
Sore ini Vheya dan Rey sudah sampai dirumah mereka. Mereka disambut oleh orangtua Vheya. Orangtua Rey sebenarnya juga ingin ikut kumpul, tapi saat ini mereka sedang berada di Luar Negri.
" Lhoh mamah sejak kapan disini." tanya Vheya yang baru saja turun dari mobil.
" Baru aja sayang. Mamah kangen banget sama kamu Vhey." ucap mamahnya.
" Sama mah, Vheya juga kangen banget sama mamah sama papah." ucapnya.
" Udah lama mah, pah." tanya Rey pada mertuanya.
" Baru aja Rey. Gimana urusan kantor udah beres." tanya papah Vheya.
" Alhamdulillah pah, lancar. Makanya bisa balik kesini cepet." kata Rey.
" Papah percaya sama kamu. Kalau kamu pasti bisa menangani semuanya." kata papah Vheya.
" Makasih pah."
Kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Vheya dan mamahnya menyiapkan makanan. Rey dan papahnya sedang ngobrol tentang bisnis.
" Ngomong-ngomong Vheya sudah hamil berapa bulan Rey." tanya papahnya.
" Baru jalan 4 minggu pah. Papah katanya mau ke Luar Negri juga sama mamah." tanya Rey.
" Iya Rey. Ada sodara papah disana ngajak bisnis. Tapi belum tau gimana nanti." katanya.
Saat sedang asik mengobrol Vheya datang membawa makanan dan minuman. Kemudian di susul oleh mamahnya.
" Asik banget kayanya. Ngomongin apa nih. Ngomongin aku yah?" kata Vheya terlalu percaya diri.
" Iya ngomongin kamu." jawab Rey.
" Ikhh mas dosa lho ngomongin istri sendiri." ucap Vheya.
" Dosa kalau ngomong yang jelek-jelek. Ini kan nggak sayang." ucap Rey membuat Vheya tersenyum.
" Iya deh. Nih pah di minum dulu juznya. Mas juga nih, spesial buat suami aku yang paling baik hati. Dibikinnnya aja pake cinta." ucap Vheya.
" Buat papah bikinnya pake apa." tanya papahnya.
__ADS_1
" Pake cinta dong, cinta seorang anak terhadap papahnya. Papah yang sering sibuk sama kerjaannya, dan anaknya sering diabaikan." ucap Vheya panjang lebar.
" Dasar anak nakal." kata papahnya.
Setelah hampir berjam-jam ngobrol, orangtua Vheya pamit pulang. Vheyapun memilih untuk rebahan di kamar. Setelah Rey selesai membereskan barang-barangnya, Rey juga ikutan rebahan disamping Vheya.
" Mas kaki aku pegel banget mas." rengek Vheya.
" Sini mas pijitin. Yang mana yang pegel." tanya Rey yang sudah duduk di dekat kaki Vheya.
" Yang ini mas." tunjuk Vheya pada bagian kakinya yang pegel.
Rey kemudian memijatnya dengan pelan. Vheya yang merasa keenakan karena dipijit oleh Rey, malah langsung memejamkan matanya. Rey yang mengetahui istrinya sudah tidur, langsung menyelesaikan acara pijat memijatnya.
Rey mengusap wajah cantik istrinya. Dikecupnya berkali-kali kening istrinya. Rey begitu bahagia bisa memiliki Vheya, bisa menjadikan Vheya sebagai istrinya. Apalagi sekarang ditambah ada Calon anaknya, terasa lengkap sudah kebahagiaan yang Rey rasakan.
Malam mulai larut, Vheya bangun dari tidurnya. Saat membuka mata, Vheya tidak melihat sosok suaminya tidur disampingnya. Vheya bergegas turun dari ranjangnya dan mencari suaminya. Ternyata suaminya sedang ada di ruang kerjanya.
" Mas ngapain disini. Aku cariin juga." ucap Vheya berjalan mendekat ke arah Rey dan langsung duduk di pangkuan Rey.
" Sayang kok bangun." tanya Rey.
" Iya tapi mas nggak ada disebelah aku. Aku cariin ternyata disini." ucap Vheya.
