Pacarku Bukanlah Jodohku

Pacarku Bukanlah Jodohku
episode 24


__ADS_3

Benar saja dugaan Rey. Vheya malah sedang asik nonton tv di ruang tamu. Namun gelagatnya sangat aneh. Bukan fokus pada tv, melainkan seperti orang yang sedang gelisah.


Rey menghampiri Vheya dan duduk di sebelahnya. Vheya yang melihat Rey menatap dirinya, hampir saja berteriak. Rey menjadi semakin penasaran dengan tingkah istrinya itu.


" Mas ngapain disini?" tanya Vheya kaget melihat Rey.


" Apa sih sayang. Kamu kenapa ninggalin aku sendiri di kamar." tanya Rey dengan manja.


Vheya yang mendengar ucapan suaminya itu merasa sedikit bersalah. Tidak seharusnya dirinya berlaku seperti itu. Vheya teringat ucapan papahnya saat menasehati dirinya. Sekarang statusnya sudah berubah. Bukan lagi hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi sudah ada Rey yang harus di prioritaskan.


Perihal malam pertama yang belum siap, itu sudah menjadi kewajibannya. Mau tidak mau Vheya tidak bisa bersikap egois. Kembali ditatapnya wajah laki-laki yang kini berstatus suaminya itu.


" Maaf sayang. Tadi aku mau ambil minum, tapi malah nyasar kesini." ucap Vheya mencari alasan.


" Beneran sayang. Bukan lagi ngehindar dari aku kan?" kata-kata Rey membuat Vheya melotot tak percaya.


" Apa sih mas. Ya udah yuk ke atas."


Mereka berjalan beriringan menuju kamarnya. Setelah masuk kamar, pintunya di kunci oleh Rey.


" Kok dikunci mas?" tanya Vheya penuh curiga.


" Takut ada angin, ntar kebuka sendiri lagi." ucapan Rey membuat Vheya tertawa ngakak.


Dalam hatinya berkata, seumur-umur tinggal di kamar ini belum pernah pintunya terbuka sendiri karena angin.


" Mana ada mas, ngarang aja kamu tuh."


" Ya jaga-jaga. Siapa tau?" Ucap Rey sambil merebahkan tubuhnya di samping Vheya.


Vheya mengatur nafasnya, mencoba tenang. Meyakinkan dirinya bahwa ini adalah kewajibannya. Mau tidak mau pasti akan melakukannya. Meskipun sekarang tidak, besok atau lusa pasti akan sama saja. Akhirnya Vheya memantapkan diri. Jika Rey meminta haknya, itu adalah kewajibannya untuk memberikannya.


" Sayang kamu belum ngantuk." ucap Rey sembari menggeser kepalanya berpindah ke pangkuan Vheya.


" Belum mas. Mas mau tidur." jawab Vheya dengan mengusap lembut rambut Rey.

__ADS_1


" Vhey?"


" Apa mas."


Rey menarik kepala Vheya hingga menunduk mendekat ke wajahnya. Rey mencium lembut bibir Vheya. Vheya hanya bisa pasrah dengan apa yang Rey lakukan. Cukup lama Rey mencium bibir Vheya. Namun Rey enggan melepasnya. Akhirnya Vheya menarik paksa kepalanya ke atas karena hampir kehabisan nafas.


" Mas ikhh mau bikin aku mati." ucap Vheya ketus.


" Sayang maaf. Aku terlalu bernafsu sayang." ucap Rey dengan nada manja, membuat Vheya mengurungkan niat ngambeknya.


" Sakit tau mas. Lihat nihh kalo sampe bengkak gimana coba?" ucap Vheya sembari memonyongkan bibirnya.


Rey yang melihatnya justru semakin gemas dan bernafsu. Kini Rey duduk dengan posisi Vheya dipeluknya. Ada rasa nyaman tersendiri saat dirinya dipeluk Rey. Mungkin karena sudah halal juga, jadi merasa lebih aman dan nyaman.


Entah dari mana mulanya mereka kini sudah sama-sama saling tidur berpelukan setelah melewati malam pertamanya. Dan ketika bangun Rey masih ingin melanjutkannya kembali.


