
Dea
Perasaan tidak enak masih menyelimuti sejak di bentak tante Yuli pagi tadi.
"Kamu kenapa sayang? yang happy dong kita mau honeymoon ini bukannya mau melayat"
Benar. Sekarang lagi perjalanan ke Bandara menuju makassar lalu terbang ke bali untuk honeymoon. Harusnya ini jadi momen terindah yang tidak boleh aku lewatkan tapi mood benar-benar tidak bisa di kendalikan.
"Masih masalah yang tadi? maafkan Tante Yuli yah" Kak Dewa meraih tanganku, menggenggamnya.
"Kak.. Bantuin Tania yah" Aku mencoba bernegosiasi.
Kak Dewa menghela nafas berat.
"Itu urusan mereka Dek, kita tidak perlu terlalu ikut campur"
"Kasian Dicky kak"
"Kalau judulnya sudah Dicky kamu selalu begini. Kenapa heh?" Wajah kak Dewa sudah tidak santai lagi.
"Bukan masalah Dicky kak tapi demi Tania juga"
"Mereka sudah dewasa, pasti bisalah memecahkan masalah sendiri Dea" Dia melepaskan genggaman tangannya lalu membuang wajah menatap lurus ke jalan.
"Setidaknya kita bisa meringankan ....."
"Tau ahh. Malas bicara sama kamu, ujung-ujungnya yang di otak kamu cuma Dicky dicky dicky"
"KAK DEWA" Aku protes.
"Kamu bisa tidak sih menghargai aku sedikit saja? Ini hari pertama kita tapi kamu masih membahasnya" Dia memelankan suara tapi masih nada yang tegas.
"Kak.. Aku bukan membahas tentang Dicky tapi tentang Tania"
Dia mendengus kesal.
"Terserah"
"Kakak mau Tania sakit lagi?"
Dia diam seribu bahasa. hanya menatap lurus.
Aku ikut kesal.
"Pak. Berhenti di sini saja"
"Terus pak"
"Aku tidak jadi berangkat"
"Jangan keras kepala Dea" Dia membentak dan menatap penuh amarah.
Aku tidak bisa di tatap seperti, nyaliku ciut.
"Kakak ..... hiks... yang tidak tau .... menghargai perasaan orang hiks hiks"
"Kamu nangis?"
"Aku..... cuma mau Tania juga bahagia. Kalau aku mau sama ...... Dicky, kenapa aku mesti nikah sama kak Dewa hiks. Aku cintanya sama kak Dewa tapi kakak selalu negatif thinking sama aku, hikss hikss...... nuduh nuduh aku"
...*****...
Dewa
Setiap mendengar Dea mengucapkan nama orang itu rasanya tidak rela saja.
Mungkin penyebabnya karena Dea pernah mengagung-agungkan orang itu selama bertahun-tahun dan itu berhasil memancing rasa cemburuku.
Aku bisa sejauh ini sama Dea pun karena dia menghilang bagai ditelan bumi waktu itu.
Dan juga berakibat pada diri Nia.
Mengingat Nia yang sempat dirawat di rumah sakit karena tifus, dehidrasi dan anemia gara-gara orang itu juga. Ah, so sial but true.
Dan dengan sok taunya tante Yuli membawa Nia ke orang pintar dan mengatakan kalau Nia terkena santet atau apalah istilahnya. menggelikan sekali.
Dalam tidurnya Nia memang kadang menangis lirih, bergumam tidak jelas. Tapi kata ahli jiwa yang menanganinya dia memendam sesuatu, tanpa mengungkapkan dengan siapapun dan kemungkinan rasa bersalah hingga dia menyakiti diri sendiri di bawa alam sadarnya. Gila kan?
Dan penyebabnya itu kembali datang di hadapan Nia saat dia sudah mulai bedaptasi lagi. Menyebalkan.
Sebenarnya aku setuju dengan Tante Yuli kalau sebenarnya orang itu sangat tidak pantas untuk Nia. Terlalu mendramatisir kehidupan Nia.
Apalagi saat mendengar Dea terus-menerus menyebut namanya membuatku makin malas.
Tiba di bandara dia masih diam, hanya sesekali menjawab seperlunya saat ku tanya.
Aku mencoba mencairkan suasana dengan menceritakan banyak hal tapi responnya tetap datar.
Rumah - Makassar
Makassar - Denpasar
Di bandara ngurah rai saat aku mengaktifkan ponsel. Saat itu juga ia berdering nyaring.
"Halo Bli"
"Udah nyampe?"
