
Vheya dan Rey sudah berada di Taman dekat rumah Jo. Awalnya Rey ingin langsung mendatangi rumah Jo, namun Vheya melarangnya. Akhirnya Rey hanya nurut dengan ucapan istrinya itu.
" Mas ngapain sih berdiri disitu. Duduk sini coba. Kaya mau ketemu sama musuh aja, mukanya tegang gitu." kata Vheya.
" Emang musuh kan?" jawab Rey datar.
" Udah deh jangan marah-marah terus. Kalau jadinya kaya gini, mending tadi aku berangkat sendiri aja." ucap Vheya.
" Oh biar bisa berduaan gitu. Sengaja kan kamu. Masih berharap sama dia, ngaku aja Vhey." kata Rey semakin tak terkendali.
" Apa sih mas. Udah deh jangan mikir yang negatif terus. Sini duduk, pengen peluk mas Rey, suami aku yang cemburuan banget dan super posesif." ucap Vheya dengan senyumannya.
" Siapa yang cemburu. Kapan juga aku posesif, sok nuduh tanpa bukti." kata Rey ketus.
" Iya-iya sayangku." kata Vheya mengalah.
Sesaat kemudian Jo datang mendekat ke arah mereka. Sebenernya Rey sangat benci untuk bertemu Jo, tapi demi menuntaskan permasalahan yang ada, Rey terpaksa ikut menemui Jo. Dari pada membiarkan istrinya bertemu sendiri, bisa jadi malah di bawa kabur lagi, seperti waktu itu.
" Ada apa nyuruh aku dateng kesini Vhey." kata Jo.
Belum sempat Vheya menjawab, Rey langsung mengatakan tujuan sebenarnya menemui Jo. Seperti tak rela istrinya berbicara dengan Jo.
" Nih gue mau balikin barang ini, yang lho kasih ke istri gue. Dan gue harap jangan pernah lagi lho ngasih apapun ke istri gue." kata Rey sembari menyerahkan kotak kecil kepada Jo.
" Apa urusannya sama lho. Gue ngasih ini buat Vheya. Karena dulu barang ini yang dia mau. Apa salahnya gue ngasih orang yang gue sayang." ucap Jo santai.
" Maksud lho apa?" kata Rey.
" Nggak ada maksud. Gue cuma pengen ngasih sesuatu buat orang yang gue cintai, yang direbut paksa sama lho, dengan dalil perjodohan." ucapan Jo semakin membuat Rey emosi.
__ADS_1
" Brengsek lho. Gue peringatin sekali lagi, jangan pernah ganggu istri gue lagi. Apalagi coba-coba buat nemuin istri gue lagi." kata Rey semakin emosi.
" Kenapa lho yang sewot. Kenapa pula sok ngatur-ngatur. Vheya aja nggak masalah kok ketemu gue. Iya kan sayang." ucap Jo sembari menatap Vheya dengan senyuman termanisnya.
Vheya hanya diam mematung tak menanggapi. Dirinya merasa pusing melihat kelakuan dua laki-laki didepannya. Kalau dibiarkan terus-terusan pasti akan berakibat fatal. Bisa jadi mereka saling adu tonjok. Akhirnya Vheya mengajak Rey untuk pulang, sebelum keadaan semakin kacau.
" Ya udah mas, itu barang kan udah dibalikin, sekarang kita pulang yuk." ajak Vheya.
" Kok kamu tega sama aku Vhey. Ini kemarin kamu terima dengan senang hati. Kenapa sekarang dibalikin lagi. Aku ikhlas kok ngasih buat kamu. Apa jangan-jangan karena laki-laki perebut ini yang memaksamu mengembalikan kalung ini." ucap Jo panjang lebar membuat Rey murka.
" Bukan Jo. Setelah aku pikir-pikir nggak pantes aku menerima pemberian dari laki-laki lain. Apalagi itu dari kamu. Dari pada bikin kesalahpahaman, lebih baik kamu simpen aja Jo. Maaf ya Jo jangan tersinggung." kata Vheya menjelaskan.
