
Belum ada tanda-tanda Ghea akan sadar. Vheya masih setia menunggu Ghea, sama seperti dulu Ghea yang selalu setia menunggu Vheya saat di Rumah Sakit. Bahkan Vheya belum sempat untuk pulang, sekedar makan ataupun berganti pakaian.
Rey datang menjemput Vheya ke Rumah Sakit. Dia khawatir setelah semalaman ditinggal sendiri oleh istrinya. Niatnya setelah lembur dari Kantor, Rey ingin menjemput Vheya, namun Vheya melarangnya. Akhirnya diputuskanlah pagi ini untuk menjemput istrinya.
" Sayang." ucap Rey yang langsung memeluk dan mengecup kening istrinya.
" Mas udah dateng. Maaf ya tadi malem nggak bisa nemenin kamu dirumah." ucapnya sembari bertingkah manja.
" Nggak papa sayang. Yuk pulang dulu. Kamu kan harus makan juga mandi. Jaga kesehatan kamu." ucap Rey penuh perhatian.
" Sebentar lagi sayang. Nunggu Bibi datang dulu. Nanti nggak ada yang jagain Ghea." jawabnya.
" Ya udah deh. Mas kangen banget sama kamu. Rasanya lama banget nunggu pagi. Nggak nyenyak tidur kalau nggak meluk kamu." ucap Rey sembari mengeratkan pelukannya.
" Gombal. Pagi-pagi sarapan gombalan kamu mas." ucapnya.
" Siapa yang gombal. Mas serius ngomong kaya gini. Nggak bisa ngerasain banget kamu. Segini tulusnya mas sama kamu." tutur Rey meyakinkan.
Setelah beberapa menit, akhirnya si Bibi pun datang. Vheya pun memutuskan untuk pulang terlebih dulu.
" Maaf ya Non Vheya, nunggu Bibi lama. Tadi Bibi beres-beres rumah dulu." kata Bibi.
" Nggak papa Bi, ya udah aku pulang dulu ya Bi. Nanti siang aku kesini lagi." kata Vheya.
" Iya Non. Terimakasih sudah gantiin Bibi jagain Non Ghea ya Non." ucapnya.
" Iya Bi. Tanpa Bibi nyuruh, udah pasti aku bakal jagain Ghea. Dia kan sahabat aku Bi. Ya udah kita pamit ya Bi." ucap Vheya sembari keluar dari ruangan bersama Rey.
Di perjalanan, Vheya terdiam menatap kearah luar jendela mobilnya. Masih ada rasa khawatir meninggalkan Ghea di Rumah Sakit. Rey yang melihat istrinya terdiam langsung mengusap pipinya dan menggenggam jemari tangannya.
" Hey sayang. Apa yang kamu pikirin. Dari tadi ngelamun terus." tanya Rey.
" Nggak ada Mas. Aku cuma khawatir sama Ghea." jawabnya.
" Ya udah nanti setelah kamu mandi terus sarapan, mas anterin lagi ke Rumah sakit. Tapi mas nggak bisa nemenin. Kan mas harus kerja. Nggak papa kan sayang?" ucap Rey dengan senyuman manisnya. Dan seketika meluluhkan hati Vheya. Membuat rasa nyaman tersendiri.
__ADS_1
" Makasih ya sayang."
Setelah sampai di Rumah, Vheya langsung bergegas ke kamar mandi. Rey menunggu di kamar sembari berganti pakaian kerja. Setelah hampir setengah jam, Vheya keluar dengan wajah yang lebih fresh. Rey yang melihatnya langsung menghampiri dan memeluknya.
Rasa rindu semalam begitu menyiksa. Membuat Rey tak ingin jauh-jauh dari istrinya. Dipeluknya semakin erat, dan dikecupnya lembut bibir sang istri. Cukup lama mereka saling terbuai dengan suasana romantis itu. Dan diakhiri dengan kecupan mesra di keningnya.
" Mas sayang banget sama kamu Vhey." ucapnya.
" Aku juga sayang sama mas Rey." jawabnya.
" Jangan pernah tinggalin mas ya Vhey. Janji sama mas, apapun yang terjadi kita akan lewatin semuanya bareng-bareng." ucap Rey.
