
Tania
Aku terbangun karena gerah, ku lihat sekeliling ini bukan kamarku. Aku baru ingat sekarang aku sedang di markas Dicky.
Aku melihat jam di ponsel karena ruangan sempit ini memang terlihat kosong tanpa jam dinding.
Pukul 05.10.
Tapi Dicky kemana?
Aku bangun dan segera shalat subuh. Setelah salam terakhir, terdengar suara pintu terbuka.
"Sudah bangun?" Tanyanya
"Kamu dari mana?" Aku bertanya balik.
"Dari ambil seragam yang mau di pake nanti" Jawabnya sambil menggantung seragam hijaunya di paku yang melekat di dinding.
"Selama di sini, tidak boleh keluar jauh, cukup di lingkungan ini saja" Kata Dicky seperti memberi perintah.
"Kenapa?" Aku bertanya tidak mengerti.
"Bahaya yank" Dia meraihku dan sama-sama kembali berbaring di kasur.
"Bahaya kenapa?" Makin di larang makin penasarankan.
"Warga disini tuh kadang protek sama orang asing. Pokoknya jangan kemana-mana" Jawabnya dengan mata terpejam. Mungkin rasa lelah menyerang akibat perjalanan kemarin.
"Selama seminggu cuma di kamar?"
"Boleh keluar situ saja. Itu juga ada ibu-ibu Persit yang lain, kamu boleh gabung asal jangan melintas ke pagar sebelah banyak buaya"
"Serius?"
"Lima rius"
"Memangnya di sebelah situ rawa?"
Ngeri juga kan kalau tiba-tiba ada buaya naik ke sini.
Dicky hanya mengangguk tapi ternyata juga sedang sibuk melakukan sesuatu.
"Ehh ehh, mau apa lagi?"
"Satu kali yank sebelum apel pagi" Pinta dengan wajah memelas.
"Sudah pagi yank"
Dia melirik jam, yang menunjukkan pukul 05.30.
"Masih sempat" Lalu tanpa aba-aba dia kembali memulainya seperti orang kelaparan.
Dan Astaga.... Bahkan aku sendiri sebenarnya sudah kecanduan aroma nafasnya yang memburu.
Ketika aku memekik pelan, dia makin mengeratkan pelukannya dan membuatku melambung jauh.
Dan dengan tidak tau malunya, aku mengungkapkan segala rasa yang kurasakan saat dia makin menggodaku, seolah aku ingin dia tau kalau memang hanya dia yang berhak untuk ini dan aku ikhlas seumur hidup melakukan untuknya.
Ah... Sungguh memalukan.
Namun akibat aktivitas tadi, membuat Dicky kelimpungan karena terlambat.
"Aku berangkat dulu, sudah telat"
"Ku bilang juga apa"
"Tapi enak yank" Katanya sambil mengerling. Isshh.
Aku berniat mengantar sampai depan namun setelah membuka pintu ternyata lingkungan ini cukup ramai, aku baru menyadarinya, semalam tidak terlalu memperhatikan karena selain gelap, rasa lelah juga sudah menyerang.
Dia halaman itu rumah ada seorang ibu-ibu yang mungkin seumuran mama, dia sedang menyapu. Di sebelahnya lagi ibu-ibu yang kelihatannya lebih muda dari ibu yang pertama, dia sedang menjemur pakaian.
"Eh.. Ada manten baru rupanya"
"Pagi Bu Warsi, Bu Endang, kenalkan istri saya, Tania" Sapa Dicky sambil memakai sepatunya dengan cara tergesa-gesa.
"Maaf, tidak sempat hadir di pernikahannya kemarin"
"Tidak apa-apa Bu Warsi, cukup doa restunya saja"
"Aku berangkat dulu yah, udah telat" Dicky berdiri, lalu menghampiriku dan mencium kening kemudian beranjak dengan langkah lebar.
"Maaf Bu saya tinggal yah, saya titip istri saya" Sambungnya kepada Ibu-ibu di sana.
"Siap pak Dicky. Silahkan"
Aku tau, wajahku pasti merah padam. Tidak pernah menyangka akan dapat morning kiss di depan umum. Meski merasa malu, aku berusaha menyapa ibu-ibu tadi dengan senyuman dan saat yang sama Bu Warsi juga sedang tersenyum geli.
"Aku kira pak Dicky itu orang paling kaku, ternyata kalau ada pawangnya lunak juga" Kata ibu Endang yang sebenarnya sudah selesai menjemur pakaian namun tetap berdiri di sana.
"Saya Tania Bu. Mohon bimbingannya"
"Hahaha, santai saja. kalau suami sedang tugas yah kita kerjanya bebas"
"Ibu tinggal di sini?" Tanyaku penasaran.
"Alhamdulillah, anak-anak sudah dewasa semua jadi sudah bisa di tinggal" jawab bu Warsi lembut "Ibu Endang tuh yang tidak bisa pisah. lengket kayak perangko" Lanjutnya.
"Suami saya itu,makannya harus masakan saya jadi harus ikut kemana-mana, kalau tidak dia bisa langsung sakit"
Dan hari ini juga aku resmi menjadi bagian dari geng mereka. Trio Persit. Wkwkwk.
