Oh My Brownis

Oh My Brownis
Tuhan, Tolong Jaga Dia!


__ADS_3

Malam itu juga kami berangkat ke Makassar menggunakan pesawat TNI. Semua keluarga Mama dan Papa yang ada di Makassar menyambut kita dengan deraian air mata.


Satu bulan berlalu Mama masih harus keluar masuk rumah sakit. Trauma berat yang dialami Mama sangat berpengaruh sama jantungnya.


Aku sedang menyuapi Mama, yang hanya bisa berbaring.


"Assalamualaikum "


Itu suara Eby dan Rian, spontan aku menengokkan kepala.


Eby yang pertama kulihat di pintu langsung menghambur memelukku. Lama. Sampai aku merasa sedikit sesak.


"Kamu sehatkan?" Tanyanya disela isak.


"Eby cengeng ihh, gak cocok" Aku berusaha mencairkan suasana.


"Makasih masih di sini Ta" Tapi Eby tidak menghiraukan gurauanku. Aku mengangguk, tersenyum membalas pelukan Eby. Kapan lagi Eby melow begini.


"Turut berduka yah By, maaf tidak bisa ada di sampingmu di saat seperti itu" Dia hanya mengangguk maklum.


Waktu itu, Ayah Eby salah satu korban yang meninggal, mungkin karena itu juga Eby baru sempat mengunjungiku.


Eby melepasku sambil menyusut air matanya kemudian beralih menyalami dan mencium punggung tangan Mama.


"Tante, apa kabar? " Tanya Eby.


Sedangkan Rian menatapku dengan pandangan yang susah ku artikan, kasihan mungkin.


"Sehat-sehat yah Ta" Rian mendekapku sambil mengusap-usap rambutku.


Aku mengangguk sambil tersenyum, bersyukur karena mereka masih ada.


"Begini lah By, Tante masih begini saja" Ku dengar Mama menjawab pertanyaan Eby dengan suara lemah "Turut berduka atas kepergian Ayah kamu yah nak"


"Terima kasih Tante"


Gantian Rian yang menyalami Mama dan Mama menanyakan semua kabar tentang keluarga Rian dan Eby.


Aku kembali menyuapi Mama.


"Ta, kita mau jengukin Dea juga"


"Dea dimana? Dea baik-baik saja kan?" Tanyaku beruntun.


Aku memang tidak pernah berkomunikasi selama sebulan ini, menutup diri dari berita tentang musibah saat itu dan tanpa sadar ternyata aku juga menutup diri dari informasi orang sekitarku.


"Alhamdulillah Dea selamat, kita juga baru mau jenguk, sengaja mau ajak kamu sekalian"


Alhamdulillah ! Berulang-ulang ku ucapkan rasa syukur.


____


"Kak, aku mau pergi bentar" Pamitku pada Kak Dewa yang sedang selonjoran malas di sofa. Di sana juga ada Kak Anca. Mereka tampak serius dengan ponsel masing-masing.


"Mau kemana?" Tanyanya penuh selidik.


"Jenguk Dea"

__ADS_1


"Aku antar" Kak Dewa bangkit dari sofa.


Aku menggeleng.


"Terus yang jaga Mama siapa? "


"Kan ada Daeng Intang, Papa juga bentar lagi datang"


"Gak boleh kak, jangan tinggalin Mama ih"


"Aku saja yang antar" Satu lagi sok pahlawan berdiri.


"Kak Anca juga di sini aja, aku sama mereka, aman" Terangku sambil menunjuk Eby dan Rian.


Heran, bukannya harusnya sibuk kuliah? kenapa Kak Anca makin sering terlihat di sini. Oh iya, Dia dan Kak Dewa memang tak terpisahkan. Selama Kak Dewa belum balik ke Malaysia berarti dia juga masih jadi penghuni rumah ini. Ckck.


Suasana dalam mobil yang dikemudikan Rian jadi sunyi, tak seperti biasanya jika jalan sama mereka pasti ramai. Oh, mungkin karena biang ribut belum di sini. Semoga kita berempat bisa seseruan seperti dulu lagi.


"Yan, kamu tau kabar Dicky?" Pertanyaan pertama yang kulontarkan.


Rian menggeleng.


"Teman-temannya? "


"Aku cuma tau Bima"


"Aku minta nomor kontaknya Bima yah"


Rian mengangguk.


"Kamu tidak coba hubungi adiknya? " Tanya Eby.


"Mungkin mereka masih menenangkan diri juga"


Aku membenarkan, setelah ketemu Dea pasti aku juga bisa bertemu Dicky secepatnya. Mungkin saja sekarang Dicky berusaha menghubungiku tapi aku yang tidak ada kabar.


"Dea di rumah sakit??" Aku mengernyit mendapati Rian memarkir mobilnya di parkiran salah satu rumah sakit.


Aku dan Eby kompak menoleh ke arah Rian yang hanya tersenyum tipis.


"Katanya masih di rawat" Jawab Rian singkat.


