
Tania
Aku kira dia akan marah lalu pergi begitu saja nyatanya malah membawaku ke suatu tempat yang tidak pernah ku duga sebelumnya. Ke sebuah pemakaman umum yang tidak jauh dari rumah Hilda.
Dia berjongkok didepan batu nisan milik Ibunya. Membacakan doa dengan mata terpejam. Aku ikut duduk di sampingnya dan melakukan hal yang sama.
"Assalamualaikum Bu. Aku bawa seseorang bu" Setelah mengirim doa, dia membuka suara seraya mengelus nisan di depannya.
"Namanya Tania, yang saat itu belum sempat ku kenalkan sama Ibu"
"Tadinya mau ku kenalkan sebagai calon istri tapi...... "Dia mengalihkan pandangan dari batu nisan menoleh ke arahku.
"........Ternyata dia bukan milikku Bu. Dia milik orang lain" Dia tersenyum.
"Mungkin ini pertama dan terakhir dia ku bawa kesini, aku cuma mau ibu kenal dia sebelum dia benar-benar pergi"
Lalu dia beralih ke makam yang lain, yang berada tepat disamping makam ibunya tadi. Rumah terakhir Dinda.
"Dek, liat siapa yang datang "
"katamu aku beruntung bisa dapatkan dia. tapi aku menyia-nyiakannya. Bodoh kan?"
Dia terkekeh namun terdengar sumbang. Menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya.
"Dek........ harusnya kamu masih di sini" Aku bisa mendengar meski lirih
"Bujuk dia. Barangkali dia masih mau mendengarmu. Tahan dia Dek untuk aku. Kamu paling tau aku, kamu paling tau perasaan ku sama dia dek, yakinkan dia dek"
Pandangan ku langsung buram, di tutupi air mata yang sudah tergenang di sana.
Bagaimana bisa aku sendiri yang menyakitinya. kenapa aku tidak seberdaya ini.
Haruskah aku memeluknya dan mengatakan kalau aku juga mau bertahan. Tapi apa aku mampu menghadapi Mama dan Papa.
..._____...
Saat mengantarku pulang. Dia kembali diam menatap jalan lurus sedangkan aku melempar pandang ke jendela. Meski tangan tetap bertautan.
Dia menepikan mobil di taman kompleks, yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah, taman yang sunyi saat malam seperti ini.
Sudah beberapa menit sejak mesin mobil di matikan tapi belum ada yang bersuara, hanya bunyi kendaraan yang kebetulan melintas kadang terdengar.
"Aku harus terima kenyataan kan? " gumamnya hampir tak terdengar.
"Maaf, karena membuatmu kesulitan" Dia masih menatap lurus ke depan.
"Maaf karena bersikap egois...... "
"......Hanya memikirkan diri sendiri "
"Padahal waktu itu aku pernah bilang tidak ingin melihatmu kesulitan" Kini dia menoleh menatapku.
"Ternyata aku sendiri yang membuatmu kesulitan" Ku lihat luka dimatanya.
Namun dia kembali tersenyum kecil.
"Aku sudah pernah kehilangan dua orang yang paling berharga dalam hidupku sekaligus......" Dia mengelus punggung tanganku yang di ada di genggamannya.
"......dan jika sekarang harus kehilangan lagi. Aku rasa aku masih sanggup"
__ADS_1
"Jadi jangan terlalu memikirkan aku. Jangan merasa bersalah. Aku akan baik-baik saja. aku sudah pernah melewatinya"
Tangan kanannya yang tadi mengelus penggung tanganku kini menghapus air mata yang kembali menetes.
"Jangan menangis. Apalagi menangisi aku. mulai besok apapun yang terjadi sama aku jangan pernah peduli. kita akan menjadi orang asing"
Aku menggeleng keras berulang kali.
"Dan jangan datang lagi. Jika kamu datang dan bersikap peduli. aku tidak menjamin aku bisa melepasmu lagi."
"Boleh aku peluk? for the last? " Aku harus menggigit bibirku kuat-kuat saat dia sudah meraihku.
"Jaga diri... jangan pulang malam....jangan sering minum kopi instan saat begadang, jaga kesehatan....... kamu harus bahagia"
Aku memejamkan mata merasakan pelukannya. Berusaha merekam agar selalu ku kenang jika nanti aku rindu.
"Kenapa hari ini aku cerewet sekali" Dia terkekeh namun terdengar sumbang.
Dia melepaskan pelukan dan kembali mengelus pipiku lalu mengecup keningku dalam namun setitik air matanya ikut jatuh.
