
Hari ini Ghea sedang bermalas-malasan di kamarnya. Rasanya ia enggan untuk mandi, meskipun hari sudah nampak siang. Dia berencana akan menghabiskan hari ini dengan bermalas-malasan saja di kamar. Bahkan dia sudah menyiapkan banyak minuman kaleng dan cemilan di kamarnya, agar tak perlu turun ke dapur untuk mengambilnya.
Lain halnya dengan Jo. Jo sudah terlihat rapi dan wangi. Dia berencana mengajak Ghea keluar untuk sekedar mengucapkan rasa trimakasihnya, karena waktu itu Ghea sudah mau membantunya. Tanpa Ghea mungkin saja Vheya tidak akan mau menemuinya, bahkan memaafkannya.
Jo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tidak memberitahu Ghea terlebih dahulu. Setengah jam kemudian, mobil Jo sudah sampai di Halaman rumah Ghea. Jo langsung mengetuk pintu rumah Ghea. Namun lama tak kunjung di bukakan pintu.
" Siapa sihh siang-siang gini bertamu. Ganggu aja." ucap Ghea.
Betapa terkejutnya Ghea, saat membuka pintu ternyata sudah ada Jo dihadapannya.
" Ngapain lho kesini?" tanya Ghea penasaran.
" Ada tamu bukannya di suruh masuk, malah diinterogasi." jawab Jo santai.
" Nggak perlu masuk. Cepet bilang lho mau ngapain kesini." tanya Ghea masih penasaran.
" Gue mau ngajak lho makan diluar. Sebagai tanda terimakasih karena lho udah mau bantuin gue kemarin." kata Jo.
" Akhh nggak perlu. Udah sana pulang. Gue mau tidur lagi. Ganggu aja, gue lgi mager tau." ucap Ghea ketus.
" Isshh nggak boleh nolak. Buruan sana ganti baju. Belum mandi ya lho Ghe. Bau banget tau." ledek Jo.
" Akhh sialan lho. Udah sana akh pulang." usir Ghea. Namun Jo tetap menolaknya.
" Gue akan terus disini pokoknya." ucap Jo.
" Ishh nyebelin. Ya udah tunggu dulu. Gue mau mandi dulu." kata Ghea sembari masuk kedalam rumah.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya Ghea keluar. Jo langsung saja marah-marah kepada Ghea.
" Lho mandi apa tidur lagi. Lama banget sih?" tanya Jo yang sudah lelah karena terlalu lama menunggu Ghea.
__ADS_1
" Namanya juga Cewe, butuh dandan butuh ini itu. Crewet banget sih lho. Kok dulu Vheya bisa sabar ngadepin lho ya. Heran gue." ucap Ghea tak terima dengan ucapan Jo.
" Iyalahh, Vheya cewe paling langka dan paling sempurna menurut gue." ucap Jo memuji Vheya.
" Kesempurnaan hanya milik Allah. Sadar woy. Kasian banget ya lho, punya cewe kaya Vheya disia-siain. Giliran sekarang udah jadi istri orang lain lho malah mau ngerusak hubungan mereka. Dasar lho stres." ucap Ghea.
" Perlu lho garis bawahi ya Ghe. Gue nggak pernah berniat bahkan sama sekali nggak pernah berfikir buat menyia-nyiakan Vheya. Apalagi sampai ingin melepas dia, itu mustahil Ghe. Gue cinta banget sama dia." ucap Jo menjelaskan.
" Halahhh udah deh nggak akan kelar ngomong sama lho. Sekarang lho mau ajak gue kemana."
" Adalah pokoknya. Yuk masuk kita cap cusss."
Ghea hanya menuruti kata-kata Jo. Entah dirinya akan dibawa kemana oleh Jo. Yang penting dirinya juga bisa merasa happy.
####
Di tempat lain Rey sedang bersama Vheya untuk berkunjung kerumah saudaranya. Mereka menghadiri acara pernikahan sepupu mereka. Vheya tampil begitu anggun dan cantik. Rey sampai tak berkedip melihat istrinya yang sedang berdiri di hadapannya. Vheya yang merasa sedari tadi di pandangi oleh suaminya, Vheya langsung memukul lengan suaminya itu.
