Oh My Brownis

Oh My Brownis
Good Girl to be Bad Girl


__ADS_3

Tania


Kata orang sering kali ekspektasi tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan, itu memang benar adanya.


Ketika pulang dan ku dapati Kak Anca yang sedang duduk di teras menungguku dengan wajah yang khawatir membuat lidahku keluh.


Tapi satu yang membuatku sedikit bernafas ketika Kak Anca mengatakan....


"Hari minggu besok aku mau berangkat ke Surabaya sama Ibu, katanya kangen sama cucunya yang di sana"


Lalu seketika matanya berbinar seperti mendapat ide yang sangat cemerlang.


"Kamu mau ikut? Aku pesankan tiket sekalian. kita jalan-jalan dulu sebelum kamu fokus dengan skripsi" Katanya lagi antusias.


"Enggak usah kak" Tanpa sadar aku terlalu bersemangat untuk sekedar menolak.


"Aku harus kejar deadline, mumpung PA(Pembimbing Akademik)ku masih belum berangkat ke Jerman" Alasanku memang klasik tapi masih masuk di akal.


"Besok aku ke Pare-pare jemput Ibu dan hari minggu langsung berangkat ke Surabaya jadi tidak punya waktu lagi" Katanya lagi dengan wajah menyesal.


"Tadi mau ajak kamu jalan tapi ternyata kamu sibuk" Terlihat jelas ada kekecewaan dalam nada bicaranya walau dia masih tersenyum teduh.


hiks, kenapa aku berada di posisi ini?


Disatu sisi aku senang karena bisa sepuasnya bertemu Dicky tanpa takut ketahuan, di sisi lain melihat tatapan teduh Kak Anca membuatku merasa jadi perempuan paling tidak tau diri.


Dumb ! aku benar-benar sudah jadi liar, player.


_____


Hari ini hari jumat, dan satu yang ku sesali kenapa kemarin aku lupa meminta nomornya, nomor terbaru Dicky. Padahal kemarin aku bahkan memegang ponselnya dalam waktu yang cukup lama.


Tapi tak apa, aku bisa mendatanginya lagi.


Tapi -lagi- hari ini aku harus menyelesaikan laporan yang kemarin terbengkalai. Waktunya hanya sampai hari minggu besok. Senin lharus di setor kalau ingin mendapat nilai A.


Dan hari mingguku terlalu sia-sia jika harus ku gunakan juga di depan laptop dan tumpukan buku. Kalau biasanya hari minggu ku gunakan untuk rebahan seharian, hari minggu besok aku ingin menggunakan sebaik mungkin untuk kencan dengannya, walaupun bukan kencan berdua seperti dalam anganku karena jauh hari mereka (Rian dan Eby) merencanakan sesuatu untuk ultah Dea yang bertepatan hari minggu besok. Tak apa, malah bagus bisa jadi ajang reuni antara Dea dan Dicky.


Terus ketemu sama Dickynya harus tunda sampai hari minggu? dua hari lagi? ck.


"Ta, kamu beneran lanjut sama mantan kamu itu?" Tanya Naila dengan kening yang mengkerut.


Lamunanku tentang cara bertemu Dicky seketika buyar.


"Namanya Dicky" Protes ku.


"Terus Kak Anca?" Tapi dia mengabaikan protes ku.


"Aku akan memintanya membatalkan semuanya"


"Segampang itu?" Ku dengar suaranya meninggi, membuat beberapa orang yang ada di perpus menatap protes.


"Enak yah jadi kamu" Lanjutnya dengan senyum meremehkan. "Tinggal pilih yang mana tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain"


"Aku sama kak Anca bisa tunangan karena orang tua kita Nai, tidak lebih. Baik aku ataupun Kak Anca"


"Kamu ini pura-pura atau memang to lo? Kak Anca itu tulus sama kamu. Dia bahkan memutuskan pacarnya yang sudah bertahun-tahun dan memilih kamu. Tapi kamu bilang tidak ada apa-apa? " Naila sudah jelas berada di pihak Kak Anca.


"Dan kamu sendiri, kenapa kamu betah selama dua tahun sama dia kalau kamu tidak punya perasaan apa-apa?" Tanyanya lagi bernada menantang.

__ADS_1


"Kamu bahkan menutup matamu tentang bagaimana sakitnya jadi pacarnya kak Anca yang di tinggal begitu saja" Kata-kata Naila benar-benar membuatku merasa menjadi orang yang paling jahat.


Apa aku memang seperti itu? Apa seharusnya tidak seperti itu? Terus sekarang aku harus bagaimana?


"Kamu itu ada rasa sama dia juga Ta. Kamu cuma terobsesi sama cinta monyet mu itu"


Naila salah. Tidak seperti itu kenyataan nya tentang perasaanku terhadap Dicky.


"Naila, perasaanku terhadap kak Anca dan Dicky sangat berbeda, aku tau sendiri itu"


Ku pandangi Naila dengan wajah memelas meminta agar dia mengerti.


"Ck, Jangan pernah menyesal jika suatu saat Kak Anca kecewa sama kamu dan tidak mau kembali lagi baru kamu menyadari perasaanmu" Nada suaranya makin membuatku tidak nyaman dan dia kembali menatap layar laptopnya tanpa berniat melanjutkan perdebatan lagi.


