Pacarku Bukanlah Jodohku

Pacarku Bukanlah Jodohku
episode 22


__ADS_3

Di Kampus Vheya sedang duduk bersama Ghea. Vheya menceritakan rencana pernikahannya dengan Rey. Ghea yang mendengarnya sontak terkejut. Dia tak percaya begitu cepat dan mendadak sahabatnya itu merencanakan pernikahan.


Vheya yang mengatakan bahwa minggu depan acaranya pernikahannya, membuat Ghea melotot tajam tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


" Nanti dateng ya Ghe. Tapi aku nggak bawa undangannya sekarang." ucap Vheya dengan muka polos.


" Kamu serius Vhey, kamu nggak lagi bercanda kan?" kata-kata Ghea yang masih menganggap Vheya sedang bercanda.


" Ada gitu muka aku yang lagi bercanda. Aku serius Ghe."


" Kamu udah yakin sama keputusan kamu. Udah dipikirin baik-baik. Ini pernikahan lho Vhey, bukan sekedar pacaran yang bisa putus nyambung."


Ghea bukannya tidak senang dengan rencana pernikahan Vheya dan Rey. Namun Ghea tau betul bahwa Vheya masih sangat mencintai Jo. Ghea hanya tidak ingin jika dikemudian hari, Vheya menyesali keputusannya.


" Ghea sayang, tenang aja ya, aku udah pikirin baik-baik, aku juga udah siap dengan segala konsekuensinya nanti." ucap Vheya meyakinkan hati Ghea.


" Cerita coba kenapa tiba-tiba mutusin buat nikah cepet. Kan waktu itu bilang belum siap buat nikah."


" Awalnya iya Ghe, tapi seminggu kemaren Rey terus-terusan ngeyakinin hati aku. Awalnya memang aku ragu, tapi saat dia mau menjauh, hati aku sakit Ghe. Semacam ada rasa kehilangan."


Vheya menjelaskan panjang lebar. Vheya tau kekhawatiran sahabatnya itu. Ghea begitu tau semua kejadiannya. Bahkan saat Vheya hancur ketika mendapati kenyataan, bahwa Jo menghilang dari hidupnya untuk selamanya.


" Vhey ada satu pertanyaan tapi jangan tersinggung ya." ucap Ghea.


" Iya Ghe. Apa itu?" jawab Vheya penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh Ghea.


" Kamu nggak jadiin Rey cuma pelampiasan atau pelarian atas rasa kesepian kamu dan kehilangannya Jo kan?"


Deg. Seketika Vheya seperti menahan rasa sesak atas pertanyaan sahabatnya itu. Dalam hatinya kembali bertanya, apakah benar dirinya menerima Rey karena memang mulai tumbuh rasa cinta, atau memang hanya sebagai obat karena kepergian Jo yang telah meninggalkannya tanpa sebab.


Tapi kenapa saat Rey mencoba menjauh, Vheya seperti tidak rela. Pertanyaan Ghea benar-benar membuat Vheya dilema. Apakah ini cinta, atau hanya pelarian semata.


Vheya berusaha menenangkan hatinya. Mencoba yakin dengan keputusan yang telah diambilnya. Semoga Rey adalah laki-laki yang tepat, yang dikirim untuk mengobati luka hatinya.

__ADS_1


" Vheya kok malah ngelamun." ucap Ghea menyadarkan lamunannya.


" Ehh Ghe, maaf ya."


" Jadi gimana jawaban atas pertanyaan aku."


" Aku yakin kok Ghe. Meskipun sedikit ragu, tapi aku yakin sama perasaan aku. Semoga dia yang terbaik, dan kelak aku bener-bener mencintai dia sepenuh hati aku. Dan satu lagi, semoga perasaan ini bukan hanya pelarian atau pelampiasan sesaat." terang Vheya panjang lebar membuat Ghea yakin dengan keputusan sahabatnya itu.


###


Di sebuah gedung, Rey sedang meninjau lokasi untuk acara pernikahannya. Meskipun Vheya menginginkan acara yang sederhana, namun Rey tetap mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Rey ingin di hari bahagianya itu, bisa dikenang selama hidupnya.


" Bagaimana pak Rey, apa ada yang perlu di ubah lagi dekorasinya pak?" tanya salah seorang WO yang menangani acaranya.


