Oh My Brownis

Oh My Brownis
Selamanya Cinta


__ADS_3

Dicky


Satu yang tak bisa lepas


Percayalah


Hanya kau yang mampu mencuri hatiku


Aku pun tak mengerti


Satu yang tak bisa lepas


Bawalah kembali jiwa yang luka


Dan perasaan yang lemah ini


Menyentuh sendiriku


(Reza Artamevia - Satu yang tak bisa lepas)


Dengan Rahmat yang maha kuasa yang telah mencurahkan kasih sayang untuk hambanya. Dua insan yang asing tanpa ikatan darah telah dipersatukan dalam ikatan hingga sedekat nadi.


Semua sudah di atur Tuhan bukan?


Tulang rusuk pasti akan menemui bagiannya yang hilang bagaimanapun caranya, bagaimanapun jalan yang akan di lalui.


Setelah mengucapkan kalimat sakral yang hanya ingin ku ucapkan sekali dalam hidupku dengan menggenggam tangan sang wali, kini aku sudah mempunyai tanggung jawab.


Tanggung jawab tentang cinta, tanggung jawab tentang kewajiban dan tanggung jawab tentang haknya. Tapi aku tidak pernah ragu sekalipun, dengan keyakinan penuh aku percaya apapun rintangannya, aku akan bertahan selama aku menggenggam tangannya.


Hari ini bukan berarti kisahku telah usai, tidak, malah aku baru akan memulainya dengan lembaran yang lain. Sampul yang menarik, isi cerita yang manis sampai Tuhan yang menutupnya dengan indah.


...*****...


Tania


Lintasan masa remaja, saat pertama kali melihatnya di sudut kelas, lalu mengagumi dan akhirnya bisa berpacaran ala anak SMA.


Namun semuanya tidak selalu berjalan dengan tenang, ada ombak yang selalu menghantam, badai yang selalu menerpa sampai mengobrak-abrik.


Lalu lintasan sang orator ulung yang berambut panjang dengan khas mahasiswa tehnik kemudian menjelma menjadi taruna yang gagah. Sudah berapa kali dia bertransformasi? Namun hatiku tetap disana. Tetap menginginkannya bagaimanapun dia.


Kenapa aku bisa seyakin ini dengan dia? Jangan tanya kenapa. karena tiap hati akan jatuh pada pilihan masing-masing dan hatiku hanya bisa Stuck pada satu sosok ini.


Dan saat dia dengan mantap pengucapkan ijab kabul didepan papa tanpa bisa ku cegah air mataku menetes. Teringat mama yang cantik dengan baju kebaya putih sedang memberi restu.


"Doakan Tania selalu bahagia ma"


...*****...


Dea


Lihat saja pasangan "Penuh drama" itu akhirnya bersanding di pelaminan juga.


Sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, tak menghilangkan senyumnya sepanjang hari, menyambut tamu yang memberinya doa restu.


Tampang mereka?


Berbinar. Penuh cahaya.


Iri?

__ADS_1


Jelas tidak. Aku sendiri sudah menemukan tulang rusukku yang tiada tandingannya.


Kak Dewa yang sedang sibuk menggendong Nada, anaknya -Maksudku anak kami- sedang berbicara serius dengan beberapa temannya.


"De, Bukannya itu mantannya Dicky yang bikin Tania kolaps?" Tanya Eby tiba-tiba mengalihkan pandanganku dari Kak Dewa dan Nada beralih ke atas pelaminan.


Pemandangan yang menggelikan sekaligus menegangkan.


" Oo iya, benar Itu si Farah" Gumamku.


"Mampus, kayaknya akan ada perang lagi ini de" Tisya ikut menimpali.


"Alamat Dicky gagal Malam pertama, hahahaha" Ryan bahkan tertawa puas membayangkan nasib Dicky.


...*****...


Dicky


"Selamat Brade"


"Tengkyu tengkyu" Aku tidak menyangka jika Arvie, Haikal dan beberapa teman benar-benar datang jauh-jauh untuk hari ini. Tapi yang paling tidak ku sangka adalah keberadaan Farah diantara mereka.


"Selamat yah" Lirihnya sambil tertunduk dalam-dalam.


"Makasih Far"


"Ini Elvan, pacar aku" Dia memperkenalkan seseorang.


"Hai Van, Junior di kampus kan?"


"Iya. Selamat kak" Dia hanya tersenyum salah tingkah.


Bisa saja si Farah. Setahuku Elvan ini waktu itu adalah Maba yang paling kalem. Memang sempat jadi tranding sih diantara Maba yang lain. Tidak ada yang membantah wajah adem Elvan menjadi idaman cewek-cewek.


