Pacarku Bukanlah Jodohku

Pacarku Bukanlah Jodohku
episode 39


__ADS_3

Vheya dan Ghea sudah sampai di rumah. Namun Rey tak terlihat berada di rumah. Ghea pun berpamitan pulang. Vheya masuk ke dalam mencari suaminya. Namun tak menemukannya.


" Bi, mas Rey mana?" tanya Vheya.


" Belum pulang dari pagi Non." jawabnya.


" Jadi dari pagi sampai malem gini mas Rey belum pulang Bi." tanya Vheya lagi.


" Iya non."


Mendadak Vheya merasa cemas dan khawatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu terhadap Rey. Saat dihubungi pun ponselnya tidak aktif. Membuat Vheya semakin ketar-ketir tak karuan.


Vheya menuju kamarnya ingin membersihkan diri dulu sembari menunggu kepulangan Rey. Namun hampir setengah jam menunggu, Rey tak kunjung pulang. Vheya mencoba menghubunginya, namun masih sama saja, tidak aktif ponselnya.


Kemudian Vheya mencoba menghubungi Ghea.


📞📞📞📞


" Hallo Ghe."


" Iya Vhey, kenapa." tanya Ghea.


" Mas Rey belum balik juga. Ponselnya juga nggak aktif Ghe. Aku jadi khawatir." ucap Vheya.


" Masa sih. Tungguin aja siapa tau bentar lagi pulang." jawab Ghea.


" Ya udah deh. Maaf ganggu kamu ya. Sampai ketemu di Kampus." kata Vheya sembari menutup panggilan telefonnya.


Sudah hampir 2 jam Vheya menunggu namun Rey belum pulang juga. Hingga Vheya tertidur dengan sendirinya. Mungkin karena kelelahan, Vheya tertidur pulas sampai menjelang pagi.


Saat bangun, Vheya langsung menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama, setelah beres-beres semuanya, Vheya pun keluar dari kamarnya menuju dapur. Dia mencari pembantunya, namun ternyata sedang berada di belakang.


" Bi mas Rey belum pulang juga." tanya Vheya.


" Belum non." jawabnya.


Vheya pun kembali menuju kamarnya. Saat akan menaiki tangga, tiba-tiba Vhey mendengar ada yang membuka pintu. Dan ternyata itu Rey. Vheya langsung berlari menghampiri Rey.


" Mas dari mana." tanya Vheya.


" Dari luar." ucap Rey ketus sembari terus berjalan menuju kamar.

__ADS_1


Vheya mengekor dibelakangnya. Saat sudah di dalam kamar, Vheya berusaha mengajak Rey berbicara. Namun Rey seperti menghindarinya.


" Mas Rey." ucap Vheya.


" Aku mau mandi." jawab Rey datar.


Saat mendekati Rey, Vheya melihat memar di sudut bibirnya. Vheya seketika panik dan langsung bertanya.


" Ini kenapa mas. Kamu berantem mas." tanya Vheya sembari melihat luka di wajah Rey.


" Nggak. Udah aku mau mandi, mau ngantor. Percuma dirumah kaya nggak dihargain." ucap Rey sembari melangkah menuju kamar mandi.


Vheya langsung memeluk Rey dari belakang membuat Rey menghentikan langkahnya.


" Maafin aku mas. Jangan bersikap kaya gini sama aku. Aku tau aku salah. Maafin aku mas." rengek Vheya.


Rey yang mendengar rengekan Vheya tak kuasa lagi mendiamkan Vheya. Akhirnya Rey membalikan badannya dan langsung memeluk erat Vheya. Mencium kening Vheya dan mengecup singkat bibir Vheya.


" Jangan pergi lagi sayang. Mas bisa gila kalo harus kehilangan kamu." kata Rey.


" Maafin aku mas." kata Vheya.


" Iya janji. Tapi ini kenapa sampai memar kaya gini. Aku ambil obat dulu ya mas." kata Vheya tak tega melihat suaminya terluka.


Belum sempat melangkah Rey langsung memeluknya dari belakang. Rasanya seperti habis ditinggal pergi dengan waktu yang cukup lama.


" Mas minggir dulu, aku mau ambil obat dulu." kata Vheya.


" Ambil obat apa sengaja menghindar lagi dari mas." tanya Rey curiga.


