
Dicky
Sebulan yang lalu, Bima mengabari.
Bima : Dik, Dea nanyain. Mau merit dia. Mau kasi undangan katanya.
Aku penasaran, tanpa membalas pesan Bima aku membuka akun yang sudah lama tak terjamah.
Sesuai dugaan bahwa Dea meninggalkan pesan sejak beberapa hari yang lalu.
Dea : Dik, where r you?
Dea : (Foto undangan)Aku tunggu yah.
Dea : Klo tidak datang, u r not my friend anymore.
Iseng aku balas.
Aku : Widihh... Andea kita akhirnya sold out.
Ternyata dia langsung nge-read.
Dea : DIK DUK!!! KEMANA AJA?
Aku : Mencari kitab suci Sun Go Kong, hhee.
Dea : Kirim nomor WA sekarang.
Aku mengirimkan dan hanya dalam hitungan detik nomor baru telah tampil dilayar.
"Halo..... "
"Dik dukkkk.... " Suara cemprengnya tak lekang oleh waktu.
"Selamat ya"
"Kok kamu tambah dekil begitu sih?"
"Iya nih belum ada yang ngurus"
"Si Farah mana? tidak lengket lagi?"
"Kabur, tidak betah juga ternyata,hhhaa"
Aku tertawa tapi merasa garing karena Dea tidak ikut tertawa.
"Ada yang kangen disini"
"Siapa? Kamu? "
"Tania"
Ah, nama itu. Sudah lama aku tidak mendengar nama itu disebut dan rasanya tetap sama meski hanya mendengar namanya saja.
Aku bahkan harus berdeham lalu dengan suara yang pelan bertanya sungkan.
"Dia apa kabar?"
"Entahlah, dari luar dia terlihat baik-baik saja. Tapi siapa yang tau luka yang di dalam. Tapi setidaknya dia sudah kembali pulih, mengingat tiga tahun yang lalu dia seperti apa"
"Maksudnya?" Penjelasan panjang lebar yang di utarakan Dea makin membingungkan.
"Tapi sekarang dia makin dewasa, makin menjaga diri meski sedikit tertutup"
"Dan pastinya makin cantik" Tambahku membayangkan Tania yang sekarang seperti apa.
"Kalau penasaran bulan depan wajib datang kesini"
"Insya Allah De. Semoga dapat cuti"
"Acaranya kan akhir pekan dik duk. Jangan banyak alasan"
"Galak ih. Jangan galak-galak nanti suaminya kabur"
"Naudzubillah, amit amit"
"Hahaha"
"Aku tunggu yah, Awas saja kalau berani ingkar"
"Insya Allah Dea, Insya Allah yah.. semoga Allah menghendaki"
Dari undangan terbaca, Dea akan menikah kurang dari sebulan lagi. Waktu yang mepet sebenarnya. Aku masih ragu apa memang masih sempat hadir.
Namun semuanya berjalan lancar. Setelah mendapat ijin, dan minggu ini jadwalku untuk ke kota lagi untuk membeli segala kebutuhan.
"Bim, tunggu aku minggu depan"
"Siap gerak"
"Mau batik seragam?"
"Boleh deh"
"Jangan lupa ole-ole"
"Ole-ole kepala Ba bi, Mau?"
"Tidak ada yang lebih seram?"
"Yah, di sini memang cuma ada itu. Bdw, Aku harus balik ke Camp sekarang. Jadi nomorku tidak aktif lagi"
"Siap Ndan. Tapi pekan depan datang yah"
"Insya Allah"
__ADS_1
Setelah di DO dari kampus dan melewati masa sulit hampir setahun. Begitu pulih, Bapak langsung mengikutkan dalam seleksi TNI (Bintara). Dan akhirnya sejak enam bulan yang lalu aku ditugaskan di pelosok poso.
Setiap akhir pekan teman-teman meluangkan waktu ke kota kacamatan dimana terdapat pasar tradisional terdekat untuk membeli bahan makanan dan keperluan lainnya. Sekalian menjadi waktu mengabari keluarga karena hanya disini bisa mendapat jaringan yang lumayan bisa diakses.
Dan aku memang hanya sesekali keluar kandang, itupun memang saat tugas seperti sekarang ini atau sesekali harus menghubungi Bapak.
...____...
Aku mampir sebentar ke sebuah toko mainan dan membelikan boneka Winni The Pooh untuk Mecca dan mobil-mobilan remot untuk Aiden, kedua adikku yang kini berusia 4 dan 3 tahun. Yang disambut dengan riang.
"Assalamualaikum Aiden, Mecca"
"Taaataaaa (kakak)"
Aiden dengan lincah berlari menyambutku, sedangkan Mecca yang kadang masih malu-malu hanya mengintip di balik tirai.
