Oh My Brownis

Oh My Brownis
The Best Fighter is Never Angry


__ADS_3

The best fighter is never angry(pejuang terbaik tidak pernah marah).


― Lao Tzu


...*****...


Dewa


Aku dan Mama tiba di rumah makassar sekitar pukul tiga sore hari. Kami mendapati rumah dalam keadaan sunyi hanya ada Daeng Intang yang membersihkan halaman belakang dan anak bungsunya yang sedang bermain di ruang tengah.


"Biasanya Nia pulang jam berapa?" Tanya Mama pada Daeng Intang yang sudah sibuk membawa barang dari taxi masuk rumah.


"Kadang siang, kadang sore juga Bu"


Aku menghempaskan badan di sofa. Mengecek ponsel, barang kali ada notifikasi penting tapi nyatanya tidak ada. Aku beralih ke instagram, ku lihat story Dea, dia sedang berfoto bertiga dengan Nia dan temannya satu lagi yang bernama Tisya di sebuah Mall.


Seperti biasa, dia tersenyum penuh memperlihatkan giginya yang rapih walaupun dia harus duduk di kursi roda. Mmhh... Aku merindukan senyum itu. Makin rindu.


Seperti ada bohlam yang menyala di kepalaku saat terpikir ide.


Oo.. iya, Aku bisa membawakan pesanannya sekarang.


Meski hanya alibi tapi itu bukan ide yang buruk. Apa dia masih di mall itu? Gak papa cuma butuh sekitar 10 menit untuk sampai disana jika tidak macet, aku bisa menyusulnya.


Aku: Kamu dimana?


Aku mengirimkan pesan tapi tidak kunjung di balas.


ku kukirim pertanyaan yang sama pada Nia, dan langsung dijawab.


Adek : Di rumah Dea. Kenapa? Kakak ada di Makassar?


Rupanya mereka sudah pulang.


Aku bangkit dan pamit sama Mama yang sedang asik bercerita dengan Daeng Intang di dapur namun saat mendapati garasi mobil yang kosong aku kembali masuk mencari Daeng intang.


"Daeng, mobil di garasi ke mana?"


Yang aku tau mobil itu hanya di gunakan untuk mengantar atau menjemput Tania tapi katanya tadi Daeng Nassa sedang menarik ojek online sekarang. Syukurlah.


"Ada... ada di bengkel" Daeng Intang menjawab dengan ragu.


"Kenapa?"


"Kemarin Dek Nia terjebak tawuran katanya"


"Nia bawa mobil? Mama tau? Memangnya sudah punya sim? "


Mama tidak menjawab dan hanya melongo mungkin kaget juga seperti aku.


"Mama gak tau?" Ulangku


"Mama taunya Nia sudah punya sim dan bawa mobil sendiri tapi tidak tau kalau di hampir celaka begitu"


"Ya Allah Nia" Aku tidak bisa membayangkan yang terjadi sebenarnya tapi dengan Nia masih bisa hang out berarti dia tidak apa-apa.

__ADS_1


Akhirnya aku pergi menggunakan satu-satunya motor yang ada, motor matic yang biasa di gunakan Daeng Intang ke pasar.


Saat tiba di rumah Dea, aku langsung menuju ruangan yang di penuhi gelak tawa. namun saat di pintu aku mendapati pemandangan yang .......Ck.


Mereka sendang duduk di sofa yang empuk. Dea yang sedang bercerita, Tisya yang Ngemil sambil tertawa mendengar cerita konyol Dea dan yang paling memuakkan adalah Nia -yang juga sedang tertawa- setengah berbaring dan kepalanya yang di sandarkan di pundak Bocah itu, sedangkan Bocah itu hanya asik dengan ponsel yang sepertinya sedang bermain game.


"Kak Dewa?" Nia menatapku dengan mata membulat sempurna.


"Kapan datang? " Dia mengangkat kepalanya dari sandarannya. Aku tidak menjawab.


"Pesananku mana?" Kali ini Dea menodongku. Aku menyodorkan kotak berisi kue pia kesukaannya.


"Makasih Kak paling guuuaanteng" Dia mengerling jahil. Dasar tidak peka. Selalu seperti itu. Ck.


"Kamu tau dia mau datang? " Tanya Tania pada Dea.


"Dia yang nanya mau pesan apa" Jawab Dea membuka satu kotak kuenya dan mencomotnya.


"Enak, mau Cha, Dik" Dia menawarkan pada Tisya dan Bocah itu.


Aku melirik bocah itu kini menatapku dan tersenyum, kemudian mengulurkan tangan.


"Apa kabar kak? " Pertanyaan yang sangat basi.


Aku hanya mendudukkan diri di samping Dea tanpa menyambut uluran tangannya. Perasaanku masih ......kalut.


