dia kembali bersuara dengan nada rendah.
"Maksudnya?" Aku mengernyit.
"Terakhir untuk semuanya......Kamu jangan mencari tau tentang aku lagi, jangan datang. Aku juga tidak akan menggangu kamu lagi"
"Dik..... "
"Maaf, saya tidak bisa berteman sama mantan"
"Mantan?" aku tertawa sumbang.
"Sebentar lagi kamu akan menikah Tania. tidak sepantasnya kamu menemui cowok lain apalagi di tengah malam di kostannya. Apa kata orang? "
"Bodoh amat"
"TANIA....." Dia membentakku.
Iyah aku tau, aku memang tidak konsisten tapi...
"Aku masih mau bertahan"
"Bertahan di dua tempat?"
"Cuma sama kamu Dik, maunya sama kamu"
"Sampai kapan? sampai kamu...... "
"Aku yakin kamu juga masih sa..... "
"JANGAN BAHAS HAL YANG PERCUMA" Dia terlihat gusar, pandangan matanya gelap "Tidak ada gunanya"
Dia tertunduk sambil menghela nafas.
"Aku tidak akan peduli lagi apapun tentang kamu, terserah kamu mau ngapain, bukan urusanku lagi. Jadi kamu juga tidak usah sok peduli lagi"
"Aku bukan sok peduli" Protesku.
"Terserah apapun namanya, aku benar-benar tidak mau tau lagi"
"Oke... " Demi melihatnya yang sepertinya memang sangat tersiksa, aku mengalah "Tapi kamu juga jangan merusak diri, jangan menyakiti dirinya sendiri dengan..... "
"Itu memang duniaku yang sebenarnya, tidak ada hubungannya dengan kamu"
"Bohong"
__ADS_1
"Terserah "
Suasana kembali hening tapi dia belum juga beranjak hingga deringan telpon dari sakunya berbunyi.
"Hallo, Sorry. Copyannya masih ada di tempat fotocopy. Aku ada urusan sebentar. Aku suruh Arvie jemput kamu yah"
"......."
"Iyah..... "
"........"
"Sorry yah Far"
Dia memutuskan sambungan telponnya dan mengetik lincah layar ponselnya.
"Farah? " Gumamku Tanpa sadar.
Sejak kapan dia berani angkat telpon dari cewek lain didepanku?
Dan tentu saja aku tau siapa farah. Teman waktu LDK di bantimurung itu, yang memancarkan kilatan ketertarikan pada Dicky dengan jelas . Yang selalu mengirim chat sekedar mengingatkan Dicky tugas kampus. Yang kata Arvie fans berat Dicky di kelas. Dan Farah secara terang-terangan memfollow semua akun sosmedku.
"Jadi sekarang, aku benar-benar sudah tidak berhak marah lagi saat aku cemburu begini?"
Dicky berdecak malas.
"Makasih, selama ini ada...."
Ponselnya kembali berdering membuat kalimatku terjeda.
"Di dalam pak"
"......"
"Iyah"
Dia mengakhiri telponnya "Jemputanku sudah datang. Aku pergi" Dia mengucapkan kalimat terakhir dengan nada yang sangat pelan.
Aku menahannya sebelum dia berhasil membuka pintu.
"Kamu jaga diri baik-baik. Aku cuma khawatir dengan keadaanmu. Tadi Aku cuma mau melihatmu sebentar baru pulang"
"Meskipun dalam kasus ini aku yang bersalah. Tapi kamu harus tau, perasaanku tidak berubah sedikitpun..."
"Tidak usah bahas" Dia memotong kalimatku dengan cepat.
"Maaf.... Maafkan aku yang selama ini" Mungkin ini memang akhirnya.
"Aku juga akan hidup bahagia, jangan khawatir" Ucapnya di buat sesantai mungkin.
"Harus. Tapi aku punya satu lagi permintaan terakhir"
"Apa?" Dia mengernyit
"Jangan Dea, aku tidak akan bisa"
Dia tidak menjawab hanya menatapku lama.
"Jemputanku sudah datang " Bersamaan dengan parkirnya sebuah ojek online tepat di depan mobil.
Dan dia pergi tanpa berbalik sekalipun lagi.
__ADS_1
...*****...