Oh My Brownis

Oh My Brownis
Tidurlah Mama


__ADS_3

Dewa


Sejak semalam saat mama menelpon, aku jadi susah tidur.


"Kak, minggu ini tidak kesini?"


"Kerjaan numpuk ma. Mama gimana kabarnya? udah sehatkan? "


Terdengar mama tertawa "Alhamdulillah. Cuma kangen"


"Tumben mama manis gini"


Mama kembali tertawa renyah.


"Kak.. " Mama memanggil dengan nada rendah. Pasti ada hal yang serius ingin di bicarakan. "Gimana tawaran mama?"


Tawaran? Ah iyah. Tawaran bisa nikah berbarengan dengan Nia.


Sejak dulu mama suka kepo, tentang hubungan asmaraku, sering memintaku mengenalkan seseorang hingga akhirnya Anca melamar Tania, mama makin mendesak untuk memintaku juga segera menikah.


"Kamu udah dewasa. Tunggu apa lagi? mumpung mama masih di beri kesempatan sama Allah" Suara mama kembali terdengar.


"Iya ma"


"Iya apa? Kalau kamu sudah siap mental, nanti aku bicara sama papa. Kamu tinggal meyakinkan Dea saja"


Karena selalu di kepoi akhirnya aku cerita segalanya tentang satu-satunya gadis yang ingin ku nikahi. Dan respon mama sangat tidak terduga. Mama jadi tambah bersemangat memintaku segera menikah.


"Akhir-akhir ini Dea marah sama aku ma. Jangan kan bicara, telpon aku aja di reject, kalau aku kerumahnya dia malah sembunyi di kamar"


"Kok bisa? "


"Dewa salah bicara, jadi dia tersinggung"


"Butuh bantuan mama? "


"Tidak usah ma. Nanti aku dianggap pengecut lagi"


Mama kembali tertawa. Malam ini mama terdengar lebih rileks.


"Kamu itu anak yang baik. Dia tidak punya alasan menolak kamu"


Mama salah. Dea punya 1000 alasan menolak aku.


"Papa gimana? "


Jika mama sangat setuju kalau Dea bisa jadi menantu lain halnya dengan papa.


Suatu ketika mama memancing papa dengan obrolan.


"Dea calon menantu idaman"


Tapi kata papa "Dea kurang mendukung untuk karir masa depan. Cari yang lain yang tidak akan merepotkan di kemudian hari"


Saat itu aku ingin marah. Membantah ucapan papa tapi mama menahan dengan mengelus lembut tanganku.


"Percaya sama mama" Suara mama kembali menyadarkanku. " Kalau kerjaan sudah beres segera kesini yah. Mama benar-benar kangen"


Aku merasa malam itu mama sedikit aneh tapi aku berusaha mengabaikan. Hingga pagi aku makin gelisah, aku putuskan berangkat.


Aku tiba di bandara menjelang sore. Aku menelpon Nia biar dijemput tapi ponselnya mati. Tumben. Akhirnya aku menggunakan taxi online, mampir sebentar di toko kue, membeli cake kesukaan mama dan Nia. Aku tersenyum membayangkan mama memelukku dan berterima kasih karena hadian kecil ini. Tapi baru tiba di depan pintu, aku mendengar teriakan papa. Aku berlari menuju kamar. Papa yang berlinang air mata sudah memeluk mama di pangkuannya sambil mengucapkan syahadat diikuti oleh gerak mulut mama. Kemudian mama terpejam untuk selamanya.


...*****...

__ADS_1


Dea


Aku tiba di rumah Tania tidak lama setelah mendapat kabar. Rian yang kebetulan lagi di makassar menjemputku dengan Tisya.


Aku yang dibantu Tisya, mendekati Tania yang menatap jasad mamanya dengan mata bengkak.


"Yang sabar Ta" Aku dan Tisya langsung memeluknya. Mencoba memberi kekuatan.


Kurasa tubuh Tania tersentak. lalu Tania balas memelukku dan kembali berurai air mata.


