
Dicky
Aku terpaksa menghentikan aktivitas yang membuatku terbuai. Aku baru sadar kalau aku bisa saja menularkan penyakit pada Tania. Bagaimana aku menciumnya saat aku belum gosok gigi dan dalam keadaan flu berat. Membayangkannya saja membuatku bergidik tapi ....... ciuman tadi memang sangat manis, walau tenggorokanku dalam keadaan pahit.
Aku mandi, menyiram kepalaku agar pikiran yang melanglang buana segera pergi. Tidak lama, hanya menyiram beberapa kali aku segera selesai karena badanku mulai menggigil. Aku kembali ke kamar dan mendapati Tania sedang berdiri di depan meja dan rak bukuku.
"Kamu merokok? " Todong nya sambil mengacungkan sebungkus rokok yang memang selalu ada di meja.
"Kadang-kadang" Jawabku sambil meraih rokok yang tadi di acungkan.
"Kenapa kadang-kadang? "
"Harusnya? "
"Harusnya jangan"
"Iya bawel"
Aku membuka lemari yang tepat disebelahnya.
"Aku tunggu di luar" Katanya lalu segera melangkah dengan tergesa-gesa.
"Agak lama yah, aku shalat dzuhur dulu"
...*****...
Tania
Pemandangan cowok yang baru selesai mandi itu menggiurkan? seratus persen benar. Dicky yang masuk kamar dengan setengah telanjang,rambut yang basah yang menutupi dahinya dan wajah pucat yang terlihat bersih. Apa Dicky memang selalu seganteng ini? Atau makin kesini memang kegantengannya meningkat?
Meski sempat terpana dengan pikiran liarku tapi aku langsung menodong nya dengan sebungkus rokok. Siapapun tau, bahkan di kemasan rokok itu diingatkan bahwa rokok itu sangat berbahaya bagi kesehatan. Dan aku tidak mau dia sakit.
Saat dia mendekat dan berdiri tepat di sebelahku sambil membuka lemari, aku segera menghindar. Aroma shampo mentolnya sangat menguar di hidungku, membuat jantungku kembali berdegup kencang.
Aku sering melihat kak Dewa atau pria lain dengan keadaan seperti itu, tapi kenapa yang ini sangat beda, apalagi saat mengingat bagaimana dia yang tadi meraih ku.
Aku bahkan harus menggigit bibir bawah ku saat keluar dari kamarnya dan mendapati pandangan beberapa pasang mata yang secara terang-terangan menunjukkan minat. Ah Iyah, aku baru keluar dari kamar cowok dengan wajah yang mungkin memerah jadi tidak salah jika mereka berfikiran yang...... sudahlah.
Aku duduk di kursi yang tersedia di teras. aku baru sadar kalau ini rumah kostan yang cukup besar. berlantai dua, dan kemungkinan ini kost yang campur antara penghuni perempuan dan laki-laki.
Sekitar sepuluh menit duduk di teras dengan pandangan bertanya-tanya para penghuni yang lalu lalang dan semua penghuni disini kemungkinan besar mahasiswa-mahasiswi di kampus yang sama. Dicky keluar dengan penampilan yang sedikit menggelikan. Celana jeans panjang serta jaket tebal yang tertutup rapat hingga leher.
"Yakin mau makan di luar? GrabFood aja. Jangan di paksain" Tanyaku prihatin.
"Gak papa, dekat situ kok" Dia meraih tanganku, menuju motor yang terparkir. kurasakan telapak tangan mengkerut dan dingin.
Ternyata warung yang di tuju memang sangat dekat, hanya selemparan batu dari kostnya.
"Makan disini gak papa? Aku masih oleng kalau harus pergi jauh" Katanya sambil menepikan motornya di depan sebuah warung bakso yang sederhana.
Aku mengangguk maklum.
Dia mempersilahkanku duduk di kursi kosong yang dekat dengan pintu masuk sambil memesan dua porsi bakso.
