Oh My Brownis

Oh My Brownis
My Hero


__ADS_3

Tania


Sebenarnya yang sesungguhnya aku bukan tipe cewek petualang. You know me so well. Sejak kecil teman mainku hanya Dea, mainnya kalau bukan timezone paling jauh di pantai saat weekend. Kita bukan golongan Eby yang suka berjelajah bersama Rian dan teman cowok lainnya.


Dan sekarang aku ada di sini menjalajahi jalanan licin di dalam gua yang eksotis walaupun aku hanya menggelayut di lengan Dicky selama perjalanan. aku sangat menikmatinya tentu saja. Menjadi objek foto Dicky atau aku harus menyeret Dicky untuk bisa foto berdua di spot spot yang menarik seperti ini.



"Kamu suka begini?" Tanya Dicky saat kita sedang berjalan di atas Sky Bridge. Mungkin dia melihatku yang sedari tadi tersenyum.



"Iya, aku suka semua yang ada kamunya" Gombalan receh ku tercetus dan dia langsung mencubit ujung hidungku.


"Lain kali aku ajak petualangan lebih seru"


"Kemana? "


"Banyak, tempat indah di sulawesi, pernah ke malino? "


"Pernah lah"


"Pasti cuma foto di kebun teh, atau pohon pinus ya kan?" Aku hanya nyengir karena tuduhannya memang benar.


"Memangnya mau kemana lagi? "


"Malino itu indah. Bukan sekedar itu. Oke next trip kita jelajahi malino, Tapi seminar dulu. Setelah itu kita lanjut bulukumba terus skripsi beres next toraja selesai wisuda kemana lagi yah? "


"Honeymoon di Bali " Jawabku sekenanya.


Dia hanya tersenyum penuh arti dan menggenggam tanganku erat.


...*****...


Dicky


Setelah seminggu berlalu, Tania yang di sibukkan dengan seminar dan mulai revisi sebelum nanti melanjutkan penelitian.


Sementara aku masih sibuk dengan tugas-tugas lanjut ujian akhir semester dan segala kegiatan himpunan namun masih selalu menyempatkan diri menemuinya atau mengantar Tania pulang.


Semuanya tampak normal.


Namun hari ini aku kembali dihadapi kenyataan yang mengingatkanku jika ternyata semuanya belum normal, masih butuh usaha.


Setelah menyelesaikan ujian terakhir untuk hari ini, aku menuju sekretariat himpunan sebelum nanti menjemput Tania di perpus universitas, namun dari jarak lima langkah aku mendapati seseorang yang tidak asing di mataku. Dia sedang duduk bersama sesepuh kampus, terlihat akrab.


"Itu yang ko cari? (Itu yang kamu cari?)" Tanya Fauzan ke arah orang itu sambil menunjuk ke arahku.


"Sini Dik" Fauzan memanggilku.


"Ada apa kak?" Aku bertanya basa-basi.


"Ada yang cari"


Kemudian Fauzan dan dua kakak tingkat yang lain memilih meninggalkan kami.


"Kamu yang namanya Dicky?" Dia meneliti dari bawah sampai atas kemudian ke bawah lagi dengan tatapan yang paling tidak ku suka.

__ADS_1


Aku tidak menjawab.


"Kenal aku? harusnya kenal yah"


Aku masih diam. Kira-kira apa tujuan orang ini kesini.


"Berapa lama pacaran sama Tania?"


"Sejak SMA" Kali ini aku menjawab dengan singkat namun dia terkekeh mendengar jawaban ku.


"Aku menemaninya saat dia terpuruk. Dua tahun, tapi kamu tidak ada"


Aku kembali terdiam mencoba menahan diri.


"Kalau sekarang Tania menganggapmu, aku cuma mau mengingatkan jangan ke ge eran, takutnya kamu akan kecewa"


Orang ini masih terus beromong kosong.


"Sekarang Aku maklum jika dia belum bisa meninggalkan kamu. Saat itu dia merasa bersalah dan mungkin ingin menebusnya. Aku maklum"


"Kalau kamu mau aku meninggalkan Tania, percuma. Dia memilihku. Aku tidak Akan melepasnya" Aku langsung saja menebak tujuannya. terlalu berbasa-basi bukan tipeku.


" Lets see. Kira-kira berapa lama Tania bisa bertahan dengan cinta menye-menyenya" Dia kembali menatapku dengan tatapan meremehkan.


"Aku masih membiarkan dia sekarang, makanya kamu masih bisa bertemu sesuka hati tapi jika saatnya tiba, Tania akan kembali padaku tanpa ku minta. Jadi aku cuma mau kamu bersiap kapanpun itu"


"Aku tidak perlu omong kosong, banyak cerita. Kita buktikan saja siapa yang bertahan dan siapa yang Tania pilih" Tantang ku dengan senyum menyeringai setengah mengejek, menyerang balik tatapan meremehkannya lalu ku lihat rahangnya mengeras.


"Oke kita buktikan saja nanti, semoga kamu bersikap gentle, bisa menerima dengan lapang dada tanpa harus mengemis"


...*****...


Pertanyaan sejak Tania berubah kini sudah terjawab. Jika kemarin-kemarin Tania hanya menampakkan kisi-kisi melalui Insta story nya kini dia sudah terang-terangan memamerkan kebersamaan mereka.


