
As Scary As The Sea (Seseram lautan)
...*****...
Tania
16 Missed call
Dan
3 unread message
Semuanya dari Kak Dewa. Aku segera membuka pesan lebih dahulu.
Kakak : Kamu di mana dek?
Kakak : Kenapa ponselnya tidak aktif?
Kakak : Kalau aktif segera telpon kakak.
Aku menekan tombol panggil. Panggilan pertama tidak dijawab. Ada sebenarnya? Tadi siang, aku masih sempat menerima telpon dari Mama yang sudah tiba di tempat tujuan dengan selamat. Tapi sekarang kenapa? semoga firasatku tidak terjadi.
Panggilan ke dua, deringan kedua Kak Dewa menjawab.
"Kenapa Kak? " Tanyaku waspada.
"Tadi mama jatuh di kamar mandi Bandara"
Deg
" Tapi Kamu jangan panik" Sambungnya cepat.
"Mama ....... Mama sudah tidur lagi"
"Tapi kalau bisa besok kamu pulang dulu. Temani Mama di sini. Aku harus atur waktu, kerjaan di kantor juga banyak. Apalagi Papa sedang sibuk-sibuknya. Mama lebih suka di rawat sama anaknya sendiri"
Penyakit Kardiomiopati atau lemah jantung yang dimiliki Mama memang sering membuatnya tiba-tiba anfal, masuk rumah sakit tapi baru kali ini Kak Dewa memintaku pulang. Semoga Mama tidak apa-apa.
Aku mendekati Dicky yang masih duduk sama Mamanya Hilda.
"Aku harus pulang, besok aku harus pulang ke palu"
"Kenapa? " Dicky mengernyit.
"Mama masuk rumah sakit"
"Aku antar sekarang. Aku pesan taksi dulu" Jawabnya cepat.
...*****...
Dicky
Ternyata ini yang di katakan Dilan bahwa rindu itu berat.
Komunikasi sama Tania selama dia pulang kurang lancar. Biasanya bisa saling balas pesan hingga berjam-jam. Tapi sekarang hanya bisa sekedar menanyakan kabar. Itupun pesanku hanya di balas singkat-singkat, Katanya dia harus mendampingi Mamanya 24jam. Dan aku harus maklum.
Hari ke sepuluh di waktu pagi dia tiba-tiba menelpon.
"Jemput, aku mau ke kampus" Terdengar suara manjanya. Suara yang ku rindukan.
"Siap sayang. Aku mandi dulu"
__ADS_1
Aku melihat jam di ponsel pukul tujuh. Aku harus menjemputnya sebelum nanti harus ikut rapat PPMB (Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru). Masih sempat.
Seperti biasa Tania langsung menempel di punggung saat di boncengan. Aku mengelus punggung tangannya yang melingkar di perutku sambil menengok ke arahnya.
"Makan dulu yuk, belum sempat sarapan"
Dia mengangguk.
Di lampu merah mataku tertuju pada warung tenda di pinggir jalan yang menjual bubur ayambaku menyalakan lampu sen kiri.
Kini aku dan dia sudah duduk berhadap-hadapan di bawah tenda berbentuk payung.
"Mama apa kabar?"
"Sudah baikan" Katanya sambil menyuap bubur ayamnya. Sepertinya dia juga belum sarapan.
"Ada di rumah tadi" sambungnya.
"Kenapa tidak bilang? Kan aku bisa nyapa" Protesku.
"Kan buru-buru. Nanti kalau pulang deh"
"Memang Mama kamu sudah bisa pergi jauh-jauh begini?"
"Dokter merekomendasikan terapi di sini"
"Sebenarnya Kak Dewa mau bawa Mama berobat ke malaysia tapi mama menolak terus. Katanya sudah tidak kuat jauh-jauh. katanya juga dia tidak mau nanti malah meninggal disana. Dia maunya meninggal di rumah sendiri katanya" Dia mengatakan dengan mata menerawang. Anak mana yang siap kehilangan orang tuanya. Tidak ada.
Aku hanya mengelus punggung tangannya.
"Mama kamu pasti kuat. Sudah bertahan sejauh ini kan itu karena dia kuat"
...******...