"Sekarang kamu rajin shalat? atau hanya karena ada aku? " Tanyaku jahil saat sedang menunggu pesanan.
Dia menggeleng dengan senyum.
"Pesan ibu selalu tentang shalat. Tapi dulu aku masih abai, terlalu susah. sekarang malah rindu dibangunin shalat sama ibu"
"Ibu tidak bilang, gak boleh nyium anak orang?" Aku bertanya dengan suara sepelan mungkin takut ada yang mendengar.
Dia terkekeh "Kalau itu khilaf"
"Mas Dicky kenapa? " Tanya Mbak-mbak yang sedang meletakkan dua mangkok bakso di hadapan kami.
"Meriang mbak" Jawab Dicky ramah.
"Mau di kerokin itu Mas, masuk angin" Tambah Mbaknya tapi Dicky hanya tersenyum.
__ADS_1
"Bapak kamu sekarang di mana?" Tanyaku saat Mbak itu sudah kembali ke balik gerobaknya.
"Sekarang Bapak di Morowali, sama keluarga barunya"
"Kamu kenal sama keluarga barunya? " tanyaku lagi penuh kehati-hatian "Maksud aku mereka baikkan?"
"Mereka baik. Aku bersyukur Bapak menikah sama perempuan yang baik-baik. Masih mau membiayai kuliahku dan memberiku semua fasilitas lengkap......"
"......Walau tetap beda saat ibu masih ada" Dia mencoba tersenyum.
"Nenek masih hidup? kenapa tidak tinggal sama dia aja? dari pada ngekost sendiri begini, sakit gini gak ada yang tau, gak ada yang urus"
"Jauh kalau tiap hari harus Bolak-balik Sudiang-Partam. lagian tidak tiap hari juga sakit kayak gini, kemarin cuma kecapean"
"Makanya jangan soksok ikut demo lagi" Mode emak-emakku sedang on.
"Mawakili rakyat Ta" Ucapnya sambil nyengir.
"Emang kalau di sana kamu kenapa-napa, rakyat peduli? Enggak Dik. Mereka malah mencemooh bilangnya makanya jangan sok jagoan, mereka tidak mau tau kalau kalian itu berjuang demi mereka, yang mereka tau kalian itu cuma mahasiswa yang lebih memilih turun ke jalan daripada masuk di kelas belajar" Celoteh ku panjang lebar yang hanya di balas cengirannya.
"Kamu udah kayak istri yang takut kehilangan suami"
Aku mencubit lengannya, kesal. Aku memasang wajah cemberut sambil kembali memakan bakso ku saat dia masih terkekeh kesenangan.
"Tania.... "
Seseorang menyapaku dari belakang, suara yang familiar.
"Ichaa" Benar itu memang Tisha.
"Mhhh.. Pacaran terus skripsinya molor" Katanya dengan nada meledek sambil mendudukkan diri di sampingku.
"Hai Dik" Sapanya pada Dicky di balas dengan cengiran ala Dicky.
"Loyo amat" Komentarnya demi melihat tampang Dicky.
"Tuh" Tisha menunjuk dua cewek berkerudung yang sedang memesan bakso.
"Itu temanku, kostnya dekat di situ" Katanya sambil menunjuk bangunan yang ada di depan warung.
Aku mengangguk.
"Aku duluan yah Ta, Dik"
"Gak jadi makan?"
"Take away alias bungkus"
Tisha kembali bergabung dengan teman-teman nya. Semester awal kayak Tisha dan Dicky memang jadwal padat-padatnya, sampai makan harus sesegera mungkin untuk mengejar jadwal kuliah.
"Tisha kuliah dimana?" Tanya Dicky setelah Tisha sudah beranjak.
"Sastra Inggris"
"Ohh" Jawabnya sambil meminum air mineral padahal bakso di mangkoknya masih tersisa banyak.
"Udah kenyang? "
"Susah nelan, pahit"
Dia kembali meminum air mineralnya, mungkin merasa dehidrasi.
