
Jo membawa Vheya ke suatu tempat. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan suara Vheya tak dihiraukan, saat dirinya memohon untuk menghentikan mobilnya. Jo begitu kalut dengan keadaan. Hatinya dilema, tak kuasa harus melepaskan Vheya untuk laki-laki lain. Namun dengan status yang di miliki Vheya sekarang, akankah dirinya dicap sebagai perebut dan penggoda istri orang, entahlah.
Jo menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah kecil di pinggir sungai. Rumahnya begitu unik dan klasik. Terlihat bersih dan nyaman bila dihuni. Letaknya jauh dari perumahan, sehingga tidak terlalu ramai oleh lalu lintas kendaraan.
Waktu menunjukan hampir tengah malam. Sunyi, sepi, membuat Vheya ketakutan. Jo memaksa Vheya untuk mengikutinya. Jo menakut-nakuti Vheya dengan mengatakan bila malam tiba, banyak binatang buas berkeliaran. Akhirnya Vheya mengekor dibelakang Jo.
" Jo kamu sengaja nyulik aku." tanya Vheya.
" Siapa yang nyulik kamu. Apa tangan dan kakimu terikat. Apa aku membekap mulutmu. Aku tidak menculikmu, tapi mengajakmu berdua bersamaku menikmati malam ini. Dan juga malam-malam selanjutnya, tanpa ada yang mengganggu." kata-kata Jo semakin membuat Vheya ketakutan.
" Jo aku mohon kita balik lagi ya. Sebenernya kamu mau apa." kata Vheya memelas.
" Kamu tanya mau aku apa. Aku cuma mau kamu. Kamu tetap utuh jadi milikku seorang." jelas Jo.
" Jo nanti suami aku nyariin. Please aku mohon kita balik. Kita pergi dari sini. Kita bisa bicarain baik-baik ok." ucap Vheya sedikit gemetar.
" Jangan pernah sebut-sebut kata suami. Aku yang pantas jadi suamimu." ucap Jo.
Jo mendekati Vheya yang masih berdiri mematung. Jo menarik lengan Vheya sehingga Vheya jatuh di pangkuan Jo. Tatapan Jo mengingatkan kala itu, ketika masih mencintainya dulu. Belaian tangannya dan usapan di wajahnya seperti menghipnotis Vheya untuk menikmatinya.
Vheya memang merindukannya kala itu, tapi kini tak pantas jika dirinya harus larut terbawa suasana ini. Vheya terus berusaha
memohon agar Jo mau diajaknya kembali. Namun hasilnya nihil. Jo malah mendekapnya semakin erat. Hujan semakin deras membuat Vheya semakin kedinginan.
Jo melangkah menuju sebuah kamar kecil. Dan keluar membawa selimut tebal.
" Nih pake biar nggak dingin. Kalau udah ngantuk kamu tidur aja di kamar itu. Atau mau aku temenin tidurnya." kata Jo.
" Jangan macem-macem Jo. Inget aku udah bersuami. Kamu bisa kena masalah kalo berani macem-macem sama aku." kata Vheya mengancam Jo.
__ADS_1
" Terserah Vhey, aku nggak takut. Yang aku takutkan saat ini adalah benar-benar harus kehilangan kamu." ucap Jo.
" Udah gila kamu Jo."
" Aku gila gara-gara kamu. Kamu tega mengkhianati cinta kita. Kamu lebih milih dia dari pada aku." kata Jo sedikit kesal.
Vheya pergi menuju kamar meninggalkan Jo yang masih berbicara. Rasanya matanya enggan diajak kompromi. Meski takut Jo akan melakukan sesuatu terhadapnya, namun Vheya memberanikan diri memejamkan matanya.
Matahari mulai menampakan sinarnya. Vheya kaget saat tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Entah sejak kapan Jo berada satu ranjang dengannya.
" Jo apa-apaan kamu. Pergi nggak." usir Vheya sembari mendorong Jo.
" Apa sih sayang, aku masih ngantuk nih, diem coba Vhey," kata Jo enggan melepas pelukannya.
" Jo aku mohon pergi Jo. Aku teriak nih." ancam Vheya.