"Kamu boleh turun" Dia melepasku dan membuang pandangan ke arah depan lagi.
Namun aku masih bergeming.
"Jangan menatap ku begitu Tania"
"Plis turun sekarang Ta"
Dengan berat hati aku membuka pintu, lalu turun. Dia langsung membelokkan mobilnya dengan sekali gerakan lalu menghilang di ujung jalan.
...*****...
Dicky
Aku butuh teman, kalau tidak aku tidak akan tahu akan berakhir dimana malam ini.
"Dimana Vie? "
"LAGI PARTY" Aku harus menjauhkan ponsel dari telinga saat suara Arvie berteriak di tambah suara latar musik yang menghentak-hentak "Kenapa? Mobil? besok aja" Arvie kembali berteriak, benar-benar sedang berparty.
"Dimana?" Aku ikut mengeraskan suara agar dia bisa mendengar.
"Di Li quid. Kenapa? Mau kesini?" Terdengar kekehan keras Arvie karena merasa tak percaya.
"Tunggu"
Arvie langsung tergelak. "Serius? hahahah...Tumben. Aku tidak tanggung yah kalau cewek kamu marah-marah lagi" Aku memang pernah sekali diseret Arvie ke sebuah acara ulang tahun temannya dan ketahuan, membuat Tania sampai menelpon Arvie dan marah-marah.
Aku cuma berdecak malah membuat Arvie makin tergelak.
"Marahan? Atau di putusin? hahhhaa"
"Aku tutup" Aku berdecak lagi.
"Oke, aku tunggu. kapan lagi liat kamu galau begini. Whahaha"
Sekitar 20 menit kemudian aku sudah masuk ke tempat yang dimaksud Arvie disambut dengan kerasnya suara musik. Aku melayangkan pandang mencari keberadaan Arvie.
Ini bukan pertama kalinya aku masuk di sini tapi juga belum merasa friendly seperti Arvie yang sudah keluar masuk tiap pekan. Pecinta wanita dan pecinta party.
__ADS_1
Aku mendapati Arvie bersama teman-temannya. Ada beberapa yang ku kenal termasuk Danis dan Haikal, Mereka benar-benar party karena meja di depannya tersedia botol Je*germeister yang sudah berkurang setengah.
"Makanya Dik, kalau pacaran jangan bucin. Gini kan?" Danis memberi nasehat seolah paling tau.
"Butuh obat penawar? " Tawar Arvie sambil menaik turunkan alis, aku hanya menggeleng tak berniat.
"Wisss.. bolehlah itu, yang bohai" Tapi justru Danis yang menanggapi.
"Farah.. farah pasti langsung datang kalau tau....."
"Jangan Farah" Cegahku cepat. Sama sekali tidak setuju idenya.
Tidak lama empat gadis datang, dengan penampilan minim kain. Salah satu diantaranya aku kenal, Erika yang langsung mendudukkan diri di samping Arvie.
"Hai Dik, kenapa? kusut amat" Sapa Erika pacar kesekian Arvie, namun satu-satunya yang bertahan lumayan lama.
"Diputusin beb" Jawab Arvie masih terkekeh.
Aku hanya meraih satu batang rokok yang tergeletak di meja -entah milik siapa- lalu ku sesap dalam-dalam.
"Serius?" Erika bahkan membuat ekspresi berlebihan dengan menutup mulut dengan kedua tangan.
"Kasian banget"
"Mau kenalan sama teman-teman aku?"
Tidak bisa di pungkiri teman-teman Erika yang di bawanya malam ini semua yang terbaik versi mata laki-laki normal. Namun keberadaan mereka sama sekali tidak berpengaruh dengan suasana hatiku.
Cukup hanya menikmati alunan musik yang mulai dinyanyikan secara duet oleh dua orang penyanyi, mendengar bait pertama saja membuatku kembali menyesap asap rokok dalam-dalam hingga membuat kepala terasa makin berat.
Tak ada kisah tentang cinta
Yang bisa terhindar dari air mata
Namun kucoba menerima
Hatiku membuka
Siap untuk terluka
Cinta tak mungkin berhenti
Secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu
Sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti
Tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi
'Tuk sembuhkan hati.
(Tangga-Cinta Tak Mungkin Berhenti)
Rupanya rokok tak cukup, aku ikut meneguk minuman yang pahit dan pekat di lidah hingga kepala terasa pening tak tertahankan dan ngantuk mulai menyerang.
__ADS_1
Bisakah besok tidak usah bangun saja?
...*****...