Sejak awal aku sudah menduga tentang dia tapi aku masih belum tahu banyak, belum memastikan. Tapi saat mereka memamerkan berfoto bersama di momen Tania selesai seminar proposal membuat egoku terbakar.


Selama ini aku diam, bukan berarti menyerah. Aku hanya memberi Tania ruang dan memberi diriku waktu untuk berpikir.


Namun saat ku lihat bocah itu berjalan ke arahku aku makin percaya diri. Apa yang di harapkan Tania sama bocah seperti ini? Jenis bocah yang masih mencari jati diri, bocah yang masih mengandalkan orang tua. Sepertinya aku tidak perlu khawatir. Aku mempunyai peluang lebih banyak.


Tapi setelah mengobrol dengan suasana yang panas, pandanganku sedikit berubah. Sikapnya yang cukup dewasa, tidak gampang terpancing. Ternyata dia bocah yang gigih. Diam tapi menghanyutkan. Dan itu yang membuatku sedikit kesal.


Jadilah aku kesini, Fakultas tetangga Teknik. Sudah seperti hukum alam, kedua fakultas ini selalu berseberangan jalan layaknya musuh bebuyutan, saling menyerang meski berada di naungan almamater yang sama. Tapi aku bisa mengambil kesempatan di sini.


"Apa kabar Bro?" Kalau tadi di teknik ada Fauzan, sesepuh kampus. Di sini ada Yoel, Yoel Febrian si raja perang. Mahasiswa abadi yang tak kunjung wisuda.


"Woi, Lamanya baru ketemu. Tumben ke sini" Dia menyambutku hangat meski dengan gaya tengilnya.


"Biasa, ada sedikit urusan" Jawabku menyeringai.


"Urusan cewek pasti" Tebaknya dan langsung terbahak karena aku tidak membantah.


"Mau ka titip salam seseorang (Aku mau nitip salam sama seseorang" Aku langsung ke tujuan inti.


"Siapa?" Yoel tampak penasaran.


Aku memperlihatkan foto bocah itu yang sempat viral di sosial media. Fotonya yang memegang toa dengan gaya songong.

__ADS_1


"Anak ingusan yang belagu ini? "


Aku menggangguk.


"Sampaikan salamku. Senggol sedikit saja biar dia tau kalau hidup tak selamanya Indah"


Yoel kembali tergelak "Sudah bisa jadi pujangga"


Aku hanya membelas dengan decakan.


"Dia ini sudah jadi caranya sejak awal, banyak yang tidak suka, gayanya belagu. Tapi kalau di lapangan sepertinya susah, dia bukan anak busur, dia cuma anak toa"


"Atur sajalah. Masalah seperti ini, aku mengandalkanmu"


"Urusan kecil, tunggu kabar dari aku"


...*****...


Tania


Sejak seminggu ini Dicky terlalu sibuk. Kemarin katanya mau menjemput malah tidak jadi dan sampai sekarang dia hanya membalas pesanku dengan kalimat singkat. Aneh.


Sebagai pacar yang baik aku menghampiri ke kampus sekalian mau memamerkan SIM A yang baru kemarin sudah ku dapatkan. Finally yey.


Jadi hari ini aku menggunakan mobil yang sejak dulu hanya terparkir di garasi atau kadang hanya di gunakan Daeng Nassa mengantarku jika perlu. Sekarang, aku mengemudi ke kampus Dicky meski extra hati-hati akhirnya aku tiba tanpa senggolan sedikitpun.


Aku mengambil parkiran paling dekat, paling aman karena aku masih kesulitan jika harus memarkirkan di tempat yang sempit.


Aku berfoto bergaya di depan kemudi lalu ku kirim pada Dicky


Aku: Ngedate yuk. Aku tunggu di parkiran.


Namun belum ada balasan. Aku menunggu sambil memutar musik.


Saat sedang asik membalas chat dari Dea sambil mengikuti alunan lagu, terdengar suara riuh dari arah belakang kemudian mahasiswa-mahasiswi yang tadi keluar kembali berlarian memasuki gerbang.


Aku kembali flashback, saat dulu teriakan yang hampir sama terjadi. Aku mencerna apa yang terjadi, bencana seperti apa? Aku tidak merasakan gempa bumi seperti di palu waktu itu, dan di sini cukup jauh dari pesisir pantai tapi kenapa semua tampak panik.


Dan jawabannya adalah saat satu batu mengenai kaca mobil ku. Lalu disusul gerombolan mahasiswa yang melempar dengan membabi buta terus maju, menumbangkan jejeran sepeda motor yang berjejer.


Aku terjebak, apa yang harus ku lakukan?


Aku berjongkok di bawah kemudi untuk menghindari batu atau benda-benda lain yang memecahkan jendela kaca mobil.


Dengan tangan gemetar, Aku mencari nama Dicky di kontak yang ternyata menjadi pekerjaan yang sangat sulit. Setelah ku temukan ku tekan tombol panggil.


Dering pertama dan kedua tidak di jawab, suara suara di luar sana makin riuh dan


BRUK


Sebuah batu besar kini lolos masuk di mobil melalui kaca belakang.


"Halo" Akhir terdengar suara berat Dicky.


"Dik........ Aku ....... takut Dik"


...*****...

__ADS_1


__ADS_2