" Ikhh mas tuh negatif terus pikirannya." jawab Vheya yang terus melangkah keluar mengambil kotak p3k.


Saat Vheya keluar, Rey tak sengaja melihat kotak kecil di dekat tas Vheya. Diambilnya dan dibukanya kotak tersebut. Rey kaget melihat isinya, ternyata kalung. Rey berpikir dari mana Vheya mendapatkan barang tersebut, sebab dirinya tidak pernah memberikan itu.


" Ini punya siapa?" tanya Rey pada Vheya saat Vheya masuk ke kamar.


" Itu dikasih sama Jo mas." jawab Vheya jujur.


" Mau dipakai, atau disimpen. Nih pakai aja nggak papa. Kenang-kenangan dari mantan tersayang. Apa malah masih sayang." ucap Rey sewot.


" Apa sih mas. Duduk sini aku obatin dulu." kata Vheya.

__ADS_1


" Males." jawab Rey singkat kemudian langsung masuk ke kamar mandi.


Vheya serba salah saat ini menghadapi sikap Rey. Namun semua memang berawal dari Vheya sendiri. Kalau saja saat itu Vheya tidak menanggapi Jo, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Vheya menunggu Rey sambil menyiapkan baju kerja Rey.


Namun Rey tak kunjung keluar juga. Vheya masih tetap menunggunya, sampai terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dan saat keluar, Rey justru malah berjalan keluar kamar.


" Mas mau kemana. Jangan mulai lagi deh mas." ucap Vheya.


" Kamu atau mas yang mulai." kata Rey dengan tatapan sinis.


" Mas kalau masalah kalung, aku bisa balikin sama Jo. Tapi jangan ngambek kaya gini lagi dong." kata Vheya membujuk suaminya.


" Iya mau balikin sekalian ketemuan, biar bisa berduaan lagi kan." ucap Rey.


vheya mendekati suaminya dan menariknya menuju tempat tidur. Awalnya Rey menolak, namun Vheya memaksanya.


" Jangan negatif terus. Nanti mas ikut anterin bareng sama aku." kata Vheya.


" Beneran sayang." ucap Rey belum yakin dengan ucapan Vheya.


" Iya nanti malem, balik dari kantor kita balikin ini. Sekalian aku juga pengen jalan-jalan sama mas. Boleh kan?" ucap Vheya.


" Boleh sayang. Ya udah mas ke kantor, nanti mas jemput kita jalan-jalan ya sayang." ucap Rey bersemangat.


" Ya udah sini diobatin dulu." Vheya menarik Rey untuk rebahan di pangkuannya.


Rey begitu bahagia mendapat perhatian lebih dari istrinya. Rey terus menatap wajah istrinya yang sedang mengobati luka memar di sudut bibirnya. Vheya mengobati Rey dengan hati-hati dan juga perlahan, membuat Rey tak merasakan sakit lagi.


" Udah mas. Sana ganti baju terus sarapan bareng." ucap Vheya.


" Pakein dong sayang." kata Rey yang mendapat persetujuan dari Vheya.


Setelah selesai, mereka turun untuk sarapan bersama. Vheya langsung menyiapakan makanan untuk suaminya. Tak butuh waktu lama mereka menyelesaikan acara sarapannya.


" Mas hati-hati ya. Jangan ngebut dijalan. Nanti sore jangan lupa jemput aku buat balikin kalung itu." kata Vheya.


" Iya sayang. Mas berangkat dulu ya sayang. Kamu kabarin mas kalo udah sampe Kampus." ucap Rey yang langsung mencium kening istrinya.


Vheya hanya tersenyum sambil melambaikan tangan kepada suaminya. Bagaimana bisa dirinya menyia-nyiakan laki-laki seperti Rey. Padahal diluaran sana banyak wanita yang tak seberuntung dirinya. Vheya sudah memantapkan hati untuk tetap menjaga cintanya hanya untuk Rey. Meski dalam perjalanannya nanti, akan banyak menemukan rintangan yang harus dihadapi.


Setelah kepergian Rey, Vheya langsung masuk kembali untuk bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Vheya membereskan sisa makanan tadi. Dan langsung tancap gas menuju kampus.

__ADS_1


__ADS_2