Ku coba bertanya pada hatiku, apakah aku akan menyesal?


Mungkin! Jika misalnya Dicky yang sekarang bukan tipe yang setia. Tapi ku rasa sekarang aku lebih menyesal jika aku harus melihat Dicky bersama orang lain.


Aku diam tidak menanggapi Naila juga. Selama ini Naila adalah sahabat baik, pendengar setia, menghibur yang baik dan selalu ada kapan dan di manapun aku butuh.


Aku tau Naila bermaksud memberiku saran yang terbaik tapi aku tidak bisa. Hatiku bertentangan dengan logikanya.


Kita kembali fokus dengan tugas masing-masing walau sebenarnya fokus ku sudah terganggu, kepalaku sudah penuh dengan wajah-wajah yang mungkin sudah ku kecewakan. Termasuk Kak Anita.


Kak Anita yang ku kenal sebagai senior di kampus,aku mengenalnya dan aku yakin dia juga mengenalku walaupun tidak pernah bertegur sapa.


Walaupun kata Kak Anca mereka memang putus jauh sebelum kita memutuskan tunangan tapi aku tau sedikit banyak aku penyebab Kak Anca berpaling.


Dan selama itu pula Kak Anita tidak pernah mendatangiku, marah atau melabrak ku seperti adegan drama-drama romance jika kekasihnya di rebut. Walaupun Kak Anita pasti sering melihat mobil Kak Anca parkir di depan jurusan karena menungguku yang masih kuliah.


Aku masih menatap kosong ke layar di depanku saat seseorang mendudukkan diri dengan pelan di samping ku. Ku lirik, kemeja kotak biru langit. Tangan panjang sangat ku kenal lalu aku menoleh.


Seketika perasaan gundah gulana ku meluap tak tersisa saat melihat senyumnya.


"Ya bisa aja lah, Ini area umum"


Ku lihat Naila yang duduk di depanku melirik tanpa suara.


"Kenalin, teman aku, Naila"


Dicky mengulurkan tangan dan memasang senyum yang paling ramah kepada Naila.


"Dicky"


Tapi Naila justru menujukkan tampang tidak bersahabat.


"Naila" Jawabnya tanpa menyambut uluran tangan Dicky malah sibuk membereskan barang-barangnya.


"Aku mau ke kantin, sudah janjian sama Awan"


Kemudian dia berlalu.


"Sorry yah, kayaknya dia proses hijrah, gak mau sentuhan sama yang bukan muhrim"


Kataku asal tapi Dicky mengangguk seolah dia memang percaya. Mana ada Naila hijrah, gaya berpakaiannya saja kadang masih senonoh.


"Tidak kuliah? Semester kayak kamu bukannya kuliahnya masih full? Awas yah kalau bolos"


Tanyaku sudah kayak emak-emak pada anak nakalnya.

__ADS_1


"Asik ! sekarang aku ada pawang" Dia malah menyeringai memperlihatkan gigi susunnya yang selalu aku suka.


"Serius Dik"


"Tidak sayang, aku kuliah siang mulai jam satu sampai sore petang, makanya sekarang kesini"


Wajahku langsung memerah saat dia mengatakan sayang. Rasanya aneh tapi menyenangkan.


"Makanya save nomor pacarnya Bang"


"Aku save kok, kamu aja yang gak save nomor aku"


"Serius? "


Mana ponselnya.


aku mengetik nomorku di sana lalu memanggil. Dan benar namaku "Tania❤" muncul di sana.


"Kamu curang ih"


Ku raih ponselku yang sempat berdering diatas meja ku lihat nomor yang baru saja memanggil, nomor baru tapi tidak asing.


"Bukannya ini nomor lama kamu? "


"Memang"


"Jadi selama ini nomor kamu aktif? "


Dia hanya nyengir kuda.


Apa selama ini aku memang tidak pernah mencoba menghubungi nomornya? Tidak, aku yakin pernah, malah sering. Tapi kapan? Hanya awal-awal kejadian itu? Setelah sebulan dua bulan memang tidak pernah ku coba lagi apalagi saat ponselku di ganti dan nomornya tidak ku simpan lagi.


Kenapa aku bodoh sekali.


Aku masih diam meratapi kebodohanku saat dia meraih laptop yang di hadapanku.


"Aku bantu ngetik yah, setengah satu aku harus balik. Kamu pulang jam berapa? Mau aku jemput?"


"Tidak usah, Aku sama Naila rencana mau ke suatu tempat nanti" Jawabku.


Ku lihat kilatan lain di matannya dan nada suara yang seolah tidak percaya sepenuhnya.


"Oh tidak apa-apa"


"Serius! Aku pulangnya sama Naila" Ku tatap matanya dengan wajah memelas "Aku sama Naila mau ke Gramed cari buku referensi untuk mengajukan judul"


Dia hanya tersenyum mengelus rambutku.


namun tanpa suara.


"Serius Dik, Kak Anca lagi pulang ke kampung nya, jadi tidak akan menjemput ku"


Hais, ingin ku pukul bibirku ini yang berani menyebut nama Kak Anca di hadapannya.


"Aku percaya sayang, tidak apa-apa"


Katanya lalu mencubit pipiku lembut dan sama sekali tidak sakit.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2