
Dicky
Ternyata Jalan-jalan yang dimaksud Tania bukan jalan-jalan menggunakan kaki di sekitar villa. Tapi membawa kabur mobil Akbar yang entah ke mana.
Pukul Lima lewat, saat Akbar sedang memberi arahan terakhir sebelum membubarkan barisan yang di bentuk perkelompok kerja, harus berhenti saat ponselnya tidak berhenti berdering.
"Halo" Katanya sambil memegang ponsel di telinganya.
"Memangnya kamu di mana?" Suaranya terdengar meninggi dengan kening yang bertautan.
"Ya ampun Lis ! Share Lokasi kamu sekarang"
Akbar menutup telponnya dengan menghela nafas.
"Dik" Panggilnya melambaikan tangan memanggilku.
"Lisa dan Tania ada di ...... " Akbar menyebutkan satu daerah sekitar sana "Mobil mereka terjebak lumpur. Bisa bawa mobil kan? "
Ya Ampun Tania! Kenapa sampai sejauh itu perginya. Daerah sana terkenal Texas, Daerah rawan kejahatan, seperti begal motor maupun mobil.
"Bisa" Jawabku cepat.
"Bawa teman lagi satu" Perintahnya.
"Vie....... Arvie" Aku berbalik sambil meneriaki Arvie yang berada di kelompok lain.
"Eh, jangan Arvie, itu saja " Cegah Akbar cepat lalu menunjuk Aswar, anak Informatika yang bergaya melambai.
"Mana kuat dia bantu dorong mobil kak" Protes ku tanda tidak setuju.
"Ya sudah terserah yang penting jangan Arvie"
Kenapa dengan Arvie? Ah. Karena Arvie good looking? Playboy kampus yang tak terbantahkan? yang bisa membuat cewek manapun bisa berpaling? Maksudku cewek manapun selain Tania tentunya.
Ck, masih saja posesif pada situasi genting seperti ini. Senior alay, bucin.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, aku langsung menghampiri Danis dan Haikal yang ada di kelompok yang sama, Anak Otomotif yang kebetulan ku kenal. Ku lihat Akbar masih ingin melayangkan protes tapi segera mungkin ku bawa mereka pergi.
"Mau ki kemana (Kita mau kemana)? " Tanya Haikal yang mengikuti langkahku.
"Bantu ka' dulu. Terjebak ki mobil na Cewekku di sana (Tolong dibantu. Mobilnya pacarku terjebak)"
"Edede, kenapa memang bawa cewek kah (Siapa suruh bawa-bawa pacar)"
"Protes ki sama senior ta. Samai cewek na (Silahkan protes sama kakak senior) "
Haikal ikut di motorku sedangkan Danis membawa motornya sendiri. Sambil menancap gas aku menelponnya.
"Kamu dimana? "
"Terjebak lumpur" Ku dengar Tania merengek "Gak ada siapa-siapa yang bisa di mintai tolong"
"Kamu di dalam mobil saja sampai aku tiba. jangan keluar mobil kalau bukan orang yang kamu kenal" Perintahku.
"Jangan minta tolong sama orang lewat juga. Tunggu saja sampai aku datang" Tambah ku.
"Cepetan Dik. Di sini sunyi, udah mulai gelap" Suara Tania terdengar waspada.
"Iya sayang, aku sudah di jalan" Aku berusaha menenangkannya.
"Hoky banget dapat cewek bening gitu Dik" Haikal kembali berceloteh tapi tak ku hiraukan.
Ku telusuri jalan sambil melayangkan pandang, kalau menurut GPS dan lokasi yang tadi di share Tania, lokasinya tidak jauh dari sini. Jalanan ini sunyi, jauh dari perkampungan apalagi menjelang magrib seperti ini. dari jarak 50 meter terlihat lampu sorot sebuah mobil.
Aku menepikan motor tepat di depan mobil hitam milik Akbar. Tania langsung membuka pintu mobil saat melihatku dan menghambur memelukku. Seperti adengan di drama kesukaannya. Ciee.
"Lebay..... " Lisa menyusul keluar dengan wajah muak.
__ADS_1
Tapi Tania hanya cekikikan mendengar celotehan Lisa dan menggandeng lenganku.
"Tadi katanya cuma jalan-jalan sekitar villa, taunya sampai sini" Aku menatapnya dengan pandangan protes.
"Tadi Lisa yang ajak"
"Enak aja nuduh, mentang-mentang pacarku tidak ada yah"
"Iyain aja kenapa sih Lis"
"Gak ikhlas. Kan kamu yang ngajak cari makanan enak buat Yayang kamu"
Tania memberenggut. Masih bergelayut di lenganku.
"Ehem.....Mobilnya gimana?" Danis mengintrupsi mengalihkan perhatian dan menyadarkan kalau memang seharusnya segera membereskan urusan utama.
Dan aku berada di posisi yang hoki. Awalnya aku sempat menawarkan tapi Haikal mengaku sama sekali tidak bisa mengemudi sedangkan Danis hanya bisa mobil jenis Matic, sedangkan mobil Akbar ini tipe manual. Dan sekarang Aku sudah berada di belakang kemudi dengan Haikal dan Danis harus ikhlas berkeringat ria.
Cukup lama, Sekitar 20 menit mobil akhirnya bisa keluar dari lumpur.
"Kal, bawa motor ku yah" Kataku pada Haikal yang di balas dengan decakan namun tetap meraih kunci yang ku sodorkan.
Haikal dan Danis sudah beranjak lebih dulu. Sedangkan aku bersama dua gadis cantik ini mengikuti dari belakang.
"Mampir shalat dulu yah bentar" Kataku sambil menyalakan sen kiri saat melihat ada mesjid.
