Pacarku Bukanlah Jodohku

Pacarku Bukanlah Jodohku
episode 21


__ADS_3

Di Kantor Rey sangat disibukan oleh pekerjaan. Namun Rey menjalaninya dengan rasa bahagia. Semua tak lepas dari kejadian semalam. Rey merasa menjadi orang yang paling bahagia.


Impiannya untuk bersanding dan menikah dengan orang yang dicintainya, akhirnya akan terwujud. Setelah menunggu hampir satu tahun lebih, Rey akhirnya bisa meluluhkan hati Vheya.


Rey sudah sejak lama mempersiapkan segala sesuatu, semua rangkaian acara untuk hari spesialnya itu. Walaupun saat itu, Rey sendiri belum yakin kalau hubungannya akan berlanjut sampai tahap pernikahan. Namun Rey tetap saja mempersiapkannya. Dan kali ini semua akan terealisasi seperti apa yang di persiapkan olehnya.


Saat Rey sedang fokus membaca proposal keuangan di Perusahaannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya.


Tok tok tok


" Masuk."


Rey kaget saat melihat siapa yang membuka pintunya. Ternyata itu adalah kekasihnya.


" Sayang, kamu kesini." ucap Rey kaget melihat Vheya untuk pertama kalinya datang ke Kantor miliknya.


" Ganggu nggak mas." tanya Vheya sembari berjalan mendekat ke arah Rey.


Rey langsung menarik tangan Vheya, kemudian Vheya duduk di pangkuannya. Rey begitu sangat bahagia. Ini adalah hari yang selalu Rey tunggu-tunggu.


" Mas udah makan belum." tanya Vheya yang mulai perhatian terhadap Rey.


" Belum sayang. Makan bareng mau?"


" Boleh. Tapi aku pengen makan soto. Kayanya seger deh makan yang berkuah gitu." pinta Vheya sembari mengalungkan tangannya di leher Rey.


Rey yang mendapat perlakuan seperti itu sungguh sangat kaget. Ternyata Vheya wanita yang agresif juga.


" Ya udah kita makan soto ya. Terus nanti sekalian ngobrol tentang pernikahan kita." ucap Rey begitu antusias jika membahas pernikahan.


Vheya yang mendengar kata pernikahan awalnya kaget, namun Vheya mencoba memahami kondisi Rey. Dia tau kalau itu adalah harapan yang paling di harapkan oleh Rey.


" Ok. Nanti kita bahas ya. Emang mas Rey udah ngebet banget ya pengen nikah sama aku."


" Kamu masih belum yakin sama hati kamu buat nikah sama aku." kata-kata Rey membuat Vheya terdiam.

__ADS_1


Namun Vheya sudah bertekad untuk benar-benar membuka hatinya untuk Rey seorang. Dia sudah mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap Jo. Membuang jauh rasa yang selama ini dijaga hanya untuk Jo. Yang pada kenyataannya malah menghilang tanpa memikirkan perasaannya.


Saat ini hanya fokus terhadap Rey, yang mati-matian berjuang untuk mendapatkan hatinya. Usahanya, perjuangannya selama ini mampu membuat Vheya memantapkan hati menerima Rey untuk menjadi pasangannya. Dan kelak menjadi imam untuknya.


" Vhey kok diem." tanya Rey yang membuat Vheya kaget dan sadar dari lamunannya.


" Ikkhh mas apa sihh. Aku yakin kok sama hati aku. Yakin banget malah. Kalau nggak yakin ngapain aku nyamperin mas kesini. Buang-buang waktu aja." ucap Vheya menenangkan hati Rey.


" Ya udah yuk, katanya mau cari soto."


" Ok dehh." kata Vheya sembari berjalan dan menggandeng tangan Rey.


Rey begitu sangat bahagia, sampai di sepanjang jalanpun terukir senyuman yang manis dan tiada henti. Membuat semua karyawan yang melihatnya berbisik-bisik dan keheranan.


Sikap Rey selama ini terlihat dingin. Jarang tersenyum seperti yang mereka lihat saat ini.


" Baru kali ini lihat pak Rey tersenyum seperti itu." ucap salah satu karyawan Rey.


" Iya bener, setelah sekian purnama akhirnya kita bisa melihat pak Rey tersenyum. Biasanya kan mukanya datar. Tanpa ekspresi." ucap karyawan lainnya.


