Oh My Brownis

Oh My Brownis
I Wanna Be


__ADS_3

Tania


Kini Aku dan Dicky sedang berdiri di depan sebuah pintu rumah berwarna coklat.


Hujan masih turun meski hanya berupa gerimis tapi mampu membuat kami kedinginan.


"Assalamualaikum"


Tok tok


Dicky memberi salam sambil mengetuk pintu. Sedangkan aku hanya berdiri di belakang Dicky sambil memeluk tubuhku sendiri yang berbalut jaket Dicky, yang jadi jaket ketiganya ku pakai dan tak kunjung ku kembalikan. Hhiihi.


"Assalamualaikum" Ulangnya.


"Yum, Yumna" Panggilnya mulai tak sabar.


Pintu terbuka menampakkan gadis kecil yang sangat mirip dengan Dinda tapi gadis ini lebih muda dan lebih kecil dari Dinda yang ku temui tiga tahun yang lalu.


"Waalaikumsalam" Jawabnya dengan wajah datar.


"Siapa Yum? " Tanya seseorang dari dalam.


"Kak Dicky" Gadis yang bernama Yumna itu dengan cuek berbalik lagi setelah membuka pintu tanpa menyapa.


Dicky mengamit tanganku.


"Duduk dulu" Katanya.


Aku menurut duduk di sofa minimalis yang terbuat dari kayu sedangkan Dicky masuk ke arah dalam yang ku tebak itu dapur dan tak lama kembali dengan seseorang.


"Ta, kenalin Hilda"


"Da, Tania"


Kami bertukar sapa, berkenalan, wajah kedua yang mirip Dinda namun ini versi lebih dewasa. Apa semua perempuan di keluarga ini punya wajah yang sama?


"Ganti baju dulu sama Hilda" Ucap Dicky, Ah benar, itu bukan ide yang buruk karena sebentar lagi aku akan menggigil jika tidak segera melepas pakaianku ini.


"Yuk, sini" Hilda menuntunku memasuki salah satu kamar dari tiga kamar yang berjejer.


"Teman kelas Dicky? " Tanya Hilda begitu membuka lemari pakaiannya dan memilah pakaian


"Bukan, Malah senior di kampus" Aku memandang sekeliling, dari lemari dan rak buku serta dua selimut yang ada di kasur menggambarkan jika penghuni kamar ini pasti ada dua orang dan itu Hilda dan si gadis kecil yang cuek tadi.


"O yah? Teknik juga?"


"Bukan. Psikologi"


"Oo.. pantas kayak tidak asing. Aku anak ekonomi " Hilda menyerahkan sepasang baju piyama.


"Yang ini cocok? "


Aku mengangguk meraihnya piyama warna Biru itu.


"O yah? semester berapa? " aku lebih tertarik dengan kenyataan kalau hilda ternyata sekampus denganku.


"Sementar tujuh"


"Serius? seangkatan dong kita? "


"Sudah lama pacaran sama Dicky? " Ternyata Hilda penasaran tentang hubunganku dengan Dicky.


"Dicky pernah bawa cewek kesini selain aku? " Aku malah bertanya balik. penasaran.


"Pernah" Jawab Hilda enteng yang tanpa sadar membuatku mencibir.


"Tapi ramai-ramai. Tidak kayak sekarang, malam-malam berdua sambil hujan-hujanan" Hilda tersenyum geli saat mengatakannya.


"Hhhee" Aku langsung lega. Tadi ku kira....


"Kenal Dicky di mana? di kampus juga? " Hilda kembali bertanya.

__ADS_1


"Bukan. Kenal dan pacaran sejak SMA. Dicky itu first love and endless love"


Ku lihat hilda geleng-geleng namun masih tersenyum geli.


Aku bisa langsung merasa nyaman mengeluarkan kalimat menggelikan depan Hilda. Itu buktinya kalau Hilda bakal jadi ipar yang asik. hhiiihhii.