"Kamu datang sama siapa? Mama ada? " Tania kembali bertanya sambil meraih tangan bocah itu yang masih menggantung.


"Ada. Dirumah"


"Kenapa? biar gak ketahuan kalau lagi kelayapan? gak ketahuan mobil ada di bengkel? iya? " Suaraku pasti sangat menyebalkan di telinganya.


"Yang pentingkan aku ga papa kak" Jawab Tania lemah.


...*****...


Tania


Kak Dewa tiba-tiba muncul di rumah Dea dengan wajah yang masam. Kenapa? apa karena masalah mobil? Kak Dewa memang paling protektif masalah kendaraan makanya aku tidak bilang kalau sudah bisa bawa mobil walaupun hanya sekali itu saja karena yah, lagi-lagi kena apes dan Dicky malah melarang datang ke fakultasnya lagi.


"De, Cha, aku pulang duluan yah" Aku berinisiatif mengajak Dicky cepat pulang demi melihat wajah beku kak Dewa tak kunjung mencair.


"Kamu pulang sama kakak" Ucapnya datar.


"Tapi aku masih mau ke toko buku bentar" Alasanku konyol.


"Ya kakak yang anter"


Dicky yang sudah bangkit hanya tersenyum padaku.


"Gak papa, besok masih bisa. kamu harus pulang dulu. Kangen sama Mama kan? "


Kak Dewa terdengar mendecak.


Dicky sudah pergi tapi Kak Dewa tak kunjung bangkit.

__ADS_1


"Katanya mau pulang?" Aku bertanya dengan nada menyebalkan.


"Jadi dia yang bikin Anca jadi gagal wisuda?" Tanya Kak Dewa sambil melihat pintu yang tadi dilalui Dicky.


"Kak Anca gagal wisuda?" Aku mengernyit.


"Dia lagi uring-iringan sampai tesisnya terbengkalai " Kini Kak Dewa menatap Dea yang makan pia dengan lahap.


"Terus kenapa Dicky yang di salahin?" Aku tidak terima jika Dicky harus di kaitkan dengan Kak Anca.


Kak Dewa diam, mungkin tidak menemukan jawaban.


Namun kembali membuka suara saat sudah dalam perjalanan pulang.


"Mau diantar ke toko buku mana?" Tanyanya.


"Gak usah, gak jadi. Mau ketemu Mama aja"


Hening.


Kak Dewa memperlambat laju motor.


"Dek. Aku cuma gak mau kamu salah melangkah" Kak Dewa mengeluarkan kalimat menyebalkan lagi.


"Maksudnya apa? Kakak gak suka sama Dicky?" Tembakku langsung.


"Dek, Kamu sudah menyeret hubungan papa dan orang tua Anca dek. Ini bukan masalah sederhana"


"Mereka yang menyeret aku sejak awal kak. aku gak pernak mau di jodohin"


"Tapi kamu juga tidak pernah menolak. Diam berarti iya"


Aku berusaha menahan gejolak di dada yang mulai memanas. Ku hembuskan nafas perlahan.


"Hubunganku sama kak Anca sudah clear. Kak Dewa gak usah ikut campur " Hanya itu yang bisa ku katakan.


"Kamu benar-benar keras kepala sekarang"


*****


Dea


Kak Dewa datang membawa apa yang ku minta namun dengan wajah tak seperti biasanya. Wajah datar yang tidak bersahabat sama sekali.


Aku anak tunggal tapi dua saudara ini selalu merecoki hidupku. Tania dan Kak Dewa, yang ku kenal sejak aku belum bisa menyebut nama sendiri. Kak Dewa selalu memperlakukan ku seperti dia terhadap Tania. Seolah aku ini adik bungsu yang di jaga, apalagi sejak musibah itu, dia makin iba dan selalu berusaha berbuat yang terbaik padaku, aku hanya memanfaatkan saja, tidak rugi kan? heheheh.


Namun tatapan dan reaksi yang di tunjukkan pada Dicky membuatku sedikit kesal.


Aku tau kalau dia memang sedikit posesif dengan Tania dan melihat posisi duduk dua insan kasmaran itu mungkin yang menyebabkannya berwajah masam seperti itu. Tapi tetap saja, itu berlebihan. Dicky dan Tania masih dalam posisi yang wajar.


Tania yang juga menyadari keadaan ingin membawa Dicky segera pergi namun di tahan kemudian terjadi perdebatan singkat kedua saudara itu. Tania membantah setiap ucapannya yang seolah memojokkan.


Namun sebaiknya aku tidak ikut campur. Meski sebenarnya ingin membenarkan tiap kata yang di katakan Tania, tapi aku memilih diam, menikmati kue pia rasa coklat, seperti yang Tasya lakukan.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2