
Hari sudah semakin sore, namun Vheya masih berada di Rumah Sakit. Vheya tak tega meninggalkan Rico sendirian. Bahkan sudah hampir 2 jam Vheya menghubungi keluarga Rico, namun tak ada jawaban sama sekali.
Teman Rico juga tak ada yang datang sama sekali. Terpaksa Vheya yang harus mengurus semuanya sendiri. Sampai pulang pun Vheya yang harus mengantarnya. Vheya menganggap semuanya balas budi karena pernah ditolong oleh Rico.
" Dimana rumahmu Rico?" tanya Vheya masih sambil menyetir mobilnya.
" Depan Vhey belok kiri." jawabnya.
Beberapa menit kemudian sampai di depan rumah yg di maksud oleh Rico. Vheya membantu Rico turun dan memapahnya sampai teras rumahnya. Rumahnya terlihat sangat sepi. Seperti tak berpenghuni.
" Kamu tinggal sama siapa?"
" Aku tinggal sendiri disini."
" Terus orangtua kamu kemana?" tanya Vheya penasaran.
" Orangtuaku lama berpisah. Ayahku entah kemana, dan ibuku sedang pulang kampung karena nenek lagi sakit." jawabnya membuat Vheya merasa iba.
" Pantes aku hubungin nomor keluarga kamu tadi nggak ada jawaban. Nih hp kamu, maaf ya aku lancang hubungin keluarga kamu." ucap Vheya menjelaskan.
" Nggak papa Vhey, makasih banget ya kamu udah nolongin aku. Aku nggak akan pernah lupain kebaikan kamu."
" Apa sih Co, anggap aja ini balas budi aku, karena dulu pernah kamu tolongin."
" Sekali lagi makasih ya Vhey." ucap Rico sembari menatap mata Vheya. Sepertinya Rico mulai jatuh cinta pada Vheya.
" Ya udah ini obatnya, ini makananya. Jangan lupa di makan. Aku pamit dulu ya, udah mau gelap nih."
" Hati-hati ya Vhey, sekali lagi makasih."
" Iya sama-sama."
vheya berlalu dari hadapan Rico menuju mobilnya. Vheya langsung tancap gas menuju rumah. Diperjalanan Vheya teringat belum memberi kabar pada suaminya. Saat melihat ponselnya, ternyata batrenya habis. Vheya lebih mempercepat kemudi mobilnya.
Sesampainya dirumah Vheya langsung turun, dan ternyata mobil suaminya sudah terparkir di garasi. Vheya sedikit gugup dengan apa yang akan dia katakan jika suaminya bertanya nanti. Benar saja, saat membuka pintu, ternyata suaminya sudah menunggunya di Ruang tamu dengan raut muka seperti akan menelan dirinya.
" Dari mana?" tanyanya.
" Ee anu ehh itu dari nganter temen." jawab Vheya gugup.
__ADS_1
" Temen siapa?"
" Temen kampus mas." jawab Vheya seperti orang yang sedang di introgasi.
" Temen yang mana. Kayanya kamu deket cuma sama Ghea. Temen cewe atau Cowo." tanya Rey lagi.
" Temen cowo mas. Jadi tadi dia tuh......"
Belum selesai menjelaskan Rey pergi meninggalkan Vheya dengan tatapan penuh amarah. Vheya yang melihatnya sedikit merinding. Baru pertama kali Vheya melihat Rey semarah ini.
Vheya mengejar suaminya. Dipeluknya dari belakang tubuh Rey, membuat Rey menghentikan jalannya.
" Mas maaf. Dengerin aku dulu. Aku mau jelasin mas. Mas jangan marah dulu mas. maafin aku mas." ucap Vheya yang tak sadar air matanya sudah membasahi pipinya.
Rey sebenarnya tidak tega, namun Rey terlanjur kecewa pada Vheya. Bukan hanya karena Dia mengantar teman laki-laki, tapi dia juga tidak meminta ijin terlebih dahulu. Dan yang paling membuat marah adalah kenapa ponselnya tidak aktif saat dihubungi.
" Mas liat aku. Dengerin dulu penjelasan aku mas." ucap Vheya.
" Mas masih ada kerjaan. Kamu mandi dulu sana." ucap Rey dengan nada ketus.
