
Hari ini Jo berada di Kampus. Namun pikiran dan hatinya entah dimana. Rasanya rindu yang dipendam semakin memuncak. Hampir satu minggu tak melihat Vheya, hatinya teramat sakit. Apalagi kecelakaan yang menimpanya itu adalah ulahnya. Meski bukan sepenuhnya salah Jo, namun jika saat itu genggaman tangannya tak dilepas, kecelakaan itu pasti bisa dihindari.
Jo memutuskan untuk menelfon Vheya. Dia ingin meminta maaf karena sudah membuatnya celaka. Dan juga sikapnya saat itu sangat keterlaluan. Jo tidak bisa membohongi dirinya, kalau rasa cintanya jauh lebih besar dari pada bencinya. Bahkan ketika pura-pura membencinya, hatinya begitu terasa amat sakit. Jo mengakui dirinya benar-benar tidak bisa move-on dari Vheya.
📞📞📞📞📞
tuttt tuttt tuttt
" Hallo vhey." sapa Jo.
" Hallo juga. Maaf ini siapa ya?" tanya Vheya belum menyadari kalau itu adalah suaranya Jo.
" Vhey ini aku Jo." kata Jo memberitahu dirinya.
" Mau apa lagi. Belum puas bikin aku celaka. Atau malah mau bunuh aku sekalian." ucap Vheya begitu marah kepada Jo.
" Vhey maaf, aku bener-bener nggak ada maksud bikin kamu terluka. Aku cinta sama kamu Vhey, nggak mungkin aku berani nyakitin kamu. Andai waktu itu kamu nggak berontak saat aku pegang tangan kamu, kejadiaannya pasti nggak kaya gini Vhey." ucap Jo menjelaskan.
" Udahlah. Aku nggak mau denger apapun lagi dari kamu."
Belum sempat Jo menjelaskan lagi, namun Vheya sudah terlebih dahulu menutup telfonnya. Vheya begitu sakit hati dengan sikap Jo saat itu. Entah apa sebabnya Vheya merasa Jo selalu membuat masalah yang kadang membuat Vheya naik darah.
Saat Vheya sedang emosi karena ulah Jo yang menelfonnya, Rey datang dan mengagetkan dirinya. Rey yang melihat wajah istrinya seperti sedang marah, langsung saja memeluknya. Vheya hanya terdiam ketika Rey memeluknya dan menanyakan apa penyebab dirinya bersikap seperti itu.
" Kamu kenapa sayang? kok mukanya ditekuk kaya gitu. Lagi marah sama mas." tanya Rey.
" Nggak." jawab Vheya singkat semakin membuat Rey penasaran.
" Kenapa sih sayang. Cerita dong jangan diem kaya gini. Kalau bukan karena mas, terus karena apa sayang?" tanya Rey lagi.
Vheya menunjukan ponselnya kepada Rey. Rey begitu emosi ketika melihat ternyata baru saja Jo menelfon istrinya.
__ADS_1
" Mau apa lagi dia. Kenapa kemarin kamu ngelarang mas buat bawa masalah ini ke polisi sih." ucap Rey sedikit marah.
" Udahlah mas nggak usah bawa-bawa polisi. Lagian bukan salah dia sepenuhnya kok." kata Vheya.
" Kok kamu belain dia sih. Ini bukan karena kamu masih cinta sama dia kan?" tanya Rey curiga.
" Ya Allah mas pikiran kamu picik banget. Itu semua emang bukan sepenuhnya salah dia, aku yang maksa narik tangan aku dari tangan dia. Pas kelepas, pas ada mobil dari arah belakang. Ya udah terjadilah kaya gitu." ucap Vheya menjelaskan.
" Lagian kenapa kamu nggak bilang kalo satu kelompok sama dia. Mau rahasia-rahasiaan kamu sama suami sendiri." kata-kata Rey semakin tak tentu arah.
" Apa sih mas. Ya kan mas nggak nanya. Lagian kan sama Ghea ini. Dia pasti jagain aku kok. Kaya nggak tau gimana reaksi Ghea kalo Jo deketin aku." ucap Vheya menjelaskan lagi.
" Akhh tau akhh. Mas mau mandi dulu, gerah panas." ucap Rey sembari berjalan menuju kamar mandi.