" Iya mas. Ya udah mas turun dulu. Aku mau siap-siap sebentar." kata Vheya sembari mengeringkan rambutnya.
" Jangan lama-lama ya sayang. Nanti aku rindu." kata Rey sembari menggoda.
" Jangan rindu sayang, berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja." jawabnya mengkopi kata-kata dilan.
Rey hanya tertawa sambil menuruni anak tangga. Dia menuju ke meja makan. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Vheya turun.
####
Vheya yang baru saja sampai, dan melihat Jo malah pergi langsung memanggilnya.
" Jo mau kemana?" tanya Vheya.
" Eh Vhey. Mau ke Kantin dulu." jawabnya.
" Kenapa nggak masuk. Ayo bareng." ajak Vheya.
" Nggak enak lagi rame banget tuh di dalem. Nanti ajalah gantian." ucapnya.
" Masa sih." Vheya memastikan sendiri dan ternyata benar, orangtua Ghea sudah datang.
" Bener kan. Masa iya aku bohong. Ya udah yuk ke Kantin dulu." ajak Jo.
__ADS_1
" Aku udah makan. Tapi boleh deh, dari pada bengong disini sendirian." ucap Vheya yang mengikuti langkah Jo menuju Kantin.
Sesampainya di Kantin Vheya dan Jo memilih tempat duduk di pojokan yang tidak terlalu ramai.
" Kamu mau pesen apa Vhey, biar sekalian aku pesenin." ucap Jo menawari Vheya.
" Minum aja deh Jo. Aku udah makan tadi." kata Vheya.
" Ya udah. Tunggu bentar ya." ucap Jo sembari melangkah pergi.
Orang-orang yang melihat, mungkin menganggap mereka pasangan kekasih. Sikap Jo memang selalu penuh perhatian terhadap Vheya. Meskipun kini mereka bersahabat, namun rasa sayang yang dimiliki Jo untuk Vheya tidak pernah berubah bahkan berkurang sedikitpun.
Hanya saja saat ini Jo tau batasan yang harus dilakukannya. Meski terkadang ada rasa yang tak biasa, namun Jo sudah bertekad untuk tidak merusak persahabatan yang sudah terjalin itu. Apalagi harus merusak kepercayaan Rey, yang telah mengizinkan Vheya untuk tetap berteman dengannya.
" Kenapa bengong Vhey." tanya Jo.
" Ikhh ngagetin aja." jawabnya.
" Lagian udah duduk paling pojok, ngelamun lagi. Kesambet baru tau rasa." ledeknya.
" Iya kesambet setan kaya kamu."
" Sialan lho. Nih minumannya." ucap Jo sembari memberikan minumannya.
" Makasihh."
Setelah cukup lama berada di Kantin, Vheya dan Jo memutuskan untuk kembali ke ruangan dimana Ghea di rawat. Jo hanya diam melihat keadaan Ghea. Sekeras hati mencoba untuk menumbuhkan rasa seperti saran Vheya dulu, tetap saja cinta itu tak pernah ada.
Hanya simpati terhadap seorang kawan. Rasa cinta itu tak pernah bisa hadir meski sedikit saja. Bukan salahnya juga ketika tak mampu membalas rasa yang tercipta untuknya. Jo masih terdiam disamping Vheya yang sudah berlinangan air mata.
" Kamu nggak papa Vhey." tanya Jo sembari memegang pundak Vheya.
" Aku nggak tega lihat kondisi Ghea, Jo." jawabnya.
" Kita cuma bisa berdoa, semoga Ghea akan baik-baik aja. Kamu jangan nangis dong. Aku paling nggak bisa lihat kamu nangis Vhey." ucapnya lirih.
__ADS_1
" Aku nggak papa Jo. Ini cuma ungkapan rasa sayang seorang sahabat, yang nggak rela sahabatnya terluka. Dulu waktu aku kaya gini, Ghea juga berada di posisi yang sama." ucap Vheya berusaha menahan tangisnya.
Jo hanya bisa mengiyakan ucapan Vheya. Kelembutan hati yang Vheya miliki, membuatnya semakin mengagumi sosok yang kini tak lagi menjadi kekasih hatinya.