
Vheya masih setia dengan selimutnya. Hari ini rasanya enggan untuk sekedar beranjak dari tempat tidurnya. Rey yang melihat sikap istrinya itupun dibuat penasaran. Tidak biasanya istrinya itu malas untuk bangun pagi.
" Kamu kenapa Vhey." tanya Rey.
" Nggak papa mas. Kamu udah mau mandi." jawabnya.
" Iya. Kamu kenapa sayang. Cerita dong sama aku."
" Nggak papa mas, udah sana mandi. Aku lanjut tidur lagi ya. Boleh kan?" rengek Vheya sembari menarik lagi selimutnya.
" Ya udah deh." ucap Rey sembari berjalan kearah kamar mandi.
Benar saja, Vheya kembali memejamkan matanya. Bukan karena faktor sakit, tapi lebih karena suasana hatinya sedang tidak bersahabat. Kejadian di Rumah Sakit masih saja mengganggu pikirannya.
Rey yang sudah keluar dari kamar mandi, melihat istrinya tidur lagi, semakin curiga dibuatnya. Rey berfikir pasti ada sesuatu yang terjadi. Namun Rey mengurungkan niatnya untuk membangunkan istrinya. Rey pun segera bersiap-siap untuk ke Kantor.
###
Jo masih sibuk dengan ponselnya. Sudah hampir sepuluh kali panggilannya tak terjawab. Tidak biasanya Vheya mematikan ponselnya dan susah untuk dihubungi. Padahal mereka sudah janjian akan mengantar Ghea pulang kerumahnya.
Hari ini Ghea sudah diperbolehkan untuk pulang. Jo sudah datang lebih awal. Namun Vheya yang ditunggu-tunggu tidak muncul juga. Bahkan ponselnya pun susah untuk dihubungi. Justru malah Andri yang datang.
" Jo ayo kita pulang. Nungguin apalagi sih. Kak Andri juga udah datang kok." ucap Ghea.
" Nunggu Vheya lah Ghe. Siapa lagi??" jawabnya.
" Nggak usah lah Jo. Aku udah nggak betah nih lama-lama disini. Ayo buruan." rengek Ghea.
" Ya udah deh." akhirnya Jo mengalah menuruti kemauan Ghea.
Sebenarnya Ghea bisa saja menunggu beberapa jam lagi, namun rasa kecewanya terhadap Vheya membuat ia beralasan seperti itu. Jangankan untuk menatap wajahnya, mendengar namanya disebut saja, membuat Ghea semakin membencinya.
Ghea telah dibutakan oleh cinta. Ghea melupakan semua masa-masa indah persahabatan mereka. Hanya karena Laki-laki yang ia sukai, lebih menyukai Vheya daripada dirinya.
__ADS_1
" Ghe udah sampe nih. Aku anterin sampe sini aja ya. Aku ada urusan lain." kata Jo menyadarkan lamunannya.
" Kenapa nggak masuk dulu Jo." jawabnya.
" Sama Andri aja." ucap Jo.
" Gue sibuk ada urusan penting. Gue cabut ya. Lain kali gue pasti jengukin lho lagi." ucap Andri sembari masuk lagi kedalam mobilnya.
" Ya udah deh kalau kalian mau pergi. Makasih ya udah nganterin aku balik." ucap Ghea.
Jo dan Andri pun sudah tidak terlihat lagi oleh Ghea. Ghea hanya bisa membuang nafas dengan kasar sembari melangkah masuk kedalam rumahnya. Rasanya seperti hidup sendirian. Orangtuanya sudah berangkat lagi ke luar Kota.
Ghea semakin membenci keadaannya. Dilemparnya tas ranselnya ke arah sofa. Rasanya ingin berteriak sekeras mungkin, ingin melemparkan setiap benda yang ada di sekitarnya. Seakan semuanya tak adil untuknya. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu yang mengagetkannya.
tokk tokkk tokkk
Ghea berjalan menuju kearah pintu. Betapa terkejutnya Ghea, setelahh melihat ternyata Vheya yang sekarang berada di hadapannya.
" Ngapain?" tanya Ghea ketus.
" Nggak papa. Takut sibuk." ucapnya.
" Aku ada salah apa sih Ghe sama kamu." tanya Vheya.
" Salah apa gimana maksudnya." tanya Ghea balik.
