
Tania
Aku punya kebiasaan baru yaitu stalking mantan.
Bukan stalking instagram milik Dicky karena di sana sunyi, akunnya lama tidak terjamah. Tapi instagram pacarnya yang sepertinya memang sengaja mempertontonkan kemesraan. Isshh Norak. Dan aku selalu terjebak, tidak bisa menahan jempol untuk sekedar tau kegiatan atau hubungan mereka yang makin hari makin lengket, seperti lem jepang.
Disalah satu video yang di upload Farah pukul 19.40 tadi. Terlihat dia sedang mengikat rambut panjang Dicky, berbentuk pancoran air. Membuat wajah Dicky terlihat makin menggemaskan. Lalu mereka tertawa bersama. Bahagia sekali.
Dan setiap kali selesai stalking rasanya tetap sama.
Aku hanya bisa mendapati diriku menghela nafas panjang.
Marah, kecewa dan patah hati. Marah pada diri sendiri yang selalu tidak bisa mengontrol diri, kecewa pada Dicky yang sudah move on sedangkan aku sendiri belum dan aku sedang patah hati.
Dan tidak pernah ku sangka malam ini, saat aku terlelap dalam mimpi, tiba-tiba dia menelepon. Ponselku bergetar pertanda ada panggilan masuk.
"Halo " Aku bergumam antara sadar dan tidak.
"Hai.... Belum tidur? " Suara berat yang sangat ku kenal.
Ku kira aku masih bermimpi.
Aku bangun dan duduk baik-baik, mengecek ulang nama yang memanggil lalu menjawab pelan.
"A...da apa? "
"Gak papa. Cuma kangen"
"Kamu mabok lagi? " Tanyaku sambil melirik jam dinding yang tergantung di kamar. Pukul 02.45 dini hari.
Dicky terkekeh.
"Tadinya aku mau datang kesana, ketemu langsung tapi aku takut... takut di tolak"
"Pacar kamu gak marah? " Aku malah melontarkan pertanyaan paling absurd.
"Marah kalau ketahuan ...hhheee. Tapi tenang aja, dia gak bisa marah lama-lama. Hhee"
"Dia baik banget yah?" Ku dengar nada suaraku makin mengesalkan.
"Cemburu? " Dia malah menggodaku.
"Ck. Asli aku malas di modusin pacar orang"
Tepatnya bete', dijadikan cadangan.
"Gak modus Tania... "
"Terus kenapa nelpon? Aku ngantuk" Aku segera memotong ucapannya sebelum merambat jauh.
"Dia gak ada di sanakan? "
"Dia siapa? "
"Tunangan kamu, kalau dia tau aku nelpon mungkin besok aku bakal babak belur lagi "
"Kamu pikir aku cewek apaan? "
"Hehe, bercanda Ta"
Aku mendengus kesal.
"Kamu bahagia? " Suaranya tawanya kini berubah jadi sangat dalam, penuh keseriusan.
"Bu.... bukan urusanmu" Dan aku jadi gagu mendengar suaranya yang dulu sangat ku suka, bertanya penuh tendensi.
"Iya, bukan urusanku lagi. Maaf karena aku sendiri tidak bisa membahagiakan mu. Tidak bisa menjagamu. Jaga diri baik-baik Ta. Jangan sakit-sakit, jangan sedih-sedih"
"Kamu kenapa sih? "
"Aku cuma menitipkan kebahagiaanku pada kebahagiaanmu. Jika kamu bahagia, ingat aku sesekali saja Ta"
"kamu ngomong apa sih? aneh ih"
"Kita sudah di dunia berbeda. Kamu tidak bisa lagi ku gapai Ta. Hhee. Aku hanya terlalu takut dilupakan begitu saja"
"Kamu makin tidak jelas. Kamu mabuk Dik. Sudah ih. Aku ngantuk"
"Ta..Thank's for loving me"
__ADS_1
...***...
Dicky
Entah dorongan dari mana aku bisa menelpon Tania dan mengeluarkan omong kosong, melanturkan kata-kata yang tidak semestinya, mempermalukan diri dengan pengakuan tidak penting.
