Oh My Brownis

Oh My Brownis
Detektif Gagal


__ADS_3

Dea ini teman bukan sih? ngakunya sahabat tapi bukannya dibantuin dekat, PDKT malah ikut tebar pesona.


Oke. Jurus tepe-tepe beraksi. Ayo kita lihat pesona siapa yang lebih menarik. Aku Tania loh, banyak yang ngantri.


Aku menghela napas perlahan, memasang senyum termanis yang ku miliki lalu melangkah mendekat ke dua sejoli itu.


"Kantin yok De" ajakku ke arah Dea.


"Eh, ada Dicky" sapaku seolah baru menyadari kehadiran Dicky " Aku pinjam Dea yah" sambungku basa-basi yang dibalas dengan anggukan dan senyum simpulnya.


"Kamu udah makan? gabung sama kita aja" Dea malah menawarkan Dicky lalu mengerling ke arahku. Emang sialan nih si cempreng.


____


Ajakan Dea berhasil, entah mau senang atau sedih. Senang karena bisa lebih dekat sama dia tapi sedih karena yang ngajakin Dea. hitung jangan? gak usah deh. itu bukan poin.


Sekarang posisi duduk kami di kantin, aku duduk bersebelahan dengan Eby yang dari tadi cuma diam aja, di depanku bangku yang dipilih Dicky, bersebelahan dengan Dea.


Aku jaim dong, kali ini aku pesan bakso kuah gak pake mie, cuma pake kecap dikit, gak mau pake sambal takut keringatan. Sedangkan Dea dan Dicky semakin akrab saja, ishh. Pembahasan mereka tentang ....


"Pilihan lagunya bagusnya apa sih?" tanya Dea ke arah Dicky.


"Kalau yang nge-beat gimana?" Dicky bertanya balik.


"Kalian mau nampil?" tanyaku di tengah obrolan mereka. Aku tau kalau Dea paling suka dengan perfom-perfom gitu tapi Dicky?


"Hu'uh, nih bassis handal Xb" jawab dea bangga di sela kunyahan mie ayamnya sambil mengerling ke arah Dicky.


"Di new years festival?" tanyaku lagi di balas anggukan Dea.


"Nantikan yah" kata Dea lagi sambil nyengir.


Pikiranku jadi melayang, gimana penampilan Dicky yah kalau di panggung. Kayak penampilan Yong Jong Hwa oppa gak sih kalau megang gitar. ihhh kiyut.


"Eh, Dik. Dulu sekolah dimana?" Aku mencoba mengakrabkan diri. Direspon baik gak yah.

__ADS_1


"Makassar" Jawabnya singkat tapi menatap tepat mataku.


"SMP apa?" tanyaku lagi.


"SMP 25" benar-benar pelit suara ini manusia.


"Yang di sudiang itu?"


"Tau?" tanyanya balik


"Sering lewat depan situ. Rumah om aku dekat dari situ"


"O yah dimana ?"


"Lupa nama kompleknya. Yang jelas belakang bandara, siang malam ribut suara pesawat"


Dicky malah ketawa.


"Disitu ada lotus, kalau mau masuk bandara tanpa tiket" Ini kalimat terpanjangnya selama ini.


"Lobang tikus. Istilah anak-anak situ, mereka sering iseng masuk situ demi liat yang namanya pesawat"


"Pengalaman pribadi yah?" kali ini Eby yang bertanya.


Dicky benar-benar terbahak memperlihatkan ginsulnya.


"Waktu masih bocah" jawabnya kemudian "sekarang mungkin lotusnya sudah tutup".


______


"Ta, Dicky pulang bareng siapa?" Tanya Eby yang sedang duduk di belakang kemudi. Emang tumben Eby di ijinkan bawa mobil ke sekolah.


Aku melihat kedepan, disana antrian panjang di gerbang sekolah adalah hal yang biasa di waktu pulang seperti sekarang ini,aku melihat Dicky yang sedang mengendarai motor maticnya tapi yang menarik perhatianku di boncengannya ada cewek. Cewek yang cantik.


"Itu sih Evelin" Gumam Dea.

__ADS_1


"Evelin?"


"Iyah, anak kelas sebelah. Sepertinya Dicky emang akrab sama dia, sering ke kelas juga nyariin Dicky"


"Wah, Rival Ta" Eby terkekeh menoleh kearahku.


Aku hanya menggigit bibir bawaku masih berpikir, walaupun aku juga tidak tau sedang memikirkan apa.


"Aku ikutin yah" Eby yang melajukan mobilnya mengikuti motor matic Dicky yang belok kiri, melewati jalan RA Kartini, jend sudirman, masih terus hingga jalan diponegoro.


"Ke mall ini pasti" tebak Dea.


Dan benar saja, karena tidak lama kemudian Dicky membelokkan motornya ke arah parkiran mall.


"Ikut gak?"


"Ikut bi"


Aku merasa benar-benar seperti Conan dan CS atau malah terlihat seperti penguntit yang ada di drama-drama korea yang sering ku nonton.


Tempat pertama yang dituju Dicky adalah KFC, mereka makan sambil ngobrol, terlihat sangat akrab, Evelin terlihat bercerita banyak sedangkan Dicky kadang mengangguk sesekali menjawab lalu tertawa lebar. Terlihat jelas mereka sudah sering melakukannya. oh yah, info paling penting Dicky yang membayar makanan mereka. Benar-benar kencan mereka.


Tempat kedua toko sepatu, kemudian tempat belanja lainnya, Evelin membeli sepatu, tas, beberapa aksesoris dan dia juga membelikan topi untuk Dicky. Kali ini Evelin menggunakan uangnya sendiri.


Masih dari jarak jauh, Evelin terlihat memakaikan topi warna navi di kepala Dicky, awalnya Dicky melepas, berusaha untuk menolak tapi entah apa yang dikatakan gadis di depannnya itu akhirnya Dicky menurut saja.


"Ta, kayaknya rival kamu bukan aku deh" gumam Dea. Serempak aku dan Eby mangganguk.


"Ini sih saingan berat"


*****


Terima kasih sudah mampir.


Mohon tinggalkan jejak like and koment 🙏

__ADS_1


__ADS_2