Oh My Brownis

Oh My Brownis
Aku Tanpamu 2


__ADS_3

Tania


"Kak Nia..... Kak" Panggil Nina, anak Daeng Intang di balik pintu.


"Mmmmhhh, kenapa Na?" Aku melakukan touch terakhir di bibir.


Siang ini rencana akan ke kampus, membantu Naila mempersiapkan sidangnya. Akhirnya aku kalah langkah sama Naila. Penelitiannya sudah beres sisa sidang dan revisi. Sedangkan aku? sama sekali belum ada kemajuan.


" Disuruh panggil. Sudah di tunggu sama Pung Anca" Terang Nina masih di balik pintu.


"Kak Anca?" Aku meraih tas dan membuka pintu, mendapati Nina yang mengangguk.


"Iye"


"Kenapa?" Tanyaku lagi.


Tapi Nina hanya menggeleng tanda tidak paham.


Orang itu memang kadang semaunya. Tanpa diskusi langsung datang merusak rencana.


"Sudah siaap? " Tanya Kak Anca saat aku mendekati sofa tempat dia lagi berbincang dengan Papa.


"Aku mau ke kampus" Jawabku dengan kening mengkerut.


"Kita fitting dulu"


"Bukannya hari minggu? "


"Minggu aku harus berangkat"


"Tapi aku harus ke kampus" Aku tetap ngotot.


"Ke kampusnya masih bisa besok nak" Papa ikut menimpali.


Isshh papa.


"Kita fitting dulu, habis itu aku langsung antar ke kampus" katanya lagi, terdengar meyakinkan.


"Aku pamit dulu sama Mama"


"Tidak usah, Mama masih istirahat. tidak usah khawatir, ada Papa yang jaga Mama" Kata Papa.


"Pamit dulu,Om" Kak Anca sudah beranjak.


"Hati-hati"


Meski memasang wajah kesal, aku tetap mengikutinya. Perjalanan kali ini hanya di iringi dengan suara audio yang menyanyikan lagu-lagu list kesukaan Kak Anca. Mulai dari lagu lawas Greenday, hoobastank hingga lagu terbaru pamungkas. Kak Anca terdengar bersenandung mengikuti lirik Sedangkan aku menyibukkan diri dengan ponsel.


Pertama harus mengirim pesan pada Naila, meminta maaf karena tidak jadi datang. Padahal ini moment bersejarah bagi Naila, sayang sekali. Hiks.


Kedua, kubuka notif di grup Beutygeng.


Rian mengirim sebuah gambar yang seketika membuat dadaku sesak.


Rian: Ada yang kenal?


Dari belakang aku langsung tau sosok laki-laki yang tinggi itu, kaos yang di kenakannya dan sepatu itu, sepatu yang ku berikan saat ulang tahunnya. Dia sedang menggandeng tangan seorang perempuan yang entah siapa.


Foto kedua aku yang tampak dari samping aku langsung tau perempuan itu adalah Farah.


Tisha : Itu Dicky?


Rian : 100% untuk sayangkuh.


Iyah, akhirnya Rian sama Tisya Jadian.


Tisha : Setau aku Dicky pacaran sama anak seni. Namanya Askia.


Rian : Namanya juga cowok bibehh.


Tisha: Oo.. gituu. Kamu sendiri lagi jalan sama siapa? Heh?


Rian tidak langsung menjawab seperti tadi. Ada jeda beberapa detik lalu tampil foto selfie dengan Mamanya.

__ADS_1


Rian : Sama mertuamu bibehh, curigaan banget.


Dua sejoli itu melanjutkan obrolan mereka. Baik Dea ataupun Eby tidak ada yang menimpali, sedangkan aku sendiri merasa tidak pantas berkomentar apapun saat ini.


Ponselku kembali memekik singkat.


Eby : Are u oke?


"Liatin apa sih ? Dari tadi menghela nafas terus" Kak Anca menoleh penuh rasa ingin tau tapi aku tidak menjawab, lebih memilih mengetik balasan pesan Eby.


Aku : What about?


Eby : Dicky.


Aku : Fine😊


Senyum Dicky didepan Farah di foto tadi menjadi bukti nyata, bahwa Dicky baik-baik saja. Jadi, tidak ada alasan untukku merasa bersedih.


Belum juga ku klik tombol kirim, Kak Anca merampas ponsel di tanganku.


"Kita fokus sama rencana kita dulu yah" Katanya meski dengan intonasi yang lembut tapi tetap membuatku merasa jengkel.


"Kak Anca ihhh.... " Aku berusaha merebut tapi dia menonaktifkan ponselku lalu memberikanku.


"Biar adil hpku juga ku matikan " Dan dia benar-benar melakukannya.


"Ayo" Meski masih gondok aku tetap mengikutinya memasuki sebuah butik.


"Akhirnya, kalian berjodoh" Sambut Shani, Sang pemilik butik sekaligus MUA yang akan di pakai jasanya.


"Berapa kostum?"


"Memang biasanya berapa? " Tanyaku ogah-ogahan.


"Tergantung. Tapi kalau bugis biasanya tiga yah Nca? Malam Mapacci, Akad dan resepsi"


"Temanya apa? " Tanyanya lagi dan aku hanya diam. Sama sekali belum pernah memikirkannya, walaupun waktu makin dekat.


"Kalian belum pernah diskusi?" Shani menatapku dan Kak Anca secara bergantian.


"Malam mapacci dan akad biasanya pakai pakaian adat. Banyak loh, baju bodo modern yang on proses. Kamu tinggal memilih model dan warna yang sesuai. Nih katalognya"


Aku memilih warna hijau dan kuning untuk baju bodo. Memilih baju bodo tidak membutuhkan banyak waktu. Tapi ketika memilih dress untuk resepsi ternyata membutuhkan banyak pertimbangan.