Sore hari, Bu Warsi dan Bu Endang mengajak jalan-jalan. Katanya ingin mengenalkan lingkungan di sini. Larangan Dicky pagi tadi? Aku tau dia tidak serius melarang dengan alasan bahaya.
"Bukannya di situ rawah yah Bu?"
"Di mana ?"
"Di situ" Aku menunjuk pagar tinggi yang sepertinya memang jadi pembatas.
"Yang bilang pak Dicky?"
__ADS_1
"Iya. katanya banyak buayanya"
"Hahahah, berarti salah satu buayanya dia juga" Bu Warsi dan Bu Endang tertawa lepas.
Aku mengerutkan kening.
"Itu asrama mereka. Yang kamu tempati tadi itu kamar cadangan untuk tamu"
Iya, aku tau kalau yang ku tempati sama Dicky tadi itu memang bukan kamar dia.
"Aku dikerjain yah Bu" dua ibu-ibu itu makin tertawa, mungkin merasa terhibur.
Kami melewati pagar itu, yang ku lihat adalah orang-orang berseraga TNI sedang berdiri sigap sambil memegang senjatanya. Sisanya tampak hanya tampak lapangan, bangunan sederhana yang tampak sepi.
"Siap bu Warsi, siap bu Endang. Sama siapa Bu?" Tanya salah satunya dengan nada lantang.
"Kenapa? cantik yah? keponakanku nih" ibu Warsi malah mengajaknya bercanda.
"Bening Bu, boleh kenalan sama ponakannya Bu?" Si penjaga pintu gerbang itu meladeni candaan Bu Warsi.
"Ini istrinya Pak Dicky, Chan.... jangan yang ini kalau mau selamat"
"Mampus, hahaha" secara kompak teman-temannya menertawakan cowok botak bernama Candra itu.
"Heheheh....Maaf Bu Dicky. Mohon jangan mengadukan saya pada beliau"
Aku cuma senyum-senyum.
"Di sini jarang ada cewek, harus keluar kandang dulu kalau mau liat betina. jadi sekali liat yang bening tingkahnya begitu semua"
"Dulu, suami saya kayak begitu juga Bu?"
"Pak Dicky mah yang paling kalem, tapi ujug-ujug dia juga yang paling laris"
"Oya? suami saya banyak pacar begitu bu?"
"Bukan banyak pacar, tapi banyak fans. Dari perawat, tentara wanita, sampai warga kampung"
Yah kan, Dikduk pasti suka tebar pesona di mana-mana.
"Berarti banyak cewek juga dong Bu?"
"Tidak banyak, cuma ada beberapa, dan itu selalu jadi rebutan"
Kami masih terus berbincang sambil melangkahkan kaki, tanpa sadar aku sudah berdiri di depan sebuah rumah.
"Ini rumah pak RT"
"Ngapain Bu? aku wajib lapor yah?"
"Bukan. Aku mau pesan klappertaart nya. Enak sekali. kamu wajib coba" jawab bu Warsi.
"Sejak kapan Bu Warsi suka klappertaart?" Bu Endang menatap Bu Warsi heran.
"Enak yah? aku juga mau sekalian pesan" Mendengar kata kue enak tentu saja aku langsung ngiler.
"Assalamualaikum... selamat sore" Bu Warsi dan Bu Endang memberi salam sambil mengetuk pintu.
Tidak lama seorang gadis -yang berkulit hitam manis- keluar dan menjawab salam.
"Waalaikumsalam.. Eh Bu Warsi, Bu Endang, Masuk Bu" Lalu gadis itu menyadari keberadaan ku dan menatap dengan pandangan penasaran.
"Iya makasih. Ada mama ti?" Bu Endang bertanya.
"Ada Bu di dalam, silahkan duduk dulu"
Gadis itu masuk ke arah dalam dan tidak lama kembali bersama ibunya.
"Sama siapa Bu?" Pertanyaan pertama yang di ucapkan saat melihatku.
"Istrinya pak Dicky Bu RT"
"Bu Tania, kenalan dulu Bu RT dan Eti, anaknya bunga desa loh di sini"
Sepertinya aku mencium aroma mencurigakan di sini. Gelagat mereka tampak mencurigakan.
"Wah cantik yah istri pak Dicky, mukanya memang mirip-mirip begitu yah" Ibu RT ternyata orang yang ramah. Beda sama tampang yang dipasang anaknya.
"Mukanya memang jodoh yah"
"Salam kenal, aku Eti" Eti mengulurkan tangan lebih dulu.
"Tania" Aku membalasnya dengan memberi senyum paling sopan.
"Oya, ada yang bisa saya bantu bu-ibu?"
"Saya mau klappertaart yang size family" Kata Bu Warsi.
"Saya mau dua, rasa coklat" Kata Bu Endang.
"Saya juga dua Bu, yang keju kalau ada"
"Ada kok, ada. Kebetulan ada yang baru matang, tadi mau di antar ke kampung sebelah tapi buat ibu-ibu dulu" Kata Bu RT.
