
Tania
Saat Dicky dan Dea masih berbincang menanyakan kabar, ponselku berdering. Ku ambil dari dalam tas selempang kecil yang ku pakai, spontan tanganku mereject video call dari Kak Anca. Tapi dia terus mengulang hingga tiga kali lalu mengirimkan pesan chat.
Kak Anca : Lagi di mana dek?
Hanya read belum ku jawab.
Kak Anca : Aku sudah di makassar tapi pesawatku berangkat malam. Ketemu yuk.
Aku masih berfikir keras, jawaban yang tepat.
Kak Anca : Aku kangen. Kamu di rumah? Aku kesana yah?
Ku balas cepat, jangan sampai Daeng Intang mengatakan sesuatu.
Aku : Aku lagi di luar kak, sama teman-teman.
Kak Anca: Dimana? Aku susul yah.
Ternyata Dicky menyadari kegelisahan ku dan mencoba meraih ponsel yang di tanganku.
Ku lihat raut wajahnya berubah saat membaca pesan dari kak Anca, Aku tidak tau yang di dalam pikirannya. Rahangnya terlihat mengeras tapi tidak lama dia kembali tersenyum dan mengatakan.
"Gak papa aku pulang saja"
Aku tau dia kecewa tapi aku tidak bisa menahannya.
"Dik, Maaf" Aku benar-benar benci ada di posisi ini.
Setelah Dicky menghilang di balik pintu aku mengirim pesan pada Kak Anca
Aku : Aku di rumah Dea.
"Kamu jahat banget sih sama Dicky" Dea langsung mencecarku.
Kalau Naila ada di pihak Kak Anca, Dea Adalah supporter nomor satu Dicky.
"Kamu harus memilih deh Ta. Tidak boleh dua-duanya begini" Rian ikut bersuara.
"Aku mau sama Dicky ...... "Aku menggigit bibir bawah ku mencoba menahan air mataku yang dengan mudahnya sudah menggenang.
".......Tapi belum bisa lepas dari Kak Anca"
"Kenapa gak bisa?" Dea tampak sewot. "Aku tuh gak respek sama Kak Anca. Kalau Seandainya dia tipe cowok setia dia gak bakal ninggalin pacarnya yang sudah tiga tahun bersama hanya karena dapat yang lebih bening. Kamu mau kalau sudah nikah nanti, terus dia dapat yang lebih bening lagi kamu di tinggal begitu saja? "
Dea makin mengoceh tidak jelas.
"Kamu harus tegas Ta" Eby ikut menimpali.
Air mata yang tadi ku tahan kini sudah menetes ke pipi. Mereka makin menyudutkan ku, hanya Tisya yang mengusap-usap punggungku tanpa komentar. Mungkin karena memang Tisya yang tidak mau tambah memojokiku atau karena dia tidak tau sama sekali harus berpihak siapa.
"Cowok kalau sudah emosi gak pake adu mulut kayak cewek. Kita maunya adu fisik. Kamu mau Dicky dan Kak Anca berakhir babak belur atau paling parah berakhir di rumah sakit hanya karena kamu tidak mau tegas? "
Aku menggeleng. Ucapan Rian barusan berhasil menumpahkan air mataku. Tidak bisa ku bayangkan jika itu benar terjadi.
Dari arah pintu terdengar ada yang datang. Aku segera menghapus air mataku dan berusaha mengatur nafasku senormal mungkin.
Suara langkah kaki yang mendekat bukan hanya seorang, tapi sepertinya lebih dari dua dan ternyata itu jasa yang tadi di pesan untuk studio mini Dea dan sosok Kak Anca ada di belakang mereka.
"De, ruangan itu bisa di pake kan?" Rian bertanya pada Dea.
Dea tampak bingung.
Suasana kembali normal tidak lagi berpusat padaku.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Dea, Rian menunjukkan sebuah kamar yang tidak jauh dari tempat kami berkumpul.
"Itu apa?" Tanya Kak Anca yang sudah mendudukkan diri di sampingku.
"Apaan Ta? " Dea juga bertanya penasaran.
"Kado dari kita" Jawabku tersenyum "Biar kamu bisa nyanyi lagi"
"Studio?" Kulihat matanya berbinar ."wahhhh, Makasih" Dia langsung bergeser berusaha memelukku.
"Idenya siapa sihh?
" Ide Tania" Jawab Eby.
Aku menggeleng.
"Idenya Dik duk? " Tapi Dea bisa menebak dengan benar. Ku lihat Eby mencubit pahanya dan dia langsung berucap lirih "Sorry".
"Makasih lohh" Katanya lagi bergelanyut manja di lenganku.
"Dari kita semua, Tisya, Eby dan Rian. biar kamu bisa buat konten, bikin podcast-podcast kayak artis-artis itu. Atau cover lagu yang kalau lagi pengen nyanyi"
Ku lihat Dea benar-benar terharu.
"Kalau ada yang kurang, di lengkapi sendiri yah" sambung Eby.
"Hhee,, siapp. Aku beruntung punya kalian" Dea berkata lirih masih bergelanyut di lenganku. "Makasih juga Sya, By"
Sisa waktu hari ini, di isi hanya sekedar makan, ngemil, nonton, karaoke dan ngobrol ngidul tidak jelas. Aku berusaha menikmatinya walaupun sebagian hatiku ada di tempat lain. Ku teguhkan dalam hati hari ini aku harus menyelesaikan urusanku terlebih dahulu.