" Nggak mau. Pokoknya mas dengerin dulu aku mau ngomong mas. Jangan marah kaya gini dong mas." ucap Vheya.
Vheya sudah lelah karena kejadian tadi, di tambah sikap Rey yang sama sekali belum pernah dia hadapi, membuat Vhey benar-benar bingung harus menjelaskan dan melakukan apalagi. Vheya hanya bisa menangis sesegukan disamping Rey.
Rey lama-lama tidak tega melihat istrinya seperti itu. Dipeluknya dan diusap airmata istrinya yang sudah membasahi wajah cantik istrinya itu.
" Udah jangan nangis lagi. Mas udah maafin kamu kok. Udah ya."
" Maafin aku mas, mas jangan marah lagi. Aku janji nggak akan kaya gitu lagi." ucap Vheya masih sesegukan.
" Iya mas maafin kok. Mandi dulu gih, bau asem tau nggak. Apa mau mas mandiin." ledek Rey.
" Iya."
Vheya berjalan menuju kamarnya untuk mandi. Rasanya badannya sudah sangat lengket. Vheya berendam di air hangat untuk menenangkan pikirannya dan hatinya. Ternyata saat ini hal yang paling ditakuti adalah kemarahan Rey. Vheya baru pertama kali melihat kemarahannya dan langsung membuat Vheya tak berdaya.
Setelah selesai, Vhey keluar dari kamar mandi dan duduk ditepian ranjang. Kepalanya terasa sedikit pusing. tiba-tiba Rey masuk dengan membawa nampan berisi makanan.
" Sayang makan dulu ya. Sengaja nih mas bawain kesini biar kamu nggak usah turun-turun lagi." kata Rey.
__ADS_1
" Makasih mas. Maaf ngrepotin." jawab Vheya datar.
" Kamu kok pucet." Rey menghampiri istrinya kemudian memeluknya.
" Aku mau tidur aja ya mas." kata Vheya yang merasa kepalanya tambah pusing.
" Makan dulu. Mas suapin ya, dikit aja."
" Iya." jawab Vheya menerima suapan dari Rey.
Setelah beberapa suap Vheya memintanya berhenti. Rey yang melihat keadaan Vheya langsung paham, karena sedari tadi Vhey memijit-mijit kepalanya. Rey langsung menyuruh Vhey untuk rebahan dan mulai membantu memijit kepalanya. Vheya yang merasa mendingan malah langsung memejamkan matanya.
Rey merasa bersalah karena sikapnya yang keterlaluan. Bukan tanpa sebab dirinya seperti itu. Mana ada suami yang rela istrinya perhatian kepada pria lain. Dikecupnya kening Vheya berulang-ulang. Rey merasa terus bersalah, dirinya berjanji ingin mencari tau sendiri, siapa laki-laki yang telah ditolong oleh istrinya itu.
Saat Rey akan keluar dari kamar, Rey mendengar ponsel Vheya bergetar. Di ambilnya ponsel Vheya dan ternyata ada pesan dari Rico.
📩 Lagi apa Vheya. Makasih untuk bantuannya tadi.
📩 Maaf ya ngrepotin kamu, sampai mau nungguin aku di Rumah Sakit.
📩 Aku nggak nyangka kita ketemu lagi dalam posisi aku yang butuh bantuan kamu.
📩 Semoga kita bisa ketemu lagi ya.
Rey mendadak langsung emosi kembali. Dilemparnya ponsel Vheya sampe Vheya kaget dan terbangun. Vheya takut dengan tatapan tajam suaminya itu.
" Mas kenapa?"
" Kamu sayang sama mas." tanya Rey.
" Kok nanya gitu. Aku sayang banget sama mas Rey. Mas kenapa tatapannya kaya gitu." ucap Vhey ketakutan.
" Kalau emang kamu sayang sama mas, jangan pernah temuin lagi laki-laki brengsek itu."
" Siapa maksud mas?"
" Laki-laki yang kamu tolong tadi sampai mengabaikan mas. Ngerti kamu."
" Iya mas."
__ADS_1
Vhey langsung berlari memeluk Rey. Rey yang mendapatkan pelukan dari Vheya langsung membalas pelukannya dengan erat. Rey sungguh benar-benar takut kehilangan istrinya.