"Tisha cantik gak menurut kamu?" Bakso di sini ternyata enak, pantas ramai pengunjung.
"Cantik" Wajahnya santai.
"Isshhh, Dasar cowok" Aku berdecak kesal.
"Memang cantik. kalau aku bilang gak cantik berarti bohong kan"
__ADS_1
"Ya udah sana sama Tisha aja, aku mau pulang" Aku pura-pura berdiri dan hendak pulang tapi Dicky menarik tangan ku.
"Minum dulu Cantik, belum minum loh langsung mau pulang aja" Terlihat dia menahan senyum.
Isshhh,, tidak peka banget.
Dia mengambil air mineral masih tersegel dan berniat membukanya untukku tapi aku meraih air yang tadi di minumnya.
"Itu sisaku Ta, nanti kamu ikut sakit"
"Telat, yang tadi lebih parah malah" Aku meminum sisanya dan dia kembali terkekeh.
"Aku antar pulang yah. Mau ke kampus atau langsung pulang?" Tawarnya seraya bangkit
"Ke Apotek terus ke kost" Jawabku ikut bangkit "Pucat gitu masih sok mau nganterin pulang".
Dia tidak lagi menjawab ataupun bertanya lagi., hanya nyengir dengan wajah yang sudah pucat pasih. Sepertinya sisa tenaganya memang sudah tidak ada lagi, setelah dari apotek dan membeli obat sesuai keluhan dan kembali ke kostnya. Dia langsung meringkuk di atas tempat tidur.
"Pintunya gak usah di tutup, takut khilaf lagi" Dia memeluk dirinya dengan mata terpejam tapi ternyata masih sempat bercanda.
"Minum obat dulu" Aku tidak merespon candaanya.
"Sepertinya obat tidak ampuh. Lebih ampuh dipeluk kamu"
Aku kembali mencubit pinggangnya gemes, lalu membantu meminum obat.
"Kenapa keramas sih kalau tau sakit gini, menggigilkan"
Dia benar-benar terlihat kedinginan, aku membaluri minyak kayu putih ke kaki dan tengkuknya lalu menyelimutinya.
...*****...
Dicky
Aku terbangun dengan keadaan lebih baik, tidak menggigil lagi dan kepala tidak lagi berat, meski seluruh badan masih terasa remuk.
Ahh.... ku benar-benar benci berada dalam keadaan tidak berdaya begini.
Ku raih ponsel yang tergeletak di samping kananku. Pukul 5 lewat, menjelang petang.
Aku bangkit ingin menyalakan lampu karena cahaya dari luar melalui jendela kecil dan ventilasi sudah meredup, Tapi saat ku turunkan kaki kudapati Tania tertidur dengan posisi telungkup di depan laptop yang masih menyala.
Hatiku langsung mencelos, ku kira dia sudah pulang ternyata dia menungguku sambil mengerjakan tugas.
Aku berjongkok memandangi wajahnya yang jelita. Wajah yang berbentuk oval, bersih tanpa noda di hiasi hidung mancung, alis tebal dan bibir tipis. Dia memang cantik, sangat cantik dan juga baik hati.
Tuhan, bolehkah ku minta dia untukku saja?
Dari kejauhan terdengar suara dari pengeras suara khas masjid yang menandakan, malam telah tiba.
"Ta... " Aku memanggilnya dengan suara selembut mungkin, tidak ingin membuatnya kaget.
"Tania, bangun sayang" Aku mengelus rambutnya.
"Baby, bangun"
"Siapa Baby?" Tiba-tiba matanya sudah melotot di depanku.
"Astaghfirullah Ta.... "
" Siapa Baby?" Tanyanya masih nada mengancam.
"Kamu Babynya, muka kamu kayak bayi kalau lagi tidur" Aku mencubit pipinya tapi sepertinya ada yang salah, jariku terasa panas di pipinya.
Kupandang wajahnya merah padam.
"Ta, kamu sakit juga? "
...*****...
__ADS_1