"Mecca, kakak punya hadiah tapi sini dulu dong"
Mungkin karena mendengar kehebohan, tidak lama Mama Dahlia muncul dari balik tirai yang di tempati Mecca mengintip.
"Kakak Dicky datang, Mecca kenapa cuma disini, salim dulu sama kak Dicky"
Dengan malu-malu Mecca keluar dan menyalami tanganku.
"Ma.... Ole-ole dali tata'" Celoteh Aiden heboh.
"Bilang apa sama kakak? "
"Udah, udah bilang macihh"
Aku menyalami mama Dahlia.
"Bapak mana?"
"Masih tugas, sekarang makin sibuk" Ah iyah, mengingat jabatan papa sekarang memang tidak heran jika masih sibuk meski akhir pekan.
"Mobil yang di luar bisa dipinjam?"
"Boleh. Mau kemana?"
"Ke Palu, ada teman yang menikah"
"Pakai saja Nak. Jangan sungkan"
"Makasih Ma"
Dari rumah Bapak yang letaknya di kota poso, aku berangkat ke kota yang penuh kenangan.
Jarak tempuh membutuhkan waktu sekitar lima jam dengan kecepatan sedang.
Aku sengaja melewati tempat penuh kenangan, Tanggul pantai tempat menikmati es kelapa muda bersama dia, melewati sekolah tempat kita pertama kali bertemu dan menikmati masa remaja yang alay. Meski hanya melihat dari luar tampaknya bangunannya sudah di renovasi sedemikian rupa.
Dan aku berhenti di sisi jalan saat melewati rumah dinas bapak yang dulu kami tempati. Dalam keremangan malam, Aku bahkan bisa melihat Dinda di sana sedang duduk di teras bercerita riang lalu ibu dan bapak yang sedang meminum kopi hitam hanya mendengar sambil tertawa-tawa.
Lamunanku seketika buyar saat ponselku bergetar. Ternyata Bima.
"Dik, jadi datang kan?"
"Jadi dong. Aku sudah disini"
"Breng sek. Posisi?"
"Masih di jalan. Mau cari penginapan. Rekomendasi dari yang punya kota ada gak, yang murah tapi nyaman? "
"Kalau ada yang gratis kenapa harus bayar? Nginap di rumah aja"
"Jangan deh"
"Sombong"
"Bukan sombong Bim. Tapi you know me so well lah"
Menginap di rumah Bima memang tawaran yang bagus sebenarnya tapi memikirkan kenyamanan tentu aku lebih memilih di penginapan meski hanya kamar sempit dan fasilitas seadanya yang penting tidak harus merasa sungkan atau merepotkan orang lain.
"Yaudah kita party dulu, masih pagi ini"
Aku melihat jam di tangan, pukul 10 lewat. Bisalah.
"Akan ku tunjukkan kota palu saat malam hari"
"Boleh. Siapa takut"
"Whahahah.. nakal yah"
...____...
Akad dan pesta Dea di adakan di salah satu hotel mewah yang terbaru, dulu hotel ini belum ada.
Ternyata teman-teman yang hadir lumayan banyak, mereka semua di undang khusus oleh Dea. Akhirnya jadi ajang reunian juga.
Aku bahkan teringat Sadam, melihat Dea dengan orang lain semoga dia bahagia.
Aku memasuki tempat acara dan berjalan paling belakang, berjalan sambil mengedarkan pandangan di keramaian, tidak perlu waktu lama, radarku sudah menangkapnya. Penampilannnya sedikit berbeda tapi itu membuatnya semakin anggun. Ah.. Dengan mudahnya aku kembali jatuh cinta. Berulang kali.
Dia mengobrol dengan sepasang tamu, lalu tersenyum. So Beautifull.
Buk
Aku menabrak punggung Hengki yang berjalan di depanku.
"Pelan pelan Dik"
"Makanya jalan itu mata ke depan, bukan jelalatan"
"Sorry" Ku pasang tampang yang sedamg nyengir kuda.
__ADS_1
Kini aku dihadapan pasangan Raja dan Ratu hari ini.
"Selamat Andea. Sayang sekali aku telat. Bukannya dulu kamu janji mau nikah sama aku"
Aku mencoba menjahili dan langsung terdengar decakan dari suaminya. Aku mengulum senyum menahan geli.
"Kelamaan tunggu kamu. Tuh, yang di sana masih setia menunggu"
Aku berbalik mengikuti petunjuk Dea, gadis cantik yang berbalut jilbab itu ternyata sedang menatapku. Mata bulat itu terlihat terkejut, lalu memalingkan pandangan. Menggemaskan. Mungkin sekarang wajahku tampak aneh karena terus saja menyinggungkan senyum tanpa tau untuk apa. Wait me Baby.
