Oh My Brownis

Oh My Brownis
Don't Wake Me Up


__ADS_3

Tania


Keadaan Mama sudah membaik setelah menjalani Operasi bypass jantung (CABG)*. Dan kini sudah kembali ke ruang perawatan.


Malam ini aku bisa pulang karena mama sudah bisa tidur nyenyak dan ada papa yang menemaninya. Namun baru saja tiba di rumah, sudah mendapati wajah masam Kak Dewa. Aku bisa langsung menebak jika penyebabnya pasti berhubungan dengan Dea.


Aku tau pasti yang bisa membuat Kak Dewa bertingkah aneh hanya Dea seorang, perasaannya bukan sekedar kakak untuk adik. Lebih dari itu. Tapi heran, Kak Dewa sama sekali tidak pernah mengungkapkan. Sedangkan sebaliknya, Dea terlalu naif jika hanya diberi kode tanpa pengakuan. Sama sekali tidak peka.


Paginya aku memutuskan ke sekolah tempat tugas praktik lapangan untuk melajutkan tugas yang tertinggal jauh. And just for information aku harus menunda penelitian. Target wisuda desember sepertinya cancel. Mundur, bulan april. Tak apa, yang penting bisa merawat mama.


Setelah itu, aku menyempatkan diri ke rumah Dea. Sebenarnya tidak bermaksud ikut campur urusan antara Dea dan Kak Dewa. Sekedar iseng bertanya tapi respon yang di tunjukkan Dea tidak terduga dan apa katanya?


Dicky mengajaknya menikah?


Nasibku Benar-benar menyedihkan.


Aku tau aku tidak berhak protes tapi melihat Dicky dengan orang lain saja aku belum pernah membayangkan bagaimana jika harus melihatnya dengan Dea?


Melihat keakraban mereka selama ini, memang tidak heran jika suatu saat akan ada perasaan diantara mereka. Tapi tidak bisakah mereka mempertimbangkan keberadaanku? Jelas saja tidak. Benar kata Dea, Dicky berhak bahagia dengan siapapun termasuk dengan Dea sekalipun.


Lalu besoknya lagi DM (Direct message) dari Hilda kembali menyentilku.


Hilda : Kamu putus sama Dicky?


Aku : Memang kenapa Hil?


Hilda : Dicky aneh aja. tidak biasanya bikin nenek marah-marah.


Aku :Dicky kenapa?


Hilda : Sudah berapa lama tidak ketemu Dicky? Keadaannya memprihatinkan banget Ta.


Apa benar dia sekacau itu karena aku? kalau dia galau berat karena putusnya hubungan kita. Kenapa dia tidak pernah sekalipun menghubungi ku?


Jadi malam ini saat aku menunggu kedatangan papa yang akan menemani mama, aku membuka sosmed, ingin mencari tau keadaan Dicky, mungkin sedikit juga akan mengurai rasa rindu yang mulai bertumpuk. Namun di akunnya tidak ada yang berubah, hanya beberapa foto kami berdua saat kencan dulu, rupanya dia sudah lama tidak membuka sosial media.


Tapi story Arvie langsung menarik perhatianku. Seperti biasa Arvie dengan dunianya yang gemerlap tapi bukan itu masalahnya, keberadaan seseorang yang sangat ku kenal juga ada di sana.


Aku mengetik cepat pada kolom komentar.


Aku : Itu Dicky?


Tidak dijawab. Aku langsung menelpon nomor Dicky tapi juga tidak dijawab.Ku ulangi hingga panggilan kelima Baru dijawab oleh Arvie.


"Hallo? "


"Dicky sama kamu? Kenapa dia bisa di situ sih? jangan ngajak-ngajak dia kalau kamu mau mabok"


"Tania?" Arvie malah terdengar bertanya.


"Dia punya penyakit Maag, gak bisa minum yang begitu arvie"


"Katanya putus tapi masih care. Kira-kira Dicky bisa kayak gini kenapa sih?"


Bukannya mengindahkan ucapanku dia malah bertanya dengan nada santai.


"Kamu dimana?" Aku mencoba menekan suaraku.


"Kenapa? Mau kesini? Wah bakal cancel nih putusnya.. Hhhhaaa"


"ARVIE....... "


Lalu Arvie menyebut salah satu tempat karaoke di sekitar panakukang di sela-sela tawanya.


Saat Kak Dewa dan papa muncul secara bersamaan, aku langsung pamit. Menuju lokasi yang dimaksud Arvie.