" Silahkan. Paling cuma bikin tenggorokanmu kering." ucap Jo kemudian melanjutkan tidurnya.
Namun belum sempat menghubungi Rey, Jo langsung merebut ponselnya dari tangan Vheya. Ternyata Jo hanya pura-pura tertidur. Vheya ketakutan melihat tatapan tajam dari Jo. Baru pertama kali ini Vheya mendapat tatapan tajam itu, bahkan dulu saat pacaran tak pernah sama sekali.
" Jo maaf." ucap Vhey ketakutan
" Berani kamu Vhey mencoba menghubungi seseorang. Siapa yang mau kamu hubungi? oh suamimu itu. Iya Vhey?" ucap Jo penuh amarah.
Vhey tak menjawab ucapan Jo, malah menangis sejadi-jadinya membuat Jo bingung dan khawatir. Jo berusaha menenangkan Vheya namun Vheya terus menjauh dari sisi Jo.
" Pergi Jo, pergi dari sini. Aku benci sama kamu," kata Vheya masih dengan tangisannya.
" Maaf sayang. Bukan maksud aku kasar sama kamu. Aku janji nggak akan kaya gini, tapi please jangan pergi dari hidup aku Vhey. Kamu tau kan aku cinta banget sama kamu Vhey." kata Jo.
__ADS_1
" Please Jo anterin aku pulang Jo." rengek Vheya.
" Iya nanti aku anterin pulang. Tapi janji dulu sama aku. Kita akan mulai lagi semuanya dari awal. Kamu akan tetap jadi milik aku selamanya." ucap Jo memberi syarat.
" Nggak mungkin Jo. Aku udah punya suami Jo. Mau dikemanain suami aku." kata Vheya dengan suara melemah.
Jo pergi menuju dapur meninggalkan Vheya yang kelihatan pucat. Diambilnya buah dan minuman segar. Karena memang hanya ada makanan itu didalam kulkas.
" Nih makan ini dulu. Kamu pucat banget. Aku kupasin ya buahnya." kata Jo merasa kasihan melihat orang yang dicintainya itu.
" Aku nggak butuh makan Jo. Aku cuma mau kamu anterin aku pulang. Aku mohon Jo." rengek Vheya lagi.
" Iya tapi nanti setelah kamu makan." ucap Jo.
" Janji Jo."
" Iya sayangku. Tenang aja, aku nggak mungkin membiarkan kamu terus seperti ini. Kamu tau kan dari dulu aku itu sayang dan cinta banget sama kamu." kata-kata Jo sedikit membuat Vheya tenang.
Vheya terus mengunyah buah apel yang diberikan oleh Jo. Mencoba menenangkan dan mempercayai kata-kata Jo. Hingga tak sadar sudah hampir 2 buah apel dia makan.
" Vhey kamu mau tau kenapa aku baru balik sekarang?" kata Jo.
" Enggak."
" Aku amnesia selama satu tahun. Dan di waktu aku amnesia, aku tinggal dengan lingkungan yang keras. Aku tinggal di tempat yang sangat jauh dari keramaian. Membuat aku sedikit mengikuti kebiasaan mereka. Aku ingat semuanya saat aku mengejar musuh dan terjatuh ditepi sungai. Saat aku terbangun, semua ingatanku perlahan kembali pulih. Dan kamu tau apa yang pertama aku ingat Vhey?" tanya Jo.
" Apa?" kata Vheya.
" Kamu. Iya bayang wajahmu yang pertama aku ingat. Aku terus mencoba dan mencoba mengingat kembali, dan hanya kamu yang terus ada dalam pikiranku. Sebulan setelah aku membaik dan ingat semuanya, aku menemui om Herman. Aku memintanya untuk mengantarkan aku pulang ke Indonesia." jelas Jo membuat Vheya sedikit iba.
__ADS_1
Ternyata lelaki yang dulu sangat ia cintai bukan sengaja pergi meninggalkannya. Namun kecelakaan itulah yang membuat dirinya kini tak bisa lagi mengulang jalinan asmara yang belum sempat usai. Namun ibarat nasi sudah menjadi bubur. Kini dirinya telah dimiliki oleh laki-laki lain.