Tok tok tok


Kemudian terdengar suara Dicky dari balik pintu "Ta, udah belum? makan dulu yuk"


Aku segera mengganti pakaianku kemudian ikut keluar dari kamar.


Hilda mengambil duduk di depan televisi dan aku mengikuti Dicky masuki ruangan yang di sekat dengan tirai kemudian duduk di depan meja makan yang sudah lengkap dengan makanan. Walaupun hanya hidangan sederhana seperti sayur bening, ikan goreng dan sambel kemudian telur ceplok balado tapi kelihatannya sangat menggiurkan.


"Nenek sama Tante ke mana Yum?" Tanya Dicky pada Yumna yang sedang menatap ponsel dengan raut yang serius.


"Ke rumah Ocha, kakaknya Ocha mau menikah" Jawabnya.


Yumna yang memang sudah tidak makan bangkit meski masih dengan ponsel di tangan mata tertuju pada layar.


Aku masih makan dengan nikmat saat terdengar salam dan suara pintu terbuka dan tak lama tirai yang di dekatku telah tersampir. Aku spontan berdiri saat dua orang ibu-ibu kini berdiri di sana.


"Ada tamu" Suara ibu-ibu yang lebih muda.


"Nek, Tante. Makan" Kata Dicky santai namun matanya menyuruhku kembali duduk.


"Makan mi nak (Silahkan makan Nak)" Ucap Ibu yang lebih tua dengan ramah.


"Tadi dari rumah dosen dekat sini, kehujanan jadi ke sini dulu" Dicky berusaha menjelaskan tanpa di minta namun tetap makan dengan lahap.


"Ini ada sediki' dari tetangga (Ini ada makanan sedikit dari tetangga)"


Ibu-ibu yang ternyata Nenek Dicky menghidangkan berbagai menu ala masakan hajatan.


"Makan nak makan. jang ki malu-malu " Katanya lagi ramah, aku mengangguk kembali menyuap sisa nasi dalam piring.


Kemudian Nenek Dicky dan Ibu-ibu itu menghilang di balik tirai.


Aku segera menyudahi suapanku tapi Dicky masih menambah nasi dengan menu lauk yang baru. Aku memperhatikan cara makan yang seperti belum makan selama tiga hari.


"Perbaikan gizi, mumpung di sini" Katanya sambil mengerling.


Selesai makan aku kembali mengekori Dicky ke ruang tamu di rumah itu. Aku duduk di sofa dekat Hilda, sedangkan Dicky mendekati Yumna yang masih serius dengan ponselnya. Sementara Mamanya Hilda menatapku penuh minat.


"Teman kuliah Dicky?" Tanya Mama Hilda.


"Iye Tante, Tania" Aku menyodorkan tangan yang di sambutnya hangat.


"Tante Alma. Mama Hilda, Kakaknya ibu Dicky"


"Temanku juga Ma, Dia Mapres di kampus loh Ma" Hilda ikut menimpali.


"Apa mapres? "


"Mahasiswa berpreatasi Ma"


Mama Hilda mengangguk-angguk.


"Yang main siapa Yum?" ku lihat Dicky meraih ponsel Yumna yang membuat Yumna jadi berang.


"Kak Dicky Ihhh... "


"Streaming bola, cewek itu nonton drakor Yum, kamu masih kecil malah nonton piala eropa, ckckck" Hilda mengomel.


"Aku di Jerman" Kata Dicky tanpa memedulikan omelan hilda.


"Aku potugal. Yang menang dapat apa?" Tantang Yumna.


"Tidak baik taruhan. Dosa" Terdengar Nenek Dicky menegur yang melewati kami menuju kamar. Lalu mereka diam dan terdengar Hilda yang cekikikan.


"Masi mau ko*" katanya.

__ADS_1


"Mau nginap? hujan deras" Mama Hilda kembali bersuara.


