
Dicky
Masih dalam kelas di lantai 2, saat masih mengerjakan soal final semester, terdengar suara riuh dari bawah. Serentak mengintip di jendela. Saat menyadari apa yang terjadi semua langsung panik, beberapa orang termasuk Pak Firman langsung melompat berusaha menyalamatkan kendaraan mereka yang bisa jadi sasaran kebrutalan mereka.
Sedangkan yang lain berusaha mencari perlindungan karena beberapa kali terdengar pecahan kaca jendela. Aku dan Arvie membiarkan kaum hawa mengamankan diri di tempat yang lebih aman yaitu lantai 3. Setelah merasa mereka aman Aku berfikir untuk turun menyelamatkan Motor atau tetap mendampingi teman-teman disini namun ponselku berdering.
Mine❤ calling.
"Dik.... Aku .... takut" Suara Tania yang terdengar gemetar.
"Kamu dimana? " Tanyaku waspada.
"Dekat gerbang...........dalam mobil...... "
Tanpa berpikir lagi aku menuruni tangga secepat kilat. Mengambil helm yang yang entah punya siapa, lalu mencari cela. Namun lawan yang sedang menyerang secara membabi buta.
Aku meremas rambutku saat melihat dari kejauhan posisi mobil Tania yang berada di parkiran terluar, menjadi sasaran empuk para dua kubu yang saling menyerang.
Tidak ada pilihan lain.
"Kal... Bantu aku, Tania ada di mobil itu" Aku menghampiri Haikal yang terlihat bimbang, Antara Ingin melawan atau mundur.
"Kamu harus cepat, jangan sampai mereka makin brutal sampai membakar kendaraan"
Tidak. Jangan sampai terjadi.
"Aku sama yang lain mengalihkan disini, kamu lewat kesana" Aku mengangguk setuju dengan Haikal. Lalu Haikal dan yang lain mengambil posisi kanan, berusaha memprovokasi keadaan.
Sedangkan aku tidak membuang waktu, Aku berjalan dengan cepat menuju mobil Tania tapi seseorang di antara mereka menyadari keberadaan ku dan melempar batu ke arahku yang berhasil ku hindari, lalu dia mendekat dengan kayu panjang di tangannya, aku melemparkan helm yang masih di tanganku.
BUK
__ADS_1
Tepat mengenai rahangnya.
Aku memungut kayu yang cukup besar yang berada paling dekat di kakiku, ku seret menyusuri celah namun saat hendak mencapai tempat Tania, Sesuatu mengenai lenganku, kulihat busur menancap disana, ku cabut dan ternyata itu serangan awal karena tiga orang kini di hadapanku, tak bisa ku lihat wajahnya karena memakai helm tertutup. Aku tidak bisa mundur. Aku tetap melangkah dan ku layangkan kayu yang ku pegang hingga mereka perlahan mundur.
Beberapa langkah lagi mencapai mobil Tania tapi ternyata satu di antaranya membawa senjata tajam berupa pisau hardcore dan melempar ke arahku dan menyambar lengan kiriku.
Ku lemparkan kayu panjangku dan mengenai kakinya hingga tidak bisa mendekatiku.
Aku mengetuk pintu sisi kanan mobil Tania dan pintu itu langsung terbuka yang menampakkan Tania sedang meringkuk di bawah kemudi.
"Cepat pindah"
Dengan badan gemetar, Tania berusaha keluar dari tempat persembunyiannya dan mengambil posisi di sebelah kiri.
"Tetap tunduk" Tangan kiriku berusaha meraih kepalanya dan menundukkannya dalam-dalam sedangkan tangan kananku bertugas menyalakan mesin dan mulai melajukan mobil dengan keadaan yang masih kacau.
Beberapa orang berusaha menghadang tapi aku tetap menancap gas, beruntung tidak ada yang tertabrak hingga bisa lolos dari kekacauan.
Ku raih Tania yang masih tertunduk gemetar dan merengkuh nya.
...*****...
Tania
"Maafkan aku" Dicky menciumi kepalaku dan terus meminta maaf.
"Maaf, karena terlambat datang"
"Maaf, membuatmu ketakutan"
Aku yang masih syok, merasa nyaman di pelukannya tapi saat ku sentuh lengannya dia meringis. ku lepas rengkuhanya.
__ADS_1
"Huuuuaaaaa, Kamu berdarah" Aku panik tapi dia kembali memelukku.
"Kamu..... hikss.... berdarah..... hiks"
"Gak papa, cuma dikit"
****
Yoel
Anca datang di waktu yang tepat. Hubungan Seni dan teknik sekarang memang lagi panas-panasnya, bulan lalu gedung Seni di acak-acak hingga beberapa motor habis terbakar dan sekarang teman-teman memang merencanakan serangan balik.
Hari ini adalah harinya, hari terakhir ujian semester, saat kampus masih ramai. Aku dan Ardi memberi komando untuk menyerang dari depan dan mengingat kan jangan pernah menyentuh perempuan.
Aku tidak memberi arahan pada yang lain tentang bocah orator itu, biar aku sendiri yang berurusan dengannya. Namun menargetkan satu orang, ternyata sulit.
Tapi siapa sangka jika akhirnya dia sendiri yang menampakkan diri. Dengan mata nyalang, dia yang maju tanpa rasa takut walaupun hanya dengan kayu di pegangannya.
Dia melayangkan pukulan beberapa kali mengenai Riki dan Ihsan, pukulannya lumayan keras hingga membuat Riki dan Ihsan merasa waspada dan mundur perlahan. Dia terus maju. Aku ingin mendekatinya tapi dia tidak terkendali. sangat berbahaya. Akhirnya ku layangkan pisau dan mengenai lengannya namun dia tidak gentar, tidak ku sangka dia berbalik dan melemparkan kayu mengenai tulang kering ku. Breng sek memang. Aku sampai kesulitan untuk bangkit.
Ku lihat dia masuk dan melajukan mobil merah itu, yang ternyata di dalamnya ada seseorang. Oo.. ternyata dia dalam misi penyelamatan.
Menarik, sesekali aku ingin mengenalnya lebih dekat.
...*****...
Mohon maaf jika part ini merasa pendek 🙏 Othor lagi galau ditinggal Babang Kwang Soo di RM😭
Eke juga mau berterima kasih kepada kalian yang masih menyempatkan diri hanya sekedar membaca atau ikut serta meninggalkan jejak di cerita TanDuk (Ini julukan salah satu readers setiaku sekaligus adik kesayangan🤗)
Ich Liebe Dich Alles 🤗😘
__ADS_1