"Maafin kesalahan mama selama ini De, Cha"


"Enggak, Tante gak punya salah sama kita. Malah kita yang sering ngerepotin" Ku dengar Tisya menjawab sambil mengelus kepala Tania yang berbalut mukena.


Sedangkan Kak Dewa terlihat lebih tegar, tidak mengeluarkan airmata dan sibuk mengurus segala sesuatu. Tapi setelah jasad mamanya dimandikan dan dikafani, kak Dewa malah memilih menyudutkan diri. Menenggelamkan diri.


Meskipun masih belum bisa memaafkan atas perilaku terakhir kak dewa tapi melihatnya seperti itu aku merasa iba. Aku mendekatinya dengan susah payah, berjalan menggunakan tongkat kruk.


"Kak dewa..." Dia tidak bergeming.


Aku meraih tangannya. "Allah sayang sama tante Mina"


Dia menengadah menatapku dengan mata sayu. meski tanpa air mata tapi disana terlihat ada luka yang menganga.


"Hanya mama tempat curhatku. Hanya mama yang tau segala rahasiaku. Tapi mama malah pergi secepat ini" Lirihnya


"Tante, sudah lama sakit Kak, sekarang dia bisa tenang, tidak sakit lagi. Tugas kita sekarang mendoakan tante tiap saat"


Kak Dewa meraih pinggangku, memeluk erat dan menangis tersedu-sedu. Ini tangisan pertama Kak Dewa yang ku lihat. Dulu malah kak Dewa yang selalu menjadi jagoan kami, aku dan Tania. Tapi laki-laki juga manusia akan sakit jika kehilangan.


"Aku belum mengabulkan permintaan mama De"


"Mama cuma ingin liat aku menikah, tapi aku terlalu pengecut, terlalu abai dengan permintaan mama meski sudah berulang kali mama minta"


Aku membelai rambut kak Dewa yang masih menenggelamkan kepalanya di perutku.


Tanpa bisa ku cegah, aku ikut menitikkan air mata. Aku juga merasa kehilangan sosok tante Mina, beliau sudah seperti ibu sendiri bagiku, sejak kecil mengenalnya sebagai sosok yang lembut. Tidak jarang aku dititip di rumah Tania saat ayah dan ibu harus dinas keluar kota. Dan tante Mina selalu mempelakukanku seperti terhadap Tania. Kebaikannya tidak terhitung.


Setelah diskusi keluarga, ternyata mama Tania akan di kebumikan di kampung halaman. Tempat keluarga besarnya, dekat makam kakek nenek Tania.


Rian dan Tisya ikut menemani Tania, Eby sudah menunggu disana, hanya aku tidak ikut. Selain karena hanya akan jadi beban juga aku belum siap kembali ke kota itu.


Besoknya, Dicky datang ke rumah. Seperti biasa, pasti kedatangannya kali ini juga berkaitan dengan Tania.


"Tania apa kabar? " Tanyanya langsung saat aku menemuinya di teras.


"Semua orang pasti sedih saat harus kehilangan " jawabku diplomatis.


"Aku pernah di posisinya. kehilangan orang yang melahirkan kita seperti kita kehilangan separuh jiwa kita"


Aku mengerti. Tapi tidak ada kata yang bisa ku ucapkan.


"Aku mau minta tolong" Katanya lagi.


"Apa? "


"Tolong tetap jadi sahabat terbaiknya. Jangan terlalu keras menghadapinya. Aku tau kamu kecewa atas hubunganku sama dia. Jangan menyalahkannya"


"Segitu sayangnya kamu sama dia?"


"Tolong jaga dia untuk aku" Dia menatapku penuh harap.


"Dik, kamu tidak usah khawatirkan dia, dia memang kehilangan Mamanya tapi dia masih punya banyak orang di sekelilingnya"

__ADS_1


"Dia sedang melewati masa tersulit. Aku ingin menjadi salah satu penguatnya tapi aku tidak mampu De" Menurutku Dicky berlebihan.


