
Vheya masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan badannya diatas kasurnya yang besar nan empuk. Hari ini mamahnya akan pergi menemani papahnya keluar kota untuk urusan bisnis. Itu sudah biasa terjadi. Vheya pun memakluminya.
Vheya termasuk gadis manja sebenarnya, namun dengan kondisi dan situasi yang sering terjadi, membuat Vheya menjadi gadis yang kuat, mandiri dan juga pemberani.
Pernah suatu ketika ada pencuri masuk ke rumahnya, dan berhasil Vheya tangkap dengan bantuan supir dan pembantunya. Juga warga yang berbondong bondong datang, karena teriakan Vheya. Itu pengalaman paling berharga yang nggak akan pernah Vhey lupakan.
Ketika sedang asyik guling guling kasur, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya. Ternyata itu pembantunya. Dia memberi tau kalau ada temannya diluar yang mencarinya. Sontak Vhey bangun dan bergegas keluar.
"Non ada temennya diluar. Cariin non katanya." ucap si bibi.
"Siapa sih bi? Vheya cape tau nggak pengen istirahat." jawab Vheya penasaran.
"Ya nggak tau Non, bilangnya temen Non, udah janjian. Makanya bibi suruh masuk." ucap bibi dengan raut muka bingung.
"Cewe apa cowo bi." tanya Vheya balik.
"Cowo Non, cakep lagi. Tinggi putih kaya bule-bule gitu Non." jawab bibi cengengesan.
"Ya udah dech aku turun. Makasih ya bi."
"Iya non sama-sama."
Vheya pun segera turun. Ternyata cowo yang kata bibi itu tinggi putih , terus bule bule gitu ternyata adalah Jo.
"Ehh jo, kok tumben nich?" tanya Vheya.
"Emmzzz emang aku nggak boleh main kerumah pacar aku sendiri." jawab Jo menggemaskan.
"Boleh dong. Cuma kenapa nggak ngasih tau duluan." tutur Vheya.
__ADS_1
"Kejutan dong. Ngomong-ngomong ortu kamu dimana? kok nggak keliatan." tanya Jo penasaran.
"Kenapa emangnya? lagi pergi ke luar kota. Lusa baru balik." jawab vheya.
"Ohh kirain ada. Aku mau kenalan soalnya. Biar tambah dapet restu dari calon mertua." ucap Jo meledek.
"Mertua gundulmu. Baru aja jadian udah aneh-aneh." jawab Vheya sewot.
Mereka pun ngobrol ngalor ngidul sampe waktu hampir senja. Sebenernya mereka masih ingin lama-lama berdua, tapi nggak enak sama tetangga. Nanti dikira nggak ada ortunya tapi terima tamu laki-laki sampe malem. Ya walaupun di dalem rumah ada si bibi dan pak supir. Tapi tetap saja akan jadi gunjingan orang.
"Sayang aku balik dulu yah. Kamu istirahat jangan bobo malem-malem." ucap Jo perhatian.
"Iya, kamu hati-hati di jalan ya Jo. Jangan ngebut." jawab Vheya tak kalah perhatian.
"Iya sayangku." ucap Jo sembari mengusap usap kepala Vheya.
"Maaf besok nggak bisa pergi bareng. Soalnya udah janjian sama Ghea, nggak enak kalo batalin. Nanti dia ngambek lagi sama aku." tutur Vheya dengan suara manja.
"Iya sayang. Kamu atur aja waktunya." ucap Vheya.
"Ya udah aku balik. Met bobo sayangku" tutur Jo sembari melangkah keluar. Tetapi belum sampai keluar, tiba-tiba Jo menarik lengan Vheya dan memeluknya. Vheya hanya terdiam. Entah bingung , kaget atau menikmati. Tapi nyatanya pelukan Jo begitu hangat.
Jo masih memeluk Vheya erat. Seperti enggan meninggalkannya. Namun tiba-tiba Vheya perlahan melepas pelukannya. Jo dengan segera mengecup kening Vheya, membuat sang empunya terdiam. Jo yang melihat ekspresi Vheya hanya tersenyum dan melangkah pergi menuju motornya.