Vheya dan Rey sudah berada ditempat makan soto. Rey awalnya ingin mengajak ke tempat seperti restoran, namun Vheya malah mengajaknya makan soto di pinggiran jalan. Rey hanya bisa menuruti apa yang Vheya mau dan inginkan.


" Sayang bener mau makan ditempat ini." tanya Rey memastikan.


" Ya bener lah. Emang mas Rey keberatan kalau kita makan disini. Mas Rey nggak mau. Kalau nggak mau, kita bisa cari tempat lain." ucap Vheya yang membuat Rey sedikit panik.


Rey tidak ingin membuat kekasihnya marah atau kecewa. Ini adalahh awal dari segalanya. Meskipun Rey belum pernah makan di pinggiran jalan seperti itu, namun Rey mencoba untuk terbiasa.


" Nggak gitu sayang. Mas sih mau aja, mau dimanapun asal sama kamu, mas pasti mau kok." jawab Rey mencoba mencairkan suasana yang hampir tegang.


Pesanan pun datang. Vheya sudah tidak sabar menyantapnya. Rey yang melihat kekasihnya begitu antusias untuk melahap makanan di depannya, hanya bisa tersenyum bahagia. Ternyata kekasihnya itu wanita yang istimewa. Bahkan dia tidak malu untuk makan di pinggiran jalan.


" Buruan di makan mas, nanti dingin lho."


" Iya sayang."

__ADS_1


Setelah hampir tak tersisa makanan Vheya, Rey langsung mengutarakan niat dan rencana pernikahannya.


" Sayang kamu pengen konsep seperti apa." tanya Rey.


" Biasa ajalah mas. Aku pengen yang sederhana tapi sakral. Aku nggak mau yang terlalu wah."


" Emang kenapa sayang? Itu kan hari bahagia kita. Apa cuma aku yang bahagia, tapi kamu enggak." ucap Rey membuat Vheya jadi serba salah.


" Mas kok gitu. Jangan mikir kaya gitu sayang. Aku bahagia mas, bahagia banget bisa milikin kamu yang luar biasa sabarnya. Sabar ngadepin aku, sabar ngeyakinin hati aku, sabar memperjuangkan hubungan ini sampai ke tahap ini. Pokoknya kamu yang terbaik mas. Aku sayang sama mas Rey." kata-kata Vheya membuat Rey luluh dan terharu.


" Mas janji akan selalu buat kamu bahagia semampu mas. Sama-sama belajar saling memahami ya Vhey, kalau ada apa-apa harus ngomong. Nggak boleh ada rahasia diantara kita."


" Iya mas. Kalau Vhey ada yang salah atau nggak sesuai sama mas, mas kasih tau Vhey ya mas. Kita sama-sama belajar buat kehidupan kita yang lebih baik kelak." ucapan Vheya yang begitu dewasa membuat Rey semakin yakin akan pilihan hatinya.


Setelah selesai makan dan membahas rencana pernikahan, mereka memutuskan untuk pulang. Rey mengantarkan Vheya pulang kerumah.


Diperjalanan Rey tak henti-hentinya menggenggam tangan Vheya dan mencium tangannya berulang kali. Hingga akhirnya sampai dirumah Vheya. Mereka turun dan masuk ke dalam rumah.


" Ehh kalian dari mana. Kencan ya?" tanya mamahnya vheya.


Rey dan Vheya hanya bisa tersenyum dan mengiyakan.


" Oh iya Rey, tadi orangtuamu telfon. Katanya lebih cepet lebih baik. Minggu depan siap??" kata mamah Vheya menjelaskan.


" Siap banget mah. Hari ini juga siap." ucap Rey penuh keyakinan.


" Nggak hari ini juga kali Rey. Kan butuh persiapan."


" Rey udah siapin semuanya mah. Malah dari sebelum Vheya mau sama Rey." kata- kata Rey membuat Vheya menatap tajam ke arahnya.


" Mas apaan sihh."


" Maaf sayang."


Akhirnya mereka mulai menyusun rencana pernikahannya. Cukup sederhana dan tidak banyak tamu seperti apa yang Vheya inginkan. Satu minggu cukuplah untuk mempersiapkan segalanya.

__ADS_1


__ADS_2