
Tania
Dua tahun kemudian.
"Satu, satu, dua, dua" Aku mempraktekan tarian tradisional dengan pelan-pelan.
"Tangannya seperti ini cantik" Lisa membantu memperbaiki pola tangan gadis-gadis kecil yang sedang kami latih.
"Kayak gini kak? " Tanya Atifa antusias.
"Betul sekali, Atifa pintar"Pujiku yang membuat Atifa tersenyum bangga.
"Coba sekali lagi, Satu tangan kanan di angkat, kipas di buka" Lanjutku memberi interupsi.
"Berputar seperti ini" Kelima gadis cilik itu mengikuti gerakanku.
"Pintar" Puji Lisa pada mereka.
"kita ulang dari awal yah"
"Pelan-pelan saja"
"Ikuti musiknya"
Ala ridendang to mappadendang
(Dendang dan berdendang)
Mappadendang makkacaping makkelong-kelong
(Berdendang kecapi dan bernyanyi-nyanyi)
Makkelong andi daeng to marellau
(Bernyanyilah adik kakak untuk berdoa)
Ripuang marajae na topada salama.
(Kepada Tuhan yang maha kuasa agar diberi keselamatan)
[Maharani - Mappadendang]
"Keren keren" Lisa bertepuk tangan.
"Sudah bagus sampai tahap ini" Lanjutnya.
"Besok lanjut lagi yah"
"Iya kak" Seru Mereka kompak.
Lima gadis cilik itu kini menghambur keluar ruangan sambil bergandeng tangan dengan langkah yang sedikit meloncat-loncat riang.
"Lis, Ada cowok ganteng di luar, lagi ngobrol sama Akbar" Nurul masuk sambil berseloroh.
"Siapa?" Tanya Lisa sambil mengernyit.
"Anak pak Desa kali, cucok meong, tipe aku banget"
"Rizky Nazar dong? " Tanyaku asal bernada bercanda. Aku yang baru mengenal Nurul sebulan ini langsung tau kalau tipe cowok idamannya yah yang kayak Rizky Nazar. Halu akut.
Nurul mengangguk mantap "Iyah, bener mirip Rizky nasar tapi ini versi buginese"
Spontan mengundang tawa. Aku berjalan keluar ruangan diikuti Lisa dan Nurul yang tak berhenti berceloteh, aku sedikit penasaran dengan Rizky Nasar Versi buginesenya Nurul.
Tapi yang ku lihat hanya Akbar, Fatmo, Raffi, dan beberapa teman-teman lain yang sedang main sepak bola bersama bocah-bocah.
Kulihat di sampingku Nurul kresek-krusuk menyengol-nyengol Lisa yang di balas tapokan di kepalanya.
"Itu sih pacar Tania Nung" Kata Lisa sambil mencibir. Aku mengikuti arah pandangan mereka.
"Serius?" Tanya Nurul tak percaya.
__ADS_1
"Kemana saja kamu selama ini?"
Ku lihat di bawah pohon yang rimbun ada seseorang yang duduk sambil memainkan ponselnya. Jadi maksud Nurul cowok ganteng yang mirip aktor itu dia?
"Bener pacar kamu Ta? " Rupanya Nurul tidak percaya begitu saja pada Lisa.
"Bukan pacar tapi calon suami" Jawabku mengangkat jari-jariku sambil nyengir.
"Taniaaaaa" Ku dengar Nurul memanggilku dengan suara memelas tapi aku terus melangkah menuju orang itu yang menyambutku dengan senyum mengembang.
"Capek? " Tanyanya
"Tidak juga" Aku menggeleng.
"Jadi bisa jalan dong"
"Pasti" Jawabku mantap sambil nyengir.
Selama hampir lebih sebulan di sini aku memang tidak pernah melihat dunia luar, hanya bergelut dengan proker (program kerja) ini dan itu.
"Yah sudah, mandi dulu"
Kami berjalan beriringan lewat jalan setapak menuju posko sebagai rumah kami selama KKN (kuliah kerja Nyata) yang akan di jalani selama tiga bulan. Desa yang ku tempati ini adalah desa yang sejuk, berada di bukit, siang ataupun malam selalu sejuk. Aku yakin warga disini tidak perlu menggunakan kipas angin ataupun AC.
"Kita mau kemana?" Tanyaku basa-basi.
"Cari makan enak, kamu jadi kurus begini padahal baru sebulan" jawabnya bernada bercanda tapi serius.
"Aku ajak teman yah" Tapi aku tidak merespon.
"gak papa poskonya kosong? "
"Lisa sama Nurul saja"
Ku lihat dia mengangguk tidak keberatan.
"Jangan lama-lama mandinya" Katanya saat aku menginjakkan kaki di anak tangga hendak menaiki rumah panggung yang merupakan posko kami.
Aku mengerucutkan bibir tanda protes. Tapi dia malah tertawa melihat tingkahku.
"Serius kita di ajak? " Mata Nurul membulat tak percaya.
"Sana cepat mandi"
"Aku duluan" Lisa sudah menyambar bathrobenya lalu berlari ke kamar mandi.