Vheya masih terdiam dan mengamati motor Jo yang perlahan menjauh. Dia memegang keningnya dan kemudian tersenyum lebar. Vheya kemudian berlari menuju kamar dengan raut wajah yang bahagia .
###
Di perjalanan Jo dihadang oleh segerombolan anak motor. Ternyata mereka adalah lawan balap motornya. Sebenernya Jo enggan untuk balap motor liar seperti itu, namun demi menjaga harga dirinya, dia menerima tawaran tersebut.
__ADS_1
"Akhirnya lho dateng juga. Gue pikir lho lagi minta kelonin sama nyokap lho" ucap salah satu anak dari lawan balapnya.
"Sori, gue bukan pengecut. Justru gue kesini buat buktiin ke lho semua, kalau lho itu cuma buang-buang tenaga ngajak gue balap. Kalau lho cuma mau duitnya, silahkan gue nggak butuh. Gue masih banyak. Tapi cara kalian salah." jawab Jo santai.
"Sombong banget lho Jo. Duit minta bokap lho aja sombong. Dasar lho anak mami." ucap anak lain dengan nada menghina.
"Terserah kalian. Mulai aja sekarang dari pada lho banyak bacot." jawab Jo mulai emosi.
Jo tidak terima dibilang anak mami yang hanya bisa mengandalkan harta orangtuanya. Karena nyatanya Jo sudah menghasilkan uang sendiri dengan bekerja membantu di Perusahaan papahnya. Meskipun Jo masih pelajar, tapi Jo cukup berbakat dan bisa diandalkan. Makanya papahnya Jo mempercayakan pekerjaan tersebut pada Jo.
Awalnya pertandingan aman terkendali dan Jo lebih unggul dari pada lawannya yang terus mengejarnya. Namun tiba-tiba dari sebrang muncul satu motor yang menghalangi jalannya. Karena kaget dan terkejut, motor Jo oleng dan menabrak pohon dipinggiran jalan. Untung Jo hanya luka ringan. Namun sedikit membuat kaki Jo pincang. Dia dibawa ke Rumah Sakit oleh warga sekitar.
Sesampainya di Rumah Sakit, Dokter mengobati luka Jo. Tidak terlalu parah tapi cukup membuat nyeri di kulit Jo.
"Aww pelan-pelan Dok. Sakit tau" ucap Jo sambil meringis menahan perih.
"Akhh gini aja sakit. Tahan dong." jawab Dokter sambil menempel perban di kepala Jo.
"Udah kan Dok, udah boleh pulang." tanya Jo memastikan.
"Udah kok. Jangan lupa ganti perbannya." jawab sang Dokter.
Jo pun meninggalkan ruang rawat tersebut. Dia pulang diantar temannya yang juga ikut menyaksikan balap liarnya. Jo diantar menggunakan mobil. Motor Jo sedikit rusak dan dibawa ke Bengkel.
Sesampainya dirumah, Jo diantar ke kamarnya. Si Bibi disuruh balik ke kamarnya saat akan membantu majikannya itu. Karena Jo tau udah waktunya si Bibi istirahat. Dan Jo tidak ingin mengganggunya.
Jo hanya tinggal dengan pembantunya. Papah dan mamahnya sedang diluar negri untuk urusan bisnis.Dan Jo memberi pesan ke pembantunya agar tidak memberitahukan ke orangtuanya. Karena pasti mereka akan khawatir dan langsung pulang. Padahal pekerjaannya belum kelar.
Jo merebahkan tubuhnya diatas kasur sembari menahan sakit dan perih karena ulahnya. Apalagi gara-gara kejadian itu, motor kesayangannya harus masuk bengkel. Dan kakinya pun sedikit pincang.
__ADS_1
Sesaat kemudian Jo teringat belum memberikan kabar terhadap Vheya. Tapi ternyata hpnya mati. Entah baterai habis atau rusak. Alhasil Jo hanya merutuki nasibnya yang lagi apes. Dan saat ini, yang pasti, Jo hanya ingin segera memejamkan matanya dan mengistirahatkan badannya. Mungkin nanti ketika bangun, dia berharap luka lukanya langsung sembuh dan menghilang seketika. Begitu juga dengan kakinya yang pincang. Berharap setelah bangun, dia akan bisa berjalan dengan normal.