
Tania
Malam ini adalah hari ke tujuh kepergian mama.
Rumah sedang ramai tapi rasanya tetap kosong, biasanya ada mama yang sibuk melayani tamu. Tapi sekarang hanya ada papa yang duduk diruang tamu menemani para tamu.
Rumah di penuhi anak santri-santriwati dari pesantren tempat mama pernah mengabdi, pesantren rintisan buyut mama, ibu-ibu majelistaklim, tetangga serta kerabat mama dan papa.
Setelah tamu-tamu satu persatu pulang, tersisa hanya kerabat dekat. Aku beranjak dari tempatku sedari tadi duduk sambil membaca ayat-ayat alquran, Sekilas aku lihat masih ada kak Anca dan keluarganya sedang berbincang sama papa di ruangan luar.
Aku masuk ke dapur, disana ada tante Yuli, Daeng Intang dan Daeng Tini. Mereka sibuk dengan piring kotor.
Aku duduk di kursi meja makan, meminum air. Melepaskan dahaga.
"Istirahat dulu nak" Ucap Tante Yuli dengan tatapan prihatin.
"Iyah tante"
Aku kembali berjalan, menuju kamar yang biasa digunakan oma (Ibunya papa) saat datang ke rumah.
"Assalamualaikum, oma sudah tidur?"
Aku langsung menaiki ranjang, meringkuk dan memeluk oma. Sambil membayangkan jika yang ku peluk saat ini adalah mama.
"Belum, oma kecapean. Badannya pegal-pegal"
Ku rasakan tangan oma membelai rambutku, mengusap-usap punggungku hingga aku terlelap.
Semoga malam ini bisa bertemu mama di alam mimpi.
Paginya, setelah shalat subuh berjamaah di mushala, semua kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku memilih meraih alquran. Seperti yang dilakukan oma, kak Dewa dan papa.
Setelah membaca satu jus, aku menuju meja makan yang masih penuh.
"Duduk disini nak, sarapan dulu" Tante yuli bangkit dari kursinya.
"Dek, Bagaimana kuliahnya ?" Tanya papa dengan raut yang serius.
Aku bahkan harus meminum air setengah gelas lalu menjawab pertanyaan papa yang terlalu tiba-tiba "Harus penelitian ulang pa"
"Besok kamu sudah bisa ikut Tante yuli kembali ke Makassar. Fokus sama kuliahmu. Tidak usah mikirin yang lain dulu"
"Iya pa" cicitku. Memang tidak tau harus jawab apa lagi.
"Jangan lupa shalat dan doain mama" Kali ini terdengar suara oma.
"Doa anak shaleh/shaleha yang akan jadi penolong dikemudian hari"
"Iyah oma"
"Oh.. Iyah, sepertinya pernikahan kamu sama Anca papa batalkan"
Uhuk uhuk..
Aku yang sedang menyuap nasi goreng buatan tante yuli langsung tersendak.
Kali ini, Aku harus minum satu gelas untuk membuatku pulih dari keterkejutan ini.
"Gak masalah kan?" Lanjut papa.
Meski dengan kening mengernyit heran tapi aku juga mengangguk.
"I .. Iyah.... gak masalah"
Aku menatap kak Dewa yang juga sedang duduk di depanku, meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kak Dewa serius dengan suapannya sama sekali tidak menghiraukan rasa penasaranku.
"Dan..... papa tidak akan menjodoh-jodohkan aku lagi dengan teman atau kerabat papa yang lain kan? " Tanyaku sebelum papa bangkit.
"Kamu fokus selesaikan kuliah dulu, kalau perlu lanjut S2. Papa tidak akan ikut campur lagi urusan lain"
__ADS_1
"Makasih pa" Aku melempar senyum pada papa dibalas dengan usapan lembut di kepalaku.
Aku kembali ke kamar, mempacking barang yang akan ku bawa ke Makassar, di laci ada ponsel yang sudah seminggu ini tidak aktif. Aku meraihnya, mencoba menyalakan. Ada banyak ucapan bela sungkawa yang masuk termasuk dari Dicky.
Aku langsung membuka pesan itu dan mengabaikan pesan yang lain.
Dicky : Turut berduka cita sedalam-dalamnya Ta. Aku tau kamu kuat 😊
Air mataku kembali jatuh dari pelupuk mata. Dasar manja.
Beberapa bulan ini Dicky menutup semua pintu komunikasi. Dia memblokir nomorku, sampai aku tidak bisa mencari tau tentangnya.
Namun hari itu, saat mendengar berita duka itu. Aku ingat dengan jelas, Dicky yang menatapku, mendekapku penuh kekhawatiran.
Aku sedang berusaha untuk kuat Dik.
Aku baru ingin mengetik balasan pesan Dicky tapi ponselku langsung berdering.
Kak Anca calling...
Tanpa sengaja aku menolak panggilannya.
Dan ternyata pesannya sudah bertumpuk sejak kemarin.
Kak Anca : Dek......
Kak Anca : angkat telponku dek.
Kak Anca : Kita perlu bicara dek. Dek tolong bujukin papa kamu dek.
Aku tidak membaca lebih lanjut dan memilih segera mematikan daya ponselku.