"Bagaimana kalau yang ini? Cantikkan? "


"Warnanya terlalu cerah"


"Kalau yang ini? Warna lagi booming loh" Shani mendekati patung dengan pakaian berwarna ungu soft atau lilac.


Tapi aku kembali menggeleng. model kerah yang terlalu terbuka pasti tidak nyaman saat di pakai.


Butuh waktu dua jam hanya menentukan warna dan model yang sesuai selanjutnya Shani mengukur badan kami.


"Makan dulu yah. Belum sempat makan siang, lapar" Ucap kak Anca saat kembali melajukan mobil.


"Bukannya mau antar aku ke kampus? "


"Yakin mau ke kampus? Inikan sudah jam berapa? "


Kulihat jam, memang sudah pukul empat, percuma juga ke kampus. Naila pasti sudah pulang.


Dan Kak Anca bukan sekedar mengajak makan tapi membawaku ke mall.


"Kamu mau beli apa? Aku beliin" Tawarnya


"Tidak usah" Tolakku.


Dia memasuki sport station, memilih sepatu. mencobanya lalu di copot lagi memilih lagi.


Tidak jauh, aku lihat ada petunjuk arah menuju toilet.


"Kak, aku ke toilet dulu" Kak Anca mengangguk .

__ADS_1


Setelah buang air kecil, lalu mencuci tangan dan merapikan rambut, aku berjalan keluar. Aku baru ingat, dari tadi ponselku mati, kunyalakan dan ternyata serbuan pesan langsung masuk tanpa ampun. Suara petikan tidak kunjung berhenti. Baru saja ingin ku buka pesan-pesan itu. Ponselku kembali berbunyi nyaring.


Papa calling....


"Halo Pa "


"Dek... " Tapi suara Kak Dewa yang ku dengar. "kamu dimana Dek? Pulang sekarang" Begitu suara lemah tanpa daya kak Dewa.


...****...


Dicky


Farah sedang sibuk memilih tas, aku memilih duduk untuk menunggu. Ini sudah toko yang ke empat tapi Farah belum juga membeli satu barangpun.


Saat ku layangkan pandang, dari kejauhan aku melihat sosok yang sangat ku kenal, dia keluar dari lorong yang bertuliskan toilet.


Dia berjalan dengan kepala tertunduk. Tampak fokus dengan ponsel di tangan. Lalu seperti sedang menelpon seseorang karena posisi ponselnya kini berpindah ke telingan, namun langkahnya langsung terhenti. Bahkan di tengah orang yang lalu lalang dia tetap mematung. Beberapa orang sempat menyambar bahunya tapi dia tidak bergeming.


Dia kenapa? Pasti ada sesuatu yang salah. Dengan langkah yang refleks aku mendekatinya.


"Tania... "


Dia mendongak menatapku dengan pandangan yang kosong.


"Kamu kenapa Ta? " Tanyaku panik, sambil memegang kedua bahunya.


"Sayang... Kamu gak papa kan?" Tanyaku lagi tapi tania tidak merespon. Badannya yang ku pegang tampak bergetar.


Tiba-tiba seseorang menyentak tanganku.


"Lepas! Jangan macam-macam yah sama calon istri orang"


Aku hanya berdesis melihatnya malas lalu kembali mencoba meraih Tania.


BUK


Orang itu langsung memukul wajahku. Aku bangkit langsung menyerangnya juga hingga posisi berada di bawa kungkunganku, baru hendak ku layangkan tinju tapi suara Tania menyadarkanku.


"Mamaaaaaa........ Mamaaa huuu mamaaaaa"


Tania sudah duduk berjongkok menutup wajahnya dengan telapak tangannya sambil terisak. Tubuhnya yang kurus bergetar hebat.


Aku hanya bisa menatapnya penuh penyesalan saat orang itu mendorongku lalu bangkit, merengkuhnya dan memberinya ketenangan.


"Mama kenapa dek? "


"Mamaaa kak, Mamaa hhuuu hhuu"


"Kita pulang sekarang"


...*****...


Farah


Aku sedang berdiri di depan kasir, hendak membayar saat kudengar suara keributan dari luar. Aku melihat orang-orang mulai berkerumun, sepertinya ada yang sedang bertengkar. Awalnya aku tidak begitu tertarik untuk ikut menyaksikan drama itu, tapi aku melihat seorang yang sangat mirip dengan Dicky baru bangkit sambil memegang bibirnya. Aku melayangkan pandang dan tidak ku temui sosok Dicky yang tadi duduk menunggu.


Astagfirullah Dicky?


Setelah membayar, secepat kilat aku sudah menerobos kerumunan orang yang sedang menonton tanpa ada yang berusaha melerai.


"Dicky.... " Aku memekik saat Dicky sudah mencengkeram kerah baju seseorang yang sekarang di tindihnya. Namun Dicky seolah tidak mendengar. Tatapan matanya penuh kebencian.


Tapi kepalan tangannya hanya menggantung di udara saat seorang gadis menangis.


"Mamaaaa.... huhuhu... mama"


Dicky dengan wajah lebam, kini menatap nanar kepergian gadis pujaannya dengan orang lain.


...******...


Kamsahamnida, masih bersedia menemani Tanduk meski sangat seeeelooow UP. 😚😚😚


Sekali lagi maaafkan lahh,, ku takk bisaaa.... ehh malah nyanyi πŸ™Š

__ADS_1


Sehat-sehat yahh semuaaa πŸ˜‡ Saranghee 😘


__ADS_2