
Tania
"Ta... Thanks for loving me"
"Thanks for loving me"
".....Loving me"
Kalimat itu terus terngiang-ngiang meski sekarang Dea dan Tisya sedang cekikikan entah membahas apa di hadapanku.
"Kenapa Ta?" Tanya Tisya saat melihatku hanya termenung. Tidak ikut serta dalam obrolan mereka.
"Semalam Dicky nelpon" Aku melirik Dea. Sebenarnya aku masih ragu membahas Dicky di depannya.
"Serius? ngajak balikan? " Tanya Tisya antusias.
Dea tampak sibuk dengan ponselnya. Seolah tidak peduli dengan percakapan kami.
"Dia aneh. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba nelpon cuma mengucapkan kata-kata yang aneh" Sudah terlanjur, aku butuh teman curhat.
"Aneh bagaimana? "
"Aku merasa sekarang dia benar-benar mau lupain aku"
Tisya menatapku dengan kening mengerut. Pasti dia merasa aku bicara terlalu berbelit-belit.
"Apa Dicky sekarang sudah serius sama si Farah itu? dan itu artinya dia tidak memberiku lagi kesempatan? "
"Memang dia bicaranya kayaknya bagaimana?" Tisya kembali bertanya dengan nada tidak sabaran.
"Katanya 'Thanks for loving me'. Aneh kan? harusnya kalau dia masih sayang sama aku, diiiikiitt aja perasaannya sama aku. Dia pasti masih berharap kita balikan. Bukannya bilang makasih begitu"
"Kayaknya Dicky itu insecure. Lagi berada di titik jenuh. Mau berharap tapi harus menghadapi kenyataan juga"
"Kenapa harus insecure Cha? Diakan paling tau kalau ...."
"Dia taunya kalau dia punya saingan yang tidak tertandingi. Dia kira kamu masih tunangan sama Anca" Dea yang tadi hanya diam kini ikut bersuara.
"Apa aku harus bilang kalau aku tidak jadi nikah sama kak Anca? "
Aku bertanya serius tapi Tisya maupun Dea hanya menatapku dengan pandangan tidak setuju.
"Iya, aku tau dia juga sudah punya seseorang. Kelihatan dia nyaman sama Farah"
Aku kembali menghela nafas. Otakku dan hatiku lagi berkecamuk. Terus terang aku masih berharap Dicky akan kembali. Aku yakin suatu saat, hari itu pasti akan tiba. Tapi kadang kala aku juga takut dengan keyakinanku. Seperti sekarang ini, yang seolah mematahkan segala harapanku.
"Kalian sudah liat ini?" Kata Tisya saat keadaan kamar lagi hening.
"Tawuran di kampus..."
Aku mendekat ke arah Tisya, Berita online tentang tawuran hari ini memang jadi pembahasan sejak siang tadi. Sebenarnya hal seperti ini sudah biasa terjadi tapi tawuran kali ini lebih mengerikan.
"Ada korban yang meninggal" Tambahnya Dea membuat kami bergidik.
"Innalillah..... "
"Kok makin sadis sih kampus kalian?" Dea ikut bergidik ngeri.
Aku ikut membuka ponsel, melihat grup kampus yang sedang ramai dan rasanya seperti dejavu saat berita buruk datang tanpa diduga. Salah satu berita portal online mengabarkan tentang sang orator dari FT menjadi salah satu korban.
"Ta... "
"Tania.... "
"Bukan.... Itu bukan Dicky. Banyak orator di FT selain dia"
Aku berusaha meyakinkan diri kalau yang di maksud memang bukanlah Dicky, meski dari gambar amatir terlihat jaket dan sepatu yang di kenakan orang itu persis milik Dicky. Jaket dan sepatu pemberianku.
Aku mencoba menelpon nomor Dicky tapi tidak di jawab.
Aku menelpon nomor Arvie tapi juga tidak aktif.
"Mau kemana Ta? "
Dengan sikap implusif, aku bertindak tanpa berpikir panjang.
"Ke rumah sakit"
Aku harus memastikan jika korban tabrak lari yang terjadi di rumah sakit itu memang bukan Dicky.
Namun saat tiba di rumah sakit, lagi dan lagi aku harus menghadapi kenyataan pahit. Langitku seketika runtuh.
...****...
Tisha
Aku terpaksa mengikuti Tania yang sudah berwajah pucat.
Menurut info yang beredar di grup kelas, kalau korban itu memang Dicky Anugrah dari fakultas teknik. Tapi aku harus mengerti perasaan Tania yang ingin memastikan langsung.