Sesampainya di kamar, Vheya malah langsung memeluk suaminya. Akhir-akhir ini memang perubahan sikap manjanya yang paling drastis. Enggan untuk ditinggal, maunya kemana-mana harus ikut.
" Masih pegel nggak sayang." tanya Rey.
" Udah nggak. Tapi pengen di peluk kaya gini terus sama mas." ucapnya manja.
" Ini kan udah. Manja banget sekarang istri mas. Jangan nakal diperut mamah ya nak." ucap Rey sembari mengusap perut Vheya yang masih rata.
Tidak butuh waktu lama, Vheya pun sudah terlelap kembali dipelukan Rey. Akhirnya mereka tertidur sampai menjelang pagi.
" Mas bangun. Mas ngantor nggak." tanya Vheya.
" Iya sayang. Kamu istirahat di rumah aja dulu ya. Jangan ngampus dulu." kata Rey khawatir.
" Tapi ada tugas kelompok mas." jawab Vheya.
__ADS_1
" Ya udah tapi jangan cape-cape. Sekarang kemana-mana harus dianter sama supir. Ngerti Nggak." kata Rey tegas.
" Iya mas ngerti. Ya udah sana mas mandi dulu." ucap Vheya.
" Mandi bareng ya sayang." ucap Rey yang langsung membopong istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah hampir satu jam mereka baru menyelesaikan acara mandinya. Rey kemudian bersiap memakai pakaian kantornya dibantu oleh Vheya. Mereka kemudian turun untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan, Vheya mengantar suaminya sampai ke mobilnya. Kemudian Vheya pun bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.
###
Di Kampus Ghea sudah menunggu Vheya. Tak lupa disana ternyata sudah ada Jo di sampingnya. Vheya yang melihatnya jadi merasa malas.
" Dateng juga Vhey." kata Ghea.
" Hmzzz. Maaf lama." ucapnya.
" Enak banget ngomong maaf. Kita udah nungguin lama , enak-enak baru nongol. " kata Jo jutek.
" Apa sih marah-marah nggak jelas banget." kata Vheya dengan nada tinggi.
" Kenapa Jadi Lho yang marah-marah. Lho yang salah, udah telat malah marah-marah. Ada ya orang kaya lho yang nggak tau diri." ucapan Jo seketika menyakitkan hati Vheya.
" Udah-udah apaan sih Jo, malah marahin Vheya." Kata Ghea.
" Jangan ngalah terus Ghea sama dia. Gede kepala nanti. Sama-sama butuh nilai ini. Tau gitu kita berdua aja." ucap Jo sengaja membuat Vheya semakin panas.
" Udah dong Jo. Kasian Vheya. Jahat banget sih omongan kamu." ucap Ghea membela Vheya.
" Sekali-kali jangan belain kesalahan dia coba Ghe. Aku udah males sekarang. Nanti aja diluar. Nanti pulannya aq bonceng ya. Mobil kamu kempes kan bannya." kata Jo membuat Ghea bingung. Kenapa Jo jadi bersikap perhatian pada dirinya.
" Ya udah mending aku balik aja. Silahkan kalian berdua aja yang ngerjain." ucap Vhey mulai emosi.
" Namanya tugas kelompok ya dikerjain bareng-bareng. Kalo sendiri namanya tugas mandiri. Heran bukannya tambah pinter, ini malah tambah bego." kata-kata Jo benar-benar membuat Vheya tersinggung dan sangat marah.
" Emang kenapa kalo gue bego. Terus aja ngatain gue seenak jidat lho. Timbang telat berapa menit, omongan lho kaya yang punya kuasa." bentak Vheya.
" Udah-udah cukup Jo, cukup Vheya. Lebih baik besok aja deh. Kalau enggak nanti malem ketemu di kafe depan ya." ucap Ghea menengahi.
__ADS_1
" Ya udah ntar malam aku jemput ya Ghe. Kita berangkat bareng. Pokoknya nggak boleh nolak ya Ghe." ucap Jo memaksa dengan sesekali melirik melihat reaksi Vheya.
Vheya yang sudah sangat emosi, langsung berjalan meninggalkan mereka. Dalam hatinya menjerit kenapa bisa sampe terjadi kaya gini karena hal sepele. Seharusnya Jo tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu.