
Langit malam kota Jogja.
Dan rindu.
Hari-hari yang melelahkan, aku menempuh kuliah S2 Psikologi pendidikan sudah dua tahun lebih, tapi belum juga kunjung rampung. Bahkan masih membutuhkan waktu yang lebih banyak lagi.
Pagi tadi saat sidang, hasil penelitianku yang sudah ku kerjakan selama enam bulan malah ditolak mentah-mentah oleh Prof. Handoko sebagai penguji dan parahnya Prof. Isabel sebagai pembimbing malah diam saja, tidak membelaku sedikitpun.
"Capek Dik" Untung saja malam ini aku bisa berkeluh kesah.
"Istirahat dong sayang"
"Aku mau kawin aja, tidak usah kuliah lagi"
"Hahahaha...... Yang sabar sayang. Kamu sudah mengorbankan waktu dua tahun, uang papa kamu, sekarang malah mau menyerah"
"Itu prof. Handoko dendam apa sih sama aku?"
"Naksir mungkin"
"Idih, Amit amit"
"Hahahaha"
"Aku harus menunda kepulangan ku lagi" Aku kembali serius menatapnya tapi dia hanya tersenyum.
"Sabar sayang"
"Apa aku cuti dulu untuk semester ini?"
Dia tidak menjawab, hanya terus menatap dengan senyum.
"Kapan balik? Padahal aku pengen banget ketemu?" Aku mengalihkan pertanyaan.
"Idihh,, yang sudah jadi mahasiswi Jawa pake pengen banget"
"Haahaha"
Benar juga. Di sana memakai istilah seperti banget, gue, Lo dan bahasa gaul lainnya yang notabene nya dari daerah Jakarta dan sekitarnya malah terdengar aneh jika tidak terbiasa.
"Kan sekarang emang udah jadi wong yogyahhhh"
"Jangan nakal" Dia melotot tapi tidak terlihat garang malah sebaliknya.
"hahaha, aku nakalnya sama Prof Handoko aja"
"Tania!" Dia pura-pura geram.
"Hahahah. Candaa prof" Moodboster sekali kan?
"Ya sudah, istirahat saja dulu. Refreshing nanti setelah tenang baru mulai kerja lagi" Sarannya serius.
"Jadi benar kita tidak jadi ketemu di Makassar?"
Sebenarnya posisinya sekarang lagi di Makassar, awalnya aku janji setelah selesai sidang aku langsung berangkat biar bisa bertemu tapi kejadiannya malah seperti ini.
"Besok hari terakhir, lusa langsung balik sama tim Kopasus"
"Besok pagi aku cari tiket pagi. Kita masih bisa ketemu malamnya"
"Nanti kamu kecapean Ta. Buang-buang uang"
"Kamu kayak tidak kangen" Aku manyun.
"Kangen sayang tapi ini keadaan kita. Sabar, dikit lagi.Katanya harus M.Psi sebelum di halalin?"
"Kan kalau sudah nikah maunya cuma fokus sama kamu"
"Dan anak-anak kita"
"Iya. Fokus sama kamu dan anak-anak kita. Hihihi"
Sekali lagi, moodboster sekali bukan calon suami ku? hihihi, calon suami.
__ADS_1
Setiap rasa lelah menyerang dan mendengar suaranya langsung meluruhkan segalanya.
Sepertinya aku memang harus bekerja dan belajar lebih giat lagi kalau ingin mendapat gelar Magister sebelum hidup bersama Dicky.
Ya Allah, indah sekali mimpiku. Hihihi.
Tapi jangan kira hubungan LDRku sama Dicky selama empat bulan ini lancar jaya yah. Apalagi saat Dicky sama sekali tidak ada kabar. Rasanya selalu ingin marah saja padahal aku tau itu resiko pekerjaannya.
Akupun kembali bertekad, dengan niat yang kuat aku kembali membuka tesis hasil coretan prof Handoko.
Oke, Prof. Aku akan tunjukkan kekuatan cinta Tania. Wkwkwk.
Namun besoknya, mimpi indah ku kembali buyar.
Di akun Instagramnya ada tiga upload terbaru di feednya.
Tenaga langsung terkuras, tidak ada yang tersisa. Kepala pening tidak mampu mencerna apapun lagi.
Kamu jahat Dik.
...*****...