Rey masih diam membisu disamping Vheya. Menahan amarah yang bisa kapan saja meledak. Untung saja Vheya berhasil meredam amarah Rey dengan menggenggam tangan Rey. Menatapnya dengan perasaan cinta.
Jo yang melihat kejadian itu justru merasa sangat marah. Hatinya sakit melihat orang yang dicintainya bersama laki-laki lain. Walaupun status mereka suami istri, tapi Jo lah orang yang pertama Vheya cintai.
" Maksud lho apa nanya kaya gitu ke istri gue." Jawab Rey penuh emosi.
" Gue nggak nanya lho. Gue nanya Vheya." ucap Jo.
Belum sempat Vheya menjawab, Rey sudah menarik tangan Vheya masuk kedalam mobil. Meninggalkan Jo dengan berbagai pertanyaan dalam hatinya. Dan membuat Jo semakin tak terima Vheya menjadi milik Rey. Jo semakin bertekad untuk merebut Vheya dari Rey.
Didalam mobil Rey fokus menyetir. Raut wajahnya masih terlihat sangat emosi. Vheya pelan-pelan bersandar di pundak Rey sambil melingkarkan tanganya pada lengan Rey. Rey yang melihat tingkah laku Vheya sedikit melunak.
" Sayang udah jangan emosi terus. Nanti cepet tua lho." ucap Vheya meledek suaminya.
" Emang kenapa kalau aku tua." jawab Rey.
" Kan nggak lucu kalau kita kemana-mana, terus dikira aku jalan sama om-om." kata Vheya langsung mendapat tatapan tajam dari Rey.
__ADS_1
" Biarinlah, kenapa kalau mas udah kaya Om-om. Yang penting masih ganteng. Kamu malu kalau jalan sama mas." kata Rey protes.
" Ishhh apaan sih mas Rey. Udah ah jangan marah-marah lagi, sini aku cium biar emosinya reda." kata Vheya yang langsung mencium pipi Rey.
" Maunya yang ini." ucap Rey menunjuk pada bibirnya.
" Yey maunya mas itu mah. Fokus akhh lagi nyetir juga." bentak Vheya.
" Lho kenapa jadi kamu yang marah. Dasar aneh, wanita selalu benar dan laki-laki salalu salah." kata Rey.
" Iyalah wanita selalu benar. Kalaupun wanita salah, berarti kembali ke peraturan awal, yaitu wanita memang selalu benar." ucap Vheya yang membuat Rey menepuk jidatnya sendiri.
Setelah berdebat lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai juga dirumah. Vheya langsung lari masuk kedalam rumah dan menuju ke kamarnya, meninggalkan Rey yang masih di dalam mobil.
Rey yang melihat istrinya kabur, justru langsung mengejarnya sampai masuk ke dalam kamar. Namun saat sampai dikamar ternyata istrinya berada di kamar mandi. Rey menunggunya di depan pintu kamar mandi.
Saat Vheya keluar dari kamar mandi, betapa kagetnya Vheya, saat Rey mengagetkan dirinya. Vheya sontak menjerit dan langsung dipeluk oleh Rey.
" Mas ikhh kaget tau nggak. Bisa jantungan nih. Jahat banget sih mas. Sengaja kamu ya ngerjain aku." kata Vheya.
" Maaf sayang. Habisnya kamu ninggalin mas tadi." jawab Rey.
" orang aku lari karena kebelet. Masa iya, kan nggak lucu kalau aku sampai ngompol di celana." kata Vheya menjelaskan.
" Kirain sengaja ninggalin mas di mobil. Ya udah mas juga kebelet. Awas minggir, atau mau ikut lagi yuk, temenin mas di dalem." kata Rey menggoda istrinya.
" Ogah. Sana akh masuk." ucap Vheya yang langsung mendorong suaminya masuk ke dalam kamar mandi.
Vheya pun langsung keluar menuju dapur untuk mengambil minum. Dan juga membereskan belanjaan yang sempat dibeli sebelum tadi bertemu dengan Jo. Setelah beres semua, Vheya kembali lagi menuju kamarnya. Ternyata Rey sudah berada di atas kasurnya dan sedang memainkan ponselnya.
__ADS_1