" Sayang sekali lagi ya." ucapnya berbisik ditelinga Vheya. Membuat Vheya seperti terkena sengatan listrik.


" Kan tadi malem udah sayang. Aku aja masih lemes nich. Kamu sihh semangat banget." ucapan Vheya tak membuat Rey berhenti memohon.


Akhirnya satu ronde dilewati sebelum acara mandi bersama. Namun saat mandi pun Rey memaksanya kembali. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Vheya duduk di meja riasnya. Vheya mengeringkan rambutnya yang masih basah.


Rey yang melihat istrinya dari cermin, hanya tersenyum dan juga merasa bersalah. Rey kemudian mendekat dan membantu Vheya mengeringkan rambutnya.


" Sini mas biar aku aja sendiri." kata Vheya merebut kembali pengering rambutnya.


" kamu nggak marah sama mas kan sayang." tanya Rey takut kalau istrinya marah dan tidak mau diajak lagi melakukannya.


" Nggak mas. Itu kan hak kamu dan juga sudah menjadi kewajiban aku. Jadi jangan ngerasa bersalah gitu." kata-kata Vheya menenangkan hati Rey.


" Tapi masih sakit nggak sayang." tanya Rey.


" Ya masih sedikit. Ya udah kita turun makan yuk." ajak Vheya pada suaminya yang masih berlutut di hadapannya itu.


Mereka berdua turun menuju ke ruang makan. Namun dilihatnya tak ada siapapun. Namun sudah ada makanan tertata rapi di meja makan. Vheya memanggil pembantunya yang sedang berada di dapur.

__ADS_1


" Bi, Bibi dimana?"


" Saya disini Non, ada apa non?" tanya si Bibi.


" Mamah sama papah mana bi?" tanya Vheya yang tidak melihat orangtuanya.


" Oh nyonya sama tuan baru saja pergi non. Katanya ada acara di kantornya."


" Mereka nggak sarapan Bi?" tanya Vheya lagi.


" Udah dari tadi non."


" Kok nggak nungguin aku dulu Bi, biasanya juga kalo aku belum turun, mamah nyamperin ke kamar."


" Tadi katanya mau bangunin, tapi nggak jadi. Katanya takut ganggu pengantin baru." ucapan si Bibi membuat Vheya dan Rey malu. Seketika muka mereka langsung memerah seperti udang rebus.


Akhirnya si bibi kembali ke dapur meninggalkan pengantin baru itu. Vheya yang melihat Rey hanya diam, langsung mengambilkan nasi goreng ke piringnya.


" Segini atau mau tambah lagi." tanya Vheya pada suaminya itu.


" Udah cukup sayang." jawab Rey.


Namun bukannya dimakan, Rey malah hanya diam dan melihat Vheya. Vheya yang merasa bingung tidak jadi mengambil nasi goreng untuk dirinya.


" Kok nggak di makan sayang. Nggak suka, atau mau sarapan roti aja." tanya Vheya namun Rey malah menggelengkan kepalanya.


" Mau disuapin sayang?" pinta Rey dengan merengek manja.


Vheya yang melihat tingkah suaminya itu mendadak berpikir. Dulu suaminya begitu dewasa dan cool saat sebelum menikah. Kenapa setelah menikah jadi manja luar biasa melebihi dirinya. Entahlah Vheya hanya terheran-heran. Namun menuruti keinginan suaminya itu.


" Ya udah sini." Vheya mengambil piringnya dan mulai menyuapi bayi gedenya itu.


" Kamu duduk sini." ucap Rey sembari menepuk pangkuannya, agar Vheya duduk di pangkuannya Rey.


Vheya hanya bisa menuruti semua keinginan suaminya itu, selagi masih dibatas wajar. Vheya berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa menjadi istri yang baik. Dia tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya. Cukup jo yang dulu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Vheya bersyukur mendapat suami yang baik dan sesabar Rey. Meski kadang tingkahnya sangat manja selagi bersama dirinya. Namun jika di depan orang sikap dewasanya lah yang selalu dikeluarkan. Rey terkesan sangat berwibawa jika dihadapan semua orang. Membuat semua orang merasa terkesan dan menghormatinya. Namun siapa sangka jika sudah bertemu istrinya, manjanya luar biasa.


__ADS_2