"Sekali lagi, selamat yah"
"Selamat karena jadi orang yang beruntung dapatin dia. Bahagia selalu" Meski dengan tampang malas, Dewa menyambut uluran tanganku.
Lalu Rian langsung menggiring kita ke tengah ruangan tempat stand snack, katanya ingin memperkenalkan calon ibu dari anak-anaknya dan yang dimaksud sudah kutebak adalah Tisya.
Aku bahkan sempat berbasa-basi dengan Tisya dan Eby tapi tidak dengan Tania. Lehernya seakan terkunci, dia hanya menanggapi candaan teman-teman dengan wajah yang bersemu.
Dan aku terus mencari kesempatan sebelum Bima mengajak pulang. Pada akhirnya kesempatan itu datang saat suasana sudah mulai lenggang, ku lihat dia duduk sendiri sambil melamun.
Sedang melamunkan apa, girl?
Aku menghampiri. Berjalan dengan pelan. Dia benar-benar melamun sampai tidak menyadari kalau sekarang aku sudah berdiri dihadapannya. Aku memilih menikmati pemandangan di hadapanku sekitar satu menit hingga akhirnya bersuara.
"Hai... Apa kabar?"
"Kamu makin cantik pakai itu"
Iya, dia memang sangat cantik sekarang ini atau memang selalu cantik?
"Kita nikah juga yuk"
Pernyataan implusif yang keluar dari mulutku bukan hanya mengagetkannya. Tapi juga mengagetkanku, tadinya aku tidak pernah berpikir akan mengucapkannya, maksud aku, aku memang ingin dia tapi bukan sekarang, bukan melamar di tempat ramai begini dan dalam keadaan kita baru saja bertemu setelah sekian purnama.
Tapi ide itu tercetus begitu saja saat menatap mata yang berkaca-kaca di hadapanku sekarang. Iya, aku tidak bisa melepasnya lagi. Aku masih punya kesempatan dan tidak akan ku sia-siakan. Bukankah aku harus jadi orang paling beruntung itu?
Dia memalingkan wajah sembari mengusap sudut matanya.
Aku mengambil posisi duduk di kursi sebelah nya.
So take my hands up, seen me
'Cause you've made me Into this man
I promise I'll treasure you girl
You're all that I've needed
Completing my world
(Its You - Sezairi)
Suara nyanyian merdu penuh makna kini memenuhi ruangan, menguasai keadaan.
Aku mencoba menebak-nebak apa yang di pikirkannya, tapi dia tak juga kunjung bersuara.
"Aku serius Ta"
Aku mengubah posisi duduk agar bisa berhadapan dengannya. Kini aku sedang menatap matanya, mencoba meyakinkan.
"Aku akan bawa Bapak kehadapan orang tua kamu secepatnya....."
"......Tapi aku harus memastikan kamu sedang tidak menunggu siapapun saat ini. Tidak sedang...... "
"A... aku memang sedang menunggu seseorang" Lidahku mendadak keluh saat dia mengatakan yang tidak seharusnya ku dengar.
Apa aku terlambat lagi?
Apa aku memang terlalu lama pergi? aku pikir...
"Aku menunggu orang yang sama tiap hari. sejak dulu... sejak masa remajaku, sejak dia pergi tiga tahun yang lalu, untuk kesekian kalinya dia meninggalkanku tapi bodohnya aku tetap menunggu meski tanpa kabar"
Matanya kini menatap tajam. Seolah menghakimi tapi bagiku ini bukan penghakiman atas kesalahanku tapi aku mengganggap ini pengakuan.
As always, Taniaku yang selalu terus terang.
Jika tidak mengingat ini adalah tempat yang ramai, mungkin aku sudah menariknya kepelukan. Mendekapnya dan tidak ku lepas. Mengucapkan beribu maaf dan sejuta cinta.
Namun realitanya yang terucap malah...
"Tunggu aku. Minggu depan... iya minggu depan aku akan datang melamar kamu di depan keluargamu"
Ku raih jemarinya. Tidak perlu memintanya menjawab, tatapan matanya yang teduh kini mengisyaratkan semuanya.
"Aku pasti datang!"
..._*****_...
Assalamualaikum Wr. wb.
Halo para Readers budiman....
Mau ijin hiatus, boleh? Boleh yah? Cuma sebulan aja. Insya Allah. hhhee.
Kata Dik duk "Insya Allah, kalau Allah menghendaki"
Tapi sebisa mungkin aku usahakan tidak lewat sebulan kok.
Semoga sebulan kemudian bisa langsung kondangan yah kita.
The tantes, silahkan bikin seragam baju bodo. wkwkwk.
Makasih atas pengertiannya. Semoga tidak mengurangi rasa cinta terhadap TanDuk yahh 😇
Wo Ai Ni ❤
__ADS_1