
Di Bandara mereka sudah berkumpul. Keluarga Vheya pun sudah berada di sana. Tiba-tiba Rey menarik tangan Vheya menjauh dari gerombolan keluarganya.
" Apa sihh tarik-tarik tangan aku. Sakit tau." ucap Vheya.
" Maaf Vhey, aku cuma mau bilang selesaikan semuanya. Aku harap setelah balik nanti, kamu udah bener-bener siap dengan semuanya." kata Rey.
" Maaf aku nggak yakin."
" Kamu pikirin baik-baik. Saat aku kembali, pastikan kita melangkah maju dengan hubungan baru, atau mengakhiri hubungan yang hampir di mulai."
" Iya."
" Aku pergi Vhey. Jaga diri baik-baik."
Rey berlalu meninggalkan Vheya yang masih diam mematung. Rey berpamitan pada orangtuanya dan juga orangtua Vheya. Kali ini semacam ada perasaan yang mengganjal, ketika akan pergi. Padahal biasanya tidak pernah begitu. Mungkin karena sekarang Rey sudah mempunyai status, meskipun baru bertunangan.
###
Di Rumah Ghea sedang berkumpul teman-teman sekolah. Mereka sedang merayakan hari perpisahan. Karena saat di sekolah tidak sebebas saat di luar sekolah.
" Ghhe kok Vheya nggak kelihatan." tanya Santi.
" Lagi ke Bandara," ucap Ghea.
" Siapa yang mau pergi."
" Sodara." ucap Ghea berbohong. Karena Vheya sempat meminta agar Ghea merahasiakan perjodohannya.
Hampir setengah jam mereka berkumpul, Vheya baru datang dengan muka seperti orang sedang frustasi.
" Baru dateng Vhey."
" Iya nichh. Udah lama ya nunggu. Maaf ya baru balik nich dari Bandara."
" Santai aja. Sini gabung."
Vheya menghampiri Ghea yang membawa gelas minuman untuknya.
" Nihh satu gelas jus mangga untuk sahabatku yang paling cantik, mrs. Vheya." ucap Ghea meledek.
" Apaan sihh lho Ghe." kata Vheya malu-malu.
" Gimana tadi, abis nganterin calon suami, sedih nggak." tanya Ghea bisik-bisik takut yang lain mendengarnya.
" Sialan lho." ucap Vheya ketus.
" Eh tadi si Jo bilang mau kesini. Kayanya bentar lagi nyampe dech." kata Ghea.
" Biarin aja lahh."
Sesaat setelah itu Jo benar-benar datang kerumah Ghea. Jo langsung menghampiri Ghea dan Vheya yang masih asik ngobrol.
__ADS_1
" Baru diomongin udah dateng aja lho Jo." ucap Ghea.
" Ngomongin apa nichh. Awas aja yang jelek-jelek." ucap Jo bercanda.
" Emang lho ada bagusnya. Bukannya jelek semua. Hahahaha." Seketika Vheya dan Ghea tertawa puas.
Jo menghampiri Vheya lalu memeluknya. Ghea yang melihat langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
" Kangen sama kamu Vhey."
" Kamu mau ngmong apa, katanya ada yang pengen diomongin." tanya Vheya.
" Papah nyuruh aku bantuin perusahaan om aku di Luar Negri. Aku udah nolak, tapi papah sama om Herman berharap banget aku bisa kesana."
" Terus maksudnya kamu mau pergi. Kamu mau ninggalin aku. Iya gitu." kata Vheya kaget.
" Aku juga bingung Vhey. Tapi mereka berharap banget. Nggak lama kok cuma beberapa bulan aja. Kamu nggak papa aku tinggal kan?"
Vheya tak menjawab, dia hanya terdiam dan air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.
" Sayang kamu nangis. Jangan nangis dong yank. Aku jadi ngerasa bersalahh. Aku jadi bingung."
" Kamu tega Jo sama aku. Kamu sendiri yang bilang nggak mau ninggalin aku. Tapi nyatanya apa. Kamu jahat Jo."
" Vhey ini bukan mau aku. Aku pengennya juga tetep disini sama kamu terus. Tapi ini permintaan papah sama om."
" Tetep aja kamu mau pergi ninggalin aku."
" Bohong. Aku nggak percaya sama kamu."
Vheya masih tetap menangis. Jo memeluk Vheya untuk menenangkannya. Awalnya Vhey menolak, tapi Jo lebih cepat meraih tangan Vheya dan membawa ke dalam pelukannya.
