
Tania
Aku menatap diri dalam cermin, Make up yang tebal menutup semua permukaan kulit wajah, kata mereka...
"Masya Allah cantik sekali Tania.. "
Tapi menurutku terlalu manipulatif hingga aku tidak bisa mengenali diriku sendiri.
Sekarang aku berada dalam kamar yang sudah di hias sedemikian rupa.
"Niaa... Cepat sayang" Terdengar suara panggilan dari luar kamar.
Aku dibantu seseorang merapikan baju bodo yang ku kenakan lalu memperbaiki letak bando yang sangat berat di kepala.
"Bentar......"
"Tamunya sudah datang. Mempelai prianya sudah siap"
Lalu ku liat mama masuk ke kamar, memakai kebaya putih, tersenyum dengan menawan. Anggun dan cantik.
Aku balas senyum mama. Aku merasa hari ini hari bahagiaku.
Mama meraih tanganku lalu mengusapnya lembut.
"Ingat, kalau sudah menikah harus patuh sama suami"
"Harga i suami, jangan suka membandingkan dengan siapapun"
"Jangan sering-sering pulang ke rumah papa, Karena kamu sudah tanggung jawab suamimu kelak, jangan sampai kamu bertindak melukai harga dirinya"
"Rumah tangga itu pasang surut. kelak kalau ada masalah selesaikan, utarakan jangan cuma dipendam"
Lalu mama mengelus pipiku, menatapku sayang.
"Dia pilihanmu, mama yakin kamu pasti bahagia"
Aku memeluk mama. Hangat. Aroma yang sangat ku rindukan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu.
"Makasih ma, Nia sayang mama" Air mataku luruh bersamaan dengan suara ketukan pintu kembali terdengar.
Aku membuka mata, Tidak ada mama lagi yang ku peluk hanya bantal guling. Ku rasa mataku sembab, aku mengusap pipiku yang ternyata basah.
Aku beristigfar lalu mengirimkan untaian doa untuk mama.
"Niaaa.... "
Tok tok tok
Kembali terdengar ketukan pintu tapi aku masih berusaha mengembalikan kesadaran.
Ah, Aku memimpikan mama.
Bahkan aromanya masih bisa tercium.
"Bangun...Tania"
Suara kak Dewa di balik pintu makin nyaring.
"Apa sih kak? "Aku melihat jam dinding ternyata masih sepertiga malam.
"Buka dulu pintunya"
Dengan malas terpaksa bangkit, begitu pintu terbuka kak Dewa langsung menyerobos masuk dan mengambil posisi tidur di kasur.
"Tidak bisa tidur" keluhnya
"Ya Allah kak..... Terus apa hubungannya sama aku? "
"Temani ngobrol"
"Awas, besok oleng gara-gara tidak tidur, jatuh pingsan, tidak jadi nikah loh kak"
Iya, hari ini hari pernikahan kak Dewa dengan pujaan hatinya. Bukannya pernikahanku seperti yang di mimpi tadi. Dan pantas saja mama datangnya ke dalam mimpiku karena kak Dewa ternyata belum tidur sejak semalam. Ck.
"Naudzubillah, jangan doain yang jelek-jelek dong dek"
"Bukan doain tapi mengingatkan"
"Aku tidur disini bentar yah"
"Ihh.. gak mau, sana kamar sendiri"
"Jahat ih, besok aku udah milik orang loh, nanti kamu kangen baru nyesal"
"Impossible !"
Tidak lama suara dengkuran halus terdengar. Kak Dewa langsung tertidur dengan memeluk guling kesayanganku.
Apa-apaan ini? katanya susah tidur, tapi dapat bantal langsung dengkur.
Iseng ku ambil foto, lalu ku kirim ke calon istrinya.
Aku : Baru tidur, sudah tidak sabar nunggu besok katanya.
Dia : Lucu banget sih Ta.
Aku : Belum tidur juga?
Dia : Tadi udah tapi bangun gegara dia nelpon.
Aku : Dasar trouble maker yah.
Dia : Hhhhaa... Tapi aku sayang Ta.
__ADS_1
Aku : Dasar bucin.
Dia : *Emot julur lidah*
Aku ikut berbaring, pikiranku kembali melayang ke mimpiku yang tadi, mimpi tapi terasa begitu nyata.
Kapan terakhir memimpikan mama? sangat jarang aku bermimpi saat tidur. Sejak kecil oma selalu mengajarkan doa yang wajib di baca sebelum tidur, agar setan atau jin tidak masuk dalam tidur kita. Tapi kehadiran mama tadi menjadi pengobat rindu yang lama tidak terungkap.
Mama, besok datang lagi yah.