"Belum izin sama orang rumah Tante"


Mama hilda mengangguk "Izin dulu. Kamu bisa tidur di kamar Hilda. Pulang tengah malam dengan cuaca begini malah bahaya. Bahayanya banyak apalagi cuma berdua"


"Apa sih Tante" Protes Dicky sambil menyerahkan ponsel Yumna.


"Sudah kenalan sama Kak Tania belum? kenalan dulu"


Yumna masih tidak bergeming dan di jitak Dicky.


"Di ajak ngomong malah diam. Tidak sopan Dek"


"Namaku Yumna, Kakak Tania kan? Aku tau, pernah lihat fotonya di kamar Kak Dicky sama di ige Dinda"


Dengan wajah malas Yumna mengajakku berkenalan.


"Kak, jangan bucin sama kak Dicky yah, ntar kalau putus bisa menyesal. Kayak Kak Hilda tuh, sekarang nyesel katanya pernah suka sama.... Aduhh"


Hilda melempar dengan remot televisi dan tepat mengenai kepala Yumna.


Ternyata Yumna ini bukannya sombong tapi memang rada cuek tapi menggemaskan.


"Bisa pinjam charger? Ponselku mati mau mengabari orang rumah" Aku bertanya pada Hilda yang dijawab dengan anggukan.


"Di kamar yuk"


Aku mengikuti langkahnya masuk kamar saat sebelumnya memberi kode pada Dicky kalau aku mau masuk kamar.


"Nginap aja Ta, benar kata Mama" Kata Hilda "Mau nginapkan Dik? "


"Mau nginap?" Dicky malah bertanya padaku yang ku jawab.


"Terserah kamu"


"Ya sudah. Telpon orang rumah dulu"


...****...


Dicky


Setelah Tania dan Hilda masuk kamar, Tante Alma langsung membrondong pertanyaan dan nasihat.


"Battu kemae ko? (Dari mana?)"


"Apanu? Pacarnu? (Siapa? Pacar kamu?) "


"Tenaja nuapai anak na orang tawwa (Anak gadis orang tidak kamu apa-apain kan)"


"Awas memang ko (Awas saja yah) "


"Teako pakasirik areng na bijang nu (Jangan bikin malu nama keluarga)"


"Apakah Tante ini? Ka tidak ji kodong" Aku ngeles. Memang aku sama Tania masih dalam hubungan yang sewajarnya kan.


Tante Alma kakak Ibu satu-satunya. Sejak Ibu pergi dia orang paling perhatian setelah Nenek. Menanyakan kabar jika lama tidak pulang kerumah atau mengirim sejumlah makanan ke kost bahkan sesekali datang ke kost untuk merapikan dan mencucikan pakaian kotorku. Dia berperan selayaknya ibu sendiri walaupun menurutku Tante Alma kadang berlebihan.


Aku memandangi Tania dan Hilda yang sedang mengobrol di kamar Hilda yang tidak tertutup. Teringat dengan ucapan Tania tadi, aku tidak tau apakah Tania hanya asal ucap atau memang serius, tapi ini cukup mengganggu pikiranku. Bukannya tidak mau menikah dengannya tapi di umurku yang masih 19 tahun? Bukannya lebih beresiko? nikah muda tidak mudah bukan? Nafkah? Mungkin Tania bisa saja menerimaku apa adanya tapi bagaimana dengan keluarganya?


Tidak mungkin membiarkan anak kesayangan mereka kerja sedangkan aku yang jadi suaminya malah kuliah. Tanggung jawabnya dimana?


Atau aku berhenti kuliah? dan mencari pekerjaan saja? Atau aku daftar Tamtama saja seperti bapak?


Aku hanya ingin jadi milikmu, selamanya. Bisakah? Adakah jalan?


Namun aku melihat Tania yang tadi bicara sambil tertawa- tawa dengan Hilda, kini memegang ponselnya dengan wajah menegang.


*****


catatan

__ADS_1


* Masi mau ko \= Kata ledekan yang berarti kamu masih mau.


__ADS_2