Oh My Brownis

Oh My Brownis
When I See You Again 2


__ADS_3

"Dik... sini woy" Seseorang memanggilnya membuat tatapannya berpaling.


Dia tersenyum samar sejenak ke arahku dan hendak melangkah tanpa kata refleks aku berdiri menghalangi langkahnya.


"Kita perlu bicara" Kataku tegas mencoba menembus tatapannya.


Aku melihat dia menghela nafas berat.


"Kamu makan duluan. Aku ada urusan dulu " Katanya pada temannya yang ada di balik punggungku kemudian dia berbalik lalu berjalan keluar.


"Nai, sorry. kamu bisa pulang duluan, nanti aku kabari"


Ku lihat Naila hanya melongo melihatku yang sudah berlari kecil berniat mengikuti langkah panjang Dicky.


"Tania... " Akbar memanggilku.


Ya ampun, aku sampai melupakan kehadiran Akbar. Aku berbalik lagi.


"Sorry Bar, Lain kali aja yah" Kataku sambil menangkup kedua tangan di depan dada.


Lalu aku kembali berjalan cepat dengan pandangan yang terus mengikutinya. Aku takut ini semua hanya ilusi.


"Kita cari tempat makan yah, aku lapar" katanya mencoba tersenyum.


Aku menurut duduk di boncengan nya, dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang, yang pasti bukan motor yang sering menjemputku dua tahun yang lalu.


Aku menatap punggungnya, ahh, ternyata aku sangat merindukan punggung itu. Rasanya ingin ku lingkarkan tangan ku di sana tapi ada rasa segan saat mengingat sikap dinginnya tadi.


Dia membawaku ke sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat yang tadi. Cafenya terlihat lengang, berbeda dengan kantin yang depan kampus tadi.

__ADS_1


Aku memilih duduk di sudut dan dia duduk di hadapanku.


"Pesan apa? " Tanyanya dengan mata masih menatap menu makanan. tidak menatapku sedikitpun.


Ah, aku baru sadar suaranya makin berat dan dalam.


"Aku kenyang" Jawabku singkat mencoba mengatur ritme jantungku. Ku tatap dia tanpa berkedip. Wajahnya gelap, seperti terbakar oleh matahari, garis bibir yang masih sama dan rambut jatuh menutupi keningnya. Wajahku sudah memanas menahan air mataku. Hais kenapa mood mudah sekali terpengaruh olehnya.


"Nasi goreng seafood, air mineral, es jeruk peras dan roti bakar keju" Dia masih ingat makanan yang sering ku pesan dulu.


Setelah pelayan meninggalkan kami. aku masih menatapnya tajam tapi dia hanya sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Kamu jahat Dik" Aku berkata lirih. Ku lihat jari-jarinya berhenti bergerak. Aku menggigit bibir bawah ku agar air mataku tak jatuh.


"Kamu tau siapa aku kan? kamu tidak amnesia karena kejadian itukan? " Tanya ku beruntun.


"Terus kenapa selama ini tidak pernah menemuiku? Kamu pasti tau aku ada di mana? harusnya kamu datang. Aku khawatir Dik, aku kira kamuu.... " Aku berhenti tidak sanggup melanjutkan apa yang ku pikirkan.


"Aku masih hidup. Aku baik-baik aja. Tidak usah khawatir"


"Bagaimana aku tidak khawatir. Dua tahun Dik kamu ngilang"


"Aku bukan sengaja ghosting dari kamu Ta" Tatapannya yang tadi hanya menunduk kini terangkat menatapku "Kamu tau itu" Ku lihat dengan jelas luka di matanya.


"Terus kenapa?" Lirih ku, air mataku sudah jatuh tak sanggup melihat lukanya.


"Aku tidak punya celah" Jawabnya tak kalah lirih kembali menunduk. Aku mengernyit tidak mengerti dengan jawabannya.


Percakapan kami terputus karena makanan yang di pesan telah datang. Aku menghapus air mataku dan menatap keluar. Ku lihat dari ekor mataku si pelayan menatap kami dengan penuh rasa ingin tahu.

__ADS_1


"Aku selalu berharap kalau suatu saat kamu datang sendiri di hadapanku" Lanjutku tak ingin membiarkannya lolos begitu saja. "Tapi ternyata kamu sama sekali tidak punya niat menemuiku"


"Bagaimana aku bisa tiba-tiba berdiri di hadapanmu saat kamu sama dia? Dia selalu ada di dekatmu, aku bahkan tidak punya cela hanya sekedar menampakkan diri" Tatapannya makin nanar.


Apa itu yang terjadi selama ini?


"Kamu salah faham Dik! " Aku berusaha membela diri.


"Bagian yang mana aku salah faham? tolong jelaskan biar aku bisa faham Tania"


"Aku gak suka sama dia"


Dicky berdecak dan tersenyum, bukan senyum dalam arti sesungguhnya, tapi dia tersenyum seolah tak percaya dengan ucapanku.


"Tapi kamu nyaman sama dia. Kamu terlihat bahagia" Dia kembali menunduk dan mengaduk Nasi gorengnya.


Aku menggeleng dengan air mata yang terus mengalir. Hatiku terasa perih, ada yang menusuknya di dalam sana.


"Aku sayangnya cuma sama kamu, maunya cuma sama kamu Dik" Aku masih berusaha meyakinkannya.


Dia menatapku penuh keraguan tapi aku balas menatapnya dengan wajah memohon agar dia mengerti.


Setelah lama tidak ada respon dan hanya menatapku mencari kepastian.


"Terus kamu maunya gimana?" Tanyanya dengan suara yang sangat lembut, sorot matanya penuh harap. Ku rasa dia sudah melunak. Ini Dia Dicky yang ku kenal, Dicky ku. The one and Only.


"Beri aku waktu Dik. Beri aku waktu untuk memperjelas semuanya"


*******

__ADS_1


__ADS_2