" Saya rasa sudah cukup seperti ini. Nanti kalau memang calon istri saya ingin ada perubahan, saya akan hubungi anda."


" Baik pak Rey."


Rey pergi meninggalkan tempat tersebut dan menjemput Vheya di Kampusnya. Sebenarnya Vheya tidak ingin dijemput, namun Rey memaksa dan mengajaknya ke Butik untuk mencoba kebaya yang sudah di pesannya.


" Mas cepet banget jemputnya. Nggak ngantor mas?" tanya Vheya.


" Ngantor tadi, terus ke lokasi yang buat acara besok. Kamu mau lihat nggak. Kalau mau, nanti setelah dari butik, kita bisa kesana." ucap Rey menjelaskan.


" Boleh."


" Ya udah yuk." Rey membukakan pintu mobilnya untuk Vheya.


Di perjalanan Rey tak henti-hentinya mencuri-curi pandang ke arah Vheya. Vheya yang menyadarinya langsung mencubit lengan Rey.


" Ikhhh sakit sayang. Kenapa di cubit sihhh." protes Rey yang kesakitan karena cubitan di lengannya.


" Habis mas kaya gitu. Ngapain coba lihatinnya kaya gitu."

__ADS_1


" Ya maaf sayang. Mas beruntung banget punya calon istri cantik banget kaya gini." ucap Rey sembari menoel hidung Vheya.


" Gombal. Mas emang kaya gitu ya aslinya. Jangan-jangan ke semua wanita juga gitu ya mas."


" Iya kali ke semua wanita. Dipikir mas apaan emangnya." jawab Rey merasa tidak terima dibilang gombal ke semua wanita.


" Awas aja kalo ketahuan kaya gitu. Batalin aja rencana pernikahan kita."


" Apa sih sayang." Rey menghentikan mobilnya di tepian jalan.


Rey kemudian memegang tangan Vheya. Mengecup punggung tangan Vheya dan kemudian membawa Vheya ke dalam pelukannya. Vheya yang mendapat perlakuan seperti itu hanya terdiam.


" Jangan ngomong kaya gitu lagi sayang?" ucapan Rey membuat Vheya bingung.


" Emang aku ngomong apa?" Vheya bingung dan menatap wajah Rey.


" Jangan pernah ngomong buat ngebatalin acara pernikahan kita. Mas sayang banget sama kamu Vhey. Mas nggak mau kehilangan kamu." ucap Rey sembari mengeratkan pelukannya.


Vheya yang mendapati kebucinan Rey hanya tersenyum bahagia. Dia begitu beruntung di jodohkan dengan Rey. Meski awalnya menolak, jika memang jodoh mau dikata apa.


" Ya maaf sayang."


Rey yang di panggil dengan sebutan sayang langsung tersenyum lebar. Baru kali ini Vheya menyebutnya dengan sebutan sayang.


" Terus mau sampe kapan kita berhenti disini mas?" kata-kata Vheya malah semakin membuat Rey tersenyum.


Akhirnya Rey menjalankan mobilnya kembali. Setelah sampai di Butik, mereka berdua turun dan langsung di sambut oleh pemilik Butik dan karyawannya tersebut.


" Selamat siang mas Rey, kebetulan saya sudah menunggu mas Rey dari tadi. Silahkan mas dicoba dulu." ucap salah satu karyawan butik tersebut.


Vheya yang merasa heran karena sikap karyawan butik itu jadi penasaran dalam hatinya. Kenapa hanya Rey yang di sambut, memangnya Rey mau menikah sendiri tanpa pasangan. Kenapa hanya dia yang di suruh mencoba. Sungguh sangat aneh sekali.


Rey menerima jas yang di berikan oleh karyawan Butik itu. Saat akan memakaikannya, Vhey langsung mengambilnya paksa.

__ADS_1


" Maaf ya bu, eh tante maksudnya. Biar saya saja yang memakaikan jas calon suami saya. Lebih baik tante ambilkan kebaya saya, karena saya nggak punya banyak waktu." ucap Vheya dengan nada ketus.


Rey yang melihat raut wajah Vheya yang cemburu hanya bisa tersenyum. Ternyata Vheya memang benar-benar mencintainya. Bahkan ketika Rey di sentuh wanita lain pun Vheya tidak terima.


__ADS_2