Pacarku Bukanlah Jodohku

Pacarku Bukanlah Jodohku
episode 25


__ADS_3

Siang itu cuaca sedang tidak bersahabat. Namun Rey ingin keluar jalan-jalan bersama istrinya. Rey sudah mengambil cuti untuk satu minggu kedepan. Ya walaupun itu perusahaan milik dirinya, namun masih ada kendali dari papahnya.


Vheya masih bermalas-malasan karena masih merasa sedikit sakit di bagian itu. Vheya hanya duduk sambil membaca novel. Namun suaminya terus mengganggunya. Seakan-akan enggan jika harus diabaikan oleh Vheya.


" Mas ikh diem kenapa sih? aku lagi baca ini." ucap Vheya.


" Sayang ayo keluar jalan-jalan. Kamu pengen belanja nggak?" ucap Rey memancing Vheya agar mau keluar jalan-jalan, namun tak dihiraukan oleh istrinya itu.


" Mas Rey, sayangku, suamiku, coba tengok diluar, cuacanya lagi nggak bersahabat. Besok aja ya jalan-jalannya." ucap Vheya masih dengan buku novel dihadapannya.


" Kan pakai mobil sayang. Katanya kemarin kamu pengen tas yang di butik itu. Yuk beli, nanti keburu diambil orang lho?" rayu Rey namun tetap diacuhkan oleh Vheya.


Rey yang di acuhkan oleh Vheya merasa sangat kesal. Rey keluar dari kamar menunju teras samping dekat kolam renang. Rey masih berpikir, biasanya wanita paling suka diajak shoping, terus kenapa istrinya nggak suka ya?. Apa dia bukan wanita. Tapi kalau bukan wanita, jelas-jelas dirinya sudah berhasil membobol keperawanannya saat malam pertama.


Rey masih termenung sambil melihat air dikolam renang. Rey bingung selama seminggu ini akan melakukan aktifitas apa. Apa sebaiknya dirinya pergi saja ke kantor. Dari pada dirumah hanya berdiam diri. Tiba-tiba ada yang merangkulnya dari belakang.


" Sayang maaf," ucap Vheya ditelinga Rey.


" Udah baca novelnya." jawab Rey ketus.


" Ukkhhhh sayangnya aku ngambek." tiba-tiba Vheya mencium pipinya Rey dan melanjutkan mengecup singkat bibir Rey.


Rey yang mendapat perlakuan seperti itu merasa senang. Namun dia berpura-pura masih kesal dan ngambek.


" Sayang yuk keluar. Katanya mau jalan-jalan. Aku pengen makan sate nih." ucap Vheya.


" Males akhh. Di rumah aja, mau hujan." Rey masih berpura-pura.


" Maaf sayang tadi mengabaikan kamu. Janji nggak gitu lagi mas. Udah ya jangan ngambek." Vheya memeluk erat tubuh Rey.


" Janji jangan kaya gitu lagi." Rey lebih mengeratkan pelukannya dan mencium kening Vheya.

__ADS_1


" Janji mas. Vheya sayang mas Rey." kata-kata Vheya membuat Rey tersenyum bahagia.


Entah mengapa setelah menikah, Vheya menjadi semakin tambah mencintai Rey. Bahkan dia begitu saja melupakan semua kenangan tentang Jo.


Vheya dan Rey sudah bersiap-siap. Didalam mobil Rey enggan untuk melepas genggaman tangan Vheya. Sesampainya di parkiran Mall, mereka turun. Rey masih tetap menggenggam tangan Vheya. Bahkan tak jarang dikecupnya punggung tangannya itu.


Setelah beberapa menit keliling Mall, sudah penuh ditangannya tentengan belanjaan mereka. Banyak barang yang dibeli. Awalnya Vheya menolak, namun suaminya memaksa. Kan katanya rezeki nggak boleh ditolak. Jadi dengan senang hati Vheya menerima pemberian suaminya itu.


Setelah hampir berjam-jam berada di Mall, mereka memutuskan untuk pulang. Ketika melihat ada tukang sate, Vheya meminta berhenti untuk membelinya. Karena cuacanya yang sudah sangat gelap dan sepertinya akan turun hujan, Rey meminta untuk di bungkus saja.