Bukan berhenti menangis, Vheya justru malah semakin terisak. Jo menangkupkan kedua tangannya ke pipi Vheya. Ditatapnya mata indah itu. Dan tanpa tau siapa yang memulai duluan, mereka sudah berciuman. Hampir lama mereka berciuman, sampai Vheya melepaskan karena hampir kehabisan nafasnya.
Jo menatap lagi mata Vheya lalu mengecup kening Vheya. Rasanya hari itu seperti hari dimana mereka akan berpisah untuk waktu yang lama.
" Janji sama aku jangan pernah berpikir aku akan ninggalin kamu."
" Tapi aku nggak siap buat melepas kamu pergi Jo."
" Kita kan bisa komunikasi setiap saat. Aku janji akan ngabarin kamu setiap saat."
" Janji ya Jo."
" Iya sayang. Kamu jangan nakal ya."
" Emang kamu kapan berangkatnya."
" Lusa sayang. Kamu ikut ke Bandara ya sayang."
" Iya."
__ADS_1
Sudah hampir 2 jam mereka di tempat Ghea. Mereka memutuskan untuk pulang. Di perjalanan Vheya hanya terdiam memeluk erat pinggang Jo. Tangannya semakin erat melingkari perut Jo, saat cuaca tiba-tiba mendung dan turun hujan.
Jo menepikan motornya disebuah Halte bus.
Dia melepas jaketnya dan memberikan ke Vheya. Awalnya Vheya menolak, tapi kemudian Jo langsung memakaikannya.
" Nanti kamu dingin Jo."
" Nggak papa kan ada kamu yang meluk." ucap Jo sembari mengusap kepala Vheya.
Cukup lama mereka berteduh, sampai hujan mulai reda. Jo dan Vheya kembali menyusuri jalanan. Melewati malam dengan kehangatan. Entah kapan akan terulang kembali, haruskah menunggu berbulan-bulan lamanya, atau mungkin tidak akan pernah mengulang sama sekali.
###
Rey sudah sampai ditempat penginapan. Dia menyempatkan diri untuk sekedar memantau keadaan Vheya. Betapa terkejut dan marahnya Rey saat melihat foto Vhey dan Jo sedang bermesraan. Bahkan ada foto saat Jo mencium keningnya.
Rey seperti kebakaran jenggot. Dia langsung menelfon Vheya.
📞📞📞📞📞📞
Tutt tuttt tuttt
" Hallo mas ada apa"
" Keterlaluan kamu Vhey. Bisa-bisanya kamu bermesraan dengan dia saat aku udah disini."
" Kamu ngomong apa sih mas. Berisik tau nggak. Suka-suka aku dong mau ngapain aja. Siapa lho?????"
" Kamu lupa aku tunangan kamu Vhey, owhh perlu diperjelas Vhey."
" Nggak perlu. Kenapa sihh kamu mata matain aku terus mas. Risih lama-lama sama kamu."
" Pokoknya segera putuskan hubunganmu dengan laki-laki itu. Atau kamu akan menyesal."
" Dichhh beraninya ngancem. Nggak lucu tau nggak."
" Aku serius Vhey."
Tanpa menjawab, Vheya langsung mematikan telfon Rey. Rey yang sadari tadi sudah emosi tambah semakin emosi.
Lain lagi dengan Vheya yang terlihat santai. Dia malah mematikan hpnya. Kemudian menarik selimut kesayangannya. Belum sempat terpejam, Vhey mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Vheya bergegas membukakan pintu kamarnya.
" Lhoh mamah ngapain sihh, ini udah malem."
" Bener kamu tadi pergi sama Jo." tanya mamah Vheya dengan nada sedikit marah.
" Apa sihh mahh. Mamah kata siapa."
" Jadi bener kamu pergi sama dia. Kamu nggak mikir apa, kamu itu udah bertunangan, nggak pantes pergi berduaan dengan pria lain."
" Udahlah mah. Lagian mamah kan tau hubungan aku sama Jo. Udahlah mah udah malem, Vheya ngantuk."
__ADS_1
Mamah Vheya pergi dari kamar Vheya dengan perasaan kesal. Tapi mamah Vheya juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya. Mamah Vheya tau hubungan antara Vheya dan Jo, jadi untuk memutuskan hubungannya butuh waktu lama.