
Dicky
Besoknya dia benar-benar sakit. Aku makin menyesal karena sudah menjadi penyebab dia sakit dan sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Tidak mungkin aku datang ke rumahnya dan menawarkan diri untuk merawatnya atau sekedar menghiburnya. Yang keluarganya tau dia tunangan orang lain.
"Sorry" Hanya itu yang bisa ku katakan saat tersambung video call paginya.
"Gak papa, bentar juga sembuh. Kamu gimana? udah bisa kuliah?" Tanyanya dengan suara yang lemah.
"Iyah, udah sehat berkat perawat cantik, sayangnya malah dia yang tumbang"
Ku lihat dia tersenyum geli.
"Aku kirim makanan dan obat yah? mau makan apa? Bubur? "
"Gak usah, disini lengkap. Kamu kuliah aja. Bentar VC lagi, aku tunggu" Dia mengarahkan kamera ke meja nakas dekat tempat tidurnya, disana sudah penuh dengan berbagai macam makanan dan snack serta obat-obatan.
Ah, aku lupa kalau Tania hampir punya segalanya bahkan dia punya seseorang yang mungkin membawakannya? aku merasa jadi mengecil. Merasa makin tak berdaya dan merasa tak pantas tapi juga tidak bisa melepasnya begitu saja.
Tapi ke khawatiranku tidak terbukti. Ini sudah sebulan lebih dan Tania makin sering minta di jemput di rumah maupun di kampus dan ponselnya tidak lagi berdering di waktu aku bersamanya.
Apa dia sudah putus? apa sekarang aku satu-satunya? Tania tidak pernah menjelaskan apapun dan akupun tidak pernah bertanya.
Aku makin percaya diri saat Tania makin berani upload story di instagram dengan foto moment saat bersamaku, walaupun belum terang-terangan mempublikasikan wajah. Misalnya foto genggaman tangan yang selalu di sukai cewek, atau kaki yang di fotonya saat menemaninya duduk antre di bank, ada lagi foto dua gelas kopi kesukaanku dan kesukaannya saat di cafe tempat kami biasa menghabiskan waktu sekaligus mengerjakan tugas masing-masing. Foto-foto dengan caption kata-kata indah yang menurutku menggelikan.
Dan sekarang waktu Tania memang lebih banyak untukku. Sepertinya dia memang telah memilihku. Jadi tugasku sekarang hanya mempertahankan nya hingga akhir. Tidak akan ku lepas.
Saat ini, aku dan dia lagi duduk di cafe, tidak jauh dari rumahnya. Dia sedang konsen dengan proposalnya, target seminar jumat depan.
"Besok aku ada LDK himpunan di bantimurung" Kataku memberi tahu sekaligus meminta izin.
"Ikut" Ucapnya enteng.
"Kayaknya gak bisa Ta. Aku nginap dua malam dan aku masih peserta" Aku mengelus tangannya yang diatas keyboard laptop.
Dia menatapku dengan wajah cemberut.
"Tapi jangan nakal di sana, jangan baperin anak orang"
Wajahnya yang di buat segarang mungkin tapi terlihat makin imut di mataku tak tahan ku cubit pipinya.
"Siap, ibu negara"
...*****...
Tania
Besok sudah Weekend dan Dicky harus menghabiskan waktunya untuk LDK. Jadi sepertinya aku memang harus puas dengan hanya menye-menye di kamar selama weekend ini.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Malamnya, di grup chat KKN sedang ramai merencanakan meet up atau sekedar jalan-jalan bareng tapi aku langsung fokus ke jawaban Akbar.
Akbar : Sorry weekend ini aku belum bisa, ada kegiatan LDK di bantimurung.
Binggo.
Segera ku chat akbar melalui jalur pribadi.
Aku: Bar, sama siapa mau ke Bantimurung?
Akbar: Sendiri. Kenapa?
__ADS_1
Aku : Besok aku ikut yahh?
Akbar : Aku berangkatnya hari sabtu, besok aku masih ada urusan lain di kampus. Jadi nyusul.
Aku : Oke, sabtu aku ikut.
Akbar : Mau ngawasi Dicky yah? gitu amat. Takut kualat? udah dapat pacar yang Oke malah berpaling sama bocil.
Aku : Sok tau. Kamu tidak tau apa-apa 😔.
_______
Sabtu Pagi, Aku meminta Akbar menjemput ku di kampus saja. Aku tidak mau terlalu merepotkan yang harus menjemput kerumah yang jelas-jelas sangat jauh.
Rupanya Akbar membawa mobil kecil merk Ag*ya, bukan motor seperti yang selama ini dia pakai dan dia tidak sendirian tapi juga ada pawangnya.
"Taniaaaaaa" Teriak gadis pawang Akbar itu.
"Lisaaaaaaa" Aku masuk mobil akbar dan langsung berpelukan dengan Lisa.
Yup. Lisa dan Akbar korban cinta lokasi di posko KKN yang ternyata langgeng.
"Akbar bilang kamu mau ikut, jadi aku ikut juga, biar kamu ada teman"
"Alasan" Terdengar Akbar mencibir.
"Kalian cewek itu, selalu gitu yah? nethink (negatif thinking) terus. Tidak percayaan"
"Idihh Ge er. Kita itu cuma mau menikmati weekend di air terjun"
Dalam perjalanan tampaknya Lisa dan Akbar sangat penasaran dengan urusan percintaan ku.