Dan tadi itu apa? Aku berdandan seperti akan menikah? hhmmm... Punya pacar saja tidak. Aku bahkan di nobatkan jomblo of the year tiga tahun berturut-turut oleh kak Dewa. Ngenes.
... *****...
"Saya terima nikahnya Andea Renata dengan mahar tersebut. Tunai"
"Sah? "
"SAH! "
Suara seruan terdengar ramai.
Harusnya aku ikut mendampingi Dea seperti yang dilakukan Tisya dan Eby. Tapi aku sebagai keluarga pihak laki-laki tetap harus duduk di sisi lain menyaksikan acara akad nikah sampai selesai.
Setelah akad di tuntun kak Dewa memasuki kamar pengantin dimana Dea menunggu. Kemudian ritual mappasikarawa, dimana pertama kali pengantin pria menyentuh wanitanya.
Dea yang tampak sangat cantik tampak malu-malu. Tanpa sengaja aku menitikkan air mata. Aku menjadi saksi perjalanan cinta mereka hingga bisa sampai pada hari ini. Bagaimana kak Dewa mendapatkan hati Dea, bagaimana Dea yang hampir kehilangan kepercayaan dirinya bisa kembali pulih kembali.
Setelah akad dan mappasikarawa lanjut acara bersalaman untuk keluarga besar pihak perempuan.
Kedua mempelai di arahkan menuju pelaminan. Dengan gagah kak Dewa menyingkirkan kursi roda lalu menggendong Dea.
"Siut suitttt"
"Pelan pelan Wa"
"Yang kuat Wa"
"Hhhaahhaa"
Semua orang kembali bersuara riuh menggoda.
Namun saat berjalan mengikuti The King and the Queen, sebagai paparazi berusaha mengambil gambar candid di ponsel biar bisa langsung di upload di sosmed.
"Ku kita tommi saya Tania mau menikah (Aku kira Tania yang akan menikah)"
Dari arah belakang terdengar suara ibu-ibu menyebut namaku.
"Iye, karena perasaan dia dulu yang tunangan"
"Tidak jadi menikah sama anaknya pak Muhammad di? "
"Cantiknya mamo itu anak (padahal anak itu cantik sekali)"
Aku melimpir ke arah Eby dan Tisya, meninggalkan ibu-ibu yang masih terus membahas tentang aku.
"Masih tuaan aku yah" Protesku.
"Galaknya ih.. Kamu kapan nyusul ke pelaminan Ta? " Tanya rian lagi bernada jahil.
"Kayak udah nikah aja"
"Hahaha.... Kita sih as soon as possible yah sayang yah" jawabnya sambil menatap Tisya, yang ditatap juga hanya tersenyum.
Aku tau hal ini pasti terjadi. Pernikahan saudara akan jadi bahan bullyan untuk kita yang masih jomblo.
"Sayang, aku kesana dulu yah. Pasukanku datang" Pamit Rian pada Tisya.
"Tebarkan pesonamu Ta. Siapa tau dapat jodoh disini. Teman kak Dewa misalnya"
"OGAH!"
"HAHAHA"
Sambil tertawa Rian berjalan ke arah pintu ballroom.
Dasar rese.
Aku sedang sibuk memilih snack untuk di makan bersama Babynya Eby Dan orang yang di maksud Rian kini sudah berdiri di hadapanku.
"Hai Tania.... "
"Kak Anca?"
"Apa kabar semua?" Kak anca mengulur tangannya sambil tersenyum manis.
"Alhamdulillah sehat kak" Aku menyambutnya juga membalas senyumnya sama halnya dengan Tisya dan Eby.
"Apa kabar kak Anita?" Aku beralih menyalami wanita cantik yang mendampinginya.
Kabarnya mereka juga akan segera menikah.
"Sehat" Kak Anita menyambut dengan hangat.
"Kesana dulu yah Ta"
"Oke kak. jangan lupa undangan yah"
"Siap" Dia melambai sembari berjalan ke arah teman-temannya yang juga teman sekolah kak Dewa.
"Tidak cemburu Ta?"
"Tidak" Jawabku tegas "Malah bersyukur akhirnya dia tidak merocoki hidupku lagi"
"Idihh,, sok cantik"
"Hehehe"
__ADS_1
"Kalau sama yang di sana? "
Refleks aku mengikuti arah telunjuk Eby.
Seketika hatiku berdesir saat mataku menangkap sosok jangkung di atas sana.
"Dicky?" Tanya Tisya. mungkin ingin meyakinkan diri.
Iya, itu Dicky.
Meski hanya tampak punggungnya aku tau itu memang dia.