Mereka mampir pulang kerumah barunya. Karena seharusnya malam ini pulang kerumah orangtua Rey. Namun karena hujan sudah turun, mereka memutuskan untuk pulang kerumah mereka. Meskipun belum ada barang yang di bawanya.


" Silahkan masuk tuan putri." ucap Rey menggoda istrinya.


Vheya begitu takjub melihat rumah barunya. Lebih besar dan luas dari pada rumah orangtuanya. Ternyata sebelum menikahi dirinya, Rey sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.


" Mas ini yakin rumah kamu?" tanya Vheya.


" Bukan."


" Ini bukan cuma rumah aku sayang, tapi rumah kita. Kamulah nyonya dirumah ini." ucapan Rey membuat Vheya malu sekaligus senang.


Bersama Rey dirinya seperti menjadi Ratu. namun jika hanya berdua, sikap manjanya pasti akan dikeluarkan.


" Sayang mana satenya. Keburu dingin nanti." ucap Rey mencari bungkus plastik yang berisi sate.


" Ini sayang. Mau disuapin makannya." tanya Vheya membuat Rey tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Setelah selesai makan mereka beristirahat di kamar. Vheya tidak lupa mengirim pesan pada mertuanya, kalau malam ini tidak jadi nginep dirumahnya. Rey yang melihat istrinya sedang sibuk dengan ponselnya langsung menghampirinya.


" Sayang?" bisik Rey ditelinga Vheya.

__ADS_1


" Hmzzz. Apa mas?" jawab Vheya mengalihkan pandangannya ke wajah Rey.


" Boleh lagi nggak sayang?"


" Boleh apa maksudnya." kata Vheya pura- pura tidak tau apa yang Rey maksud.


" Kaya tadi malem lagi sayang." rengek Rey pada Vheya.


Rey yang belum juga mendapat jawaban iya, malah memeluknya dan menciumi leher Vheya. Vheya yang merasa kegelian malah beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


" Sayang kamu tega sama aku." teriak Rey.


Vheya hanya tersenyum mendengar teriakan suaminya. Sebenarnya dirinya juga merasa bersalah, namun sakit akibat ulah suaminya semalam masih terasa dan belum sembuh. Akhirnya Vheya keluar dari kamar mandi. Percuma juga menghindar, toh nantinya juga tetap memaksa.


Vheya melihat suaminya sedang memainkan ponselnya. Vheya mendekat ke arahnya namun Rey terlihat cuek. Ini malah jadi kesempatan untuk Vheya pura- pura tidur.


" Sayang kamu beneran cuekin mas. Kamu nggak mau nurutin mas. Durhaka kamu tau?" ucapan Rey membuat Vheya melotot tak percaya. Suaminya itu sungguh sangat keterlaluan.


" Mas ikhh pake bawa-bawa kata durhaka segala. Emang aku salah apa? aku ngapain kamu coba mas?" tanya Vheya emosi.


" Kamu nggak nurutin maunya mas. Itu kan sama aja ibadah buat kamu Vhey." jawab Rey tak mau kalah.


" Kan masih sakit mas. Kamu kok tega banget liat aku kesakitan sih mas."


" Kan pelan-pelan sayang. Janji nggak akan sakit." ucap Rey masih membujuk istrinya.


Percuma juga Vheya berdebat dengan Rey. Ujung-ujungnya tetap dirinya lah yang harus mengalah. Rey tersenyum puas dan bahagia bisa menaklukan Vheya. Vheya hanya pasrah dengan apa yang Rey lakukan.


Malam itu hujan turun begitu deras, namun tetap saja mereka merasakan gerah yang luar biasa. Olahraga yang mereka lakukan cukup menguras keringatnya. Rey yang melihat Vheya, malah tersenyum bahagia. Dikecupnya berulang-ulang kening Vheya. Kemudian sesekali mengecup lembut bibir Vheya.


Vheya hanya terdiam dan kemudian tidur dipelukan Rey. Vheya merasa tubuhnya sangat letih dan merasakan lagi sakit yang sama seperti malam kemarin.

__ADS_1


" Makasih ya sayang. Maaf selalu maksa kamu buat nurutin mau aku." ucap Rey membelai rambut Vheya.


Vheya tak menjawab karena memang sudah berada di alam mimpi. Rey mengeratkan pelukannya, mencium lembut rambut istrinya dan mencoba mulai ikut memejamkan matanya.


__ADS_2