
Mawar masih memikirkan bagaimana cara mendekati bosnya. Mawar berusaha bisa dekat dan merayu bosnya itu. Selain karena ketampanan Rey, hal yang paling penting adalah karena hartanya. Dia akan melakukan segala cara agar Rey bisa menyukainya.
Di kantor, pagi-pagi sekali Mawar sudah duduk di Lobi. Dia menunggu kedatangan bos tampannya. Namun sudah hampir setengah jam menunggu, belum ada tanda-tanda sama sekali. Mawar frustasi dan akhirnya dia menuju ke ruangan kerjanya.
Saat akan masuk ke ruangannya, Mawar bertemu asisten pribadi Rey, yaitu Bayu.
" Pak bayu, boleh tanya sesuatu." ucap Mawar.
" Ada apa?" jawabnya.
" Istri pak Rey itu sering ya dateng ke Kantor." tanyanya.
" Ya lumayan. Setelah pulang dari Kampus biasanya mampir dulu kesini buat makan siang bareng sama pak Rey. Memangnya kenapa?" tanya Bayu lagi.
" Eh enggak kok. Jadi istri pak Rey masih anak kuliahan. Pantes masih kaya bocah." ucapnya.
" Kamu bilang apa?" ucap Bayu sedikit meninggi.
" Eh enggak kok pak? saya cuma penasaran aja. Ya udah kalo gitu saya masuk dulu ya pak, permisi." ucap Mawar sembari masuk ke dalam ruangannya.
Bayu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Mawar. Apalagi dengan gaya berpakaiannya yang sedikit terbuka dan lain dari pada yang lain. Tiba-tiba Rey mengagetkannya dari belakang.
" Ngapain Bay disini sambil bengong." tanya Rey.
" Eh pak Rey. Nggak papa pak. Cuma heran aja sama karyawan baru itu. Terlalu agresif pak. Bapak hati-hati aja, kayanya dia naksir bapak deh." ucap Bayu panjang lebar.
" Sudah saya duga Bay. Berarti itu tugasmu untuk mengamankan dia dari saya. Apalagi kalo sampe istri saya tau, bisa ngamuk-ngamuk nanti." jelasnya membuat Bayu sedikit tertawa.
" Emang istri bapak cemburuan ya pak." tanya Bayu pura-pura tidak tahu. Padahal dari awal kedekatan mereka, Bayulah yang selalu ada dibelakang mereka.
" Bukan cemburu. Tapi bisa marah-marah kalo saya berani deket-deket wanita lain." jelasnya.
" Kan bapak nggak deketin. Jadi aman pak. Selagi ada saya dibelakang bapak, semua urusan beres." ucap Bayu percaya diri.
__ADS_1
" Nah ini, kenapa saya percaya sama kamu. Karena saya yakin kamu bisa diandalkan. Ah sudahlah kita masih banyak pekerjaan." ucap Rey sembari masuk kedalam ruangannya. Dan Bayu hanya mengekor dibelakang Rey.
####
Di kantin Vheya sedang menikmati segelas jus avocado. Ghea yang duduk disampingnya hanya diam saja dan melamun. Vheya penasaran, kenapa akhir-akhir ini sahabatnya itu sering melamun dan terlihat murung.
" Kamu kenapa sih Ghea. Akhir-akhir ini aku lihat, kamu sering melamun kaya gini. Ada apa Ghe. Coba cerita kalo ada masalah." ucap Vheya penasaran.
" Nggak papa kok Vhey." ucapnya singkat.
" Nggak mungkin kalo nggak papa. Jujur coba. Kalo nggak berarti kamu nggak anggap aku sahabat kamu lagi." ancam Vheya.
" Kamu selalu kaya gitu deh Vhey."
" Buruan ngomong." perintah Vheya.
" Aku heran kenapa Jo akhir-akhir ini cuek banget sama aku. Emang aku punya salah apa sama dia?" ucapnya jujur.
" Tunggu-tunggu. Jangan bilang kamu suka sama Jo. Ya ampun Ghea, kenapa nggak pernah bilang sama aku sih Ghe." ucap Vheya terkejut.
" Udah deh nggak usah bohong kaya gitu." ucap Vheya.