#####
Jo menemui Ghea di kantin. Dia ingin meminta bantuan Ghea untuk minta maaf secara langsung kepada Vheya. Karena jika Ghea yang berbicara, Vheya pasti akan mau mendengarkannya.
" Apa sih ngagetin aja." jawab Ghea ketus, karena Jo tiba-tiba datang mengagetkannya, saat dirinya sedang menikmati satu mangkok bakso.
" Maaf Ghea. Lho bisa bantuin gue kan?" tanya Jo membuat Vheya penasaran.
" Bantuin apaan sihh." tanya Ghea yang masih asik menyantap baksonya.
" Temuin gue sama Vheya. Gue pengen minta maaf sama dia secara langsung. Please gue mohon Ghe. Cuma lho yang bisa bantuin gue." ucap Jo memohon dan merayu Ghea.
" Nggak bisa janji Jo. Gue takut kalo ketahuan Rey. Serem banget dia kalo marah. Kalau bukan karena Vheya, lho udah dibawa ke kantor polisi." ucap Ghea.
" Berarti Vheya masih peduli dong Ghe sama gue. Gue yakin dalam hatinya masih ada ruang buat gue, walaupun cuma sedikit. Vheya I Love You So Much." kata Jo semakin tak tentu arah, membuat Ghea bergidik ngeri duduk disamping Jo.
" Lho sehat kan Jo. Jauh-jauh sana akh, serem lama-lama deket sama lho." ucap Ghea sedikit menggeser jauh posisi duduknya.
__ADS_1
" Lho pikir gue nggak waras apa. Pokoknya lho harus bantuin gue ketemu sama Vheya. Nggak boleh nolak pokoknya titik." ucap Jo memaksa.
" Dasar tukang maksa. Nanti deh gue pikirin caranya dulu. Sekarang pergi sana. Ganggu mood gue lagi makan aja. Husst sana pergi." ucap Ghea mengusir dan mendorong Jo agar pergi dari tempat itu.
###
Rey sedang duduk bersama istrinya. Dia mengamati luka istrinya satu persatu. Dia begitu khawatir dengan kondisi sang istri. Apalagi mentalnya, kehilangan calon buah hatinya terkadang membuat Vheya menangis tanpa disadari.
" Sayang kok ngelamun terus dari tadi. Kenapa, ada apa sayang?" tanya Rey.
" Nggak papa mas. Aku pengen jalan-jalan, pengen makan es krim, pengen belanja boleh mas." ucap Vheya tiba-tiba bersikap aneh.
" Boleh dong sayang. Apapun pokoknya asal bikin istri mas bahagia, mas pasti turutin." kata Rey sembari memeluk istrinya.
" Makasih ya mas. Maaf ngecewain mas."
" Kecewa apa sayang."
" Nggak bisa jagain calon anak kita. Padahal mas kan udah pengen banget punya anak. Maaf ya mas." ucap Vheya yang langsung membuat Rey tersenyum.
" Kok minta maaf sayang. Itu semua bukan salah kamu kok. Mungkin emang belum waktunya, belum rezeki kita. Kan bisa dicoba lagi sayang." kata Rey santai.
" Ya tetep aja kamu pasti kecewa kan mas. Walaupun sedikit pasti adalah rasa kecewa di hati kamu mas." ucap Vheya lagi.
" Nggak sayang, mas udah ikhlas. Kan nanti malem bisa bikin lagi sayang." ucap Rey menggoda.
" Ikhh mas kaya gitu deh. Kan masih sakit mas.
" Bercanda sayang. Kamu jangan pernah tinggalin mas ya. Mas sayang banget sama kamu. Mas takut banget kehilangan kamu." ucap Rey tiba-tiba melow.
" Apa sih mas. Kok ngomong kaya gitu. Aku nggak akan pernah tinggalin mas kok." jawab Vheya yang kemudian langsung memeluk suaminya itu.
__ADS_1
Mungkin kini hatinya sudah benar-benar seutuhnya menjadi milik Rey. Perjuangannya dan kesabarannya mampu meluluhkan hati Vheya. Bahkan mampu membuat Vheya melupakan kenangannya.