Pacarku Bukanlah Jodohku

Pacarku Bukanlah Jodohku
episode 29


__ADS_3

Di Kampus Vheya sedang duduk bersama Ghea. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampirinya. Ghea dan Vheya tidak mengenalnya sama sekali.


" Hai Vheya, masih inget sama gue." tanyanya.


" Maaf siapa ya?" tanya Vheya bingung, karena tidak mengingat sama sekali siapa laki- laki yang ada di hadapannya itu.


" Gue Rico. Ingat waktu dulu kita pernah kehujanan bareng pas lho pulang dari Bandara." jelasnya.


" Oh iya baru inget. Apa kabar kamu, Kuliah disini juga."


" Iya Vhey."


### flashback ###


Saat pulang dari Bandara mengantar Jo, tiba-tiba hujan sangat deras. Mobilnya mogok saat ditengah perjalanan. Vheya keluar mengecek mobilnya, tapi Vheya tidak paham tentang mesin mobil. Rico yang melihat mobil Vheya berhenti ditempat sepi, dan juga hujan-hujanan, akhirnya berhenti dan menghampirinya.


" Kenapa mobilnya?" tanya Rico.


" Nggak tau. Tiba-tiba mogok. Mana nggak ngerti mesin lagi." ucapnya.


" Boleh gue lihat mobil lho."


" Silahkan."


Setelah beberapa menit akhirnya mobil Vheya bisa dihidupkan.


" Makasih ya, untung ada lho. Oh iya gue Vheya." ucap Vheya memperkenalkan diri.


" Sama-sama. Gue Rico, lho dari mana ?" tanyanya.


" Abis dari Bandara."


" Ya udah gue balik dulu ya. Udah basah kaya gini."


" Aduh gue jadi nggak enak bikin lho basah kaya gitu."


" Nggak papa santai aja Vhey."


" Ya udah sekali lagi makasih ya Rico. Semoga kita bisa ketemu lagi lain waktu. Biar gue bisa balas budi kebaikan lho."


" Akhh santai aja Vhey. Ya udah gue cabut. Lho hati-hati ya."


" Ok. Makasih ya."


Vheya teringat kembali saat itu. Setelah mengantar kepergian Jo untuk selamanya.


" Lho kuliah disini Vhey. Tadi gue pikir bukan lho."


" Iya. Oh iya kenalin nih temen gue Ghea."


" Hay gue Ghea."


" Hay juga gue Rico."


" Ya udah Vhey gue cabut dulu ya. Ada kelas nih. Eh gue boleh minta nomor lho nggak."

__ADS_1


" Sini gue ketikin nomor gue."


" Ok deh makasih ya. Gue cabut dulu."


Rico pergi meninggalkan Vheya dan Ghea. Vheya tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Rico. Orang yang pernah menolong dirinya.


" Ganteng ya Vhey?" ucap Ghea.


" Hahh siapa?" tanya Vheya.


" Ya Rico lahh, kamu pikir Dosen botak itu?"


" Hahahaha, biar botak juga Dosen lhu Ghe," ucapnya.


" Dosen lhu juga."


Setelah kelas mereka selesai, Vheya pamit pada Ghea untuk menemui suaminya di kantor.


" Gue cabut dulu ya Ghe, mau nyamperin bayi gede gue dulu." ucap Vhey.


" Ya elahhh sahabat gue so sweet banget sih, jadi pengen punya bayi." kata Ghea.


" Bayi apaan. Bayi bagong. Hahahahahaha." Vhey pergi meninggalkan Ghea dengan tertawa terbahak-bahak.


" Stres lhu Vhey, kurangajar lhu. Liat aja ntar kalo gue udah dapet pacar, gue panas-panasin lho." teriak Ghea.


" Ngapain panas. Gue aja udah ada Rey yang bisa gue peluk cium sepuasnya." ucap Vheya tak mau kalah.


Di perjalanan Vheya mampir ke tempat jajanan yang ada dipinggir jalan. Vheya teringat saat sekolah dulu sering sekali mampir bersama Ghea untuk membelinya. Ada seblak, batagor, somai dan kawan-kawannya.


vheya berjalan menuju ruangan suaminya. Karyawan yang melihatnya langsung memberikan hormat. Vheya tersenyum ramah kepada semua karyawan yang di laluinya.