"Hanya kamu harapanku"


"Dia masih punya Papanya, Kak Dewa bahkan sebentar lagi dia punya suami. Dia tidak akan memikirkanmu sedikitpun"


"Jika suatu saat di kembali terpuruk, kehilangan orang-orang yang dia cintai. Bantu dia bangkit. Aku tidak sanggup melihatnya seperti kemarin"


Aku menghela nafas.


"Oke. Aku akan selalu di dekat dia tapi kamu juga harus bangkit. jangan stuck begini aja"


Padahal tanpa dia minta pun aku tidak pernah berniat meninggalkan Tania.


"Kamu pikirkan saja dirimu sendiri, masa depan mu sendiri, Sebentar lagi Tania juga sudah sah jadi milik orang. Dia akan ada yang jaga"


"Dan itu bukan aku" Dicky terdengar tertawa sumbang.


"Kamu juga akan menemukan seseorang yang tepat. Jangan menyesali takdir"


Aku memberi wejangan. Seperti ibu-ibu kepada anaknya.


"Kamu sendiri kan yang selalu menghiburku ketika kehilangan rasa percaya diri. Katamu Jangan menyesali takdir"


Dicky mengacak-acak rambutku.


"Iyah. Cerewet" Dia tersenyum manis. Senyum yang sama saat aku pertama mengenalnya.


"Makasih" Katanya lagi tepat menatap mataku dalam.


Deg deg deg


Aku memalingkan wajah, mengatur detak jantung yang mulai bertingkah.


Selama ini aku memang punya rahasia. Rahasia besar. Yang kusimpan rapih untuk diri sendiri, tanpa seorangpun yang tau. Memang tidak boleh ada yang tau.


Aku jatuh cinta pada kekasih sahabatku. Awalnya aku ingin mengenalnya sebagai crush Tania tapi akhirnya aku sendiri yang jatuh pada pesonanya. Saat itu kami berteman dan dia menyenangkan walaupun aku tau kalau ini salah, diam-diam perasaanku terpupuk hingga tumbuh subur.


Pada akhirnya mereka jadian, aku harus menyaksikan kisah roman picisan mereka.


Tidak ada yang tau, bagaimana tumbuh kembang perasaanku dan bagaimana aku harus mengatasinya, menyembunyikan, mencoba memadamkan hingga suatu saat Sadam datang, aku mencoba menerimanya. Mungkin aku bisa dengan kehadiran orang lain.


Yang ada aku malah serba salah. Hatiku berkhianat. Seharusnya aku minta maaf pada Sadam karena sampai akhirpun tidak sepenuhnya aku bisa mencintainya.


Saat aku terpuruk karena tragedi kala itu, aku sempat melupakan isi hatiku. Lalu suatu hari Tania datang bersamanya. Membawanya di hadapanku.


Aku bersyukur dia masih selamat dan bisa melihatnya lagi. Aku mendukung sepenuhnya hubungan mereka. Melihat Tania berusaha bertahan membuatku yakin kalau mereka memang saling mencintai. Sangat pantas untuk bahagia.


Tapi tiba-tiba keputusan Tania berubah membuat wajah cerah itu menjadi mendung. Dia menjadi orang yang berbeda. Hatiku ikut sakit. Dan sempat berfikir egois ingin mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya dan memintanya.


Aku yakin Dicky tidak akan menolakku.


Tapi mimpi indah hanya bunga tidur, kenyataan selalu mengintai. Melihat bagaimana Dicky selalu melindungi Tania dengan caranya meski mereka sudah putus membuatku sadar jika sampai kapanpun aku tidak bisa menggantikan posisi Tania di hatinya.


Dan aku kembali menutup rapat rahasia hatiku di relung terdalam.


...*****...


Selamat hari raya idul kurban para the tante 😘


Maafkan jika selama ini ada kekhilafan baik itu disengaja maupun tak sengaja. 😇😇😇


Selamat nyate yah semua 😂

__ADS_1


__ADS_2