Pacarku Bukanlah Jodohku

Pacarku Bukanlah Jodohku
episode 23


__ADS_3

Tibalah waktu dimana hari yang ditunggu-tunggu datang. Hari pernikahan antara Vheya dan Rey. Vheya sendiri tidak menyangka bisa sampai ke tahap ini. Jika saja Jo tidak menghilang meninggalkannya tanpa sebab, mungkin sampai saat ini mereka masih bersama.


Jo yang sangat di cintainya ternyata bukanlah jodohnya. Janji yang pernah terucap ternyata hanya bisa menjadi kenangan. Vheya telah mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Meski kadang hatinya masih merasakan sakit jika mengenang saat-saat bersama Jo.


Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Namun perlahan semua kenangan itu akan tergantikan dengan berjalannya waktu. Sosok Rey mungkin di kirim untuk mengobati luka hatinya. Namun meski begitu, Jo pernah mempunyai tempatnya tersendiri di hati Vheya. Meskipun nyatanya PACARKU BUKANLAH JODOHKU, namun Jo tetaplah pernah menjadi yang terbaik di hatinya.


" Kamu sudah siap Rey?" tanya pak Bram.


" Udah pah. Tapi kok Rey deg-degan ya pah."


" Santai aja Rey. Tarik nafas terus keluarin." kata pak Bram mencoba menenangkan putranya yang akan menjalani proses ijab qobul.


Ketika penghulu datang, jantung Rey semakin berdetak kencang. Namun senyum Vheya membuatnya sedikit tenang. Seakan senyuman itu adalah isyarat bahwa dirinya harus bisa tenang untuk melakukannya.


" Bagaimana mas Rey sudah siap?" tanya pak penghulu.


" Siap pak." jawab Rey tegas sembari berjabat tangan dengan orangtua Vheya.


Setelah acara ijab qobul berjalan dengan lancar, Rey membuang nafas dengan kasar. Rasanya seperti telah melepas beban berat yang tengah dipikulnya.


Rey tak henti-hentinya memandang wajah gadis yang telah resmi di persuntingnya. Ada rasa tak percaya bisa bersanding dengan Vheya. Gadis yang awalnya mati-matian menolak untuk di jodohkan dengannya, kini malah telah sah menjadi istrinya.


Rey ingat betul saat pertama di jodohkan. Bukan hanya menolak, tapi Vheya bersikap dingin, cuek, bahkan mengagung-agungkan cintanya pada Jo. Toh nyatanya sekarang malah benar-benar menjadi miliknya. Mungkinkah Rey harus berterimakasih karena menghilangnya Jo, entahlah. Mungkin sudah di gariskan seperti ini jalan ceritanya.


###


Setelah acara selesai semua keluarga pulang menuju rumah masing-masing. Begitu juga dengan Rey yang ikut pulang kerumah Vheya.

__ADS_1


" Malam ini kalian tidur di rumah kan Vhey?" tanya mamah Vheya. Mamahnya seperti enggan jika harus berpisah dengan putri semata wayangnya itu.


" Iya dong mah." jawab Vheya sembari memeluk mamahnya.


Tiba-tiba mamah Rey menyela pembicaraannya.


" Tapi besok giliran di rumah mamah ya Vhey?" ucapnya.


" Iya mah. Pasti lah nanti gantian bolak balik deh." kata-kata Vheya membuat mertuanya tersenyum bahagia.


Orangtua mereka pasti akan merasa sangat kehilangan jika nanti Rey dan Vheya sudah tinggal di rumahnya sendiri. Pasalnya Rey sudah menyediakan rumah sendiri untuk ditinggali saat sudah menikah.


" Apa kalian akan langsung pindah kerumah kalian Rey." tanya pak Bram.


" Nggak pah. Nanti kalo Vheya sudah siap. Ya nunggu seminggu lagi. Biar dia puas bermanja-manja dengan mamahnya." ucap Rey sambil melirik Vheya yang masih memeluk mamahnya.