"Ti... di tolong di ambilkan di dalam"
Eti, masuk dan kembali lagi dengan tiga plastik kantongan di tangannya lalu menyodorkan pesanan masing-masing.
Saat melihat pesananku tidak sesuai aku mencoba bertanya, "Maaf aku pesannya keju semua"
"Tapi bang Dicky suka yang original" Eti menjawab dengan ketus.
Waw... Apa tadi? Bang Dicky? ckckck.
"Eti.....!" Bu RT menegur Eti yang menurutnya bersikap kurang sopan "Maaf Bu Dicky, sini saya ganti"
"Tidak usah bu, tidak apa-apa. Berapa semuanya? sekalian sama punya Bu Endang dan Bu Warsi"
Aku memang sengaja ingin membayar untuk mereka, sebagai ucapan terima kasih karena sudah di terima dengan baik.
"Tidak usah bu Tania, kami bayar masing-masing"
__ADS_1
"Tidak apa-apa Bu"
Setelah membayar, kami segera pamit. Bu RT mengantar sampai depan halaman sedangkan Eti lebih dulu masuk kamarnya tanpa menyapa lagi.
...______...
"Kue dari mana yank? kayaknya enak" menjelang petang, Dicky baru tiba dan langsung membuka klappertaart buatan Eti itu.
"Tadi bikin kue sama ibu Warsi?" Dia kembali bertanya.
"Tidak. Tadi pesan sama anaknya pak RT. Bunga desa di sini"
Dia berhenti kunyahannya dan mengangkat alisnya.
"Kamu ke rumah warga?"
"Di ajak sama Bu Warsi dan Bu Endang"
"Kemana saja?"
"Cuma di rumah bu RT. Eti itu cantik yah, pintar masak lagi"
"Masih cantikan istri ku kemana-mana" Dia kembali menyuap klappertaartnya dengan santai.
"Oh yah? Tapi kuenya enak kan? itu pemberian Eti loh, katanya kamu sukanya yang original. Tau sekali yah selera kamu"
"Apa sih yank"
"Katanya kamu suka makan yang original dari pada yang keju"
Dicky langsung berhenti menyuap kue yang dari tadi dia makan.
"Aku juga suka keju" Lalu membuka kotak kue yang satunya lagi.
"Ternyata benar yah" Moodku meluap.
Aku meninggalkannya yang masih duduk di meja makan, lebih memilih masuk kamar menenggelamkan diri dalam selimut.
"Yank... yank... kok marah sih" ternyata dia menyusul dan sedang menarik ujung selimut yang ku pakai.
"Siapa yang marah? aku cuma ngantuk" Aku berusaha mengelak.
"Shalat magrib dulu sayang baru tidur"
"Belum adzan"
"Ya sudah, ayo berpelukan" dia ikut masuk dalam selimut dan memeluk dari belakang.
"Bau Dik, mandi dulu"
"Kiss dulu"
"Ihhhhh..... "
"Nia... jangan marah-marah, takut nanti lekas tua" Lah, dia malah bernyanyi "Dicky setia orangnya, takkan pernah mendua"
Dia masih bernyanyi di ceruk leherku membuat hembusan nafasnya terasa menggelitik.
"Geli Dik....hihihi"
"Dari jutaan bintang....Nia paling gemerlapan, dari segenap wanita.... Nialah yang paling menawan"
"Gombal gembel" semudah ini aku bisa luluh
Aku membuka selimut lalu berbalik menatapnya.
"Kamu pernah pacaran sama Eti?"
Dia menghela nafas.
"Kenapa diam?"
"Dulu yank, sudah lama sekali. Awal-awal aku di sini"
"Tuh kan"
"Tidak usah dibahas yank"
"Perasaan kamu suka makan keju, kenapa selera kamu berubah? apa karena Eti? Eti sering bikin kue buat kamu?"
"Astagfirullah yank, Jangan diungkit-ungkit lagi. Ujung-ujungnya ngambek lagi"
"Kalau aku tidak di sini kemungkinan besar dia masih dekat-dekat. yah kan? atau kemarin kamu tidak mau aku ikut karena kamu masih jaga perasaan dia? kamu masih care?"
"Ya Allah Tania"
Aku kembali memasang wajah yang cemberut. Aku tau tidak seharusnya bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Tapi moodku tidak terkontrol.
"Sini dulu, aku punya kabar baik" Ternyata dia berusaha mengalihkan topik.
"Mutasi aku di Acc"
"Serius?"
"Iya sayang"
"Hahahaha,, say goodbye to Eti"
"Hahahhah.... Ada-ada saja kamu yank"
...*****...
Imperfect Love on You
Sudah terbit yah The Tantes,
Yang belum ngintip, silahkan mampir. Tapi so sorry masih tiga bab.
Dan untuk OMB ini, aku sisihkan dulu yah, aku mau fokus ke kisah Embun dulu. Rada susah bangun chemistry yang berbeda dalam waktu yang sama, apalagi pake sudut pandang yang berbeda.
__ADS_1
Oke, see you there 🤗🤗🤗