
"Kamu mau kemana?" Wajah dan nada Naila tiba-tiba berubah serius.
"Menemuinya" jawabku singkat "memastikannya".
"Memastikan apa? memastikan kalau dia orang yang kau cari?" Nada suara Naila makin tegas.
Aku mengernyit memandangnya tak suka.
"Terus kalau dia memang orang yang kau cari, kamu mau apa? " lanjutnya. "Ingat Ta, sekarang kamu sudah tunangan, ngapain ketemu sama cowok lain"
"Dia bukan cowok lain" Aku menatapnya tajam. "Kalau tidak mau temani, tidak usah, aku pergi sendiri"
Aku tidak tau sejak kapan aku senekat ini.
Aku sudah berjalan keluar dari perpustakaan sambil memesan taksi online.
"Aku antar Ta" Tapi Naila sudah di sampingku, berjalan menyeimbangi langkahku.
Yang ku sesali adalah kenapa sampai saat ini aku sama sekali tidak bisa membawa kendaraan sendiri. Kak Anca tidak pernah membiarkan ku. Dia memang selalu siap mengantar jemput atau memesankan taksi online kalau dia tidak sempat tapi pada akhirnya aku sendiri yang kerepotan kalau sudah seperti ini. Kapan aku bisa mandiri?
Fakultas ku dan FT memang satu naungan almamater tapi di pisahkan oleh jarak. Jarak kampus Satu menuju kampus tiga sekitar sepuluh menit perjalanan menggunakan sepeda motor Naila.
"Di mana Ta?" Tanya Naila saat laju motornya melambat setelah melewati gerbang besar dan di dalam terdapat banyak persimpangan jalan.
"Yang itu FBS" jawabku sambil menujuk lurus pintu gerbang FBS.
Aku pernah ke kampus ini terhitung hanya dua kali itupun hanya di FBS (Fakultas Bahasa dan Sastra) saat ikut pertemuan ECC (English Circle Club).
"Yang itu FMIPA" Kata Naila menunjuk ke sebelah kanan jalan. "terus Teknik yang mana?"
Naila sama bingungnya sama aku.
"Ta, makan dulu yuk. Lapar." Keluh Naila.
Aku melihat jam di ponsel, benar ini sudah siang harusnya makan siang dulu. Tadi pagi aku hanya sempat minum susu dan roti panggang buatan Daeng Intang di rumah. Tapi aku sama sekali tidak berniat makan apapun saat ini.
__ADS_1
"Kamu punya teman di kampus sini? coba hubungi dulu" Usul Naila karena melihatku hanya terdiam.
Benar juga. Akbar dan beberapa teman yang lain kan anak otomotif.
"Ya udah kita cari makan di depan" Ucapku kemudian, kasihan juga Naila harus menahan lapar karena keegoisan ku.
Naila sudah duduk anteng dengan mie ayam di depannya yang siap tuk di lahap. Sedangkan aku hanya memesan teh kemasan botol. Aku membuka ponsel ku, dengan tujuan menghubungi Akbar.
Tapi satu notifikasi di grup chat WA.
_Beautygengs
(Link dengan judul "Pro Kontra Sang orator Muda")
Dea : Dicky Ta?
Rian : Serius Itu Dicky?
Eby : Ta, kamu sudah tau? dia kuliah di kampus kamu juga?
Aku : Aku juga baru lihat. Ini lagi di kampusnya.
Rian : Ngapain?
Dea : yah ketemulah to lo. (tolo\=bo doh)
Rian : Untuk? ingat Ta, kamu sudah tunangan.
Dea : Yan, kamu kenapa sih? tidak senang Dicky ternyata masih hidup?
Rian : Astaghfirullah De, suudzon ih. Senang tapi cukup tau dia masih hidup aja. alhamdulillah.
Kenapa sih semua orang selalu membawa statusku sekarang? Masih tunangan kan? orang menikah saja bisa cerai apa lagi cuma tunangan karena perjodohan.
Hati kecilku sedikit tersentil, sedikit menyesal kenapa secepat itu aku mengambil keputusan penting itu dulu.
__ADS_1
Aku beralih ke kontak Akbar mengabaikan adu argumen antara Rian dan Dea.
Aku : Assalamu'alaikum Bar.
Tak lama. Akbar langsung membalas.
Akbar : Waalaikumsalam Ta. Kenapa?
Aku : Kamu di kampus? bisa ketemu?
Akbar : Bisa, tapi aku ada konsul sama pembimbing bentar. Posisi kamu?
Aku : Kantin depan kampus.
Akbar : Ok. Tunggu di sana.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mie ayam di hadapan Naila sudah tak tersisa begitupun teh kemasan ku tapi akbar belum juga menampakkan diri.
"Teman kamu masih lama? " Tanya Naila yang tampaknya sudah mulai bosan.
"Bentar lagi Nai" Jawabku yakin karena tiga menit yang lalu pesan chat akbar masuk mengatakan kalau dia sudah on the way.
"Tania...... " Aku mengangkat wajah saat suara akbar sudah menyapa ku "Tumben kesini? urgen pasti nih" Seloroh Akbar sambil mengambil posisi duduk di hadapanku.
Tapi kalimat Akbar seolah hanya angin lalu karena seluruh indra ku sudah berpusat pada satu objek yang sedang berjalan memasuki kantin dan berhenti tepat di samping akbar dan juga menatapku tajam.
Waktu seolah terhenti. Kini aku benar-benar berada di hadapannya lagi. Dia yang sangat ku kenal, hatiku bergemuruh. Meskipun dia bukan lagi cowok berseragam, rambutnya tak lagi potong cepak dan tinggi badannya, sudah pasti lebih jangkung dari dua tahun yang lalu dan tatapan tajam kini perlahan melembut, tatapan itu masih sama. Aku yakin dia masih Dicky yang sama.
"Dik... sini woy" Seseorang memanggilnya membuat tatapannya berpaling.
Dia tersenyum samar sejenak ke arahku dan hendak melangkah tanpa kata refleks aku berdiri menghalangi langkahnya.
"Kita perlu bicara" Kataku tegas mencoba menembus tatapannya.
*****
__ADS_1