Para jamaah shalat magrib sudah bubar, Aku mengambil air wudhu. Tania dan Lisa ikut mengambil air wudhu di tempat yang lain.
Setiba di Villa, Lisa segera turun yang di sambut dengan tampang garang Akbar.
Aku dan Tania juga keluar dan Tania langsung menyodorkan plastik yang berisi kotak warna merah.
"Ini, makan dulu"
Kubuka kotak itu, martabak asin favoritku.
"Kamu keluar jauh-jauh buat beli ini? " Tanyaku jengah.
"Astaga Ta. Kenapa kamu begini sih. di sini banyak makanan, aku gak bakal kelaparan" Mungkin pengaruh capek dan kurang tidur membuat emosiku tidak stabil.
"Aku cuma gak mau kamu sakit lagi" Ku lihat dia menggigit bibir bawahnya. "Aku cuma mau aku berguna juga untuk kamu"
"Ya Allah Ta. Justru kamu seperti ini membuat aku merasa makin kecil Ta. Jangan berlebihan"
"Yang aku lakukan sudah sepantasnya sebagai pacar kamu Dik" Tania membela diri.
"Kamu tidak perlu melakukan seperti ini, kamu sudah jauh-jauh datang kesini, membuang-buang waktumu. Buat apa?"
Astaga, aku sendiri tidak percaya bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu.
"Jadi kamu tidak suka aku ada di sini? " Tania mulai terisak. "Jadi aku salah karena sudah datang ke sini dan menjadi beban kamu disini? " Dia sudah menunduk dalam-dalam.
"Bukan itu maksudku Ta. Aku cuma .........."
"Dik, bentar lagi forum di mulai. Wajib ikut pemilihan pengurus" Tiba-tiba Alvie muncul di balik mobil.
"Daerah sini tuh rawan Ta, bukan daerah kita. Aku gak mau kenapa-napa" Aku benar-benar frustasi.
"Maaf" Ucapnya lirih dengan tetap menggigit bibirnya tapi setitik air matanya tetap keluar membuatku makin frustasi. "Aku masuk dulu. Tapi kamu tetap harus makan dulu sebelum lanjut "
Aku ingin menariknya dan menjelaskan bahwa maksudku tidak sejahat yang terdengar. Bagaimana mungkin aku tidak senang dia ada di sini. Aku senang tapi aku takut tingkahnya yang berlebihan malah tidak bisa ku imbangi dan akhirnya dia merasa tidak fair.
Ini pertengkaran pertama kami sejak sebulan ini. Bahkan pertengkaran pertama sejak mengenalnya yang membuat air matanya jatuh di depanku.
Bagaimana caraku agar bisa mengimbangimu Ta? Please tell me.
...*****...
__ADS_1
Tania
Semalam mataku tidak bisa terpejam. Bayangan Dicky yang marah membuatku sesak. Selama ini Dicky selalu manis sangat jarang terlihat seperti semalam.
Apa seharusnya aku memang tidak berada di sini?
Apa aku memang berlebihan terhadapnya?
Suara gelak tawa dari arah Aula yang sepertinya kumpulan cowok yang sedang menghabiskan waktu dengan bernyanyi makin membuatku susah tidur.
Apa Dicky juga di sana? Masih bisa tertawa? Ah. Mungkin itu memang dunianya yang tidak seharusnya ku recoki. Aku maklum tapi hatiku juga perih.
Dan pagi ini aku bangun pukul lima dengan mata bengkak. Aku duduk di loteng berlantai kayu memandangi fajar yang terbit. Sengaja, biar Dicky melihatku.
Aku kangen.
Langkah kaki seseorang mendekat, ku lirik sekilas dan memastikan memang Dicky yang datang. Dengan wajah kusutnya.
Dia langsung memasangkan sebelah earphone di telinga kananku sedangkan sebelahnya lagi terpasang di telinganya lalu membaringkan diri di pangkuanku dan memejamkan mata seolah-olah semalam tidak terjadi apapun.
I'm sorry that I hurt you
It's something I must live with everyday
And all the pain I put you through
I wish that I could take it all away
And be the one who catches all your tears
That's why I need you to hear.
(Hoobastank-The Reason)
Aku tersenyum mendengar lirik lagu melalui earphonenya. Ini cara dia dan aku langsung luluh hanya mendengar sebait lagu.
"Semalam tidur jam berapa?" Aku mengusap rahangnya.
"Belum sempat tidur sampai subuh"
"Ngapain aja?"
"Nongkrong sama senior"
"Merokok lagi kan? " Aku mendekatkan indra penciuman ku di depan wajahnya.
"Dikit"
"Ihh.. Dicky" Aku mencubit pipinya yang tampak lelah.
Dia terkekeh menangkap tanganku dan menggenggamnya.
"Aku mau tidur bentar sayang, bentar saja. bentar lagi penutupan"
"Ya udah tidur aja"
Hening beberapa saat sambil menikmati lagu. Ku kira dia sudah tertidur tapi tiba-tiba dia kembali bersuara meski mata tetap terpejam.
"Bentar mau ikut adventure ? Teman-teman mau masuk (Taman wisata Bantimurung). Tidak wajib sih, udah di luar kegiatan"
"Tidur ihh, tidur sekarang" Aku menutupi matanya dengan tangan kananku.
...*****...
Lisa
Melihat interaksi Tania dengan brondongnya itu seperti melihat Tania yang lain. Dulu, aku kira Tania jenis cewek cuek, judes dan jual mahal sama semua cowok, seperti saat dia jalan sama pacarnya yang sering ke posko itu. Ternyata Tania yang ini adalah cewek yang posesif dan agresif jika berhadapan dengan Dicky.
__ADS_1
Definisi nyata dari cinta memang buta.
...*****...