
Mentari mulai malu-malu menampakan sinarnya. Sepertinya cuaca hari ini tidak bersahabat untuk beraktifitas diluar rumah. Vheya dan Rey masih setia dengan selimutnya. Rasanya enggan untuk sekedar bangun.
" Mas bangun, Ngantor nggak?" tanya Vheya.
" Nanti sayang, dingin akh males." jawab Rey menarik kembali selimutnya.
" Lihat jam tuh mas. Ntar kesiangan lhoh. Mandi yuk, aku siapin air hangat ya buat mandi."
" Mandi bareng."
" Mas ikh jangan kaya anak kecil deh."
" Ya udah mas nggak mau mandi." ucap Rey membuat Vheya terdiam.
Vheya pergi ke kamar mandi tanpa memperdulikan Rey. Vheya masih sedikit pusing karena semalaman menangis. Meski Rey sudah tidak marah lagi padanya, tapi sifat manjanya kambuh lagi.
Beberapa menit kemudian Rey bangun dan menyusul Vheya ke kamar mandi. Baru saja akan membuka pintu, Vhey sudah keluar dan telah selesai mandi. Vheya berjalan melewati Rey yang masih terdiam menatap dirinya.
" Sayang?" Rey memanggil Vheya yang akan keluar dari kamarnya.
" Ada apa." jawabnya.
" Kamu kenapa. Seharusnya aku yang marah. Kenapa jadi kamu yang cuekin aku." tanya Rey heran dengan sikap istrinya.
" Aku mau turun, mau kedapur. Mas mandi terus sarapan." ucap Vheya membuat Rey tambah bingung.
Vheya kemudian langsung pergi meninggalkan Rey yang masih diam mematung di dekat pintu kamar mandi. Vheya sedang tidak ingin berdebat atau semacamnya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Dimeja makan Vheya sudah duduk menunggu Rey untuk sarapan. Bibi sudah memasak nasi goreng kesukaan suaminya. Namun Rey tak kunjung turun untuk sarapan. Akhirnya Vheya menyusulnya ke atas.
" Mas ayo sarapan dulu." kata Vheya.
Rey tidak menjawab. Dia sibuk memakai pakaiannya. Vheya mendekat ke arah Rey, mengambil paksa dasinya dan mulai memakaikannya. Rey terus memperhatikan istrinya. Dia berpikir hal apa yang membuat istrinya jadi bersikap dingin padanya.
Belum sempat bertanya, Vheya sudah pergi meninggalkannya kembali. Rey semakin frustasi dibuatnya. Rey ingin marah tapi dia mengingat bagaimana kondisi istrinya saat dia marahi. Dia tak tega harus membuat istrinya mengeluarkan air matanya kembali.
Rey berjalan mengekor istrinya. Vheya mengambilkan makanannya di piring Rey. Setelah selesai Vheya membereskan piringnya kembali dan membawanya ke dapur. Kemudian Vheya mengambilkan tas kerja suaminya dan memberikannya.
__ADS_1
" Mas mau bicara. Sebenernya kamu kenapa bersikap kaya gini sama mas." tanya Rey yang merasa kesal karena sikap cuek istrinya.
" Aku nggak papa kok. Mas berangkat gih, aku mau ganti baju, mau ke kampus." Vheya menarik tangan suaminya dan mengecupnya. Kemudian berjalan menaiki tangga untuk berganti pakaian.
Sudah habis kesabaran Rey. Di tariknya tangan Vheya dan dipeluknya tubuh Vheya erat. Di tatapnya wajah istrinya kemudian di kecup singkat bibir istrinya itu. Vheya hanya terdiam, kemudian Rey duduk dan menarik Vheya duduk dipangkuannya.
" Mas nggak bisa kaya gini terus Vhey, percuma juga ngantor kalo pikiran mas ada disini mikirin kamu." kata Rey.
" Emang kenapa aku dipikirin. Aku nggak minta mas mikirin aku kok." jawabnya.
" Jujur sama mas. Kamu kenapa bersikap dingin kaya gini sama mas. Mas ada salah atau gimana?" tanya Rey kembali.
" Aku kan udah bilang nggak ada mas. Nanya mulu dari tadi." jawab Vheya ketus.