" Suami saya ada di dalem mba?" tanya Vheya pada salah satu karyawannya.


" Ada bu, langsung masuk saja." jawabnya.


" Baik, terimakasih." Vhey berjalan memasuki ruangan suaminya.


Rey langsung tersenyum bahagia melihat istrinya datang.


" Mas lagi sibuk?" tanya Vheya.


" Nggak kok sayang. Kamu bawa apa banyak banget." tanya Rey melihat istrinya menenteng kantong plastik.


" Tadi mampir di jalan beli ini." ucapnya menunjukan isi dalam kantong plastik dan mengeluarkannya.


" Ya ampun sayang kaya bocah aja kamu."


" Emang aku masih bocah, lagian mas mau aja nikahin bocah."


" Bocah ini mahh rasanya beda." ledek Rey.


" Rasa apaan maksudnya nih." protes Vheya.


" Ada dech. Mas mau dong sayang."

__ADS_1


" Katanya makanan bocah. Kok malah minta sih. Emang mas bocah? Eittzz tunggu mas itu emang melebihi bocah sih ya." ledek Vheya balik membuat Rey menatap tajam istrinya itu.


" Sayang suapin ikh." rengek Rey.


" Yakin mau? nggak enak tau mas. Nanti sakit perut." ledek Vheya.


" Buruan sayang. Sini dech makan sendiri. Lama kamu akh. udah pamer, nggak mau ngasih lagi." ucap Rey ketus.


Vheya yang merasa bersalah karena terus-terusan meledek suaminya, langsung mendekat dan duduk di pangkuannya. Vheya menyuapi makanan yang sedang di makannya. Rey pun langsung luluh dan diam menerima suapan dari istrinya itu.


" Enak kan mas." tanya Vheya.


" Iya sayang. Mas nggak pernah makan kaya gini soalnya."


" Iyalah, mas kan nggak pernah makan di pinggir jalan. Nggak pernah makan jajanan kaya gini. Baru sekarang-sekarang aja kan setelah sama aku." ucap Vhey.


" Iya sih, dulu mas takut nggak higenis, jadi mas milih ditempat yang kebersihannya terjamin. Tapi setelah sama kamu mas nyaman makan dimana aja." kata Rey.


" Ya udah aku balik ya mas."


" Jangan sayang, temenin mas disini ya sayang." rengek Rey seperti bocah yang takut ditinggal ibunya pergi.


" Ayolah mas. Mas nggak boleh kaya gini dong."


" Mas bercanda sayang. Ya udah sana pulang, hati-hati ya jangan ngebut bawa mobilnya."


" Iya mas. Aku tunggu dirumah ya sayang."


" Iya istriku yang bawel."


Vheya pergi meninggalkan ruangan Rey dan berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Saat hendak mengendarai mobilnya, sepintas Vheya melihat seperti Rico sedang duduk di pinggir jalan dan diantara kerumunan orang.


Vheya mendekat ke arah Rico. Betapa terkejutnya Vheya melihat keadaan Rico yang terluka di bagian kepalanya.


" Rico kamu kenapa?"


" Vhey kamu disini. Tadi jatuh dari motor."


" Kok bisa. Kerumah sakit yuk aku anterin. Luka kamu parah lho."


" Nanti ngrepotin Vhey. Ini juga lagi nunggu temen. Bentar lagi juga sampai."


" Udah ayo. Anggep aja balas budi aku karena dulu kamu pernah nolongin aku."


" Makasih ya Vhey udah mau nolong aku."


" Iya sama-sama. Ya udah buru masuk ke mobil. Nanti darahnya makin banyak keluar lhoh."


" Iya Vhey."


" Kamu masih kuat kan? aku ngebut ya."


Vheya yang panik melihat keadaan Rico langsung tancap gas. Di dalam mobil Vheya hanya fokus kedepan melihat jalanan, sesekali melirik keadaan Rico. Memastikan keadaan Rico tidak semakin parah karena lukanya.


Sesampainya di Rumah Sakit, Rico langsung ditangani oleh dokter. Vheya tidak menemani Rico masuk kedalam. Vheya takut ketika melihat Dokter membersihkan luka di kepala Rico. Akhirnya Vheya hanya menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


__ADS_2