Tania
Aku memang berniat mempertemukan Dicky sama Mama. Aku mau Mama tau kalau aku sekarang bahagia dengan Dicky. Semoga mama bisa mengerti.
Dan aku bisa bernafas lega saat Mama menyambut hangat Dicky, bahkan memeluknya.
"Apa kabar nak?"
"Alhamdulillah sehat Tante"
"Bapak sama Ibu sehat?"
"Bapak sehat...."
"......Ibu sudah tidak ada" Dicky tertunduk saat mengatakannya.
"Innalillah wa innailaihirajiun" Mama menggenggam tangannya mencoba memberi kekuatan.
"Yang sabar yah Nak. Sekolah baik-baik sampai sukses biar Ibu Bangga liat kamu"
"Makasih Tante"
Namun kelegaanku bersifat fana. Karena setelah Dicky pulang. Mama mengajakku berbicara serius.
"Mama kasihan sama temanmu itu. Tapi kamu tidak boleh memberi harapan nak"
"Maksud Mama? "
__ADS_1
"Kamu sama Anca sudah terikat Nak, tidak seharusnya kamu jalan berdua sama orang lain. Pasti dia berharap lebih sama kamu"
"Tapi aku sama Kak Anca sudah putus Ma"
"Putus bagaimana? "
"Yah, Aku sama Kak Anca sudah memutuskan tidak melanjutkan perjodohan itu Ma"
"Tapi Anca sendiri yang datang bicara sama Papa kalau dia mau mempercepat pernikahan kalian"
"Apa? " Tanpa sadar aku memekik.
Mama meraih tanganku dan bersuara lembut "Mama tidak mau hanya karena tidak ingin mengecewakan satu orang tapi kamu malah mengecewakan orang banyak. Papa berharap banyak sama kamu Nak"
"Tapi Ma...... " Mataku mulai memanas.
"Kita tidak bisa mundur lagi kecuali pihak keluarga Anca yang mundur"
"Ma........" Hanya lirihan itu yang bisa ku keluarkan mencoba mencegah Mama tapi Mama seolah tidak peduli.
"Makanya kamu harus membatasi diri mulai sekarang"
"Mama percaya sama kamu" Adalah kalimat Mama yang paling penancap di ulu hatiku.
..._______...
Aku : Aku mau bicara.
Kak Anca: Bicara apa dek?
Aku : Kenapa Kak Anca curang? Harusnya Kak Anca bilang kalau kita sudah putus kenapa malah mempersulit keadaan?
Kak Anca : Mau ketemu di mana? kita bicara baik-baik dek.
Aku : Cafe dekat rumah. Aku tunggu jam 4 nanti.
Aku tiba lebih cepat dan memilih duduk di dalam yang lebih privasi. Sedangkan Kak Anca datang jam 4 lewat lima menit.
Kak Anca masih sama seperti dulu, sudah lama tidak melihat nya tapi bukannya rindu aku malah malas melihat wajahnya itu.
"Aku kangen" Kalimat pertama yang di ucapkan setelah duduk di depanku tapi aku tidak berniat menanggapinya.
"Jelaskan Kak. Kenapa kak Anca nekat datang ke rumah dan bilang omong kosong begitu"
"Apa yang mau di jelaskan Tania. Aku sayang sama kamu, aku serius sama kamu. aku mau kita lanjut sampai kita nenek-kakek"
"Tapi Kak. Aku sudah bilang aku.... aku tidak bisa lagi sama Kak Anca"
"Karena ada dia?"
"Kak.. Plis jangan egois begini"
"Kamu yang memulai Tania, kamu yang egois memutuskan tanpa memikirkan aku sedikitpun" Ku lihat rahang Kak Anca mengeras.
"Kalian curang, Jadi aku juga bisa main curang" lanjutnya.
"Kak... Aku harus bagaimana biar Kak Anca ngerti" Aku berusaha agar dia bisa merasa iba.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun. Dua minggu lagi aku wisuda, setelah itu Ayah akan datang secara resmi"
Kak Anca berbalik dan menghilang di balik pintu. meninggalkan aku yang hanya bisa tergugu.
__ADS_1
...*****...