" Kamu marah karena mas tadi malem marah- marah sama kamu. Atau mas kasar sama kamu. Mas minta maaf sayang, tapi jangan bersikap kaya gini. Mas nggak bisa di giniin kamu Vhey, sakit tau nggak." kata-kata Rey menyentuh hati Vheya.
Vheya menatap wajah suaminya. Diusapnya lembut pipi suaminya, kemudian di kecup lembut bibirnya. Vheya memeluk suaminya erat, dirinya merasa bersalah telah membuat suaminya seperti itu.
" Maaf mas." ucapnya sembari bersandar di dada bidang suaminya.
" Jangan kaya gini lagi sayang. Mas nggak bisa diginiin kamu. Sakit hati mas sayang." kata Rey.
" Sana mas berangkat. Nanti telat lhoh."
" Biarin, kantor mas ini. Berangkat bareng aja ya sayang. Mas anterin kamu."
" Ya udah aku ganti baju dulu."
###
Di Kampus Vheya tak sengaja bertemu Rico. Ingin menyapanya sekedar bertanya bagaimana kondisinya, tapi Vheya teringat kembali pesan Rey.
" Vheya." panggil Rico yang berjalan kearahnya.
" Hay Rico. Gimana kondisi kamu, sudah membaik?" tanya Vheya basa basi.
" Ya seperti yang kamu lihat Vhey. Kok tadi malem Chat aku nggak dibales."
__ADS_1
" Ohh aku lupa Co." ucapnya, padahal Vheya tidak mengetahui apa isi chat dari Rico. Sepertinya Rey yang membukanya dan langsung menghapusnya.
" Ya udah nggak papa. Eh ke kantin yuk. Aku traktir dech. Itung-itung rasa terimakasih karena kamu udah nolong aku." ajak Rico.
" Emzzz sory ya Co, aku udah sarapan tadi. Lain kali aja ya." ucap Vheya menolak ajakan Rico.
Tiba-tiba Ghea mengagetkan dari belakang.
" Hayo lagi ngapain?" tanya Ghea meledek sahabatnya.
" Apaan sih Ghe, ngagetin aja."
" Kamu dianterin sama suami kamu Vhey, kok aku nggak liat mobil kamu."
" Iya Ghe, biasa manjanya kambuh." jawab Vheya.
" Apa vhey, tadi bilang suami. Kamu udah nikah Vhey," tanya Rico dengan perasaan kecewa. Baru saja ingin pendekatan, malah berakhir dengan kekecewaan.
" Emang lho nggak tau? " tanya Ghea.
" Nggak tau Ghe. Udah lama emangnya." tanya Rico balik.
" Belum sih paling baru 2 mingguan. Kenapa kamu kecewa ya? ternyata Vheya udah bersuami." kata Ghea melirik Rico yang terdiam di sampingnya.
Jujur saja Rico sangat kecewa mendengar kenyataan bahwa pujaan hatinya ternyata sudah bersuami. Padahal baru saja ingin menyatakan cinta, ternyata dirinya harus menerima kenyataan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.
" Kenapa lhu diem aja." tanya Ghea mengagetkan Rico yang masih melamun.
" Apaan sih lhu Ghe. Ya udah gue cabut dulu ya." Rico berlalu meninggalkan Vheya dan Ghea.
" Kenapa tu bocah. Mukanya juga kenapa banyak perban kaya mumi." kata Ghea.
" Kecelakaan kemaren deket kantor suami gue."
" Kok kamu tau Vhey?" tanya Ghea curiga.
" Iyalah aku yang bawa ke Rumah Sakit. Aku pula yang nganterin balik. Sampe suamiku ngamuk- ngamuk." kata Vheya menjelaskan.
__ADS_1
" Serius lho Vhey, sumpah demi apa suami lho bisa ngamuk-ngamuk. Bukannya dia bucin banget sama lho." kata Ghea penasaran. Yang dia tau Rey itu sayang banget sama Vheya, jangankan marah, ngebentak aja Rey langsung minta maaf.
" Ya saking cemburunya. Nih liat aja ponsel gue sampe retak begini jadi sasaran pas Rey ngamuk. Gue aja syok banget Ghe. Lho tau nggak, ternyata suami gue kalo lagi ngamuk serem banget. Untung aja gue tidur tetep dikelonin sama dia. Kalo nggak gue tidur ama siapa coba?" kata Vheya.