" Kenapa tiba-tiba sikap kamu berubah kaya gini. Semenjak di Rumah Sakit waktu itu. Aku ngelakuin kesalahan atau
gimana, jelasin biar aku tau." tutur Vheya.
" Udahlah nggak perlu dibahas. kalau boleh aku mau istirahat. Bisa kan tinggalin aku sendiri." kata Ghea.
" Kamu ngusir aku Ghe. Nggak nyangka secepat ini kamu berubah. Apa faktor kepala kamu luka jadi nggak beres kaya gini." ucap Vheya.
__ADS_1
" Terserah kamu mau ngomong apa. Aku mau istirahat." ucapnya.
Tanpa permisi Vheya pergi melangkah keluar dari Halaman Rumah Ghea. Rasanya seperti ingin berteriak. Tanpa ada angin tanpa ada hujan, tiba-tiba sikap Ghea berubah dingin kepadanya.
#####
Disebuah Kafe, Rey sengaja menemui Jo. Bukan tanpa sebab Rey menemuinya, namun Rey masih penasaran dengan perubahan sikap istrinya. Awalnya Rey ragu untuk menemui Jo, namun tidak ada cara lain lagi. Meskipun berat hati akhirnya Rey berusaha untuk mengesampingkan egonya itu.
" Udah lama Jo." ucap Rey yang melihat Jo sudah duduk dengan segelas jus ditangannya.
" Eh Rey. Ya lumayan ada setengah jam lebih. Ada apa lho nyuruh gue kesini." tanya Jo.
" Gue mau nanya tentang istri gue. Ada kejadian apa belakangan ini, istri gue selalu murung dan kaya ada masalah." tanya Rey.
" Lahh lho kan suaminya. Masa iya nanya ke gue. Atau lho mau nyerahin istri lho buat gue. Gue bakal terima dengan senang hati kok." jawab Jo meledek.
" Sialan lho. Langkahin dulu mayat gue." ucap Rey.
" Sori bercanda. Istri lho aja gue hubungin susah. Katanya kemarin mau nganterin Ghea. Eh tapi iya sih, kayanya antara Vheya dan Ghea ada masalah deh." ucap Jo dengan muka serius.
" Maksudnya gimana nih. Masa iya mereka berdua ada masalah. Orang ngapa-ngapain juga selalu bareng-bareng." kata Rey sedikit ragu.
" Ya menurut gue. Soalnya semenjak kemarin Ghea sadar, sikapnya cuek banget ke Vheya. Nah semenjak itu Vheya juga jadi aneh sikapnya. Yang jadi penasaran itu tiba-tiba juga muncul si Andri. Ah pusing gue jelasinnya." ucap Jo sembari mengacak-acak rambutnya sendiri.
" Siapa Andri." tanya Rey penasaran.
" Kakak kelas kita dulu waktu SMA. Tapi dia pindah karena Vheya lebih milih jadi pacar gue. Gue pikir awalnya dia suka sama Ghea. Tapi ternyata malah suka sama Vheya. Tapi ya karena ketampanan gue dan pesona gue, istri lho lebih milih jadi pacar gue." ucap Jo membanggakan dirinya.
" Sialan Lho Jo. Bangga banget lho pernah jadi pacar istri gue." ucap Rey sewot.
" Ehh inget bro, kalau gue nggak kecelakaan dan amnesia, sekarang Vheya itu masih jadi milik gue. Nggak mungkin dia berpaling dari gue. Bahkan mungkin sekarang kita udah punya anak yang lucu-lucu. Disini itu lho yang jahat tau. Ngambil milik gue tanpa ijin." tutur Jo penuh drama membuat Rey menjadi geram.
" Sialan lho Jo. Gue kesini niat cari info, eh malah dengerin lho ngigo ngga jelas gini. Udahlah gue cabut. Gue tunggu kabar selanjutnya. Nggak tega gue liat istri gue murung gitu." ucap Rey sembari meninggalkan Jo yang masih duduk dengan santai.
__ADS_1
" Makanya kasih ke gue aja istri lho." ucap Jo semakin ngelantur.
Rey yang mendengar ucapan Jo hanya mengepalkan tangannya kearah Jo sambil terus melangkahkan kakinya keluar dari Kafe. Jo yang melihat muka emosi Rey hanya tertawa puas.