"Iya. Baru keluar dari pesawat"
"Aku tunggu di area penjemputan yah Wa"
"Siap-siap"
__ADS_1
Setelah mengambil koper milik Dea dan travel bag milikku lalu menghampiri Dea yang menunggu di area pintu keluar. Aku memang sedikit kerepotan harus mendorong kursi roda Dea dan menarik koper.
"Aku sendiri saja kak"
Tapi aku berusaha mengikutinya namun dia menjalankan kursi rodanya dengan cepat sampai aku tertinggal di belakang.
Sampai di pintu keluar, aku celingukan mencari sosok Widi yang katanya sudah menunggu dan tidak lama seseorang datang dari arah kiri.
"Woi.. What's up Bro? " Widi langsung menumbrukku.
"Sehat sehat"
Aku membalas rangkulan Widiasyah dan menyalami istrinya.
"Hai Dev"
"Welcome to Bali" Sambutnya ramah.
"Istri mana?" Tanya Widi lagi. Ah iya. Dea mana?
"Dea..... Sayang sini dulu" Aku Bahkan harus menaikkan oktaf suaraku untuk memanggilnya.
Dea yang sudah berada jauh di depan berbalik melihat ke arah kami.
Aku meletakkan barang bawaan dan menghampiri Dea yang tampak kewalahan untuk mendekat kearah Widi dan istrinya.
"Kenalin, teman aku Widi dan istrinya"
"Istri aku, Andea"
Sekilas aku menangkap senyum Widi seperti orang gagu. Seketika tatapannya membuatku tidak suka tapi aku berusaha menafikan. Wajar tatapan kasihan jika pertama kali melihat Dea.
"Hei, Aku Widi teman Dewa di kampus dan ini istriku Devi"
"Dea"
"Hai Dea, nice to meet you"
"Salam kenal kak Devi"
Sepertinya aku tidak perlu khawatir karena Dea dan istrinya Widi bisa langsung akrab. Deaku yang selalu humble.
Widi langsung mengajak makan malam. Ku lihat jam di tangan ternyata memang sudah petang.
"Tamu kita mau makan apa?" Tanya Widi yang kini mengendalikan kemudi.
"Yang perting halal. Hhee" Jawabku dengan nada bercanda tapi bermaksud serius.
"Yang ada mushalahnya juga kak, sudah magrib" Bisik Dea.
"Yang ada mushalahnya atau masjid yang dekat"
"Siap siap"
"Kalian masuk duluan, aku sama Dea Shalat dulu"
"Oke-oke"
Setelah membantu Dea ambil air wudhu, aku juga segera berwudhu lalu sama sama memasuki mushalah. Dea Shalat tetap di kursi rodanya. Aku mengimani kebetulan mushalah hanya kami berdua, karena beberapa orang yang tadi sudah keluar setelah melaksanakan shalatnya.
Setelah shalat aku ingin buang air.
"Sayang, tunggu disini yah, aku ke toilet dulu"
Dea mengangguk.
Tapi setelah aku kembali, Dea sudah tidak ada di tempat yang tadi. Mungkin karena aku kelamaan.
Aku menyusul masuk ke restoran, benar Dea sudah ada di dalam. Tapi kenapa dia mematung di sana. Aku memperlebar langkahku.
"Padahal ekspektasi aku tentang istri Dewa itu sangat tinggi"
"Aku sih kasian aja, Dewa itukan politisi butuh dukungan penuh dong dari istrinya. Nah kalau istrinya kayak begitu, bisa bantu apa coba"
Darah di Kepala ku langsung mendidih.
...*****...
Dea
"Ehem...."
Aku tersentak karena ternyata kak Dewa sudah berada di sampingku. Widi dan istrinya langsung mengatup bibirnya rapat-rapat.
"Sorry aku dan istri harus pulang sekarang" Suara kak Dewa sudah tidak santai lagi.
"Eh, Makan dulu Wa"
"Nanti di hotel"
Kak Dewa mendorong kursi roda ku dan keluar dari resto itu.
"Oke, kita antar ke hotel yah" Widi dan Devi ternyata mengikuti kami.
"Tidak usah, ada taksi itu" Kak Dewa masih berusaha menolak dengan sopan meski semua tau kalau dia sedang menahan diri.
Kak Dewa mengeluarkan semua barang dari mobil Widi dan memindahkan ke taksi pesanannya.
"Besok......" Widi kembali membuka suara tapi segera di potong oleh kak Dewa.
"Oh ya, kami akan menikmati waktu berdua jadi makasih atas bantuannya Wid. Tidak usah repot-repot"
"Jangan sungkan telpon kalau butuh apa-apa Wa"
__ADS_1
Kak Dewa memaksakan seulas senyum sebagai jawaban sementara juga membantuku memasuki taksi kemudian melipat kursi rodaku dan memasukkannya ke mobil. Merepotkan sekali bukan?