Aku masuk ke salah satu ruangan dan mendapati Dicky sudah berbaring di pojokan sedangkan Arvie dan tiga orang teman lainnya masih asik bernyanyi. Aku sedikit bernafas lega ternyata yang ku khawatirkan tidak terbukti. Syukurlah tidak ada perempuan dalam ruangan itu.


"Dik, bangun. Dik..... dicky" Aku langsung mendekatinya dan berusaha membangunkannya.

__ADS_1


"Ayo pulang. Vie tolong ih"


Aku bahkan harus menarik Arvie. Keadaan ruangan ini sangat menyesakkan dengan asap dan bau alkohol yang menyengat.


Berkat bantuan Arvie, aku berhasil mengeluarkan Dicky dari sana. Bahkan harus menodong Arvie mengantar pulang. Walaupun mobilnya harus dipakai temannya yang satu lagi.


"Aku udah kayak supir pribadi kalian" Kata Arvie sedikit terkekeh.


Heran. Arvie ini masih segar bugar sedangkan Dicky sudah terkapar tak berdaya begini padahal aku yakin Arvie minum lebih banyak di banding Dicky. Definisi ala bisa karena terbiasa.


"Dicky kasian tau kamu putusin. Kacau begini kan? "


Aku melirik Dicky yang tertidur pulas bersandar di bahuku.


"Dia itu tipe cowok setia, bucin akut. Tapi sekali kecewa pasti kecewa banget. Susah bangkitnya" Arvie masih mengoceh.


"Aku pernah ada di posisi dia yang sekarang, bucin tapi tidak dihargai, disakiti jadinya playboy gini" Arvie terkekeh sendiri.


"Dicky mah maunya dia aja. cewek-cewek di kampus banyak yang ngejar"


"Kami tau Farah kan? Behh, fans berat dia. Aku udah gombalin pake 1000 cara tapi gak goyah juga. Setia menunggu Dicky"


"Kalau masih sayang jangan sok sok ngambek, putus terus diambil orang baru nyesal"


"Setiap orang punya batas kesabaran. Secinta-cintany kita kalau tidak dianggap buat apa bertahan?"


Arvie terus mengoceh sepanjang perjalanan hingga parkir di depan kost Dicky. Kemudian memapahnya hingga membaringkannya di tempat tidur dan langsung pamit pulang.


"Aku pulang dulu. ditunggu teman di luar"


Aku mengangguk.


Aku meraih remot AC dan menyalahkannya. Lalu mendekat ke arah Dicky melepas jaketnya yang masih melekat di tubuhnya, dan Sepatu di kakinya - sepatu yang ku berikan sebagai kado ultahnya minggu lalu-.


Suara dengkuran halus terdengar jelas. Kupandang wajahnya.Tanpa sadar aku membelai rambutnya. Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Bukan kah hanya seminggu kenapa dia jadi kurus begini? Rambutnya yang makin memanjang terlihat berantakan.


Keadaan kamarnya jauh beda saat pertama kali kesini. Pakaian berserakan, bekas minuman botol, bekas cemilan, kertas, buku-buku, dan kabel yang berserakan. Sepertinya tadi ada kumpulan yang datang kesini.


Namun saat aku merapikan buku-buku tebal, laptop dan kabel charger tiba-tiba sudah ada tangan yang melingkar di perutku.


"Aku kangen" Nafasnya dan suara beratnya yang lirih serta pelukan hangat membuatku tubuh langsung terkena aliran listrik.


...*****...


Dicky


Aku kembali hilang kendali, aku tau seharusnya aku tidak seperti ini. Tapi rasanya kosong. aku yang mulai terbiasa dengan kehadirannya di pagi hari, siang bahkan malam hari kini tiba-tiba hilang. Lebih tepatnya memilih pergi meninggalkan ruangan kosong dalam diriku.


Kesibukan yang dulu selalu berpusat padanya kini butuh pengalihan. Jadi tiap kali Arvie mengajak aku tidak pernah menolak dan aku memang butuh penetralisasi.


Dan malam ini bagai mimpi indah. Saat pikiranku sudah melayang, kantuk sudah menyerang aku melihat dia datang, meski dengan mata terpejam aku mendengar suaranya yang merdu. Tidak ingin ku buka mata, terlalu takut jika kenyataannya memang hanya mimpi.


Aku bahkan tidak sadar tiba-tiba aku sudah di kamar kostan, aku membuka mata meski dengan kepala pening, dan mendapatinya merapikan buku dan kabel-kabel di atas meja. Dengan rambut yang di kucir asal tinggi memperlihatkan leher jenjangnya. Benarkah hanya mimpi? Tapi aku terlalu merindukannya, Aku mencoba mendekat, lalu memeluknya sambil memejamkan mata, menghirup aroma yang manis.


