Pacarku Bukanlah Jodohku

Pacarku Bukanlah Jodohku
episode 17


__ADS_3

Vheya memberanikan diri menerima kenyataan kalau dirinya harus siap berpisah dengan Jo untuk waktu yang belum ditentukan.


Vheya mengantar Jo dengan hati yang sedikit cemas. Entah apa yang dirasakan, namun seperti akan terjadi sesuatu di kemudian hari.


" Sayang aku pergi dulu ya. Tunggu aku kembali."


" Aku pasti nungguin kamu sayang."


" Pastikan saat nanti aku kembali, kamu masih tetap utuh menjadi milikku."


" Sebisa dan semampu aku Jo, aku akan selalu nunggu kamu buat kembali."


" Aku pergi sayang."


" Kembalilah secepatnya."


Vheya melepas kepergiaan Jo dengan hati yang bergejolak. Hingga tak kuasa menahan air matanya. Dia kembali ke rumah dengan perasaan masih sangat kacau.


###


Di Kafe Ghea sedang menikmati secangkir kopi. Tiba-tiba ada lelaki datang menghampirinya. Ternyata dia adalah pak Alex, papahnya Vheya.


" Lhohh nak Ghea sama siapa disini."


" Ehh om Alex. Kirain tadi siapa? aku sendiri om. Om lagi apa disini."


" Tadi habis meeting. Om boleh duduk disini sebentar."


" Ohh silahkan om."


Dalam bathin Ghea berpikir, apa jadinya kalo ada temennya yang liat. Masa iya seorang Ghea lagi nongkrong sama om-om. Bisa dikira cewe nggak bener nich. Ya walopun itu bokap sahabatnya sendiri.


" Om mau tanya sama kamu."


" Tanya apa om. Silahkan."


" Apa Vheya masih berhubungan sama Jo."


" Aduhh gimana ya om." ucap Ghea mendadak bingung. Antara harus berbohong atau jujur.


" Kayanya sihh udah enggak om. Kan Jo juga pergi ke Luar Negri om." kata Ghea sedikit berbohong demi menyelamatkan hubungan sahabatnya itu.


" Ohh begitu. Baguslahhh, jadi saya tidak perlu repot-repot buat bertindak."


" Emang kenapa om." ucap Ghea pura-pura tidak tahu.


" Apa Vheya belum cerita kalo dia kemarin baru saja tunangan."


" Owhh itu, iya udah om."


" Ya sudah om masih banyak kerjaan. Om balik dulu ya nak Ghea."


" Ehh iya om. Hati-hati om."


Sesaat setelah pak Alex pergi dari kafe, Ghea langsung cabut dari Kafe buat nemuin Vheya.

__ADS_1


###


Di Kamar Vheya sedang bermalas-malasan. Akhir-akhir ini terlalu banyak masalahh yang harus di hadapi. Masalah perjodohan, juga kepergian Jo yang mendadak.


Vheya mengotak atik hpnya, melihat kembali galeri saat bersama Jo. 3 tahun bukan waktu yang singkat. Begitu banyak kenangan yang sudah mereka lalui.


Apakah mungkin akan berakhir begitu saja hanya karena perjodohan. Atau mungkin masih ada harapan untuk terus bersama.


Tiba-tiba suara dering ponselnya mengagetkan Vheya yang sedang termenung. Ternyata chat dari Rey.


📩 Vhey, papah Alex bilang kamu mau liburan ke sini.


📩 Mau berangkat kapan.


^^^📨 Aku nggak jadi ambil liburan itu sekarang mas.^^^


^^^📨 Mungkin nanti kalo udah ada waktu.^^^


📩 Ok. Kalau udah siap mau kesini kamu bilang sama mas.


📩 Jaga diri baik-baik calon istri.


^^^📨 Hehhh ngarep banget lho gue bakal jadi istri lho.^^^


Vheya begitu geram ketika Rey menyebutnya calon istri. Jangankan menyebut dirinya calon istri, untuk membayangkannya saja sudah membuat kepala Vheya pusing.


Vheya kembali meletakan hpnya di laci meja belajarnya. Namun diraihnya kembali untuk menghubungi Jo. Setelah kemarin Vheya mengantar Jo pergi, sampe saat ini Jo belum menghubunginya, meskipun hanya untuk memberi kabar.