Aneh tapi nyata, sejak kemarin aku seperti orang sakit. Seperti berjalan bukan di atas bumi. Aku seperti bukan diriku. Ah, entahlah.
"Dik...... Kuliah Dik" Suara Farah menggelegar di balik telpon.
"Aku ijin deh Far" Kataku malas.
"Kamu sakit? "
"Enggak. Cuma lagi mager" Jawabku cepat.
Kalau bilang sakit, lima menit kemudian Farah sudah ada di depan pintu sambil membawa segala macam merk obat.
"Bentar aja Dik, ini finalnya dadakan. Sayang banget kalau terlewatkan"
Farah memang care tapi kadang kebangetan kayak sekarang ini. Sampai aku merasa sesak tidak punya me time. fiuhh.
"Aku suruh Arvie jemput yah" Desaknya.
"Gak usah Far. Aku berangkat sendiri"
Dengan kepala berat, aku bangkit lalu ke kampus. Dan benar saja Prof. Yusri memberikan final dadakan yang tidak tanggung-tanggung banyak soalnya yang membuat kepala pening kini makin pening.
Aku langsung ke basecamp mencari posisi enak untuk tidur.
"Dik pulang yuk, katanya gak enak badan"
"Aku istirahat di sini dulu Far"
"Ya udah, aku ke kantin dulu yah. Mau nitip apa? "
Aku menggeleng, memilih membaringkan diri di sofa. Sambil terpejam aku mendengar langkah kaki Farah makin menjauh tapi tidak lama berganti dengan langkah kaki yang beramai-ramai sambil krasak-krusuk.
"Kenapa?" Aku bangun dan bertanya pada mereka yang berdesak-desakan masuk dan menutup pintu basecamp.
"Kampus kita diserang lagi Dik"
Aku langsung melupakan pening di kepalaku, mencoba berlari menyusul Farah.
"Tadi masih di kantin"Jawab Arvie yang setengah berlari ke arah lain.
"Mau kemana? " Tanyaku.
"Mobil.... Mau mengamankan mobil" Katanya lalu menghilang di balik gedung C.
"Keadaaan di luar gimana? " Aku bertanya lagi pada salah satu adik tingkat yang berlari mencari perlindungan.
"Sudah di kepung. Kayaknya bukan hanya dari satu fakultas yang datang"
"Maksudnya? "
"Mereka kerja sama"
Sialan !!!
Aku melewati celah untuk mencari Farah dan syukurnya tidak perlu mencari jauh karena Farah menelpon sudah aman di ruangan Dosen. Aku menyusul dan memastikan memang benar dia sudah aman.
"Dik... Mau kemana lagi? " Farah menarik lenganku.
"Mau liat keadaan di luar bentar. Kamu tenang di sini sama yang lain. Jangan bergerak sedikitpun sampai saya datang"
"Tapi kamu sakit Dik. Di luar sana bahaya" Farah memang kadang over protektif.
"Cuma liat Arvie aja Far. Bentar yah? " Aku harus membelai pipinya untuk menenangkannya dan itu malah di anggap tontonan sama mereka.
"Eheemmmm... "
"So sweeettt.... "
"Ihhhh.... Jadi mauu"
"Hhhhhhaaaaa... "
Aku meninggalkan ruangan itu dengan suara riuh yang sedang menggoda Farah.
__ADS_1
Dan pemandangan yang tidak pernah ku bayangkan adalah melihat Arvie jadi bulan-bulanan di samping mobilnya.
Tidak, tidak mungkin aku melawan mereka. Mereka berlima sedangkan aku sendiri.
Tapi tinggal diam juga tidak ada gunanya. Arvie bis meregang nyawa.
Aku melihat dua mahasiswa dengan kepala plontos mencari tempat persembunyian.
"Woi.... kalian sini"
"Ngapain disitu? Kita lagi diserang tapi kalian sembunyi? Bawa ini"
Aku memberinya kayu balok patahan kursi, masing-masing satu.