Sontak papahnya langsung menasehati putri manjanya itu. Ya walaupun harus diakui, kalau pak Alex juga masih berat harus pisah rumah dengan putri semata wayangnya itu.


" Nggak boleh gitu nak. Kamu kan udah nikah, udah kewajiban kamu buat ikutin suami. Kan kamu bisa mampir setiap saat ke rumah. Atau sekali-kali nginep juga bisa." kata-kata papahnya malah membuat Vheya menangis.


Rey memaklumi sikap Vheya. Tidak mudah harus berpisah untuk saat-saat sekarang ini. Untuk itu Rey menuruti Vheya malam ini untuk tinggal di tempat orangtuanya.


Perjalanan dari tempat acara ke rumah orangtua Vheya tidak terlalu jauh. Ketika sampai dirumah, Vheya dan Rey langsung menuju ke kamar untuk bersih-bersih. Saat akan masuk tiba-tiba Vheya bertanya pada Rey.


" Lho mas mau ngapain?" tanyanya.


" Mau masuk lah. Mau mandi udah lengket nih badannya. Seharian panas-panasan." jawan Rey santai.

__ADS_1


" Aku dulu dech. Mas pake kamar sebelah aja." muka polosnya keluar. Vheya masih belum sadar kalau dirinya sudah menikah.


" Vhey kita udah nikah lho. Barusan malah. Masa iya harus pisah kamar."


Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Vheya malah cengar cengir mencurigakan.


" Iya mas, tapi aku malu. Aku duluan dech. Nanti kalo udah aku panggil mas buat masuk."


" Ya udah sihh masuk dulu. Mas nungguin di kasur deh. Masa iya harus nunggu di kamar sebelah. Belum juga malam pertama udah pisah ranjang." jawab Rey ketus sambil nyelonong masuk ke dalam kamar.


Vheya yang mendengar kata malam pertama langsung panik. Dia malah mondar mandir seperti ayam kehilangan induknya. Rey yang melihat tingkah Vheya malah semakin gemas. Rey paham dengan sikap Vheya. Pasti dia takut gara-gara ucapannya tentang malam pertama.


" Mau sampai kapan kamu mondar mandir disitu. Katanya mau mandi. Buruan deh, kalau enggak biar mas dulu yang mandi."


" Ehh iya, aku dulu mas. Tapi jangan macem-macem ya mas. Awas aja." ancam Vheya dengan muka seperti ketakutan.


" Emang kalau macem-macem kenapa? udah sah ini. Bebas mau ngapain aja." jawaban Rey membuat Vheya semakin takut. Vheya langsung lari ke kamar mandi dan menguncinya.


Rey yang melihatnya malah tertawa ngakak. Ternyata istrinya memang benar-benar masih bocah. Baru di ledek seperti itu sudah parnoan, apalagi kalau Rey meminta haknya. Sudah pasti Vheya akan kabur.


Sudah hampir setengah jam, namun Vheya tak kunjung keluar dari kamar mandi. Padahal Rey sudah meninggalkannya ke bawah untuk mengambil koper bajunya. Tapi saat kembali ke kamar, Vheya belum juga menyelesaikan acara mandinya.


" Sayang kamu mandi apa tidur?" ucapan Rey membuat Vheya kaget. Dia membuka pintunya perlahan.


Rey yang melihat Vheya keluar dengan memakai piyama dan rambutnya yang basah, Rey langsung mendekat ke arah Vheya. Namun belum sempat mendekat, Vheya malah menghindar dan menjauh ke arah meja rias.


Rey yang paham dengan tingkah Vheya pun akhirnya menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian Rey telah selesai dengan ritual mandinya. Dia keluar hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.

__ADS_1


Saat keluar dari kamar mandi, Rey tidak menemukan sosok Vheya. Mungkin Vheya sedang ke bawah untuk mengambil minum atau entahlah. Rey kemudian mengambil kaos dan celana pendek di dalam koper. Namun beberapa menit menunggu Vheya, Dia tak kunjung masul ke dalam kamar. Akhirnya Rey memutuskan untuk turun ke bawah mencari keberadaan istrinya itu.


__ADS_2