Dicky
Tania jadi susah dihubungi. Komunikasi terakhir saat aku berangkat dari Makassar kembali ke markas, seingatku saat itu semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang aneh. Minggu pertama aku menelpon, tidak di angkat aku masih berfikir positif, Mungkin dia benar-benar sibuk dengan tesisnya, tapi ini sudah minggu kedua malah tidak bisa lagi di hubungi, bahkan nomor aku diblokir. Something wrong. Pasti.
Satu-satunya orang yang bisa membantuku saat keadaan seperti ini adalah Dea. Walau kadang tidak selalu berjalan mulus karena sang suami yang terlalu posesif.
Aku telpon, dua kali tidak diangkat. Ada dua kemungkinan, dia sibuk atau ponselnya di pegang sama Dewa.
Aku kirim pesan chat
Aku : De, aku butuh bantuan mu
Centang dua namun belum berubah warna. Aku masih sabar menunggu.
Sejam kemudian aku mengecek ponsel sudah berubah jadi warna biru namun tidak direspon.
Aku chat lagi
Pasti tau. Mereka berdua soulmate.
Langsung di read dan writing.
Ting.
Dea : Tania sakit.
Aku memejamkan mata seraya beristigfar.
"Sakit apa?" Aku langsung menelpon.
"Penyakit lama"
"Memang Tania sakit apa?" Kataku lagi dengan nada tidak sabar. Setau aku Tania tidak punya sakit bawaan.
"Tipoid" Lagi-lagi Dea menjawab dengan singkat, tidak seperti biasanya.
"Sekarang di mana?"
"Drumah sakit"
"Di Jogja?"
"Iya"
Ada apa sih dengan semua orang ini?
"Tolong share Lok. Aku ijin cuti dulu, mungkin besok baru bisa berangkat"
...______...
Senin pagi, aku sudah menginjakkan kaki di tanah Jogja Dan langsung memesan taksi menuju rumah sakit tempat dia dirawat.
__ADS_1
Dea mengarahkanku melalui telpon dan mendapatinya bersama Dewa duduk depan salah satu ruangan.
"De, Tania bagaimana?" Tanyaku langsung.
Dan hanya menganggukan kepala sebentar pada Dewa. Aku belum bisa akrab dengannya. Mungkin suatu hari nanti.
"Di dalam. Masuk saja"
Tanpa menunggu lagi aku membuka pintu yang di tunjuk Dea.
"Assalamualaikum"
Semua menoleh. Seorang dokter laki-laki paruh baya, Dua perawat yang mendampinginya, Papa Tania dan Tania yang tampak terkejut meski sedang terbaring diperiksa oleh dokter.
"Om" Aku langsung menyalami dan mencium punggung tangan papa Tania.
"Baru datang?"
"Iya om"
Aku melihat kearah Tania yang meringis karena disuntikkan sesuatu di lengannya.
"Mbaknya makan yah, dikit aja yang penting makan. Kalau tidak makan bisa makin lama di sini"
"Iya dok, makasih" Lirihnya terdengar sangat lemah.
"Di pantau saja makannya, obatnya juga jangan lupa" Kemudian dokter berbicara pada papa Tania.
"Terima kasih dokter"
"Sama-sama pak"
Dokter dan kedua perawatnya telah menghilang di balik pintu. Setelah berbasa-basi sebentar papa Tania juga ikut pamit.
"Papa keluar dulu"
"Pa, panggilin Dea"
Papa Tania keluar, aku mendekat, mengambil posisi duduk di sampingnya.
"Hei.. kamu kok tidak bilang kalau lagi sakit"
Bersamaan dengan terbukanya pintu dan Dea masuk.
"De, aku ngantuk. Mau tidur"
Lah, aku dicuekin.
"Kamu marah yah?"
"......."
"Karena aku lambat datang? Sorry sayang, aku tidak tau ternyata kamu sakit"
"Deeaaaa, aku tidak bisa tidur kalau ada orang berisik"
Aku memasang wajah yang memelas tapi Tania sama sekali tidak berniat melirik. Aku meminta penjelasan pada Dea namun dia hanya geleng kepala.
"Di luar dulu yuk, biarkan Tania istirahat dulu"
Aku mengalah. Dengan berat hati aku mengikuti Dea keluar kamar, mungkin dia tau penyebab Tania sampai mendiamkan aku.
"Tania sudah dua kali drop seperti ini"
Aku mulai menyimak.
"Yang pertama dua tahun lalu, saat kamu sakit dan dia tidak bisa menemuimu"
Aku mengernyit
"Dia mengalihkan semua tenaga dan pikirannya untuk hal lain yang membuatnya kelelahan dan jatuh sakit"
"........"
__ADS_1
...*****...