"Lawan atau kalah? Tegakkan kepala kalian. Ini rumah kita. Jangan jadi pengecut" Aku terpaksa mendoktrin mereka secara singkat lalu mengarahkannya ke arah Arvie yang sudah tidak berdaya.
PRAK PRAK BUK.....
Lumayan, mereka berdua ternyata lumayan jago. Pukulan ke tiga lawan sudah mundur dengan tertatih.
Aku ingin mengejar tapi keadaan Arvie lebih penting.
Sekilas aku mengenal dua di antara mereka meski memakai masker dan helm. Jelas ini bukan masalah ideologi kampus lagi tapi ini tentang dendam pribadi.
Aku menghampiri Arvie, keadaannya sangat memprihatinkan, Mereka menikam sebelum memukulnya.
"Harus dibawa kerumah sakit"
"Bagaimana caranya kak?"
"Lewat belakang"
...*****...
Elvan
Aku dan teman-teman yang sedang melakukan diskusi mata kuliah di ruang terbuka kampus kaget saat tiba-tiba entah serangan dari mana sudah menguasai Fakultas. Aku dan teman-teman otomatis berhamburan. Selama ini aku tidak pernah di hadapkan situasi seperti ini. Sekolahku yang lama adalah sekolah yang aman dan tentram. Tidak ada huru-hara seperti ini. Jelas saja, Aku lahir dan hidup di lingkungan pesantren yang tiap hari hanya fokus dengan kitab-kitab. Mana ada waktu memikirkan tawuran.
Aku dan Tino berencana akan mengamankan diri di gedung H. Gedung paling belakang, tempat paling aman secara logika. Tapi saat berusaha menaiki anak tangga pertama, Seorang kakak tingkat meneriaki dengan wajah merah padam menahan emosi.
Dan pandangan yang paling memilukan saat melihat seseorang sudah tergeletak bersimbah darah.
Aku mengenal mereka, yang memanggil namanya Dicky dan yang sedang di tergeletak mengerikan adalah Arvie, mereka adalah kakak tingkat yang disukai banyak gadis di kelasku.
"Harus dibawa kerumah sakit"
"Bagaimana caranya kak?"
"Lewat pintu belakang, bawa ke RS terdekat. Dan jangan tinggalkan dia sebelum aku datang"
Begitu perintah kating yang biasa di panggil Dicky.
"Siap kak"
"Cepat"
Aku dan Tino membawa Arvie menggunakan motor matic Tino yang memang selalu parkir di pintu belakang kampus.
Pengalaman yang paling menegangkan.
"No. Jangan lewat sana No. Itu basecamb mareka"
Kita hampir terjebak. Aku tau itu basecamp mereka karena itu salah satu kostan yang di dominasi oleh mereka dan sering dijadikan tempat nongkrong.
Terpaksa Tino memutar arah. Memilih jalan yang lebih jauh. Dan saat tiba di parkiran rumah sakit, Dicky sudah menunggu di sana.
"Kenapa lama? "
"Maaf kak... Harus mutar"
Ternyata Arvie bukan korban satu-satunya. Sudah ada ambulans yang tiba lebih dulu dengan pasien yang memiliki luka hampir sama dan yang tidak akan pernah ku lupakan dan akan jadi mimpi buruk saat melihat Dicky yang berlari kecil ingin membantuku dan Tino untuk membawa Arvie. Tiba-tiba dia melayang tepat di hadapanku.
Sebuah motor jelas dengan sengaja menabraknya. Hingga, Dicky terpelanting dan tanpa sengaja ambulans baru saja memasuki area rumah sakit menabrak lagi tubuh Dicky hingga terlempar.
...****...
Dicky
Aku merasa terbang di langit yang biru tanpa awan. Ingin memeluk gadis cantik bermata bulat yang tiba-tiba hadir di depanku. Dia tersenyum menatapku. Lalu wajah itu berubah menjadi wajah Dinda, adik kecilku yang sangat ku rindukan dan di belakangnya ada Ibu yang sedang melambaikan tangan.
__ADS_1
Ibu, Dinda, aku rindu kalian.
...*****...