Lisa dan Nurul teman KKN the best, bersyukur selalu di pertemukan sama orang-orang baik dan sedikit gesrek jadi bisa menghibur tiap hari dengan tingkahnya, apalagi Nurul. Kita bahkan satu frekuensi soal makan enak, cowok ganteng, selera humor yang receh tanpa harus jaim-jaiman.
"Siap?" Tanyanya saat melihat Aku, Nurul dan Lisa sudah berbaris rapih di depan pintu membuyarkan obrolannya dengan Akbar dan Rafi.
"Siap !" Jawab kami serempak seperti anak SD yang di ajak jalan ke kebun binatang, antusias.
"Loh, kok semua ikut?" Protes Rafi.
"Curang ini" Timpal Akbar.
"Jaga kandang yah" Celoteh Nurul pada mereka yang masih memasang wajah protes.
"Berangkat dulu bro" Pamitnya di balas dengan anggukan lemah mereka.
"Kita mau kemana?" Tanyaku heran ketika dia membelokkan kemudi ke arah kanan sedangkan yang ku tau kalau kota Barru harusnya berbelok ke kiri.
"Di Pare-pare lebih banyak pilihan tempat cozy" Aku mengangguk-angguk percaya, kawasan ini memang dia kuasai.
"Kenapa diam? " Aku menengok ke belakang, ku lihat Lisa dan Nurul hanya diam menatap jalan padahal biasanya mereka tidak pernah kehabisan bahan cerita.
"Sebenarnya kita ini ganggu gak sih? jadi tidak enak begini" Lisa memandangku sungkan.
"Iyah jadi tidak enak gini"
Spontan dia yang sedang mengemudi terbahak.
__ADS_1
"Santai aja" katanya "Aku juga harus berterima kasih sama kalian, karena sudah jadi teman Tania" Aku mencibir, kenapa aku di bawa-bawa.
"Iyah karena awalnya aku kira Tania ini orangnya tidak mau berteman sama kita" Nurul malah curhat.
"Kenapa begitu? " Tanyaku heran.
"Muka kamu kayak orang judes, kayak gak Welcome sama rakyat jelata kayak kita"
"Enak aja, memangnya aku dari istana mana?heh?"
"Emang judes sih kalau sama aku" Dia yang sedang mengemudi malah menimpali omong kosong Nurul.
"Sembarangan " Aku menatapnya protes.
" Oh yah? Kalau bukan judes apa namanya selama ini ? "
"Susah yah kak dapatin Tania? " Nurul kembali bertanya omong kosong.
"Dapatin dia sih gampang tapi dapat hatinya yang susaah" Jawabnya terkekeh "Gagal move on dia"
"KAK ANCA" Tanpa sadar aku berteriak protes.
Dia malah nyengir ke arahku lalu kembali menatap jalan.
Moodku langsung ambyar. Aku tidak suka siapapun yang mencoba membahasnya.
Dia yang sama sekali tak ada kabar selama dua tahun ini, Awalnya Aku kira dia akan mencariku tapi sampai saat ini dia sama sekali tak datang.
Aku menunggu dan mencari tapi dia benar-benar hilang tanpa jejak seolah di telan bumi. Atau memang benar saat itu dia di telan bumi tanpa siapapun yang tau?
Bahkan Dinda, satu-satunya orang terdekatnya yang ku kenal tak juga ada kabar, terakhir akun sosmednya sudah nonaktif. Sedangkan teman sekolahnya tidak ada yang tau.
Jadi saat Mama memintaku menerima tawaran perjodohan keluarga Kak Anca, aku tidak punya alasan untuk menolak. Kak Anca yang selalu ada di masa terpurukku, dimana Mama harus berusaha bangkit dari trauma dan Papa masih sibuk kampanye sana sini dan Kak Dewa harus kembali ke Malaysia. Hanya Kak Anca yang siap mengorbankan waktunya yang akhir-akhir ini aku baru tau kalau kuliahnya yang molorpun karena sibuk dengan duniaku.
Tapi saat seseorang mengungkitnya, seolah aku tidak mau menerima kenyataan kalau sebenarnya memang dia sudah tidak ada di dunia ini. Huff, Aku baru sadar kondisi Dea yang selalu menyalahkan diri atas kepergian Sadam, karena akapun sama, dia datang mau menemuiku sore itu dan akhirnya dia menghilang.
Aku melempar pandangan ke arah jendela mobil, semua diam, Nurul dan Lisa pasti canggung dengan keadaan ini, ku rasa jemari tangan kiri Kak Anca membelai rambutku dengan lembut dan suara musik di audio mobil membuatku makin merasa hampa.
Aku masih ada di sini
Masih dengan perasaanku yang dahulu
Tak berubah dan tak pernah berbeda
Aku masih yakin nanti milikmu
Aku masih di tempat ini
Masih dengan setia menunggu kabarmu
Masih ingin mendengar suaramu
Cinta membuatku kuat begini
Aku merindu
Ku yakin kau tau
Tanpa batas waktu
Ku terpaku
Aku meminta
Walau tanpa kata
Cinta berupaya
Engkau jauh di mata
Tapi dekat di doa
__ADS_1
Aku merindukanmu
[ Tanpa Batas Waktu - Ade Govinda feat Fadly Padi]