Saat sampai di rumah sakit, Tania hanya berdiri mematung di ujung lorong tanpa berbuat apa-apa. Hanya memandang kosong ke arah sekumpulan orang yang sedang menunggu di depan ruangan operasi.
Terlihat banyak mahasiswa yang sudah pasti teman kampus Dicky, ada satu dua orang yang ku kenal. Dan juga orang tua paruh baya, yang sedang di tenangkan oleh ibu-ibu seumuran mama. Mereka pasti keluarga dekat Dicky. Dan yang paling menarik perhatian diantara mereka ada Farah yang menangis meraung-raung dan tak lama dia jatuh pingsan di pelukan temannya.
__ADS_1
Hingga menjelang tengah malam, saat teman-teman Dicky satu persatu beranjak, Tania belum juga bergeming. tidak mendekat maupun berniat untuk pulang.
Saat kakiku sudah mulai kesemutan, seorang perempuan sebaya kita mendekat, dan menyapa Tania.
"Tania.. "
Tania menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Hil....hhuu huu. "
"Huuu.. hhuu... Maafin Dicky Tania"
Tangisan mereka pecah saat perempuan itu meraih Tania dan memeluknya erat.
"Seharusnya Dicky tidak begini Hil.. hu hu hu"
"Maafin Dicky kalau ada salah sama kamu Ta"
"Tidak. Dicky tidak pernah jahat sama aku Hil, hiks.. hikss. Aku yang yang jahat sama dia"
Aku pamit saat melihat keduanya sudah mulai tenang. Tania memilih menunggu Dicky bersama Hilda yang ternyata adalah sepupu Dicky.
Esok hari, setelah kuliah aku langsung ke rumah sakit, mengira Tania masih di sana namun kata Hilda.
"Tania sudah pulang pagi tadi"
Iya wajar sih. Dia juga butuh istirahat.
Aku juga menanyakan keadaan Dicky.
"Operasi lancar tapi belum siuman" Begitu kata Hilda.
"Doain Dicky yah Tis. Semoga diberi umur yang panjang"
"Pasti Hil. Pasti ku doakan"
Saat hendak pulang, aku baru menyadari kalau disana ada Farah yang entah sejak kapan memperhatikanku dengan pandangan yang susah ku artikan.
Seperti marah. Tapi untuk apa?
Tiga hari berlalu, aku disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat dan merasa bo doh karena tidak pernah mencoba menghubungi Tania lagi. Tiba-tiba Dea menelpon.
"Cha.. Tania ada berkabar sama kamu? "
"Tidak ada. Terakhir di RS. Kenapa? "
"Tadi kakaknya nelpon. katanya Tania butuh kita"
"Tania kenapa?"
Sebenarnya memang agak sibuk tapi tidak mungkin aku mengabaikan sahabat yang lagi butuh keberadaanku kan?
"Sorean yah. Aku masih ada kegiatan"
"Oke"
Aku menjemput Dea menggunakan taksi online dan kami tiba di rumah Tania saat menjelang petang. Semuanya tampak biasa saja. Tania menyambut kedatangan kita dengan senyum meski terlihat pucat. Kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kita bercerita, gosip seperti biasanya tanpa membahas keadaan Dicky. Sampai menjelang tengah malam Aku dan Dea pulang diantar kak Dewa.
Meski rumahku yang jauh, tapi kak Dewa memilih mengantarku lebih dulu. Lalu mengantar Dea.
"Bahaya perempuan pulang tengah malam cuma berdua"
Dan dua hari kemudian Dea kembali menelpon.
"Tania sakit"
"Sakit apa? "
"Gak tau"
Aku dan Dea kembali berkunjung ke rumah Tania.
"Dek Nia aneh sejak pulang pagi itu"
Kata daeng Intang saat membukakan kami pintu.
"Maksudnya?"
"Dek Nia jelas lelah, pucat, diam termenung tapi tetap beraktifitas seperti biasa bahkan cenderung memaksakan diri"
"Tapi kemarin baik-baik saja daeng"
"Iya, itu maksud saya. Kalau ada orang dia tampak biasa saja tapi kalau ditinggal sendiri malah mengurung diri"
"Coba kalian dekati. Dulu waktu ada Ibu, saya tidak pernah khawatir. Tapi sekarang benar-benar tidak tau harus bagaimana " Lanjutnya.
"Kak Dewa sudah balik?"
"Iya, Dek Dewa juga sibuk, tidak bisa di sini terus. Di maklumi juga, namanya tanggung jawab"
"Apa ada hubungannya dengan Dicky? " Tanyaku pada Dea saat hendak membuka pintu kamar Tania tapi Dea hanya menggeleng tidak tau.