Dia yang mengenakan Batik seragam dengan teman-temannya sedang mengobrol dengan Dea disana, membuat antrian macet.
Tidak lama Dea sedang menunjuk ke arah kami lalu dia berbalik dan tatapan kami bertemu.
Tak tak tak
Jantungku tidak baik-baik saja. Aku segera mengalihkan pandangan dan harus berpegangan pada meja tempat hidangan.
Wajahku memanas. Entahlah. Meski hanya melihatnya dari kejauhan membuatku kembali jadi perempuan cengeng.
"Dicky makin keren Ta" Kata Tisya antusias.
"Yaiyalah, bukan anak SMA atau kuliahan lagi" Timpal Eby yang sibuk menyuapi si baby.
"Ta, dia melihat kamu terus"
"Apa sih Cha"
Aku harus mengatur baik-baik pernafasanku. Sebisa mungkin tidak memandangnya meski dalam hati sangat ingin.
Tapi Rian yang rese tetap saja bertingkah.
"Ta.. Tamu jauh nih. Dijamu baik-baik dong"
Sekarang, dihadapanku sudah berdiri beberapa orang yang tadi Rian sebut sebagai pasukannya.
"Tania kapan?" Tanya Bima dengan tampang jahil.
"Kapan apa? " Tanyaku sok polos.
"Kapan nyusul kayak Dea"
"Dikiranya yang paling pertama naik pelaminan taunya paling belakang" Timpal temannya yang lain.
"Hahaha....."
"Jangan terlalu pemilih Ta" Rian ikut sok bijak.
"Sok tau" Jawabku ketus.
Benar kata mereka, mungkin aku yang akan menemukan jodoh paling akhir. Eby saja sudah menikah dua tahun lalu dan sekarang sudah punya anak perempuan yang lucu. Tisya dan Rian meski selalu putus nyambung tapi hubungan masih berjalan baik sampai saat ini.
Dan aku?
"Awas loh jadi perawan tua"
"Naudzubillah minzalik ih"
Sebisa mungkin tidak melirik ke arahnya, walaupun aku tahu dia terus saja memandangku.
"Kak Nia, di panggil sama om" Thanks Chaca, kamu penyelamatku malam ini.
"A... Aku... kesana dulu"
Aku segera mengikuti langkah Chaca. Ternyata keluarga papa dari Manado datang dan ingin memperkenalkan aku dengan mereka.
Setelah berkenalan dan ngobrol sebentar lalu mereka pulang, Suasana ballroom tidak lagi seramai tadi, sudah banyak tamu yang pulang dan aku memilih duduk di pojok memperhatikan mereka berfoto ramai-ramai. Ternyata selama ini Dea masih berkomunikasi dengannya? tapi kenapa aku seolah kehilangan jejak, tiga tahun tanpa jejak sedikitpun.
Kabar yang terakhir aku tau dari Akbar.
"Semua yang terlibat tawuran itu di DO(Drop Out) baik yang salah maupun tidak salah"
"Termasuk Dicky? "
"Iya, karena dia bagian dari himpunan, apalagi dia orator jadi namaya ada di daftar blacklist"
Dan juga saat aku menanyakan pada Hilda.
"Dicky masih harus terapi. Dia dibawa sama bapaknya"
"Bagaimana keadaannya Hil? "
"Masih susah mengenali orang Ta. kasian banget Dicky, udah kurus banget kayak bukan dia lagi"
Dan yang ada di depan sana sekarang Dicky yang masih sama, malah tambah mempesona. Tidak ada lagi rambut gondrong acak-acakan, rambutnya tersisir rapih, dan badannya terlihat lebih berisi dibanding tiga tahun lalu.
Syukurlah, tampaknya dia melewati masa sulitnya dengan baik.
Aku terlalu asik melamun, membuat tidak menyadari saat seseorang datang menghampiri.
"Hai.... "
Aku mengerjap. Suara itu berat itu. Refleks aku mengangkat wajah. Dalam jarak selangkah kaki, dia berdiri di hadapanku. Wajahnya penuh dengan senyum.
Seperti orang bodoh, aku hanya memandang tanpa berani bersuara.
"Kamu makin cantik pakai itu" Dia menunjuk kepalaku. Ah iya, ini pertemuan pertama selama aku menggunakan hijab.
"Cantik banget" Dia masih menatapku dengan intens dengan senyum dikulum.
Sedangkan aku hanya bisa mematung. Lidahku keluh. tidak ada kata yang bisa ku keluarkan.
"Kita nikah juga yuk"
Kalimat terakhirnya membuatku makin terpanah. Debar jantungku makin berpacu. tanganku berkeringat dingin dan wajahku kian memanas.
__ADS_1
...*****...