" Aww sakit sayang." ucap Rey sembari mengusap lengan yang dipukul oleh Vheya.
" Kenapa sih sayang. Suami liatin istrinya itu wajar. Orang kamu cantiknya kebangetan. Emang kamu mau mas liatin cewe lain." jawab Rey yang kemudian malah dicubit oleh Vheya.
" Rasain tuh." Vheya semakin keras mencubit bagian perut Rey.
" Awww awww sayang kamu KDRT sih. Sakit banget tau. Tanggung jawab loh ya kalau sampai mas nanti kenapa-kenapa." ucap Rey mengancam.
" Berani liatin cewe lain, nanti malam jangan ngarep tidur di kamar." ancam Vheya balik.
" Nggak sayang. Mana berani mas kaya gitu. Orang mas udah punya bidadari kaya gini. Maaf deh sayang tadi bercanda." kata Rey mengakui kesalahannya.
" Awas aja."
__ADS_1
" Nggak sayang, mas minta maaf. Nanti malem bobo bareng ya. Kamu tega liat mas nggak bisa tidur. Kan udah biasa mas tidur sama kamu, dipeluk kamu." rengek Rey.
Setelah beberapa menit berdebat, mereka kemudian duduk di kursi tamu. Banyak mata memandang kearah Vheya. Mereka memuji penampilan Vheya dan juga wajahnya yang sangat cantik.
" Hay om Rey." sapa anak laki-laki yang diperkirakan masih duduk di bangku SMA.
" Hay Leo. Udah gede aja kamu. Lama nggak ketemu udah segede ini." kata Rey.
" Iyalah om. Ouhh ini istri om Rey. Cantik banget sih om. Maaf ya waktu pernikahan om, Leo nggak bisa hadir. Soalnya waktu itu lagi di luar kota." ucap Leo.
" Nggak papa. Oh ya kenalin, ini Leo sayang. Dia anaknya om Bima." kata Rey memperkenalkan Leo pada Vheya.
" Hay tante cantik. Seneng deh bisa kenalan. Kayanya kita nggak beda jauh deh umurnya." ucap Leo menggoda.
" Hay Leo. Mungkin kita beda 2 atau 3 tahun deh. Soalnya aku baru aja kuliah semester satu." ucap Vheya.
" Hmmzz lebih cocok jadi pacar Leo deh dari pada jadi istri om Rey." ucap Leo menggoda membuat Rey sedikit emosi.
" Berani kamu Leo. Maksud kamu om sudah tua. Tanya aja sama istri om, lebih ganteng kamu atau om." tantang Rey.
" Udah-udah kalian sama-sama ganteng kok. Udah deh mas, sama yang lebih muda ngalah aja." ucap Vheya menengahi perdebatan mereka.
Akhirnya Leo pergi dari tempat itu, sebelum kena omel Rey. Setelah perkenalan itu, Rey menjadi sedikit pendiam. Wajahnya terlihat murung. Vheya yang melihatnya jadi penasaran.
" Mas kenapa? kok mukanya ditekuk gitu. Ada apa sayang?" tanya Vheya.
" Emang mas udah kelihatan tua sayang. Mas nggak pantes gitu bersanding sama kamu." jawab Rey.
" Ya ampun mas, cuma gara-gara omongan Leo tadi. Terus kamu kaya anak kecil gitu, diambil hati omongan Leo."
" Mas takut kamu berpaling karena mas udah tua." kata-kata Rey membuat Vheya semakin tertawa.
__ADS_1
" Udah akh mas. Kamu tuh bagi aku paling sempurna. Paling ganteng, baik hati, pokoknya mas paling ganteng deh. Nggak ada yang bisa ngalahin bahkan gantiin mas di hati aku." ucap Vheya meyakinkan Rey.
Rey yang mendengar ucapan Vheya, seketika langsung tersenyum bahagia. Rasanya Rey tak ingin jauh-jauh dari Vheya. Bahkan saat akan ke toilet pun Rey enggan untuk melepasnya.