"Halo... darling" Sapaku saat pintu kamar dibuka dan tampak Tania berbaring lemah.
__ADS_1
"Ta... kenapa sakit begini sih Ta?" Saat ku sentuh, keningnya panas menyengat.
"Gak papa. Cuma butuh istirahat" Jawabnya masih berusaha tersenyum.
"Dicky apa kabar? " Aku mencoba memancing dan dia hanya terdiam menatap kosong ke arah jendela. Dugaanku benar masalahnya ada di sana.
"Kamu jangan nyiksa diri gini dong Ta"
Tania hanya menatap jendela dengan pandangan menerawang.
"Kamu kenapa? coba cerita sama kita" Dea mencoba membujuknya namun dia tetap bungkam.
"Waktu Tante Mina meninggal Dicky datang ke rumah...." Dea bercerita dan berhasil memancing Tania.
"Dia minta sama aku supaya aku tetap di sisi kamu, selalu bisa ada untuk kamu... "
Ku lihat Tania mengatup bibirnya rapat-rapat tapi airnya matanya sudah di pelupuk mata.
"Sesayang itu Dicky sama kamu Ta"
"Dia tidak pernah berhenti memikirkan kamu... "
Kata-kata Dea berhasil meruntuhkan pertahanan Tania.
"Aku kangen sama dia De... hu hu hu." Dia memeluk Dea dan menangis sesengukan.
"Kita bisa jenguk dia Ta"
Tania menggeleng keras.
"Aku ....tidak bisa. Dia melarang, katanya aku tidak berhak.. huhuhu"
Aku ikut memeluknya dan mengusap punggungnya.
Kenapa cinta sampai segininya? Apa memang cinta selalu membuat orang tampak lemah?
Hatiku ikut perih menyaksikan bagaimana Tania tersiksa hanya karena cintanya. Sangat tidak adil.
"Dicky mau kamu sehat, bukan sakit begini. Dia pasti sedih kalau dia tau kamu sakit begini"
"Tapi dia juga menderita De. Kasian dia De... "
"Makanya kita doain"
"Aku cuma mau liat dia sekali saja De......"
"......Aku harus bagaimana? Aku sakit liat dia sakit. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa juga"
"Harusnya aku tidak pernah meninggalkannya"
"Aku..... masih sayang sama dia De. A...ku... aku kangen.. hu huhu"
...*****...
Tania
"Kita bisa bicara?"
Aku ingat dengan jelas wajah datar Farah saat di rumah sakit pagi itu. Wajah kaku yang membuat nyaliku langsung ciut.
"Aku tau, kamu khawatir dengan keadaan Dicky tapi aku merasa keberadaanmu disini tidak beralasan" Dia mengambil posisi duduk di sebelahku saat aku masih menunggu kabar Dicky dan Hilda yang tadi ku temani beranjak mengurus administrasi bersama tante Alma.
"Aku cuma.... "
"Aku keberatan. Sekarang aku adalah orang terdekatnya selain keluarganya dan aku tidak suka kamu masih di sini"
Aku mencoba mencari alasan tapi telak. Aku kalah telak. Semua yang di katakannya benar.
"Tolong kamu mengerti. Aku tidak mau ada orang ketiga diantara kami"
"Meskipun kamu akrab dengan keluarganya tapi apa kamu tidak merasa aneh, menunggu orang yang bukan siapa-siapamu lagi? "
Wajahku memanas, degup jantungku bertalu-talu.
Apa sekarang aku memang terlihat serendah itu di mata orang lain? seperti perempuan tidak punya harga diri yang masih berharap dengan kekasih orang?
"Apa aku bisa menemuinya sekali saja? " Aku masih mempertaruhkan harga diriku, menatapnya dengan pandangan memohon.
"Tidak. Tidak perlu. Dicky akan baik-baik saja walaupun kamu tidak di sini. Aku yakin itu"
Aku memejamkan mata mencoba menenangkan diri. Berusaha mencerna dengan baik.
"Makasih Far, makasih sudah setia menemani Dicky apapun keadaannya. Aku senang ada kamu"
Aku mengalah karena memang sudah kalah.
"Dicky bisa kembali sehat lagi adalah harapanku satu-satunya. Aku tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian"
"Aku tulus mendoakan dari hati terdalam"
"Semoga kalian selalu bahagia"
Namun kenyataan ternyata tidak semudah ucapan. Kerinduan yang menggerogoti dan ketidakberdayaan akan membunuhku secara perlahan.
__ADS_1
...*****...