Sampai di hotel, kak Dewa langsung memesan makanan. Moodnya benar-benar menggangu. Aku sendiri tidak tau harus berbuat apa mengatasinya jika sudah seperti ini. Bahkan kemarahan ku tadi pagi sama sekali terlupakan.
"Mandi dulu dek"
Aku menurut untuk mandi karena memang sudah merasa lengket. Lalu gantian dia yang mandi.
Saat dia keluar bertepatan dengan pesanan makanan kami datang. Lalu makan dalam keadaan diam.
Hah. Dosa apa aku ini? kenapa momen paling ku tunggu malah kacau balau begini.
Setelah makan aku memilih menyalakan TV dan mencari channel secara acak. Sementara kak Dewa menelpon orang rumah mengabari kalau kita sudah sampai.
"Sayang......" Saat aku sedang asik menonton acara lawakan, kak Dewa datang dan membaringkan diri di pangkuanku.
"Maaf" Katanya lagi denga suara yang sangat dalam.
"Mhh?"
"Yang tadi. Bikin kamu tidak nyaman"
"Yang mana?"
"Teman aku yang ...."
"Aku sudah terbiasa kak" Aku mengusap rambutnya "Sekarang kakak yang harus membiasakan diri sebagai resiko karna memilih aku"
"Aku tidak suka siapapun yang menganggap kamu....."
"Pandangan seperti itu akan terus ada kak. Karena kenyataannya memang seperti itu"
"Tapi mereka salah, aku sayang sama kamu bukan kasihan Dea. Aku tidak mau kamu salah paham"
"Kalaupun sebenarnya seperti itu juga tidak apa-apa. Sekarang aku sudah mengikat mu. Erat. tidak akan ku biarkan lepas" Aku mencoba jurus gombalan maut dia tampak luluh dan tersenyum.
"Biar apapun kata orang, aku akan tetap disini sampai kamu sendiri yang memilih pergi"
"Tidak akan"
"Serius?" Aku menggodanya.
"Serius sayang, bagaimana mungkin aku..."
"Maka dari itu tidak perlu cemburu sama orang lain, satu-satunya pria yang bodoh mau menikahi perempuan yang paling merepotkan itu cuma kakak. Bagaimana mungkin aku mengkhianati kakak. Kalau kakak tidak lahir di dunia ini, mungkin aku akan jadi perawan tua seumur hidup"
Hmmmm... akhirnya aku punya celah mengungkapkan perasaan ku tadi.Tapi malah di tanggapi lain olehnya.
"Jadi sudah siap di pera wani?" Godanya
"Ihhh kak Dewa" Aku mencubit dadanya yang liat tapi dia malah tertawa dan meraih tengkukku.
Cup cup cup.
Tiga kecupan.
"I love you" Bisiknya
"Aku tau" Wajahku kini memanas.
"Masalah Tania dan Dicky, kamu tidak usah khawatir. Tania itu anak kesayangan papa. Papa dan Oma pasti tidak akan mempersulit"
"Tante Yuli?"
"Biasalah emak-emak memang begitu. Anggap angin lalu saja. Toh, keputusan tetap di tangan papa atas restu Oma"
"Kalau Dicky tidak bisa memenuhi syarat Panaik keluarga?"
"Itu ujian dia, diakan cowok harus ada ujiannya lah. Sama seperti aku yang akhirnya bisa mendapatkanmu"
Benar, jalanku sama kak Dewa saja penuh Lika liku baru bisa sampai disini.
"Kita cukup memberi support terbaik, mereka yang memilih jalan dan Allah yang menentukan"
"Super sekali, ihh jadi gemes" Kali ini aku mecubit ke dua pipinya.
"Mau dong di unyel-unyel sama kamu"
"Unyel-unyel apa? Hahahah"
"Seperti ini"
Dengan gerakan cepat kak Dewa sudah menguasai ku. Melakukan segala yang di Inginkannya. Membuatku tidak berdaya.
...******...
Assalamualaikum, The Tantes 🤗
Setelah sekian lama, akhirnya yah ðŸ¤
Tapi TanDuk masih dikekepin. Hihihi. Mianeee.
Sekedar informasi Oh My Brownis bentar lagi tamat. Hiks. 😢
Mungkin sekitar tiga Bab ðŸ˜
Sedih. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Sedihnya karena sampai End ternyata readersnya gak bisa nambah 🤣🤣
Tapi slow. Aku santai kok. Ada kalian yang sangat tulus untuk Tanduk sangat membantu moodku untuk mengetik kata demi kata.
I Love You 😘😘😘😘
__ADS_1