Tolong, jangan ada yang membangunkanku.


"Aku kangen"


Aku menenggelamkan wajah di ceruk lehernya dalam-dalam. Kurasakan tangannya melepas tanganku yang melilit diperutnya lalu berbalik.


Aku sempat khawatir. Namun suaranya yang lembut dan mata indahnya menatapku sendu.


"Kamu malas makan? Maag kamu gak kumat kan? " Dia mengelus pipiku. Dia benar Tania.


Aku menahan tangannya dipipiku. Merasakan hangatnya dengan mata terpejam.


"Aku khawatir " Lirihnya lagi.


Aku mengangkatnya hingga terduduk di atas meja. Mata kita bertautan dengan pandangan yang sendu. Entah dorongan dari mana, aku langsung merasakan manis bibirnya. Dia memejamkan mata dan tanganya kini melingkar di leherku.

__ADS_1


Tautan terlepas. Aku menempelkan kening di keningnya, yang terdengar suara deru nafas yang perlahan.


"I Love you.... "


"I love you..... "


"Aku cinta kamu, Tania"


Aku harus mengungkapkan semua perasaanku agar dia tau.


"Jangan pergi lagi"


"Aku sayang kamu"


"Tidak bisa tanpa kamu"


Tania memelukku erat tanpa membalas ucapanku. Aku membalas pelukannya tak kalah erat. Menghirup aromanya dalam-dalam.


Lama. Sampai terasa lelah, lambat laun lingkaran di tangan mulai longgar, aku memberi jarak menatapnya dalam lalu kembali menyentuh bibirnya yang manis, kali ini ingin lebih dalam, lebih intens, terhanyut jauh. Mengikuti insting yang membawa lebih dan lebih dalam, Tanpa kendali jemariku kini menyentuh kulitnya yang halus dan Tania menarikku untuk lebih mempermainkannya.


Aku benar-benar terhanyut. Otakku tidak bisa bekerja dengan baik. hanya mengikuti gejolak yang tidak sepantasnya.


Namun deringan ponsel yang awalnya terdengar sangat jauh, mulai membawa kesadaran. Tania berusaha melepaskan diri tapi rasanya aku tidak rela, berusaha mengabaikan dan memberinya sentuhan yang makin dalam namun Tania memukul dadaku, berusaha mendorong hingga terlepas. Dengan deru nafas yang memburu Tania meraih tasnya yang di tergeletak disamping. Bersamaan dengan ponselnya kembali berdering menampilkan nama yang paling ku benci.


Tapi Tania langsung mereject dan menatapku dengan pandangan tak enak.


Lagi-lagi aku terhempas dan rasanya tetap sama.


Ponselnya kembali berdering.


"Ini kak Dewa, aku angkat dulu" lirihnya.


"Kamu dimana? Belum sampai di rumah?" Meski samar tapi aku bisa mendengar suara di seberang sana langsung berteriak.


"Aku singgah di rumah teman "


"........."


"Ya teman...... Aku udah mau pulang kok"


"........"


"Iya "


Aku kembali tersadar di bumi mana harusnya aku berpijak. Dan kesadaranku perlahan pulih sepenuhnya mencerna apa yang sedang terjadi.


Dan tadi apa? Aku hampir lepas kendali. Hampir bertindak jauh yang bisa menyakitinya. Arghh.. Pasti pengaruh ......... Harusnya aku tidak seperti itu. BO DOH.


Aku duduk di tepi tempat tidur mencengkeram rambutku, menyesali yang hampir terjadi namun suaranya yang lembut kembali terdengar.


"Aku harus pulang" Lirihnya.


...*****...


Cat :


* Operasi Bypass jantung :merupakan tindakan bedah untuk mengatasi penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah jantung pada penderita penyakit jantung koroner. Prosedur ini dilakukan dengan cara mencangkok pembuluh darah yang sehat dari bagian tubuh lain ke pembuluh darah jantung yang tersumbat.


_____


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.


Hai para readers budiman. Maafkan Author receh ini yang up nya selalu selow kini makin selow. Maaf gak? Maaf gak? Dimaafkan dong.


Ekeh benar-benar lagi riweh (udah cocok gak?) lagi fokus mempersiapkan diri dalam mencapai satu cita dan cinta. Tsah. Doain yah 😇


Jadi besok jika kembali seeeeellllooooooooow up lagi mohon di maklumi yah. Dan mohon TanDuk jangan di tinggal pergi. Boleh pergi ding tapi balik lagi jika ada notif 😁


Coz you are so precious 😝

__ADS_1


Saranghae 😍😍😍


__ADS_2