Beberapa kali panggilan selalu saja berakhir sama. Nomor Jo tidak aktif. Seketika hati Vhey bergetar, bergejolak, dan muncul banyak pertanyaan dalam hatinya. Apakah sesuatu terjadi pada Jo, atau memang Jo sedang sibuk. Karena memang dia pergi kesana untuk membantu pekerjaan om nya.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu depan.Vheya segera turun dari kamarnya. Vheya dirumah hanya sendirian. Keluarganya sedang ada acara di luar.


" Ehh lho Ghe. Gue pikir siapa?" ucap Vheya saat membuka pintu dan ternyata Ghea yang ada dibalik pintunya.


" Lho ngarepnya siapa yang dateng. Jo atau Rey."


" Stres lho. Masuk yuk."


Mereka masuk langsung menuju ke kolam renang. Itu tempat favorit mereka ketika berada dirumah Vheya.


" Ghe gue lagi bener-bener galau banget Ghe."


" Galau kenapa. Bingung mau pilih yang mana. Gue sihh terserah lho aja. Gue pasti dukung semua keputusan lho."


" Ishhh Ghea, bukan itu Ghe. Jo nggak ada kabar. Dari pergi belum ngabarin gue sama sekali. Gue telfon nomornya nggak aktif."


" Serius lho Vheya."


" Ngapain gue bohong. Ngapain juga bercanda. Gue serius Ghe."


" Terus gimana donk. Tunggu aja sampe besok. Kalau belum ada kabar juga, lho tanya sama nyokapnya."


" Harus nunggu sampe besok. Apa sekarang aja gue telfon nyokapnya ya Ghe ."

__ADS_1


" Jangan dulu dechh. Takut dikira nanti lho over, atau posesif atau apalah."


" Nggak mungkin lah. Mamahnya Jo baik kok sama gue."


" Terserah lho dah Vhey."


" Ikhhh Ghea. Nyebelin dechh."


" Lho bandel dibilangin."


" Iya udah iya. Besok temenin kerumah Jo langsung. Awas kalo nggak ditemenin. Jangan anggep gue temen lho."


" Dichhh pede boros. Sok penting."


" Biarin emang gue penting. Wlee..."


Akhirnya mereka berdua tertawa bersamaan. Mereka selalu ada cara untuk saling menjaga, melindungi bahkan menghibur ketika salah satunya sedang ada masalah.


" Vhey nggak ada makanan apa? laper nichh." kata Ghea merasa lapar setelahh berdebat dengan Vheya.


" Cari sono di kulkas. Biasanya juga ambil sendiri." kata Vheya meledek.


" Ya elahhh sekali kali hargain tamu kenapa sihh. Buruan sana ambil."


" Mau dihargain berapa bu???? tamu kaya lho mahh nggak perlu dihargain. Yang ada di hajar. Hahahahaha."


Lagi-lagi mereka masih sempat bercanda, dan tertawa puas. Ghea yang sedari tadi menahan lapar, langsung bergegas menuju kulkas. Ternyata banyak makanan. Ghea hanya mengambil apel dan jus saja.


" Mana kenyang cuma kaya gitu." ucap Vheya.


" Emangnya situ yang apa-apa di lahap. Badan doang kecil, makan nggak kira kira." kata Ghea meledek.


" Biarin wlee. Sirik aja."


" Bodo amat."


Tak terasa waktu sudah hampir malam. Ghea yang terlalu asik bila sudah bersama Vheya itu langsung berpamitan pada Vheya.


" Pulang dulu ya Vhey. Udah malem nich."


" Nggak nginep aja."


" Nggak akhh lain kali."


" Jangan lupa besok temenin kerumah Jo."


" Iya beres. Ya udah gue balik dulu."


" Hati-hati Ghea. Awas kalo ada belokan, belok jangan lurus aja."


" Sialan lho."


Ghea pun melangkah menuju mobilnya. Setelah kepergian Ghea, Vheya kembali terdiam, teringat kembali kepada Jo yang tanpa ada kabar sama sekali.


Bukankah dia yang mengatakan akan selalu memberi kabar. Tapi kenapa malah nomornya nggak aktif. Bathin Vheya berkecamuk. Berdoa agar tidak terjadi apapun pada Jo. Dan bisa kembali lagi bersama Jo.

__ADS_1


__ADS_2