...*****...
Dicky
Farah lebih banyak diam. Tapi satu yang pasti tetap memperhatikan setiap detail kebutuhan dan tugas-tugasku.
Tania apa kabar?
Membayangkan bagaimana wajah cantiknya kini penuh dengan air mata.
Seandainya aku tidak bertindak seperti pengecut. Mungkin saat ini aku masih bisa dengan percaya diri merengkuhnya. Menemaninya melewati masa-masa sulitnya.
Aku membuka blokiran di semua akunnya. Berjibun ucapan bela sungkawa yang mengalir tapi sepertinya dia tidak aktif sama sekali.
Aku juga membuka blokiran WA dan mencoba mengirimkan pesan.
Aku : Ta, Apa kabar?
Teralu basa basi. Lalu ku hapus.
Aku : Maafkan aku.
Ku hapus lagi.
Aku : Turut berduka cita sedalam-dalamnya Ta. Aku tau kamu kuat 😊
Send. Hanya centang satu.
Hari kelima kemudian barulah pesan itu berubah jadi centang dua dan biru tapi tidak ada balasan.
Its oke, itu artinya Tania sudah mulai pulih.
"Dik, udah... "
Aku tersentak tersenyum kikuk. Karena sedang kepergok menatap foto profil Tania.
"Dik... "
__ADS_1
"Yah.... " Aku segera mengantongi ponselku "Udah yah? " Aku mengambil alih laptop dari hadapan Farah berusaha mengabaikan tatapannya.
"Dik... Aku merasa kok ini makin gak adil buat aku" Farah terus menatapku tapi aku berusaha mengabaikannya.
"Iyah, aku tahu kalau kamu masih berharap sama dia. Tapi aku ada disini Dik, di depan aku kamu terang-terangan... "
Farah menghembuskan nafas dengan kasar.
"Memang susah yah jika berat sebelah, bertepuk sebelah tangan"
"Setidaknya kamu menghargai aku Dik, coba buka mata kamu. Dia juga sudah bahagia sama orang lain"
Aku memilih tetap diam.
"Semoga suatu saat kamu sadar. Jangan khawatir aku tetap dsni. Tidak akan kemana-mana"
Farah paling bisa membuatku tidak berkutik. Aku memang salah. Bagaimanapun selama ini Farah selalu ada, tidak pernah meninggalkanku selangkahpun. Kenapa tugasku selama ini selalu selesai on time? Padahal aku harus begadang mengurus ini itu atau sekedar bersantai menemani teman-teman yang lain. Kenapa nilai-nilai ku masih bertahan di A+ padahal semua tau aku bahkan tidak punya waktu sekedar baca buku. Iyah, itu Semua karena adanya Farah.
...*****...
Dewa
"Sorry, ini di luar kendaliku"
"Bro, come on. Bantuin kali ini aja" Suara memelas Anca membuatku makin muak.
"Itu urusan orang tua Bro. Aku gak ada kendali"
Aku menutup panggilan dari Anca sambil berdengus kesal.
Bagaimana papa tidak marah, saat rumah lagi dalam keadaan suasana duka, keluarga mereka malah datang membahas hal tehnis tentang pernikahan.
Bahkan tanpa merasa sungkan, mereka membawa uang panaik malam itu juga.
"Mumpung kami disini jadi sekalian kami berinisatif membawa....."
"Maaf, kami masih dalam suasana berduka. Belum bisa menerima ini" Kata papa yang terlihat menahan geram.
"Tidak usah sungkan. Disini kami tambahkan jumlahnya dari kesepakatan awal. Kami tau biaya rumah sakit ibu Mina saat itu tidak sedikit. Terimalah"
"Seberapa banyak biaya rumah sakit istri saya tidak ada hubungannya dengan uang panaik" Suara papa sudah meninggi.
"Maaf, saya harus menemui tamu yang lain" Papa mengusir dengan halus.
"Terus bagaimana dengan tanggal pernikahan yang semakin dekat? Apa harus di undur juga om? " Kali ini Anca yang bertanya.
"Tolong beri keluarga kami waktu"
"Tapi om..... "
"Oke, kalau begitu pernikahan ini tidak perlu di lanjutkan"
"Anak saya Tania, anak yang lemah lembut . Saya tidak bisa membayangkan berada di keluarga kalian yang tampaknya selalu memaksakan kehendak"
Aku kira, itu hanya emosi sesaat papa dan tidak serius ingin membatalkannya. Tapi ternyata papa serius.
Tania bahkan terheran-heran dengan apa yang dikatakan papa.
...*****...
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu 😇
*Lagi lagi othor mengucapkan maaf sebanyak-banyaknya. Dunia RL di tambah ujian sakit benar-benar tidak punya waktu banyak memegang ponsel.
Aku harap para readers jaga kesehatan 😇 Jangan sakit-sakit.
Jangan menganggap remeh cuaca sekarang yang tidak bisa di tebak.
Kami sekeluarga drop, mulai dari suami, aku sendiri dan sekarang si kecilpun ikut panas 😢*
__ADS_1
cukup sekian curcolnya semoga bisa jadi pemakluman 😁
Salam sayang buat kalian 😍