" Udah ikh. Ayo ke kelas. Keburu Dosennya datang." ajak Ghea yang langsung beranjak dari kursi Kantin.
Vheya sejenak berpikir untuk menjodohkan Jo dan Ghea. Saat akan masuk, Vheya melihat Jo sedang berjalan kearahnya.
" Jo nanti ada yang mau aku bicarain. Penting pokoknya." ucap Vheya.
" Mau ngomong apa sih Vhey. Kangen ya sama aku." kata Jo meledek.
" Ikhhh percaya diri sekali anda. Pokonya nanti tunggu di parkiran." jelasnya.
" Baik tuan putri. Ucapan tuan putri, perintah bagi hamba." ucap Jo seperti prajurit Kerajaan.
__ADS_1
" Huhh dasar."
Setelah jam mata kuliah selesai, Vheya buru-buru menuju parkiran. Ghea pun mengikuti. Namun Ghea langsung masuk kedalam mobilnya dan pergi entah kemana. Vheya menunggu Jo didalam mobilnya. Sesaat kemudian Jo masuk kedalam mobil Vheya.
" Mau ngomong apa sayang." ucap Jo.
" Sayang-sayang gundulmu." kata Vheya sembari menjitak kepala Jo.
" Sakit Vheya."
" Rasain lho. Jangan manggil aku sayang-sayang lagi." ucapnya.
" Iya-iya. Buruan ada apa nyuruh aku kesini. Aku ada urusan yang harus cepet-cepet dikerjain." ucap Jo seperti orang sibuk saja.
" Please buka hati kamu buat Ghea. Kamu kenapa cuek sama dia. Dia itu sedih banget dicuekin sama kamu Jo." tutur Vheya.
" Apaan sih. Nggak jelas banget omongan kamu. Aku lagi males mikirin kaya gitu." ucap Jo.
" Jo aku mohon, buka sedikit hati kamu buat Ghea. Ghea suka sama kamu. Meskipun dia nggak mau jujur sama aku, tapi kelihatan dari cara dia natap kamu, ngomongin kamu. Ayolah Jo, kasih kesempatan buat Ghea." ucap Vheya panjang lebar.
" Yang namanya hati itu nggak bisa dipaksain Vhey. Sama kaya hati aku yang sampai sekarang masih buat kamu. Oke aku sekarang ikhlasin kamu sama dia. Tapi bukan berarti semudah itu buka hati buat yang lain. Cinta nggak bisa dipaksa Vhey. Sama kaya kamu yang nggak bisa dipaksa buat balik lagi sama aku kan?" ucapan Jo membuat Vheya hampir menangis.
" Maaf Jo. Bukan maksud aku egois. Aku cuma pengen sahabat aku bahagia. Kamu juga bahagia. Udah itu aja Jo, nggak ada maksud lain." ucap Vheya.
" Dengan kamu tetep mau jadi sahabat aku, deket kaya gini sama aku, itu udah cukup Vhey. Udah cukup buat aku bahagia. Tapi please, jangan paksa aku buat mencintai orang lain. Biarkan hati ini tenang dulu, sampai nanti tiba waktunya." ucapan Jo terlalu mengharukan bagi Vheya.
" Iya Jo. Aku janji nggak akan maksa kamu lagi. Makasih ya Jo, karena kamu bisa bersikap seperti ini. Aku bangga sama kamu, sekarang kamu jauh lebih dewasa dalam menyikapi masalah." puji Vheya dengan tindakan Jo.
" Aku cuma nggak mau bikin kesalahan lagi, yang pada akhirnya aku harus kehilangan sesuatu yang berharga didalam hidup aku. Aku berusaha belajar ikhlas Vhey. Meski nyatanya menyakitkan." tutur Jo penuh makna.
" Aku yakin kamu bisa melewati semua ini. Percayalah akan ada pelangi setelah hujan. Semua akan indah pada waktunya. Semangat Jo." ucap Vheya.
" Ya udah aku cabut dulu. Bye bye." ucap Jo melambaikan tangannya sembari keluar dari mobil Vheya.
__ADS_1
Vheya hanya tersenyum melihat kepergian Jo. Orang yang dulu pernah menjadi kekasihnya, kini berganti menjadi sahabatnya.