Aku melirik kesamping melihat Farah yang memberi selamat pada Tania. Seadanya, Sekedar bersalaman lalu melenggang pergi sedangkan wajah Tania?


Sangat menggemaskan dengan ekspresi manyun, aku meraih tangan kanannya dengan tangan kiri ku tapi dia tidak berniat menatapku.


Hmmmm,, Sepertinya harus cari 100 cara merayu lagi ini.


..._____...


Bukankah harusnya malam ini jadi malam yang canggung? dengan tatapan malu-malu? tapi kenapa suasana kamar yang indah ini malah menegangkan dan mengerikan.


"Sayang......" Aku mendekatinya, mencoba meluluhkan dengan memeluk dari belakang saat dia membersihkan wajahnya yang sebenarnya sudah bersih dengan berbagai cairan-cairan yang tidak ku tau namanya.


Sejak kedatangan Farah tadi dia belum mau menatap mataku sedikitpun meski masih memasang senyum ramah kepada setiap undangan.


"Kamu sengaja ngundang mantan?" Akhirnya dia menatap ku melalui pantulan kaca walaupun dengan tatapan membunuh.


"Ngundang seangkatan sayang, tidak ada yang spesial"


"Dia belum move on tuh dari kamu" Dia melepas belitan tanganku di perutnya.


"Dia juga datangnya sama yang lain, bawa pacar juga kan"


"Sengaja itu mau dipamer sama kamu"


"Hhhee. Biarin aja. Gak ngaruh juga"


Aku mencoba meraihnya lagi tapi dia menghindar.

__ADS_1


"Sayang. Jangan gini dong" Bujukku.


"Aku mau bobo sama Dea aja" Katanya melenggang mendekati pintu.


"Mau gangguin Nada?"


"Ya udah sama Oma aja, yang penting tidak sama ...."


Aku langsung menariknya menenggelamkan wajah padanya.


"Mmhhhh... Leepaaasss"


Dia meronta namun tidak ku biarkan. Enak saja. Aku sudah menahan sekian tahun untuk malam ini dan dia malah mempersulit.


Aku kembali menciumnya, bermain disana dengan antusias hingga kurasakan dia mulai terlena, tidak lagi memberontak malah mulai mengeluh dengan suara yang indah.


...*****...


Tania


Dia membawaku ke tempat tidur dengan wajah masih bertaut.


Liar. Terlalu liar. Aku sampai kewalahan. Aku memukul dadanya agar bisa bernafas, hanya tiga detik mengambil nafas, meski hembusan nafasnya juga terdengar memburu tapi seolah tidak mau membuang banyak waktu dia kembali menenggelamkan wajahnya menelusuri bagian bagian tertentu sambil tangannya yang hangat mulai ikut beraksi.


"Dik.... Dik"


Dia yang tadi menyesap kulit di selangkanganku tiba-tiba berhenti.


Aku mengerutkan kening karena yang tadi sedang melayang tapi tiba-tiba harus kembali ke bumi.


"Jangan panggil Dik dik lagi dong. Aku dengarnya kayak kamu panggil adik kamu"


"Hahahah...." Aku tidak tahan untuk tidak tertawa "Yah memang kamu adik aku kan. Aku yang tua dari kamu"


"Tapi aku suami kamu"


"Ya sudah, ganti nama saja, jangan pake nama Dicky.... Mmhh Anca aja. Biar aku manggilnya enak"


Dia mencium dengan kasar dan menggigit kecil di ujung ciumannya.


"Aaa... Sakit Dik"


"Jangan sebut nama cinta cowok lain" Diam menetap seolah ingin menerkam "Nanti di bikin cerita judulnya 'istriku menyebut pria lain dimalam pertama ku'"


"Hhhaaaa... " Aku bahkan harus menutup mulut menahan tawaku "Terus?"


"Panggil apa kek, sayang, darling, hubby.. tuh cewek-cewek biasanya kreatif dan inisiatif"


"Mana aku bisa mikir dalam keadaan begini dik" Dia melihat keadaan kami yang memang sedang nanggung.


Dan aku baru menyadari satu hal, sejak kapan badan Dicky se atletis ini, aku bahkan merasa sangat kecil berada di bawa kungkungannya.


"Yakin malam ini mau bahas nama panggilan dulu? Yang lain tunda dulu?" Aku menaik turunkan alis berniat menggoda.


"Bo do.. mikirnya besok saja. Sekarang enak-enak dulu"


Lalu dia kembali melancarkan aksinya yang ..... Ahh pokoknya aku merasa sedang membayangkan surga itu seperti apa.


"Dicky!!!"


"Sakit?"

__ADS_1


Aku menggeleng "Lanjut "


...*The End*...


__ADS_2