Ku lihat Kak Anca hanya duduk santai memainkan ponsel atau sesekali berbincang dengan Rian. Mungkin karena jarak usia atau hobby yang berbeda membuat Kak Anca sedikit kesulitan berbaur dengan mereka tapi Kak Anca tetap santai, meski hanya datang, duduk dan diam.
"Sya, duet yuk" Ajak Dea pada Tisya.
"Boleh"
Kutuliskan sebuah cerita cinta segitiga
Di mana akulah yang jadi peran utama
Aku tak dapat membohongi segala rasa
Aku mencintai dia dan dirinya
Ingin rasanya ku terkam dua anak gak ada akhlak itu. Masih sempat-sempatnya menjadikan diriku bahan candaan padahal aku dalam situasi sulit begini.
Nanti pukul satu dia menemui aku
Maka jangan kamu pasang wajah yang cemburu
Nanti bila dia datang menemui aku
Maka cepat-cepat kamu ngumpet dulu
(T2-Lelaki Cadangan)
Mereka terus bernyanyi dengan Dea terang-terangan bernyanyi sambil mengerling ke arahku dan Tisya yang bersuara lembut tersenyum geli melihat tingkah Dea dan ekspresi melotot yang ku tunjukkan.
"Aku antar pulang yah, bentar lagi aku harus berangkat ke bandara" Kata Kak Anca tepat di telingaku karena suara Dea dan Tisya sudah tidak terkontrol. Syukurlah sepertinya Kak Anca tidak terganggu dengan godaan Dea.
Aku mengangguk setuju.
_____
Mobil Kak Anca terus melaju dengan kecepatan sedang.Sore ini agak macet karena padatnya kendaraan, membuat perjalanan pulang ke rumah menjadi lebih lama memberiku kesempatan berfikir kalimat yang tepat bisa ku ucapkan.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Ada masalah?" Tanya Kak Anca yang sepertinya menyadari ke gelisahanku.
"Aku tau tadi kamu nangis sebelum aku datang. Kamu ada masalah?" Tanyanya lagi menoleh ke arahku.
Mungkin ini saatnya.
"Kak, maafin Aku" Lirih ku.
"Salahmu? " Tanyanya masih santai.
"Aku mau membatalkan pertunangan kita" Aku menjawab dengan kepala tertunduk.
Diam tanpa Kata. Sekitar dua menit terasa suasana yang mencekam.
"Kenapa? Ada orang lain?" Tanyanya dengan suara lirih.
Kucoba menoleh ke arahnya, rahangnya tampak mengeras.
"Kak, maafin Tania yah. Kak Anca itu seperti kakakku sendiri...."
"....Makanya selama ini aku betah sama kak Anca. Aku tidak mau kakak berubah. Walau kak Anca bukan lagi tunanganku"
"Menganggap Kakak sebagai kakakku itu membuat aku merasa lebih senang kak, aku bisa jadi diri sendiri tanpa merasa segan di depan kak Anca"
"Aku sayang Kak Anca, sama seperti aku sayang Kak Dewa"
****
Anca
Aku sebenarnya bertanya, apa yang sebenarnya terjadi? Tidak mungkin Tania tiba-tiba saja memutuskan ku tanpa alasan. Toh selama ini dia selalu menerima ku meskipun aku tau dia selalu membatasi diri. Tidak pernah mau ku sentuh sedikit pun.
Apakah seseorang yang dia tunggu sudah kembali? Terus ada nya aku selama ini untuk apa? Hanya pengisi saat dia kosong?
Saat mendengar nya ingin mengakhiri segalanya, seluruh bagian diriku sudah terbakar, rasanya aku ingin menghancurkan sesuatu. Tak sanggup lagi berfikir jernih, bahkan aku harus memarkir mobilku diantara padatnya kendaraan hanya untuk mencoba meredam emosi. Aku butuh pelampiasan, Tapi hanya kemudi mobil yang ku genggam bisa jadi pelampiasan ku saat ini. Saat aku masih menahan diri tidak menghantam jendela mobilku, ponselku bergetar menyelamatkanku dari pikiran yang tidak bisa ku kontrol lagi.
"Iyah bu, aku sudah di jalan" Langsung ku jawab sebelum ibu bertanya.
Setelah perasaan sedikit meredam aku kembali melajukan mobil dengan isi kepala yang berkecamuk. Aku terus berfikir apa ini karmaku dengan Anita? Gadis yang dulu menurutku adalah tipe semua pria, gadis lemah lembut yang selalu membuatku istimewa ku campakkan begitu saja saat Tania hadir.
Karena saat itu aku tidak bisa meninggalkan Tania yang terlihat rapuh. Tapi sekarang malah tega padaku, tanpa tanda, tanpa aba-aba dia memutuskanku begitu saja.
Tidak Tania, kamu tidak boleh seperti ini.
Aku menggenggam kemudi dengan erat sambil berfikir bagaimana seharusnya aku, melepas atau bertahan?
Tapi suara audio mobil membuatku semakin merasa jadi orang paling bodoh. Manusia bodoh. Paling bodoh.
Dahulu terasa indah
Tak ingin lupakan
Bermesraan selalu jadi
Satu kenangan manis
Tiada yang salah
Hanya aku manusia bodoh
Yang biarkan semua
Ini permainkanku
Berulang-ulang kali
__ADS_1
(Ada Band-Manusia Bodoh)