"Kenapa putus sama kak Anca?" Tembak Lisa langsung.
Akhirnya aku menjelaskan secara singkat bahwa Dicky itu pacar sejak SMA dan aku sama Kak Anca yang hubungan dari awal memang hanya didasari perjodohan akhirnya memutuskan untuk tidak lanjut.
Meski rautnya wajahnya tidak puas tapi mereka berdua tidak lagi bertanya.
Akbar memarkir mobil di depan sebuah villa yang sederhana, bangunan yang terbuat dari kayu namun terlihat bersih dan asri.
Aku dan Lisa mengekori sambil tetap berbincang. Aku bersyukur sekali dengan keberadaan Lisa di sini.
Begitu memasuki lobby, Akbar menuju resepsionis.
"Masih ada kamar kosong?"
"Sudah Full Kak. Semuanya sudah di isi sama mahasiswa yang sedang ada kegiatan" Jawab sang resepsionis.
Akbar langsung memanggil seseorang yang sedang melintas di Lobby dengan menggunakan ID Card Panitia.
"Baru datang Kak? " Tanya orang itu.
"Kira-kira ada kamar yang bisa di geser penghuninya? "
Orang itu tampak berfikir tapi belum sempat menjawab Akbar nampaknya sudah mendapat ide brilian.
"Oh...Dicky sekamar berapa orang? "
"Semuanya masing-masing 3-4 per kamar Kak"
"Dicky dan teman-temannya lebur saja ke kamar lain. Kamarnya aku yang pakai"
__ADS_1
"Siap Kak"
Orang itu hendak melangkah tapi Akbar kembali bertanya.
"Yang lain di mana?"
"Masih di Aula. Terima Materi. Habis ishoma (istirahat shalat dan makan) nanti baru jadwal Kak Akbar"
Akbar mengangguk kemudian berjalan ke arah dalam, Aku dan Lisa kembali mengekori Akbar memasuki sebuah ruangan yang cukup luas. Di depan ruangan terdapat Banner dengan tulisan besar :
...Latihan Kepemimpinan Dasar dan Pelantikan Pengurus Himpunan Mahasiswa Tehnik UNP....
Akbar mempersilahkanku dan Lisa duduk di kursi yang ada di pojok belakang, ku layangkan pandang mencari sosok yang selalu menghangatkan jiwa.
Mereka tidak duduk di kursi, tapi mereka hanya duduk di lantai membentuk lingkaran besar. Ku temukan dia didalam lingkaran itu, dia yang mempunyai postur tubuh yang tinggi dan leher yang jenjang sedang menjadi pusat perhatian semua orang karena sedang menyampaikan sesuatu yang sepertinya sangat menarik.
Ku lihat pandang mata beberapa cewek dalam lingkaran itu pandangan yang penuh minat sambil berbisik-bisik menatap Dicky yang berbicara penuh percaya diri. Isshhh.
Tanpa sadar aku menatapnya sambil mencibir karena suasana hati yang gondok dan ternyata seseorang menunjuk ke arah Akbar, spontan semua mata mengarah ke arah kami dan Dicky langsung menatap ku dengan kening mengkerut. Tidak lama. Perlahan kerutan di keningnya menghilang dan berganti senyum manis yang memperlihatkan gigi gingsulnya.
______
Forum bubar, Ku lihat Dicky langsung menghampiriku, menyapa Akbar dan Lisa terlebih dahulu yang berjalan menuju depan Aula. Tampaknya Akbar ingin memproklamasikan Lisa di depan Teman-teman nya.
Dicky menarik kursi yang tadi di duduki Lisa dan memposisikan diri tepat di depanku, menjadikan sandaran kursi jadi tempat tangan dan wajahnya bertumpu menatapku dengan jarak yang dekat.
"Kok bisa sampai sini? " Tanyanya. Kulihat matanya tampak berat, sepertinya kurang tidur.
"Keberatan? " Aku malah nyolot.
"Yah enggak "
Aku melihat melalui ekor mataku tingkah cewek-cewek tadi. Salah satunya tampak cemberut dan dua temannya sedang menghibur.
"Sibuk amat tebar pesonanya" Suasana hatiku masih panas.
"Tebar pesona gimana sayang" Dia mencoba meraih tanganku tapi aku menapiknya.
Dan aku menyesal sudah merajuk menyita waktunya. Ternyata waktunya hanya satu jam untuk makan dan shalat.
"Kamu makan dulu sama teman kamu, aku ke mushola dulu" Katanya saat aku mulai melunak.
Setelah shalat dia baru hendak makan tapi forum sudah mulai kembali. Ku lihat dia hanya makan dua pisang uli, pisang kecil yang di hidangkan sebagai pencuci mulut. Kemudian langkah mengikuti teman-temannya tapi dia berbelok saat melihatku yang sedang berbincang sama Lisa tidak jauh dari pintu keluar.
"Aku sama teman-teman ku sudah pindah kamar, ini kuncinya. Kamu istirahat dulu"
"Makasih, tapi aku mau jalan-jalan sama Lisa"
Aku mengambil kunci yang di berikan.
"Kemana? "
"Sekitar sini aja"
"Jangan jauh-jauh" Kemudian dia berlari kecil ke luar ruangan mengejar rombongan temannya.
...*****...
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca kisah Dicky❤Tania.
Terima kasih juga sudah meninggalkan jejak like dan komentar serta gift dan votenya.
__ADS_1
Liebe Dich ❤