Aku dan Eby mengikuti langkah Rian melewati Lobby, jejeran orang yang sedang menunggu depan ruangan yang bertuliskan Poli-Poli kemudian menyusuri selasar rumah sakit, masuk dalam lift dan memencet angka 6.


Keluar dari lift, kita masih menyusuri lorong kamar rawat pasien kemudian Rian membuka pintu kamar 609. Aku mengekor dibelakang, Ibunya Dea menyambut kami, setelah menyalami Ibu Dea pandanganku beralih ke atas ranjang pasien, di sana ada Dea yang terlihat berbeda dari biasanya, dulu pipinya yang chubby kini terlihat tirus, wajah pucat dan mata yang lelah memandangku berkaca-kaca.


Aku menghambur memeluknya, badan Dea terasa makin kecil. Ku dengar dia terisak. Aku mengusap punggungnya.


"Cepat pulih De, biar kita bisa jalan bareng lagi"


"Huhuhuhu" Kini Dea bahkan menangis tersedu-sedu dalam pelukanku. Ku biarkan saja, mungkin dia merasa bersyukur karena masih bisa kumpul lagi.


"Aku.... akuuu... tidak.. bisa jalan sama kalian lagi Ta" Kata Dea dengan suara terbata-bata.


"Kamu kok ngomong begitu sih? "


"Kaki aku sudah tidak ada Ta huuhuuuh" Dea makin menangis.

__ADS_1


Aku melepas dekapanku, memandangnya tidak percaya. perlahan dia mengangkat selimut yang menutupi kaki kanannya. Aku terperangah, di sana tidak ada lagi telapak kaki hingga mata kaki, ujungnya penuh perban warna putih.


"Astagfirullah " Ku dengar Eby memekik kaget. Eby yang tadi memberiku waktu bersama Dea kini sudah memeluk Dea.


Aku masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Kupandangi Wajah Dea yang semakin lelah, mata sembabnya kini berderai air mata lagi, kembali ku peluk lebih erat dari yang tadi.


Kenapa ini semua terjadi pada Dea? Dea dengan segala talent yang penuh percaya diri harus kehilangan satu kaki pasti jadi cambokan yang sangat menyakitkan.


"Huhuhuhu" Tangisan kami bertiga menggema memenuhi ruangan.


"Aku tidak bisa jalan Ta"


"Aku cacat"


Aku kehilangan kata-kata walau hanya sekedar menghibur. Tidak ada, pasti tidak ada lagi kata untuk menghiburnya. Bagaimana bisa dia akan menjalani hidup yang seperti dulu? Pasti tidak akan sama.


"Kita ada di sini De"


"Selalu di sini untuk kamu" Bisik Eby lirih.


_____


"Dicky ada kabar Ta?" Tanya Dea yang sedang makan buah dari suapan tanganku.


Aku menggeleng lemah.


"Sadam? " aku balik bertanya, tak pernah menyangka kalau aku kembali membuka satu lukanya yang belum sembuh.


"Sadam sudah tidak ada" Dea menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang kembali menumpuk.


"Innalillah wainnailaihi rajiun "


"Harusnya sore itu Sadam tidak datang" Lanjutnya.


"Dia meninggal karena aku"


"Tidak De' ! Sadam meninggal karena ajal, bukan salah siapa-siapa" Aku membantah, kenapa Dea harus menanggung semuanya.


"Kata kakaknya, rumah dia tidak apa-apa semua keluarganya selamat karena sore itu meraka tidak meninggal kan rumah kecuali Sadam"


Suara Dea bergetar.


"Waktu kejadian dia sama aku, dia berusaha membawaku lari yang jauh, tapi kami terpisah saat gelombang datang" Dia menghela nafas "Kenapa malah dia yang pergi, kenapa bukan aku"Lirih Dea dengan pandangan kosong.


"Istigfar De, Memang belum ajal kita dan itu sudah ajal Sadam"


Kembali ku peluk tubuh ringkihnya.


Hatiku makin perih. Aku sama Dea hidup bersama sejak kecil, dia bukan sekedar sahabat di sekolah tapi dia adikku saat bermain di sekitar rumah.


Dea yang selalu ceria, penuh percaya diri, selalu menonjolkan diri dan selalu bisa menyenangkan orang sekitarnya.


Tapi hari ini aku mendapatinya dalam keadaan seperti ini. Pertama kalinya dia terlihat tak berdaya.


Lalu aku teringat Dicky. Bagaimana dengannya? Apakah dia baik-baik saja? atau bernasib seperti Sadam? tidak! tidak mungkin! Naudzubillah minzalik. Tapi bagaimana kalau nasibnya ternyata seperti Dea yang kehilangan kaki? kehilangan tangan? Aku menggeleng keras. Jangan, jangan sampai. Ya Allah tolong jaga dia.


*****

__ADS_1


Mohon bantuannya dengan meninggalkan jejak like dan komentar yah 😇.


Merci 😚😚😚


__ADS_2